NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Nindy

Hanya satu orang di dunia yang memanggil Raka dengan nama itu dengan nada seperti itu.

Anindya Maheswari. Nindy.

Raka berdiri di halaman kepatihan dengan Gandra masih menggelantung di lengannya, dan untuk beberapa detik, dunia menyempit menjadi satu nama. Ia melihat wajah itu sekaligus dalam ingatannya: mata cokelat yang selalu menyipit ketika tertawa, rambut sebahu yang tak pernah rapi, seragam perawat putih dengan lencana nama miring di dada. Dua tahun mereka bersama. Dua tahun yang tiba-tiba terputus oleh gang sempit di Laweyan.

"Kang?" Gandra mengguncang lengannya. "Kang Raka, kau mendengarku?"

"Aku..." Suara Raka serak. "Di mana dia sekarang?"

"Di rumah Nyai Lastri. Beliau yang merawatnya. Tubuhnya lemas, tapi dia sadar sekarang. Dia bicara terus, dan aku tak mengerti separuhnya." Gandra menelan ludah. "Aku langsung berangkat ke sini. Dan Kang, dia bilang sesuatu yang membuatku takut. Dia bilang ini penting sekali. Tapi aku tak paham artinya."

"Apa?"

"Kata-katanya aneh. Sesuatu tentang... rumah sakit?"

Raka merasakan sesuatu yang dingin turun ke perutnya.

Keputusan itu diambil dalam kurang dari satu jam.

Gajah Mada, yang mendengar penjelasan Raka dengan wajah tak terbaca, tidak langsung menyetujui. "Kau tidak boleh meninggalkan perlindungan istana. Kita baru saja membahasnya."

"Dia datang dari rumah, Gusti," kata Raka. Ia hampir memohon. "Kalau dia terlempar ke sini, itu berarti gerbang meledak dengan cara yang kita tidak mengerti. Dan dia sendirian di desa tanpa tahu apa-apa."

"Dia aman bersama Nyai Lastri."

"Untuk sekarang." Raka menarik napas. "Hendar tahu tentang beringin Kalimati. Kalau dia mengirim orang ke sana, perempuan itu akan jadi target pertama. Atau sandera."

Mpu Kalandara, yang masih pucat tapi sudah bisa duduk tegak, mengangguk pelan. "Dia benar, Gusti. Dan ada alasan lain. Kita perlu tahu persis bagaimana dia sampai. Itu bisa memberi petunjuk tentang cara kerja gerbang yang tak kita ketahui."

Gajah Mada menimbang lama. Akhirnya ia mengangguk. "Wirabhaya akan mengawalmu. Dengan sepuluh prajurit pilihan. Tiga hari pergi, tiga hari pulang. Tidak lebih."

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih. Pulanglah dalam keadaan hidup." Gajah Mada menatapnya tajam. "Dan bawa dia kembali."

Raka hampir keluar ruangan ketika sebuah suara menghentikannya.

"Aku ikut."

Sekar berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat, wajahnya datar. Rambutnya sudah digelung kembali, dan ia kembali memakai kain cokelat sederhana yang dulu ia kenakan di Kalimati.

"Itu desamu," katanya, menatap Raka tapi suaranya ditujukan pada seluruh ruangan. "Itu rumah ibuku. Aku ingin melihatnya. Dan jangan bilang tidak aman, karena kau akan membawa sepuluh prajurit dan seorang Bhayangkara."

Wirabhaya membuka mulut, lalu menutupnya. "Dia ada benarnya."

"Dia memang selalu ada benarnya," gumam Rajadewi dari sudut ruangan, dengan sedikit senyum.

Raka menatap Sekar. Ada sesuatu di wajah gadis itu yang tak bisa ia baca, ketenangan yang terlalu rapi, terlalu terkendali. Ia sudah cukup mengenalnya untuk tahu itulah tanda Sekar sedang menyembunyikan sesuatu.

"Baik," katanya akhirnya. "Kau ikut."

Perjalanan memakan waktu tiga hari, dan hampir sepanjang jalan Sekar nyaris tak berbicara.

Ia menunggang kuda di tengah rombongan, Raka di sampingnya, dan Gandra yang duduk di belakang pelana Tarub sambil terus-menerus menjelaskan hal-hal yang tak ada yang bertanya. Wirabhaya memimpin di depan. Matahari pagi menghangatkan punggung mereka, dan di kiri-kanan jalan, sawah-sawah hijau bergelombang sampai ke kaki bukit.

Pada hari kedua, Raka akhirnya tak tahan.

"Sekar."

"Hm?"

"Kau tidak bertanya apa-apa."

"Tentang apa?"

"Tentang dia."

Sekar menatap lurus ke depan. "Kalau kau mau cerita, ceritakan."

Raka menghela napas. "Namanya Anindya. Nindy. Dia perawat. Kami... kami sudah berpacaran dua tahun."

"Berpacaran," ulang Sekar pelan, mencoba kata asing itu di lidahnya. "Maksudmu..."

"Kami saling mencintai. Bermaksud menikah, mungkin suatu hari nanti."

"Begitu."

Hening. Kuda-kuda berderap pelan di jalan berdebu.

"Kau tidak bilang."

"Aku tidak tahu bagaimana." Raka menunduk. "Selama ini aku selalu berpikir tentang pulang. Tentang kembali pada hidupku. Dia bagian dari hidup itu. Aku tidak ingin..." Ia berhenti, mencari kata. "Aku tidak ingin kau merasa dibohongi."

"Aku tidak merasa dibohongi." Suara Sekar sangat datar. "Kau tak pernah berjanji apa pun padaku."

"Sekar..."

"Aku bicara jujur." Ia menoleh akhirnya, dan matanya lurus, tak ada air mata, tapi ada sesuatu yang rapuh di balik ketenangan itu. "Aku menemukan kau terkapar di tepi sungai dengan baju aneh dan mengira kau gila. Aku membantu karena ibuku sakit dan kau tahu cara menolongnya. Itu saja. Selebihnya..." Ia mengangkat bahu kecil. "Selebihnya hanya ketidakpastian yang kita jalani bersama."

"Itu bukan hanya itu," kata Raka pelan.

"Mungkin." Sekar menatap ke depan lagi. "Tapi ada orang yang mungkin sedang menangis menunggumu di desa itu. Dan kau bilang dia datang karena sesuatu yang penting. Jadi sebaiknya kau memikirkan itu, bukan aku."

Raka ingin membantah, ingin berkata sesuatu yang bisa memperbaiki, tapi ia tak tahu kata apa. Dan Sekar tak memberinya kesempatan. Ia memacu kudanya pelan ke depan, menyalip Wirabhaya, dan tak menoleh lagi sampai senja.

Malam kedua, mereka berkemah di tepi hutan jati. Api unggun berderak, dan para prajurit duduk melingkar sambil berbagi nasi dan ikan asin. Sekar memilih tidur lebih awal, menggulung diri di balik selimut tipis di sisi yang jauh dari api, punggungnya menghadap semua orang.

Raka tak bisa memejamkan mata. Ia duduk memandangi bara, sampai Wirabhaya menjatuhkan diri di sampingnya dan menyodorkan sepotong ikan bakar.

"Kau tak makan sejak siang."

"Tidak lapar."

"Itu bukan alasan." Wirabhaya menggigit ikannya sendiri. "Kau memikirkan dua orang sekaligus, dan itu tidak sehat."

Raka melirik tajam. "Siapa bilang aku..."

"Aku seorang prajurit, bukan orang buta." Wirabhaya mengunyah pelan. "Aku pernah melihat wajah seperti itu pada kawan-kawan yang baru pulang dari perbatasan. Mereka punya istri di rumah dan seorang gadis di tempat tugas. Tak ada akhir yang baik untuk orang seperti itu, kecuali mereka jujur sebelum terlambat."

"Aku tidak berbuat apa-apa pada Sekar."

"Aku tahu. Justru itu masalahnya." Wirabhaya menatap api. "Kau tak menjanjikan apa pun, tapi kau juga tak pernah bilang tidak. Dan gadis yang kuat pun punya batas."

Raka tak menjawab. Di sisi lain api unggun, Gandra mendengkur pelan di atas tumpukan karung, sesekali menggumamkan sesuatu tentang burung besi.

"Aku hanya ingin Ibu baik-baik saja," kata Raka akhirnya, hampir berbisik. "Itu satu-satunya hal yang jelas bagiku sekarang."

"Maka mulailah dari situ." Wirabhaya menepuk bahunya dan berdiri. "Dan tidurlah. Kalau perempuanmu itu benar-benar datang dari tempatmu, besok kau akan perlu kepala yang jernih."

Raka memandangi punggung Wirabhaya yang menjauh, lalu menoleh ke arah selimut Sekar yang tak bergerak. Ia tahu gadis itu belum tidur. Napasnya terlalu teratur, terlalu terjaga.

Ia ingin berkata sesuatu. Tapi malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, ia tak menemukan kata yang tepat.

Mereka tiba di Desa Kalimati pada sore hari ketiga.

Raka mengenali setiap tikungan jalan, setiap gubuk, setiap pohon. Sawah-sawah yang dulu membuatnya kagum kini terasa seperti halaman rumah lama. Anak-anak menunjuk dan berbisik, para petani berhenti dari pekerjaan mereka dan menatap, dan seorang perempuan tua di tepi jalan berseru gembira, "Itu Nyai Sekar! Dia pulang!"

Sekar tak menjawab, tapi bahunya menegang dan matanya berkaca-kaca.

Rumah Nyai Lastri berdiri di ujung desa, di bawah pohon sawo yang rindang, sama seperti dulu. Sebelum mereka sempat turun dari kuda, pintu terbuka dan seorang perempuan paruh baya berlari keluar dengan tangan terentang.

"Sekar! Anakku!"

Sekar melompat turun dan menubruknya. Lastri memeluknya erat, menciumi rambutnya, menangis dan tertawa bersamaan. Raka memalingkan wajah, memberi mereka ruang, dan baru saat itu ia melihat seseorang berdiri di tangga rumah panggung.

Seorang perempuan muda, ramping, rambut sebahu berantakan, mengenakan kain tenun kasar yang kebesaran dan jelas bukan pakaiannya. Wajahnya pucat dan kurus, matanya cekung oleh kelelahan, tapi ia berdiri tegak dengan tangan bertumpu pada tiang.

Dunia berhenti berputar untuk Raka.

"Mas Raka?"

Suaranya parau, hampir tak terdengar. Tapi ia mengenalinya sebelum otaknya sempat memprosesnya. Ia mengenalinya sebelum kakinya bergerak, sebelum ia sadar telah berlari melintasi halaman dan menangkapnya dalam pelukan yang tiba-tiba, kuat, nyaris menyakitkan.

"Nindy," bisiknya di rambutnya. Bau sabun murahan, keringat, dan di bawahnya sesuatu yang sangat dikenalnya. Rumah. "Nindy, kau di sini. Kau benar-benar di sini."

"Aku mencarimu," Nindy terisak di dadanya. "Aku mencarimu sampai gila. Mas hilang lima minggu. Lima minggu, Mas! Aku masuk ke gang itu setiap Jumat Kliwon, menunggu, dan tadi... tadi tiba-tiba ada cahaya, dan..."

"Sudah. Tidak apa-apa. Aku di sini."

Nindy mengangkat wajah. Matanya basah, dan di sana, di balik air mata dan kelelahan, ada sesuatu yang membuat Raka berhenti bernapas lagi. Bukan kegembiraan. Ketakutan.

"Mas," bisiknya. "Dengar. Aku harus bilang sesuatu. Ini sebabnya aku nekat masuk ke gerbang itu."

"Apa?"

"Ibu Mas Raka." Suaranya pecah. "Ibu masuk rumah sakit sejak dua minggu lalu. Dokter bilang kondisinya makin buruk. Dan dia terus menyebut namamu."

Raka merasakan seluruh darah meninggalkan wajahnya.

Di belakangnya, dalam jarak yang tidak terlalu jauh, Sekar berdiri di ambang halaman, tangan Lastri masih menggenggam bahunya, dan menyaksikan semuanya tanpa sepatah kata pun.

1
Kam1la
tuntutan sama dengan syarat...
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
mimief
wah ..berat Baginda
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
mimief
sama...aku juga🫣🤣🤣🤣
mimief
wah...
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!