Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Aurel dan Shirin segera membawa mangkuk daging itu keluar menuju halaman belakang. Angin malam langsung menyapu wajahku, tetapi tidak mampu mendinginkan gemuruh di dalam dada. Di dekat panggangan yang mulai berasap, Aurel bisa melihat sosok Bang Edward berdiri tegap, tertawa bersama kk Anita pacar tercintanya.
Senyumnya begitu lepas, sangat berbeda dengan tatapan dingin dan keras yang ia berikan padaku beberapa saat lalu. Dada ini kembali berdenyut nyeri. Di tempat seramai ini, di tengah kehangatan keluarga, aku justru merasa menjadi orang paling asing. Aku harus berjalan mendekatinya, berpura-pura menjadi adik kecil yang penurut, sementara separuh jiwaku baru saja diremukkan olehnya.
"Nah, ini dia dagingnya datang!" seru Kak Anita dengan senyum manisnya yang selalu tampak sempurna di mataku. Ia langsung mengambil mangkuk dari tangan Shirin, lalu menoleh ke arah Edward. "Ed, tolong taruh di panggangan, ya."
Edward tersenyum lembut—jenis senyuman yang tidak akan pernah ia berikan kepadaku—lalu mengacak rambut Kak Anita sayang. "Siap, Sayang."
Sakit itulah yang sedang dirasakan Aurel selama ini, yang selalu melihat orang yang paling di cintai bersama orang lain. Aurel sudah selalu berusaha melupakannya dan menguatkan hati bahwa Bang Edward hanya menganggap dirinya anak kecil.
Pada saat bg Edward dan kk Anita fokus manggang dagingnya, akhirnya Shirin menyeret Aurel pergi dari sana. Mereka pergi menemui mommy Zeline dan juga mama Olivia yang sedang sibuk menata piring-piring dan gelas di atas meja makan panjang.
Melihat kedatangan kami, Tante Zeline—mommy Aurel —langsung mendongak. "Eh, kalian sudah balik dari belakang? Dagingnya sudah mulai dipanggang?" tanya Mommy Zeline dengan suara cerianya yang khas.
"Sudah, Tante. Tadi langsung dieksekusi sama Bang Edward dan Kak Anita," jawab Shirin santai. Tangannya masih menggenggam erat pergelangan tanganku, seolah tahu kalau pegangan itu adalah satu-satunya penopang yang membuatku tidak runtuh saat ini.
Mama Olivia yaitu mama Bang Edward—ikut menoleh sambil membawa mangkuk berisi bumbu tambahan. "Bagus deh. Oh ya, Aurel, tolong ambilkan tisu makan di kabinet atas dapur, ya? Mama lupa bawa keluar tadi."
"Biar Shirin aja yang ambil, Tante," potong Shirin dengan cekatan sebelum aku sempat melangkah. Shirin sengaja menepuk pundakku sekilas, memberi kode agar aku tetap di tempat. "Aurel tadi katanya agak pusing karena kelamaan kena angin malam di luar. Biar Aurel duduk nemenin Tante Zeline sama Tante olivia di sini aja."
Mama Olivia langsung menghentikan aktivitasnya dan menatapku dengan raut wajah cemas. Beliau melangkah mendekat, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahiku. "Pusing, Sayang? Tadi pas di dapur muka kamu memang kelihatan agak pucat. Kamu belum makan dari siang, ya?
"Sentuhan lembut tangan Mama Olivia (mama Edward) dan tatapan khawatirnya.
"Cuma pusing dikit kok, Ma. Mungkin karena masuk angin aja," dustaku, memaksakan seulas senyum tipis agar Mama tidak semakin cemas.
"Ya sudah, kamu duduk di sini saja, Rel. Jangan banyak tingkah dulu," sahut Mommy Zeline sambil menarik sebaris kursi kayu untukku. "Nanti kalau dagingnya sudah matang, kamu harus makan yang banyak ya." "Nanti kalo sampai Daddy mu tau kamu sakit Mommy yang di omelin". Aku hanya bisa mengangguk pasrah dan mendudukkan diri di kursi tersebut.
Dari sudut meja makan ini, aku melemparkan pandangan jauh ke arah halaman belakang. Samar-samar, aku masih bisa melihat siluet Bang Edward yang sedang tertawa lepas berdampingan dengan Kak Anita di dekat panggangan yang berasap. Dada ini kembali berdenyut perih, memaksaku untuk cepat-cepat memalingkan wajah dan menatap lantai, merutuki hatiku yang bodoh karena masih saja terluka.
Tidak lama kemudian, pintu kaca kembali terbuka. Papa Crish dan Daddy Wira keluar dari dalam rumah sambil membawa sebaskat es batu dan beberapa botol minuman dingin. Keduanya tampak asyik tertawa, entah sedang membahas urusan bisnis atau sekadar bertukar lelucon khas bapak-bapak.
"Nah, ini dia amunisi segarnya sudah datang!" seru papa Crish (papa Edward) dengan suara baritonnya yang mantap, meletakkan baskom es di atas meja.
Daddy langsung berjalan mendekatiku begitu melihatku duduk menyendiri. Beliau mengusap rambutku dengan sayang. "Lho, anak gadis Daddy cemberut aja? Masuk angin ya? Tadi Daddy lihat di dapur mukanya lesu banget."
Perhatian hangat dari Daddy membuatku sedikit terhibur, meskipun hatiku tetap terasa hampa saat melirik ke arah halaman belakang di mana Bang Edward dan Kak Anita berada.
"Mom, kenapa tidak memberikan jaket pada Aurel tadi saat keluar?" tanya Daddy pada Mommy.
Inilah yang dikhawatirkan Mommy. Kalau terjadi sesuatu sedikit saja pada putri mereka, pasti jiwa posesif Daddy-ku langsung keluar.
"Tidak apa-apa, Dad. Tadi Aurel yang tidak mau pakai," jawabku menenangkan Daddy.
"Lain kali pakai ya, Sayang. Daddy tidak mau lihat kamu sakit," ujar Daddy sambil mengelus kembali kepalaku.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Di bawah usapan tangan Daddy yang hangat, setitik rasa bersalah menyelinap ke dadaku.
"Tuh, dengerin Daddy-mu," timpal Mommy Zeline sambil menata gelas-geleng kaca. "Makanya, dihabiskan dulu es batunya, Dad. Biar Mommy yang urus anak gadismu ini."
Papa Chris terkekeh, meletakkan botol-botol minuman dingin ke dalam baskom es. "Wira, Wira... posesifmu itu tidak pernah berubah sejak kita muda ya. Aurel sudah kuliah, bukan balita lagi."
"Biarkan saja, Chris. Mau dia sudah kuliah atau punya anak nanti, dia tetap putri kecilku," sahut Daddy tidak mau kalah, membuat Papa Chris menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa.
Tepat saat itu, aroma daging panggang yang matang sempurna tercium semakin kuat. Dari arah panggangan, suara tawa Kak Anita terdengar mendekat.
"Daging kloter pertama sudah siap!" seru Kak Anita riang. Ia berjalan anggun membawa piring besar berisi potongan daging yang masih mengepulkan asap. Di belakangnya, Bang Edward berjalan menyusul sambil membawa nampan sosis.
Langkah Bang Edward sempat tertahan sesaat ketika matanya tidak sengaja berbenturan dengan mataku yang sedang duduk di sebelah Daddy. Dan dia begitu kaget melihat wajahku yang agak pucat dan sedang memakai selimut dan saat itu juga bg Edward meletakkan ke meja sosis bakar yang dia bawa.
Dia berjalan ke arahku. Setelah sampai di depanku, Bang Edward langsung meletakkan telapak tangannya di keningku.
"Kamu sakit, Rel?" tanyanya dengan nada suara yang terdengar begitu khawatir.
Kak Anita yang mendengarnya langsung ikut menghampiri kami. Dengan cekatan, dia membawa segelas air hangat lalu memberikannya kepadaku.
"Lah, tadi kamu masih sehat-sehat saja, Rel. Kok sekarang jadi pucat begini?" tanya Kak Anita yang raut wajahnya berubah cemas.
"Aurel tidak apa-apa kok, Kak Anita," sahutku pelan sembari memaksakan senyum tipis.
"Lain kali kalau keluar pakai jaket, Rel," sahut Bang Edward lagi, tatapannya masih tertuju padaku.
"Dengerin tuh," timpal Mommy yang berdiri tidak jauh dari kami.
Aku hanya bisa terdiam. Dan inilah alasan utamaku mengapa aku tidak pernah bisa melupakan Bang Edward. Kebaikan, ketulusan, dan perhatian-perhatian kecil seperti inilah yang selalu berhasil meruntuhkan dinding pertahanan yang sudah kubangun dengan susah payah. Perhatian yang membuatku sulit untuk melangkah pergi, meskipun di saat yang sama, dadaku terasa begitu sesak karena tahu bahwa semua kepedulian ini hanyalah wujud sayang seorang kakak kepada adik kecilnya. Tidak akan pernah lebih.
Tapi tiba-tiba