Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.
SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.
Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.
Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5: Perubahan Rencana yang Melenceng
Pagi datang terlalu cepat. Matahari baru saja menembus kabut tipis ketika kami kembali berkumpul di restoran yang belum sepenuhnya jadi itu. Di meja panjang, daftar kebutuhan tergeletak, jumlahnya sangat banyak.
"Jadi kita bagi tugas, ya," ujar Jeje, berusaha terdengar netral.
Namun sebelum ia sempat melanjutkan, Jefry sudah mengambil alih.
"Nggak usah dibagi-bagi. Kita handle saja semuanya. Lebih cepat," katanya percaya diri. "Dek, lo catat semuanya di excel. Bro, lo siap jadi eksekutor lapangan. Bagas bagian desain."
Shinta mengangguk, membuka laptop dengan cepat, "Oke, Bang. Yang urgent dulu kayak karpet, lampu hias, alat masak, dekor, sama rak display ya."
Hendra mengangkat kedua alisnya, "Banyak amat, ya. Tapi, ya udahlah. Bisa kekejar lah."
Aku hanya menatap mereka. Ada rasa tidak enak yang mengendap di perasaanku, melihat wajah Jeje yang bingung.
Tak lama, Damar muncul masuk ke dalam ruangan, menghampiri kami, "Gimana mobilnya? Perlu ganti nggak? Rubicon tuh pakai, kalo mau."
Sully yang menyusul di belakangnya juga mengatakan hal serupa, "Kalian tinggal pilih, mau pakai rubicon, hammer, pajero, atau fortuner putih. Asal jangan mustang gua aja."
"Wah, mantap!" seru Jefry. "Berasa jadi tim produksi film beneran," sahut Hendra.
Aku semakin tidak habis pikir dengan mereka, kenapa bahagia sekali hanya karena mendapatkan mobil operasional mobil mewah. Padahal pitching filmnya belum jelas. Mengurusi restoran ini pun belum jelas pembayarannya bagaimana.
Apa mungkin karena memang mereka sebenarnya belum pernah punya project film, pitching kali ini merupakan yang pertama. Jadi mereka seperti itu.
Sedangkan aku sudah beberapa kali ikut ke dalam produksi film, meski bukan posisi atas. Aku biasa menjadi social media specialist, tim promo, bagian BTS, development story atau hanya sekedar kurasi cerita.
Jefry tertawa puas. "Ini namanya kepercayaan. Kita buktikan kalau mereka nggak salah pilih orang," bisiknya kepadaku.
Mitsubishi Pajero menjadi mobil operasional kedua kami. Kilap bodinya memantulkan langit Bandung yang cerah. Hendra berada di kursi setir, diikuti dengan Jefry yang naik dan duduk di sebelahnya.
Aku berjalan menuju mobil Fortuner hitam yang sebelumnya kami gunakan, di sisi lain, Shinta masuk bersamaku.
Di dalam mobil, Shinta membuka daftar.
"Pertama, ke toko karpet. Setelah itu lampu hias, terus alat masak berat."
"Tin, tin!" sahut Hendra menekan klakson. Aku membuka kaca, kemudian terdengar teriakannya, "Lo di depan, Gas. Gua ngikutin lo aja."
Dalam perjalanan, tepat di lampu merah, aku akhirnya bersuara. "Shinta, kita ini sebenarnya masih pitching film, kan? Tapi kok sekarang malah jadi EO dadakan?"
Shinta menoleh, "Sabar dulu, Mas Bagas. Seperti kata Bang Jef, kita bikin mereka nyaman dulu. Setelah itu baru masuk ke film. Percaya aja sama dia."
"Lo yakin?"
"Iya, Mas Bagas," timpal Shinta. "Kesempatan kayak gini jarang bisa kita dapetin."
Aku hanya bisa diam, menancap gas karena rambu lampu sudah berwarna hijau.
Seharian penuh kami berpindah dari satu toko ke toko lain. Karpet tebal digulung, lampu gantung dibungkus plastik, alat masak besar diangkut ke bagasi. Setiap barang yang masuk ke mobil, rasa lelah kami makin bertambah.
Di sela-sela itu, Damar dan Sully beberapa kali menelepon, bahkan video call.
"Kalian luar biasa, ya," suara Damar terdengar hangat. "Cepat sekali kerjanya."
Sully ikut memberikan pujian, "Makasih ya, udah bantuin kita. Seneng banget bisa bekerja sama dengan orang-orang serajin kalian."
Setiap pujian itu jatuh, Jefry makin tegak.
"Lihat, Gas?" katanya pelan tapi menekan. "Ini langkah awal."
Aku tak terlalu menanggapinya, mengalihkan pembicaraan ke Shinta untuk memeriksa kembali semua daftar belanjaan.
"Langkah awal ke mana?" gumamku dalam hati.
Karena sampai saat ini, pitching film masih terasa seperti bayang-bayang, semakin dikejar, rasanya malah menjauh. Sementara di kejauhan, langit Bandung tampak mulai mendung, seakan ikut menyimpan sesuatu yang tidak aku mengerti.
Malam itu seharusnya jadi waktu istirahat. Tapi buatku, kepala ini justru dipenuhi suara-suara keraguan. Setelah seharian kami jadi EO dadakan, mengurus segala hal demi restoran Damar dan Sully, tubuh ini rasanya remuk.
Anehnya, mereka memesan hotel yang berbeda lagi untuk kami. Masih mewah, harganya pasti mahal. Tapi tetap saja, ini tak serta merta membuatku tenang.
"Gas, ini kunci kamarmu," kata Shinta, menyerahkan kartu. "Besok pagi kita mulai lagi dari vendor alat dekor, ya."
Aku mengiyakan dengan malas.
Dalam hati aku sedang sibuk memikirkan banyak hal yang tak kunjung menemukan jawaban.
Di kamar, aku berdiri lama menghadap jendela. Lampu kota berpendar samar. Handphoneku bergetar.
Delia mengirimkan pesan, "Pa, jangan lupa lusa ada iklan TVC sama Kang Yunus. Terus minggu depan juga udah mulai shootingnya Bang Adit. Empat minggu lho, tiga kota kan?"
Aku menelan ludah. Janji itu masih menggantung, sekarang seperti tali yang menjerat leherku sendiri.
Tidak bisa istirahat, aku turun ke lobi, keluar hotel untuk mencari minuman bersoda. Jefry dan Shinta terlihat juga sedang di depan lift hotel.
"Mau kemana, Gas?" tanya Jefry
"Ke bawah cari minum, kalian mau kemana?"
Rupanya mereka ingin ke lobi untuk melaporkan kalau ac di kamarnya tidak dingin, mereka mengajukan pindah kamar.
Di dalam lift, aku memanfaatkan kesempatan ini.
"Bang Jef, gua mau ngomong dong," kataku pelan. "Kita ke sini buat pitching film. Tapi yang kita urusin di sini, bukan soal itu, malah restoran. Gua lusa ada tvc sama temen, terus minggu depan gua mulai shooting sama Bang Adit. Gua harus kasih kepastian."
Jefry menoleh, senyumnya dipaksa ramah.
"Gas, sabar dulu. Ini semua bagian dari pendekatan. Keliatan kok, Damar sama Sully udah mulai percaya sama kita. Tinggal sedikit lagi."
Shinta ikut menimpali, suaranya ringan tapi terasa menekan.
"Iya, lo tuh kunci kita. Jangan mundur sekarang."
Aku menghela nafas. "Masalahnya, gua udah janji sama orang. Bukan cuma soal uang, ini soal profesionalitas bang."
Shinta menatapku. "Gua ngerti, Mas. Tapi kalau kita pulang sekarang, project film ini buyar."
Aku tercekat. Semua orang menggantungkan harapan padaku.
Akhirnya aku berpisah dengan mereka di lobi. Di jalan, aku memberanikan diri untuk memutuskan mencari nama Kang Yunus di layar handphone.
Sambungan terangkat.
"Halo, Gas?" suaranya berat seperti biasa.
Aku menarik nafas sebelum bicara, "Kang, maaf banget, kayaknya untuk TVC lusa saya nggak bisa ikut. Ada urusan mendadak yang rumit."
Hening. Lalu suara itu berubah dingin.
"Bukannya kamu udah janji, Gas. Kru tambahan udah saya siapin. Klien udah oke. Kamu tau repotnya ganti kru kan?"
Dadaku sesak. "Saya tau, Kang. Serius, paham banget. Tapi ini, saya ada urusan penting banget sekarang."
Ada tawa pendek, bukan senang.
"Ya sudah. Terserah kamu aja kalo gitu. Jangan lupa, kepercayaan itu mahal, Gas."
Telepon terputus.
Aku berjalan di tepi trotoar. Rasanya seperti baru saja melempar satu batu kecil ke kaca yang baru dipasang. Retaknya mungkin belum terlihat jelas,tapi cepat atau lambat, pasti pecah.
Di luar, angin menggesek keinginanku untuk membeli minuman, tapi aku sudah terlanjur jalan sejauh ini.
Bukannya kita ke Bandung buat pitching film? Pertanyaan itu terus menggema di kepalaku.
Tanpa sengaja, aku melihat gerobak nasi goreng di sudut jalan. Memang agak jauh, tapi entah kenapa aku ingin mencicipi rasa nasi goreng di kota Bandung.
Waktu berlalu, aku sempat menelepon Delia hanya untuk sekedar melepas rindu. Setelah membayar, aku kembali ke hotel yang kini bisa kurasakan jaraknya cukup jauh dari gerobak tersebut.
Malam semakin larut. Suasana lobi hotel masih cukup ramai dengan beberapa petugas keamanan dan pegawai resepsionis.
Namun setelah masuk ke dalam lift, hanya aku sendirian. Entah kenapa perasaanku langsung berubah drastis. Untuk mengalihkan perhatian, aku mengambil handphone, berselancar di sosial media.
Jam di layar menunjukkan pukul 23.49 hampir tengah malam.
Ketika berada di lantai 9, lift berhenti, seorang wanita masuk. Wajahnya terlihat pucat, tanpa ekspresi.
Aku sempat bertanya, "Mau ke lantai berapa, Teh?"
Niatku ingin membantu menekan tombol lantai yang ingin ia tuju.
Tapi ia hanya diam, tidak menjawab pertanyaanku itu. Meski heran dan mulai merasa takut, aku berusaha tenang, membiarkannya.
Hingga lift sampai ke lantai 16, aku langsung keluar sesaat setelah pintu terbuka. Wanita itu masih hanya diam di dalam lift itu, tidak bergerak atau menekan tombol apapun hingga pintu tertutup kembali.
Aku segera masuk ke dalam kamar, menancapkan kartu sehingga lampu menyala dan ac kamar berdesis pelan. Di antara suasana itu, aku merasa seperti ada ruang sunyi yang aneh.
Rasanya seakan ada sesuatu yang ikut masuk ke kamar ini, memperhatikan, bukan ingin mengganggu tapi juga tidak mau diabaikan.