Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Sembunyi - Sembunyi di Restoran Mewah
Rian memenangkan kompetisi esai lokal tingkat universitas dan mendapatkan hadiah berupa voucer makan malam berkapasitas dua orang di The Blue Pavilion. Bagi Rian, tempat itu adalah puncak dari kemewahan sipil: sebuah restoran steak premium yang bertengger di lantai dasar gedung pencakar langit distrik finansial kota. Karena tidak tega melihat Rian pergi sendirian dengan baju batik terbaiknya yang kekecilan di bagian bahu, Gavin akhirnya setuju untuk menemani, meskipun hatinya diliputi was-was sejak awal perjalanan mereka menaiki Astrea Grand.
Gavin tahu betul tempat apa The Blue Pavilion itu. Restoran tersebut adalah salah satu anak usaha di bawah lini bisnis kuliner premium milik Dewantara Group.
Begitu mereka melangkah masuk melewati pintu kaca setinggi tiga meter yang dijaga oleh pelayan berpakaian jas hitam rapi, Gavin langsung menarik topi pet kanvasnya rendah-rendah. Ia menaikkan kerah jaket denim lusuhnya hingga menutupi sebagian leher, lalu memasang postur bungkuk yang sengaja dibuat-buat agar tidak menarik perhatian.
"Gila, Gav, lantainya kinclong banget. Gue berasa jalan di atas cermin," bisik Rian dengan suara super pelan, tangannya berkali-kali merapikan kerah batiknya yang kaku.
"Makanya jalan biasa aja, Yan. Gak usah jinjit gitu, ntar lu dikira mau maling sendok," sahut Gavin berbisik di balik topinya.
Mereka diantar ke sebuah meja bundar di sudut ruangan, posisi yang cukup strategis karena agak terlindung oleh pilar marmer besar. Namun, ketenangan Gavin hancur seketika saat matanya menangkap siluet seorang pria paruh baya bertubuh tegap yang berjalan keluar dari ruang administrasi restoran. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu mahal dengan pin emas berlogo Dewantara Group di kerahnya.
Itu Pak Haryo, Manajer Umum area distrik barat yang sering datang ke kediaman utama keluarga Dewantara di Menteng untuk memberikan laporan bulanan kepada ayahnya.
Gavin langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding porselen. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Selamat malam. Selamat menikmati hidangan di tempat kami," suara bariton Pak Haryo terdengar mendekat. Pria tua itu sedang melakukan ritual khasnya: menyapa konsumen di area meja VIP untuk memastikan standar pelayanan prima khas Dewantara Group terpenuhi.
Langkah kaki bersepatu kulit mengkilap Pak Haryo semakin dekat ke arah meja mereka. Gavin yang panik setengah mati langsung pura-pura menjatuhkan garpu peraknya ke bawah meja.
TING!
"Aduh, garpu gue jatuh, Yan," ucap Gavin dengan suara yang sengaja diserak-serakkan.
Tanpa menunggu balasan dari Rian, Gavin langsung merosot turun ke bawah meja kayu yang dilapisi kain putih tebal tersebut. Ia berlutut di atas karpet beludru, menahan napasnya rapat-rapat tepat di balik juntaian kain meja.
Dari balik celah kain, Gavin bisa melihat sepasang sepatu kulit mengkilap milik Pak Haryo berhenti tepat di samping kursi Rian.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas? Saya melihat ada sesuatu yang jatuh," tanya Pak Haryo ramah kepada Rian.
Rian yang kebingungan langsung mendongak canggung. "E-eh, enggak apa-apa, Pak. Ini temen saya garpunya jatuh ke bawah meja. Lagi dicariin."
Pak Haryo melirik ke arah bawah meja sejenak, namun tertutup oleh kain yang tebal. "Baiklah, jika butuh garpu baru, pelayan kami akan segera mengantarkannya. Selamat menikmati makan malam Anda." Setelah memberikan senyuman formal, Pak Haryo akhirnya melangkah pergi menuju meja lain.
Gavin mengembuskan napas panjang yang tertahan di dalam dadanya. Ia kembali merangkak naik dan duduk di kursinya dengan wajah yang dipenuhi keringat dingin.
"Lu ngapain sih, Gav? Lama banget di bawah. Kayak buronan polisi aja lu," bisik Rian bingung sambil memotong daging wagyu premiumnya yang baru saja diantarkan pelayan.
Gavin menyeka keringat di dahinya dengan tisu, lalu tertawa renyah demi mengembalikan sisa-sisa akting slengeannya. "Lantai restoran ini estetik banget, Yan. Karpetnya empuk. Gue tadi agak kagum aja sampai lupa bangun," sahut Gavin asal, lalu dengan cepat menyuap sepotong daging ke dalam mulutnya untuk meredam kecurigaan sahabatnya.
Di bawah meja, tangannya meraba dompet di saku jinsnya. Ia bersumpah dalam hati tidak akan pernah mau lagi diajak makan di tempat-tempat yang memiliki logo keluarganya, demi menjaga sisa-sisa kebebasan yang berharga ini.