Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Kepanikan di taman belakang mansion Ashford mencapai puncaknya. Darah segar Florence terus merembes menembus jemari Huxley yang berusaha keras menekan luka sayatan di pergelangan tangan wanita itu.
Bau amis darah beradu dengan wangi mawar putih yang kini tampak begitu kelam dan menyedihkan.
"Dominic! Jangan hanya berdiri di sana seperti orang bodoh!" bentak Huxley dengan napas memburu, wajahnya pucat pasi keringat bercucuran. Ia menarik pergelangan tangan Dominic dengan kasar, menyeret pria itu menjauh dari sisa-sisa kehancuran panggung.
"Cepat! Ambil kunci mobilmu! Kita harus membawa Flo ke rumah sakit sekarang juga sebelum dia kehabisan darah!"
Dominic tersentak dari lamunannya.
Tubuhnya terdorong beberapa langkah mengikuti tarikan Huxley. Namun, sebelum kakinya sepenuhnya melangkah menuju area parkir, kepala Dominic menoleh perlahan ke sudut taman.
Di balik rimbunan bunga hydrangea, mata cokelat Ester Alba menatapnya lekat-lekat. Ada kilat kecemasan, kebingungan, dan ketidakpastian yang terpancar jelas di manik mata gadis 22 tahun itu. Ester berdiri sendirian di tengah kekacauan keluarga Ashford, seolah menyadari posisinya yang begitu rapuh dan asing di tempat ini.
Untuk apa aku mengkhawatirkan perasaannya? batin Dominic bergejolak, mencoba menepis rasa bersalah yang mendadak mencubit ulu hatinya.
Kami tidak memiliki hubungan apapun. Kami hanya terikat kontrak... sebuah transaksi kelam di atas ranjang.
Dominic berulang kali membisikkan kalimat itu pada dirinya sendiri, seakan-akan menegaskan bahwa keputusannya mengantar Florence ke rumah sakit bukanlah sebuah bentuk pengkhianatan pada Ester.
Lagi pula, Ester hanyalah wanita simpanannya—gadis yang ia renggut kesuciannya demi melampiaskan amarah masa lalu.
Tidak ada cinta di sana. Begitulah cara Dominic mencoba memadamkan riak aneh yang sempat bergeser di dadanya.
"Dominic! Cepatlah!" panggil Huxley setengah berteriak, menghentikan perdebatan batin Dominic.
Tanpa sempat melambaikan tangan atau memberikan sepatah kata pun pada Ester, Dominic membalikkan badan. Ia menyambar kunci mobil dari saku celananya, berlari menuju mobil sport pribadinya, dan membiarkan Huxley membimbing Florence yang sudah lemas tak berdaya masuk ke dalam kursi belakang.
Dalam hitungan detik, mobil sport mewah itu melesat membelah gerbang mansion, meninggalkan jejak asap tipis di jalanan kota New York.
Di sudut taman yang mulai ditinggalkan para tamu undangan yang ketakutan, Ester Alba masih berdiri terpaku. Mobil sport Dominic telah hilang dari pandangan, membawa serta pria yang malam tadi menorehkan jejak kepemilikan di sekujur tubuhnya.
Nyonya Penny—kakak kembar Dominic sekaligus ibu dari murid-nya—mendekati Ester dengan langkah gontai. Wajah wanita paruh baya itu tampak sangat kusut, dihiasi sisa air mata dan kepenatan yang teramat sangat. Ia menarik tangan Ester pelan, menuntun gadis itu masuk kembali ke dalam mansion yang kini terasa begitu senyap dan mencekam.
Mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu utama yang megah.
Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat berat, menyisakan beberapa pelayan yang membersihkan serpihan kaca dan Parrie Ashford yang masih terduduk lemas di ruang tengah, ditenangkan oleh suaminya.
"Ester... kau baik-baik saja, sayang?" suara Penny terdengar begitu lelah, nyaris berbisik. Tangannya mengusap bahu Ester pelan. "Maafkan kekacauan hari ini. Keluarga kami... sungguh memperlihatkan sisi terburuknya di hadapanmu."
Ester menunduk, memasang raut wajah paling polos dan penuh empati yang ia miliki. "Saya baik-baik saja, Nyonya Penny. Saya hanya... merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi."
Penny menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya pelan.
"Florence... dia wanita yang hebat dari luar, tapi mentalnya rapuh. Sejak dulu, Florence selalu memiliki sisi gelap dalam emosinya. Setiap kali keinginannya tidak dituruti, dia selalu menggunakan cara-cara ekstrem untuk menarik perhatian. Dulu, saat remaja, dia pernah menenggelamkan diri di kolam hanya karena pamannya melarangnya pergi ke pesta malam hari. Dan hari ini... dia hampir merenggut nyawanya sendiri di hadapan Dominic hanya karena Dominic mengakhiri hubungan mereka."
Mendengar kalimat itu, jantung Ester berdegup kencang. Namun, alih-alih merasa ngeri, sudut bibir Ester justru berkedut tipis, membentuk sebuah senyuman tersembunyi yang amat mematikan.
Di balik rasa terkejut yang ia akui di depan Penny, kepala Ester berputar cepat, merajut benang-benang taktik yang brilian.
Wanita labil. Penuh drama. Menggunakan ancaman bunuh diri untuk mengikat seorang pria.
Bagi orang lain, sifat Florence adalah sebuah bencana besar. Namun di mata seorang Ester Alba Mattos, kelemahan fatal Florence ini adalah sebuah kemenangan terbesar dalam hidupnya!
Ester tahu betul watak pria seperti Dominic Qiel Ashford. Dominic adalah tipe pria yang mendambakan kedamaian, ketulusan, dan rasa hormat—pria yang lelah hidup di bawah tekanan wanita dominan yang egois.
Aksi nekat Florence menyayat pergelangan tangan hari ini bukanlah cara untuk merebut hati Dominic kembali; sebaliknya, aksi itu adalah paku terakhir yang menutup peti mati hubungan mereka.
Dominic tidak akan pernah merasa aman hidup dengan wanita yang hobi menumpahkan darah demi sebuah drama.
Ester menatap genggaman tangannya sendiri. Seluruh potongan teka-teki kini jatuh tepat di tempatnya. Florence baru saja menghancurkan sisa-sisa terakhir kesabaran Dominic dengan tangannya sendiri.
Dan di atas abu kehancuran hubungan mereka, Ester akan berdiri sebagai satu-satunya tempat berlari yang paling tenang bagi pria itu.
***
Sementara itu, di ruang gawat darurat New York Presbyterian Hospital, suasana tidak kalah menegangkan.
Lampu operasi menyala terang di atas kepala. Bau cairan antiseptik dan darah menusuk hidung. Florence terbaring di atas brankar dengan tangan kiri yang telah dibalut perban tebal setelah menerima belasan jahitan untuk menutup luka sayatan dalamnya.
Efek obat penenang yang diberikan dokter membuat kesadaran Florence melayang-layang di batas antara nyata dan mimpi. Namun, meskipun matanya terpejam dan tubuhnya melemah, obsesi gilanya sama sekali tidak surut.
"Dominic... Dominic..." racaunya berulang-ulang dengan suara parau. Jemari tangan kanannya bergerak-gerak lemah di udara, meraba-raba seolah mencari sesuatu.
Huxley, sang ipar, berdiri di samping brankar dengan wajah tegang. Ia memandang miris ke arah Florence, lalu menoleh menatap Dominic yang berdiri kaku di sudut ruangan dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana tuxedo-nya.
"Dominic, kumohon..." bisik Huxley memohon, mendekati adik iparnya dengan nada putus asa. "Dekatilah dia. Pegang tangannya. Hanya itu yang bisa menenangkannya saat ini. Dokter bilang jika dia terus mengalami histeris pasca-operasi, lukanya bisa terbuka kembali."
Dominic menelan ludah yang terasa kering. Matanya menatap tajam ke arah wanita yang selama sepuluh tahun ini menjadi pusat dunianya—wanita yang ia cintai setengah mati, wanita yang rela ia lamar enam kali dengan sejuta kerendahan hati.
Namun, alih-alih rasa rindu atau debar cinta yang dulu selalu memenuhi dadanya, yang dirasakan Dominic malam ini di ruangan steril ini hanyalah hampa.
Wajah cantik Florence yang pucat pasi kini justru terlihat asing di matanya. Bayangan drama histeris, ancaman pisau buah, dan ceceran darah di atas kelopak mawar putih berputar kembali di kepalanya, menimbulkan rasa ngeri dan muak yang teramat sangat.
Sepuluh tahun hidup bersama Florence terasa seperti berjalan di atas ladang ranjau yang bisa meledak kapan saja.
"Dominic... please..." rintih Florence makin keras, air matanya menetes di sudut matanya yang terpejam. "Jangan tinggalkan aku... pegang tanganku..."
Huxley menatap Dominic dengan tatapan mendesak, mendorong bahu pria itu pelan agar mendekat ke arah brankar.
Dengan langkah berat dan enggan, Dominic melangkah mendekati brankar putih tersebut. Ia mengulurkan tangan kanannya perlahan, membiarkan jemarinya digenggam erat oleh tangan Florence yang dingin.
Begitu telapak tangan mereka bersentuhan, Florence mendadak sedikit tenang. Napasnya yang tadinya memburu perlahan mulai teratur, dan bibirnya yang pucat menyunggingkan senyum tipis seolah merasa telah memenangkan kembali apa yang menjadi miliknya.
Namun, di balik tatapan kosong Dominic yang menatap lurus pada dinding rumah sakit yang putih steril, pikiran pria itu sama sekali tidak berada di sana.
Pikiran Dominic melayang jauh kembali ke penthouse mewahnya, pada aroma parfum sandalwood, pada kehangatan tubuh yang lembut, dan pada manik mata cokelat jernih milik Ester Alba yang tadi menatapnya dari balik rimbunan bunga di taman.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, genggaman tangan wanita yang paling dicintainya justru terasa seperti belenggu yang menyesakkan.
Dan untuk pertama kalinya pula, Dominic Qiel Ashford menyadari bahwa ia tidak lagi menginginkan wanita di hadapannya ini.
...----------------...
Boleh tinggalkan komentarnya kak 🙏🏻 komentar/like para Readers adalah berharga untuk Author 🫶🏻
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏