Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Kebijakan orang tua
"Tolong, Bapak... Ibu... Jangan sakiti Nona Raya!" seru Hendra.
Pak Baskoro dan Lidya menoleh menatap Hendra secara bersamaan.
Meskipun Hendra baru saja membuka rahasia terbesar dan paling berbahaya yang disembunyikan oleh Aris, tatapan yang ia berikan kepada orang tua atasannya itu tidak lagi menyiratkan ketakutan, melainkan sebuah keberanian terakhir dari seorang pelayan yang ingin membela kebahagiaan bosnya.
"Kenapa kami harus membiarkan wanita itu tetap berada di sisi Aris, Hendra?" tanya Pak Baskoro dingin, menatap tajam ke arah sekretaris putranya itu. "Dia adalah bom waktu yang siap meledakkan masa depan Aris kapan saja. Dia adalah pengingat dari dosa terbesar putra kami!"
Hendra menarik napas panjang, mengangkat kepalanya, dan menatap lurus ke dalam manik mata Pak Baskoro dan Lidya tanpa keraguan sedikit pun.
"Karena... apa yang kalian lihat sebagai sebuah ancaman dan bencana... bagi Pak Aris adalah satu-satunya alasan mengapa beliau masih bisa bernapas dengan waras sampai hari ini, Bapak," ucap Hendra dengan suara yang sangat tegas dan bergetar emosi.
Pak Baskoro dan Lidya tertegun. Mereka terdiam mendengarkan kelanjutan kalimat Hendra.
"Saya telah mendampingi Pak Aris selama bertahun-tahun," lanjut Hendra dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Saya tahu betul bagaimana sifat asli beliau. Pak Aris adalah pria yang dingin, ambisius, tidak kenal ampun di dunia bisnis, dan tidak pernah peduli pada air mata atau penderitaan orang lain. Beliau hidup seperti mesin yang sempurna."
Hendra menarik napas gemetar. "Tapi... setelah kecelakaan malam itu, saya melihat sisi lain dari Pak Aris yang tidak pernah ditunjukkannya kepada siapa pun. Beliau hampir gila karena rasa bersalah. Beliau hampir mati kehabisan darah secara mental dan fisik. Bahkan beberapa minggu lalu, beliau sempat tumbang dan dirawat intensif karena tidak pernah tidur dan tidak makan berhari-hari akibat dihantam rasa cemas yang teramat besar."
Lidya terkesiap dan menutup mulutnya. Ia tidak tahu bahwa putranya menderita separah itu di balik dinding mansion tertutup.
"Dan tahu apa yang menyelamatkan hidupnya, Bu?" suara Hendra makin parau, namun sarat akan ketulusan yang tak terbantahkan. "Bukan uang kekuasaan keluarga Prakasa. Bukan pula keberhasilan proyek-proyek triliunan rupiah yang diraihnya di kantor."
Hendra mengepalkan tangannya di depan dada. "Melainkan senyuman Nona Raya. Ketulusan wanita itu saat merawatnya, kepolosan balita Cyla saat memanggilnya 'Papa', dan kehangatan keluarga kecil yang coba dibangun oleh Nona Raya setiap hari di rumah itu."
Hendra menatap Pak Baskoro dan Lidya secara bergantian dengan pandangan memohon yang amat dalam.
"Selama bertahun-tahun saya bekerja untuk Pak Aris, saya belum pernah, bahkan satu detik pun melihat sorot mata setulus itu terpancar dari seorang Aris Prakasa. Beliau benar-benar mencintai Nona Raya dengan seluruh jiwa raganya. Beliau menebus dosanya dengan memberikan seluruh hidup, perhatian, dan kasih sayangnya tanpa celah sedikit pun kepada wanita itu."
Hendra menjatuhkan satu lututnya ke lantai ruang kerja, dan bersimpuh di hadapan orang tua Aris dengan rasa hormat.
"Jika Bapak dan Ibu berniat memisahkan mereka, atau melukai Nona Raya... maka sama saja dengan membunuh Pak Aris untuk kedua kalinya," bisik Hendra terbata-bata di ujung kalimatnya. "Saya mohon... biarkan kebenaran yang menyakitkan ini terkubur selamanya. Biarkan Pak Aris hidup dalam kebahagiaan yang sedang ditebusnya dengan seluruh sisa hidupnya."
Ruang kerja utama itu kembali diliputi oleh keheningan yang amat panjang.
Pak Baskoro berdiri mematung di dekat jendela, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela yang gelap di luar sana. Wajah tegas pria paruh baya itu tampak bergetar hebat.
Sebagai seorang ayah, ia baru saja mendengarkan pengakuan paling mengerikan sekaligus paling mengharukan tentang penderitaan batin putranya, sebuah sisi gelap yang tidak pernah diizinkan Aris untuk dilihat oleh orang tuanya sendiri.
Adapun Lidya, ia berjalan perlahan mendekati Hendra yang masih bersimpuh di lantai. Wanita bangsawan itu menunduk, lalu mengulurkan tangan halusnya untuk menyentuh bahu Hendra dengan pelan.
"Bangunlah, Hendra," bisik Lidya dengan suara yang bergetar hebat, air matanya kini membasahi pipinya yang anggun.
Hendra pun perlahan bangkit berdiri, seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Pak Baskoro memutar tubuhnya, dan melangkah mendekati meja kerja di mana Hendra berdiri. Pria paruh baya itu menatap sekretaris putranya dengan sorot mata yang kini telah melunak, meski sisa-sisa ketegasan seorang pemimpin keluarga besar masih terpancar jelas di wajahnya.
"Hendra," panggil Pak Baskoro dengan suara bass yang berat.
"Ya, Bapak?"
"Kamu telah mengkhianati kepercayaan Aris dengan menceritakan rahasia ini kepada kami," kata Pak Baskoro tajam. Namun sebelum Hendra sempat merespons, Pak Baskoro melanjutkan kalimatnya dengan nada yang jauh lebih dalam. "...Tapi di sisi lain, kamu telah membuktikan bahwa kesetiaanmu pada keluarga kami bukan sekadar omong kosong belaka. Kamu mengkhianatinya karena kamu mencemaskan masa depannya."
Hendra menunduk hormat. "Saya siap menerima hukuman apa pun dari Bapak atas kelancangan saya malam ini."
Pak Baskoro menghela napas panjang, lalu merapikan manset jasnya. "Tidak ada hukuman untukmu, Hendra. Pulanglah. Anggap pertemuan kita malam ini tidak pernah terjadi."
Hendra membelalakkan matanya karena kaget. "Bapak...?"
"Dengarkan aku baik-baik," potong Pak Baskoro dengan intonasi yang tidak bisa diganggu gugat. "Jika rahasia ini sampai bocor ke telinga orang lain, atau jika ada satu saja pihak luar yang mencoba menghancurkan keluarga putraku... maka aku akan memastikan nama Hendra dan seluruh keluargamu terseret ke dalam kehancuran itu. Apakah kamu mengerti?!"
"Saya mengerti, Bapak! Saya bersumpah dengan nyawa saya, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang tahu kebenaran ini selain kita bertiga!" jawab Hendra, seraya membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.
"Bagus," sahut Pak Baskoro. "Sekarang, keluarlah."
Setelah Hendra membungkuk sekali lagi dan meninggalkan ruang kerja tersebut dengan langkah tergesa-gesa namun merasa lega, suasana di ruangan itu kembali menyisakan Baskoro dan Lidya.
Lidya memandang suaminya dengan mata sembab. "Mas... apa yang akan kita lakukan sekarang? Apakah kita akan membiarkan Aris hidup dalam kebohongan besar itu bersama istri dari pria yang ditabraknya?"
Pak Baskoro berjalan mendekati istrinya, dan merangkul bahu Lidya dengan penuh kehangatan yang jarang ia tunjukkan. Ia lalu menatap ke luar jendela di mana lampu-lampu kota berkilauan di kejauhan.
"Lidya," bisik Pak Baskoro tenang. "Dunia bisnis adalah dunia yang kejam. Kita sering kali harus mengorbankan banyak hal demi bertahan hidup dan berkuasa. Tapi melihat bagaimana putra tunggal kita berjuang melawan rasa bersalahnya, menebus dosanya dengan cinta yang begitu besar... biarlah takdir yang memutuskan sampai di mana batas waktu kebohongan itu bertahan."
Pak Baskoro mengepalkan tangannya pelan di udara. "Untuk saat ini... kita tutup mata, kita tutup mulut, dan kita biarkan Aris menjaga kebahagiaannya. Karena jika kita mencoba merusaknya hari ini, kita justru akan kehilangan putra kita selamanya."
Lidya memejamkan matanya, dan membiarkan air mata terakhirnya menetes di atas pundak suaminya. Ia mengangguk pasrah pada keputusan yang diambil di tengah kegelapan malam rahasia keluarga Prakasa.
Bersambung...