NovelToon NovelToon
Makam Keramat Panjang

Makam Keramat Panjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.

Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.

Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — RITUAL SELASA KLIWON

Bayangan hitam malam itu masih menyisakan rasa sesak yang membakar tenggorokanku.

Aku terbangun dengan peluh dingin membasahi seluruh selimut dan kasur kapuk.

“Aku harus bertahan hidup demi kalian berdua,” bisikku pelan sambil mengusap wajahku yang kaku.

Pagi harinya, hari Selasa Kliwon tiba membawa udara dingin teramat lembap.

Aku melangkah ke luar rumah untuk membongkar papan penutup toko kelontong.

Aroma bau pandan basah dan wangi kantil busuk mendadak tercium menyengat dari dalam toko.

Sreeek!

Suara pintu pagar bambu depan toko digeser kasar saat fajar baru menyingsing.

Pak Karso melangkah cepat mendekati meja kasir kayu dengan mata sayu yang tampak kosong.

“Pagi sekali sudah datang belanja ke toko, Pak Karso?” sapaku berusaha tersenyum ramah.

“Saya mau beli gula pasir lima kilo sama kopi bubuk empat bungkus, Surya,” kata Pak Karso datar.

“Suara bicaramu kok terdengar sangat kaku dan berat sekali pagi ini, Pak Karso?” tanyaku heran.

“Entah kenapa dari tadi subuh kepalaku rasanya seperti didorong-dorong harus ke sini, Surya,” jawabnya bingung.

“Padahal mataku masih sangat mengantuk dan badanku terasa lemas sekali,” lanjut Pak Karso pelan.

“Mungkin raga Bapak cuma butuh secangkir kopi hangat biar segar kembali,” kelitku tersenyum kaku.

Aku segera menyendok gula pasir dari dalam toples kaca besar di atas meja.

Namun betapa terkejutnya aku saat melihat ribuan semut hitam mati menumpuk di dasar toples.

“Ada apa dengan gula pasir di toples itu, Surya?” tanya Pak Karso memperhatikan gerak-gerikku.

“Tidak ada apa-apa, Pak Karso, ini cuma endapan kristal gula yang agak mengkristal,” kelitku berbohong cepat.

“Kenapa baunya seperti bunga kamboja busuk ya, Surya?” selidik Pak Karso heran.

“Itu cuma bau karung goni baru dari gudang distributor kota, Pak Karso,” potongku mengalihkan.

Aku buru-buru membungkus gula tersebut ke dalam kantong plastik bening tebal.

Pak Karso menyerahkan dua lembar uang dua puluh ribu rupiah ke telapak tanganku.

Rasa dingin membekukan seketika merambat dari lembaran uang itu, menusuk persendian jariku.

“Terima kasih banyak ya, Pak Karso,” ucapku sambil menahan rasa menggigil di dada.

“Sama-sama, Surya, besok pagi saya pasti datang belanja lagi ke tokomu ini,” sahutnya kaku.

Pak Karso berbalik pergi meninggalkan toko dengan langkah kaki yang diseret pelan.

Belum sempat aku menarik napas lega, puluhan warga desa lain sudah berdatangan mengantre.

Toko kelontong kami kembali dibanjiri pembeli yang saling berdesakan memborong barang dagangan.

Ningsih keluar dari dalam rumah sambil membawa nampan berisi teh hangat dan singkong rebus.

Namun langkah kaki istriku mendadak terhenti kaku begitu menatap wajah dan penampilan fisikku.

“Mas... kenapa wajahmu kelihatan makin hitam dan cekung sekali hari ini?” tanya Ningsih berbisik cemas.

“Mata hitammu kelihatan sangat dalam seperti orang yang tidak tidur seminggu,” lanjut Ningsih heran.

“Aku cuma agak kecapekan melayani pembeli yang ramai dari kemarin, Ningsih,” jawabku beralasan.

“Tapi bau badanmu juga berubah aneh sekali sejak kemarin lusa, Mas,” selidik Ningsih makin curiga.

“Bau badan bagaimana maksudmu, Ningsih?” tanyaku berusaha menenangkan detak jantungku.

“Bau badanmu persis seperti wangi bunga kantil busuk dan tanah kuburan basah,” jawab Ningsih jujur.

“Yang penting toko kita ramai dan punya uang cukup buat makan keluarga, Ningsih,” tegasku menyela.

Ningsih menggelengkan kepalanya pelan, air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Uang melimpah ini rasanya membawa aura dingin yang menakutkan di dalam rumah kita, Mas,” bisik Ningsih lirih.

“Tadi malam Dedek menjerit ketakutan melihat sosok raksasa hitam di luar jendela kamar,” sambungnya menangis.

“Dedek cuma salah lihat bayangan pohon pisang yang tertiup angin, Ningsih,” bujukku menenangkan.

“Beneran cuma bayangan pohon pisang kan, Mas?” tanya Ningsih memastikan lagi.

“Iya, Ningsih, percaya padaku, aku tidak akan membiarkan bahaya mengancam anak kita,” janji pelanku.

Pukul dua siang, seluruh barang dagangan di toko kami kembali habis membalut bersih tanpa sisa.

Aku duduk sendirian di teras toko, memandangi sepinya jalanan tanah desa yang tertutup debu.

Suara raungan mesin motor Ujang yang bising terdengar mendekati halaman rumah beberapa saat kemudian.

Ujang memarkir kendaraannya di bawah pohon mangga, lalu melangkah cepat mendekati teras toko.

“Kamu tidak lupa kan kalau malam ini adalah malam Selasa Kliwon, Mas?” tanya Ujang berbisik serius.

“Aku tidak pernah melupakan ancaman gaib dari penunggu makam itu, Jang,” jawabku pelan.

“Baguslah kalau kamu ingat, karena malam ini kamu wajib menjalankan ritual pembersihan makam,” kata Ujang.

“Apa saja alat yang harus kubawa ke Makam Keramat Panjang nanti malam, Jang?” tanyaku memastikan.

Ujang mendekatkan posisi berdirinya ke telingaku, menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan keadaan sepi.

“Kamu harus membawa satu buah sapu lidi baru dan tiga kuntum bunga kantil segar,” jelas Ujang berbisik.

“Apakah aku boleh membawa sentir atau lampu senter buat penerang jalan di hutan?” tanyaku ragu.

“Jangan pernah membawa lampu penerang terang ke dalam kompleks makam itu, Mas!” gertak Ujang memperingatkan.

“Penunggu makam sangat membenci cahaya terang saat ritual pembersihan berlangsung,” lanjutnya.

“Lalu bagaimana caranya aku bisa membersihkan nisan makam di dalam kegelapan pekat, Jang?” tanyaku bingung.

“Kamu cuma perlu mengusapkan sapu lidi dari arah kepala nisan ke kaki tiga kali berturut-turut,” jawab Ujang.

“Setelah itu kamu bakar tiga kuntum bunga kantil di atas batu nisan sambil membaca doa niatmu,” tambahnya.

“Ingat baik-baik, jangan pernah bicara atau menoleh ke belakang selama perjalanan pulang!” pesan Ujang tegas.

“Kalau kamu menoleh, sosok gaib itu akan mengikutimu masuk sampai ke dalam kamar tidurmu!” ancamnya.

“Baiklah, Jang, aku pasti akan mematuhi semua petunjuk keselamatan darimu,” janji pasrahku.

“Bagus, aku berdoa semoga ritual pertamamu malam ini berjalan lancar tanpa hambatan,” ujar Ujang.

Ujang menepuk bahuku keras, lalu berbalik melangkah menuju kendaraan sepeda motornya.

Deru mesin motornya meraung pelan sebelum akhirnya menghilang ditelan keheningan sore perkampungan.

Malam harinya, suasana di seluruh wilayah desa mendadak berubah menjadi sangat pekat mencekam.

Angin malam bertiup kencang, menggoyangkan pelepah pohon pisang di samping rumah panggung.

Pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit, aku berdiri perlahan di ruang tengah rumah yang gelap.

Aku telah menyiapkan sebuah sapu lidi baru dan tiga kuntum bunga kantil di dalam saku kemeja.

Aku menatap wajah Ningsih dan Dedek yang sedang tertidur lelap di atas ranjang bambu kamar.

“Maafkan aku, Ningsih... aku harus pergi menjalankan ritual ini demi keselamatan kita,” bisikku lirih.

Aku melangkah keluar rumah lewat pintu dapur belakang tanpa menimbulkan suara sedikit pun jua.

Udara malam Selasa Kliwon terasa sangat dingin membekukan, merasuk langsung ke dalam pori-pori kulit.

Langkah kakiku yang bertelanjang menapak cepat menyusuri jalanan tanah setapak menuju puncak bukit.

Srik!

Suara gesekan dedaunan kering di balik semak-semak membuatku terkejut setengah mati dan terhenti.

“Siapa orang di balik semak-semak itu?” tanyaku berbisik dengan suara yang gemetar hebat.

“Apakah ada mahluk halus yang mengawasiku di tengah jalan ini?” tanyaku memegang erat sapu lidi.

Tidak ada jawaban suara kata manusia yang membalas bisikan ketakutanku di tengah hutan malam itu.

Namun di belakang telinga kiriku, aku merasakan pendar hembusan napas dingin berbau bangkai.

Suara bisikan halus seorang wanita mendadak bergema sangat dekat di samping daun telingaku.

“Surya... kamu mau pergi ke rumahku ya...” bisik suara gaib itu mendesis dingin.

Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak bagaikan ditusuk ribuan jarum es membekukan.

Aku teringat pesan tegas dari Ujang untuk tidak pernah menoleh ke belakang selama perjalanan.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, lalu kembali melangkah berlari cepat menaiki tanjakan bukit.

Drap! Drap! Drap!

Langkah kakiku menapak keras di atas permukaan bebatuan licin dan perakaran pohon tua.

Di ujung tanjakan bukit, berdiri dua tiang batu hitam berlumut yang menandakan gerbang kompleks makam.

Makam Keramat Panjang berdiri sangat angker di bawah naungan pohon kamboja raksasa yang rindang.

Gundukan tanah makam sepanjang lima meter itu terlihat membentang kaku di atas tanah pelataran.

Cklek!

Suara dentang jam dinding dari balai desa di kejauhan terdengar berbunyi dua belas kali berturut-turut.

Tepat pukul dua belas malam, saat puncaknya malam Selasa Kliwon yang sakral dan gaib.

Aku melangkah mendekati gundukan tanah makam panjang itu dengan rasa takut yang amat luar biasa.

Tanganku yang gemetar hebat memegang gagang sapu lidi baru dengan erat-erat.

“Permisi, Mbah... saya Surya datang buat membersihkan makam sesuai janji perjanjian,” bisikku gemetar.

Aku berlutut di sebelah batu nisan tua, lalu mulai mengusapkan sapu lidi dari arah kepala ke kaki.

Sreeek! Sreeek! Sreeek!

Suara gesekan sapu lidi di atas tanah makam terdengar sangat nyaring memecah keheningan malam.

Namun baru tiga kali usapan sapu lidi, gundukan tanah makam sepanjang lima meter itu mendadak bergerak.

Tanah merah di atas gundukan itu menggelembung naik dan turun, seolah-olah ada paru-paru raksasa yang bernapas.

Dari dalam tanah di balik batu nisan, terdengar suara erangan berat yang sangat mengerikan sekali.

Grombol!

Suara retakan tanah gundukan makam bersahut-sahutan nyaring, memperlihatkan celah-celah lubang hitam.

Dua buah lengan hitam raksasa berdaging busuk mendadak menerobos keluar dari dalam tanah makam.

Jemari tangan berkerut dengan kuku-kuku hitam panjang itu mencengkeram erat batu nisan tua.

Asap hitam tebal membumbung tinggi dari celah tanah, membawa aroma bau bangkai manusia yang sangat pekat.

Sesosok mahluk raksasa tinggi besar berdiri perlahan membungkuk di atas gundukan tanah makam.

Wajahnya yang hancur membusuk tidak memiliki hidung, dan dua titik matanya menyala merah terang bagaikan api.

“Surya... kamu datang menepati janjimu di malam Selasa Kliwon ini...” gemuruh suara gaib itu mengguncang tanah.

Aku terpaku kaku berlutut di atas tanah basah, tubuhku gemetar hebat sampai tidak bisa digerakkan.

“Saya datang membawa niat jujur buat membersihkan makammu, Mbah,” sahutku bergetar hebat.

“Bakar tiga kuntum bunga kantil itu di atas kepalaku sekarang!” perintah mahluk raksasa itu bergemuruh.

“Baik, Mbah, saya bakar bunga kantil ini sekarang juga!” sahutku cepat.

Dengan jemari yang gemetar hebat tak terkontrol, aku merogoh tiga kuntum bunga kantil dari saku kemeja.

Aku menyalakan sebatang korek api kayu tua, lalu membakar bunga kantil itu tepat di atas batu nisan.

Asap putih tebal membumbung tinggi, menyebarkan aroma wangi gaib yang membuat kepalaku pusing.

Mahluk raksasa itu mengisap asap bunga kantil dalam-dalam, lalu terkekeh-kekeh dengan tawa serak yang mengerikan.

“Pembersihan makam malam ini sudah kuterima, Surya!” seru suara gaib itu bergema di dalam kepalaku.

“Ingat baik-baik, Jumat Kliwon depan kamu wajib datang lagi membawa sajen bunga dan minyak!” tegasnya.

“Bagaimana kalau saya berhalangan hadir karena sakit atau halangan darurat, Mbah?” tanyaku bergetar memohon.

“Kalau kamu alpa satu kali saja... darah dan jiwa anakmu akan menjadi pengganti sajenku!” ancam mahluk itu.

“Saya tidak akan pernah alpa, Mbah! Saya janji akan selalu datang mematuhi perjanjian!” jeritku ketakutan.

“Pulanglah sekarang sebelum wujud asliku menelan jiwamu!” perintah mahluk raksasa itu bergemuruh.

“Terima kasih banyak, Mbah, saya mohon pamit pulang sekarang,” sahutku gemetar.

Mahluk raksasa hitam itu perlahan meresap kembali masuk ke dalam celah tanah gundukan makam.

Asap hitam tebal memudar hilang, meninggalkan keheningan malam yang sangat pekat dan dingin.

Aku mengambil sapu lidi, lalu berlari sekuat tenaga meninggalkan kompleks Makam Keramat Panjang.

Aku berlari menuruni bukit tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun jua di sepanjang jalan.

Sesampainya di rumah panggung, aku segera mengunci pintu dapur belakang rapat-rapat.

Aku terduduk lemas di atas lantai kayu dapur dengan napas yang memburu keras dan kucuran keringat dingin.

Di dalam kamar tidur, suara tangisan lirih Dedek mendadak terdengar dari balik pintu.

Aku bergegas melangkah masuk ke dalam kamar, melihat Ningsih sedang memeluk Dedek yang menggigil hebat.

“Kenapa Dedek menangis malam-malam begini, Ningsih?” tanyaku panik sambil mendekati ranjang.

“Dedek mendadak demam tinggi sekali sejak pukul dua belas malam tadi, Mas!” jawab Ningsih menangis terisak.

“Badannya panas sekali seperti dibakar api, dan lehernya memar hitam bekas cengkeraman tangan,” lanjut Ningsih.

Jantungku serasa dicabut paksa dari dada melihat bekas memar hitam berbentuk lima jari tangan raksasa di leher Dedek.

“Aduh... sakit sekali leher Dedek, Pak...” rintih Dedek menangis pelan di pelukan ibunya.

“Sabar ya, sayang, Bapak kompres lehermu pakai air hangat sekarang,” bujukku menahan tangis.

“Kenapa ada bekas cengkeraman tangan raksasa di leher anak kita, Mas?” tanya Ningsih menuntut jawaban.

“Aku juga tidak tahu, Ningsih, besok pagi kita bawa Dedek berobat ke mantri desa,” kelitku membohongi.

Perjanjian gaib dengan penunggu Makam Keramat Panjang kini mulai meminta bayaran berdarah dari keluargaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!