Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 5
Rara memarkirkan mobilnya. Lalu melangkah keluar dan berjalan masuk ke kelab malam. Parkiran sudah hampir penuh saat ia sampai.
Ia berjalan menuju meja yang terdapat beberapa orang duduk disana, dengan disambut musik khas kelab malam. Ada 3 wanita yang sama memikatnya dengannya dan 1 pria tampan di tempat itu. Mereka sedang asik mengobrol, sesekali juga terdengar gelak tawa diantara mereka.
Pria yang duduk diantara para gadis cantik itu namanya Stevan. Menyadari akan kehadirannya, Ia lalu berdiri seakan menyambut wanita memikat ini.
"Ini dia artis kita. Selamat datang Rara," ucap stevan dengan merentangkan kedua tangannya dan memberikan senyuman.
Disamping kiri Stevan ada 2 wanita. Mereka Indri dan Alisha. Lalu disamping kanannya, 1 wanita itu namanya Susan.
Rara lalu duduk disamping Susan. Tempat itu kini sudah penuh. Tak ada kata jawaban yang keluar dari mulutnya untuk menjawab sambutan Stevan.
Teman-temanya pun bingung. Mereka merasa ada yang beda dengan aura Rara malam ini. Biasanya anak ini selalu datang dengan aura yang ceria, namun kali ini aura itu seakan hilang. Mereka saling bertukar pandang menyadari perbedaan itu.
"Ra, lo kenapa ?" tanya Susan setelah meminum mocktail dari gelas berbentuk piala.
"nggak apa-apa," jawab Rara dengan nada datar. Susan dan ketiga temannya saling bertukar pandang lagi.
Tempat duduk mereka berupa sofa yang membentuk huruf U dengan meja bundar ditengahnya. Disetiap hadapan mereka kecuali Rara, ada minuman mocktail yang disajikan digelas berbentuk piala.
Rara tepat berhadapan dengan Alisha. Bisa dikatakan wanita ini merupakan orang yang paling dekat dengannya. Ia menegakkan duduknya lalu mendekat ke depan. "Ra, kamu baik-baik aja ?" tanyanya.
Semua kini menatap Rara, menunggu jawaban dari mulutnya. Suasana sedikit terasa tegang. Ia tak langsung menjawab. Ia mengedarkan matanya menatap satu per satu temannya.
"kenapa ?, aku baik-baik aja," ucap Rara dengan anggukan kecil.
"kita pikir lo lagi sakit, soalnya lo nggak keliatan ceria seperti biasanya," kata Stevan setelah minum untuk merilekskan ketegangannya.
"iya, nggak biasa lesu gini," kata Susan sambil mengusap bahu Rara.
"gue baik-baik aja. Cuma sedikit lelah aja," jawab Rara dengan senyuman, berharap mampu melegakan perasaan temannya.
Kini obrolan berjalan seperti biasa. Mulai cair dan mengalir. Gelak tawa juga sesekali terdengar ditengah obrolan.
Mereka membahas kontrak temu. Kontrak dimana para ladies membuat kesepakatan pada tamu pria yang ingin meminta ditemani. Bisa dikatakan pacar kontrak atau kencan kontrak dan ada imbalan disetiap kali bertemu.
Setiap 1 kontrak memiliki batas ketemu yang telah ditetapkan masing-masing ladies. Rara menetapkan kontrak temunya maksimal 20 pertemuan dengan harga yang lumayan tinggi. Ada alasan kenapa setiap ketemuannya sangat mahal. Ini karena banyak sekali pria yang terpikat dengannya. Akhirnya, ia membuat harganya mahal untuk membatasinya dan hanya pria yang benar-benar mampu yang bisa membuat kontrak dengannya.
Seorang pria berkaca mata hitam dan berkemeja rapi berjalan kearah mereka. Tingginya sekitar 170 an. Pria itu diapit 2 laki-laki berbadan kekar dan berjas hitam. Auranya terlihat tegas dan menakutkan.
Nama pria itu, Rudi. Ia adalah anak dari seorang konglomerat yang memiliki banyak perusahaan tambang. Baginya, menganggur tak berarti apa-apa dan tidak mempengaruhi masa depannya. Ia tinggal duduk manis, uang tinggal tarik di rekening dan semua yang ia inginkan bisa didapatkan dengan mudah.
"Tamunya Rara datang nih. Yuk ladies beri tempat ke Rara," ucap Stevan setelah minum tegukan terakhir digelasnya. Lalu Ia berdiri. Semua perempuan kecuali Rara menyusul berdiri. Mereka pun pergi dari tempat itu meninggalkannya.
Rara merapikan penampilannya. Lalu berdiri siap menyambut Rudi. Ia berjalan, mendekat kepada pria ini yang beberapa langkah lagi sampai ke meja.
"Mas Rudiii," kata Rara, mencoba memeluk Rudi. Mereka berdua pun berpelukan. Dengan merangkul Rara, Rudi berjalan menuju meja.
Rudi dan Rara duduk berdampingan dengan dijaga 2 pria bertubuh kekar. Pria itu biasa memesan minuman yang memiliki kandungan alkohol. Sementara Rara memilih menghabiskan minuman mocktailnya. Mereka berdua lalu berbincang sambil menikmati ritme musik dari Disc jockey yang mampu membuat beberapa pengunjung menari ditengah ruangan.
"Oh ya Rara sayang, habis ini temani aku tidur ya di hotel," kata Rudi ditengah perbincangan yang sedang asik-asiknya. Kini ia tampak mabuk, wajahnya memerah setelah menghabiskan 1 botol cocktail. Ia meminumnya dengan cara menuangkan sedikit demi sedikit ke gelasnya. Kini tinggal satu tuangan lagi. Namun tangannya sudah tak mampu memegang botol, ada goyangan ditangannya.
Mendengar ucapan Pria ini, Rara terbangun setelah ia cukup lama bersandar di dada Rudi. Merasakan getaran dan detak jantung pria kaya itu.
"tidak, aku tidak bisa," jawab Rara sambil menggelengkan kepala.
"hei, hei, hei, sayang," ucap Rudi sambil berusaha merangkul bahu mulus Rara. Namun, Rara mengelak dan pilih duduk bergeser sedikit menjauh.
"kamu nggak boleh nolak, kita kan sudah punya kontrak," Rudi mulai kehilangan kontrol pada dirinya.
"nggak aku nggak bisa," Rara lalu menepis tangan Rudi yang terus berusaha merangkulnya. Hal ini mulai memicu emosi pada pria itu.
"Hei !" Bentak Rudi. "kamu itu udah aku kontrak. Seharusnya kamu itu nurut. Nggak boleh kamu seperti ini," kata Rudi. Nadanya keras dan mampu membuat 2 pria penjaga di sekitar meja itu melihat ke belakang.
"tapi aku tetap nolak. Kalau harus nemenin kamu ke hotel. Dasar otak mesum," jawab Rara.
Rudi menarik kasar Rara. Berharap ia mampu merangkul tubuhnya. Namun, Rara langsung mengelak dan terus duduk bergeser menjauh.
"kamu berani sama saya, kamu berani !," bentak Rudi mulai tak terkendali.
Mendengar bentakan Rudi, Rara memilih meninggalkannya dan tidak mau berdebat lagi. Ia melangkah keluar dari kelab malam menuju mobilnya. Tak butuh waktu lama ia langsung melajukan mobilnya.