NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Tamu Keluarga Giorgiana dan Bayang-Bayang Perjodohan

Udara di dalam rumah besar bergaya era Victoria milik keluarga Giorgiana di kawasan Kensington, London, terasa jauh lebih dingin daripada salju yang menumpuk di luar jendela. Ruang tamu itu didekorasi dengan kemewahan klasik—lukisan cat minyak berbingkai emas antik tergantung di dinding berpanel kayu mahoni, karpet tebal wol Persia menutupi lantai, dan perapian menyala meredupkan bayangan-bayangan remang di sudut ruangan.

Martha duduk di atas sofa beludru hijau tua, jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan, telapak tangannya terasa dingin basah oleh keringat kecemasan. Di seberangnya duduk sang ayah, Lord Alistair Giorgiana, dengan setelan jas rapi dan tatapan mata setajam elang yang menguliti pertahanan mental putrinya. Sementara ibunya, Lady Eleanor, berdiri kaku di dekat jendela, memunggungi mereka dengan cangkir porselen tipis di tangannya.

Pintu ganda ruang tamu itu terbuka pelan. Pelayan rumah mengantar masuk satu-satunya tamu yang membuat seluruh atmosfer ruangan mendadak berubah tegang.

Adnan Bagas Setiawan melangkah masuk. Pria itu tidak mengenakan beskap tradisional Jawa seperti saat pertama kali Martha melihatnya di Ubud, namun ia tetap memilih busana yang memancarkan wibawa dan kerapian mutlak: jas mantel wol panjang berwarna arang, kemeja putih berkerah rapi tanpa dasi, dan postur tubuh tegap yang tidak sedikitpun menyiratkan rasa gentar, meski ia tahu persis dirinya sedang berdiri di sarang singa aristokrasi Inggris.

"Selamat sore, Lord Giorgiana, Lady Eleanor," sapa Adnan dengan suara baritonnya yang tenang, jelas, dan menggunakan bahasa Inggris beraksen formal yang sangat fasih. Ia menundukkan kepalanya sedikit—sebuah bentuk penghormatan santun ala ketimuran yang langsung disambut dengan keheningan kaku.

Alistair Giorgiana tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu menyesap wiskinya perlahan, matanya mengamati Adnan dari ujung rambut hingga ujung kaki, menilai setiap inci gestur pemuda asal Nusantara itu dengan pandangan sinis yang merendahkan.

"Jadi," suara Alistair memecah keheningan, terdengar dingin dan berwibawa. "Anda pemuda asal Indonesia yang beberapa bulan terakhir ini berhasil memikat putri saya hingga melupakan kewajibannya di Eropa? Duduklah."

Adnan melangkah tenang dan duduk di kursi tunggal yang berhadapan langsung dengan Alistair, tanpa mengalihkan pandangannya dari mata ayah kekasihnya itu. "Terima kasih atas waktunya, Lord Giorgiana. Kedatangan saya ke sini bukan untuk melupakan kewajiban Martha, melainkan untuk memperkenalkan diri secara langsung dan menunjukkan iktikad baik sebagai seorang pria."

Lady Eleanor berbalik dari jendela, mendengus sinis. "Iktikad baik? Tuan Setiawan, mari kita bicara secara realistis tanpa balutan kata-kata puitis. Anda datang dari belahan bumi yang sangat berbeda. Budaya kita tidak sama. Keyakinan dan prinsip hidup kita berada di garis yang berlawanan. Apa yang sebenarnya bisa Anda tawarkan untuk masa depan Martha? Kehidupan di desa tropis? Atau petualangan tanpa arah yang hanya akan menghancurkan masa depannya di lingkaran sosial kami?"

Pertanyaan tajam itu menohok langsung ulu hati Martha. Ia hendak membuka suara untuk membela Adnan, namun sebuah gerakan kecil dari tangan Adnan—isyarat tenang yang menyuruhnya bersabar—membuat Martha tertahan.

Adnan tidak menunjukkan tanda-tanda tersinggung. Wajahnya tetap tenang, garis rahangnya kokoh, dan sepasang mata hitamnya menatap Lady Eleanor dengan penuh rasa hormat.

"Saya mengerti kekhawatiran Anda, Nyonya Giorgiana," jawab Adnan dengan nada suara yang begitu stabil dan rendah. "Sebagai orang tua, wajar jika Anda ingin melindungi masa depan anak Anda. Tetapi masa depan tidak diukur dari seberapa besar tembok perbatasan negara atau seberapa selaras status sosial. Cinta dan komitmen dibangun atas dasar ketulusan, rasa hormat, dan keberanian untuk saling memahami di tengah perbedaan."

Alistair tertawa kecil—sebuah tawa dingin yang tidak menyentuh matanya. Ia meletakkan gelas kristalnya di atas meja kayu dengan bunyi dentingan keras yang memecah udara.

"Kata-kata yang indah, anak muda," ucap Alistair tajam. "Tetapi di dunia nyata, dunia tempat keluarga kami hidup dan bernapas, kata-kata indah tidak bisa membayar kenyataan sosial. Martha adalah satu-satunya pewaris tradisi keluarga ini. Dan sejak jauh-jauh hari, kami telah mempersiapkan jalan hidup yang sepadan untuknya."

Alistair melirik sekilas ke arah istrinya, sebelum kembali menatap Martha dan Adnan bergantian.

"Minggu depan, keluarga kami akan mengadakan jamuan makan malam resmi," lanjut Alistair dengan nada penuh penekanan. "Kami akan mengundang keluarga besar serta Julian Vance—pewaris tunggal perusahaan pelayaran internasional Vance Group, seorang pemuda terpandang dari lingkaran elit London yang tidak hanya seiman, se-latar belakang, dan sepemikiran dengan kami, tetapi juga telah resmi dijodohkan dengan Martha."

Dunia Martha seolah runtuh seketika mendengar kalimat terakhir ayahnya.

"Ayah!" bentak Martha, berdiri dari kursinya dengan napas memburu dan air mata kemarahan yang langsung tumpah membasahi pipinya. "Apa yang Ayah katakan?! Aku tidak pernah menyetujui perjodohan bodoh itu! Aku bukan boneka yang bisa Ayah tukar-tukar demi kepentingan bisnis keluarga!"

"Jaga nada bicara mu, Martha!" bentak Alistair balik, berdiri dengan kemarahan yang sama besarnya. "Ini demi kebaikan masa depanmu! Kau dibutakan oleh hubungan sesaat dengan seseorang yang tidak memiliki masa depan di dunia kita!"

Situasi di dalam ruang tamu itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran emosional. Di tengah ketegangan yang memuncak, Adnan perlahan bangkit dari duduknya. Gerakannya yang tenang dan terkendali kontras dengan kekacauan di sekelilingnya.

Pria itu menatap Alistair dan Eleanor bergantian, lalu melirik ke arah Martha yang sedang gemetar menahan isak tangis. Adnan melangkah mendekati Martha, meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat-erat, menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki ke dalam jemari wanita yang dicintainya.

"Terima kasih atas keterbukaan Anda, Lord Giorgiana, Lady Eleanor," ucap Adnan dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa, mencengkeram kuat prinsip hidupnya di hadapan para kaum elit Inggris tersebut. "Hari ini saya datang untuk meminta restu dengan cara yang terhormat. Dan hari ini pula saya mendapati bahwa perjuangan kami tidak akan pernah mudah."

Adnan menoleh menatap Martha lekat-lekat, menyunggingkan senyuman tipis yang penuh keteguhan.

"Tetapi ingatlah," lanjut Adnan, suaranya terdengar begitu mantap menggema di ruang tamu mewah itu, "perjodohan di atas kertas atau restu yang dipaksakan tidak akan pernah bisa membeli hati seseorang yang telah memilih jalan pulangnya sendiri."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Adnan memberi sedikit anggukan hormat kepada orang tua Martha, lalu menggandeng tangan wanita itu keluar dari rumah besar tersebut—menembus badai salju London yang dingin, meninggalkan kemarahan keluarga Giorgiana yang membara, dan memulai babak baru dari ujian cinta mereka yang sesungguhnya.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!