NovelToon NovelToon
Takdir Kita Yang Belum Selesai

Takdir Kita Yang Belum Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita_001

Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.

Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.

Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.

Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?

Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Pergi ke pegunungan

Setelah meninggalkan kota, Chongyue membeli seekor kuda dari salah satu pedagang yang berada di luar gerbang kota sebelum melanjutkan perjalanannya menuju pegunungan. 

Perjalanan dengan kuda berlangsung selama beberapa jam hingga akhirnya pepohonan mulai semakin rapat dan jalan yang dilaluinya berubah menjadi tanah berbatu. 

Chongyue menghentikan kudanya di kaki gunung, kemudian turun dan melepaskan tali kekangnya.

Dia tidak membawa kuda itu lebih jauh karena semakin dalam memasuki hutan, semakin sulit medan yang harus dilewati.

Tepi luar pegunungan ditutupi rimbunnya pepohonan yang sekilas tampak seperti hutan biasa. Namun, Chongyue tidak berani lengah.

Bagaimanapun, pegunungan di zaman ini berbeda dari pegunungan di zaman modern. Pegunungan di sini adalah rumah bagi para binatang spiritual.

Chongyue tidak banyak tahu tentang binatang spiritual, jadi dia berusaha sebaik mungkin menyembunyikan jejaknya agar tidak ditemukan.

Dia memilih jalur yang tertutup pepohonan dan semak-semak, menghindari tempat-tempat terbuka sebisa mungkin.

Dia juga sesekali menghapus jejak kakinya dengan ranting atau dedaunan ketika merasa jalurnya terlalu mudah dilihat. 

Walaupun tindakannya mungkin terlihat berlebihan, dia tidak ingin ada yang mengetahui keberadaannya di pegunungan.

Sepanjang hari, Chongyue terus mencari tanaman obat yang dibutuhkannya. Namun, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahaya keemasan perlahan menembus sela-sela pepohonan, dia masih belum menemukan satupun tanaman yang dibutuhkannya.

Dia berdiri di bawah sebuah pohon besar sambil memandangi hutan yang mulai gelap, kemudian menghela nafas panjang.

“Sepertinya hari ini memang bukan keberuntunganku.”

Dia tidak punya pilihan selain bermalam di dalam hutan, memilih sebuah pohon besar dengan cabang yang cukup kuat, kemudian memanjatnya dan duduk di salah satu dahan yang lebar. 

Dia tidak berani tidur di tanah karena tidak tahu binatang seperti apa yang mungkin akan menyerangnya secara tiba-tiba.

Malam berlalu dengan tenang. Chongyue hanya memejamkan mata tanpa benar-benar tertidur. 

Untungnya, tidak ada binatang spiritual yang datang mendekatinya hingga fajar.

Keesokan paginya, Chongyue kembali melanjutkan pencariannya menuju bagian pegunungan yang lebih dalam. 

Kali ini keberuntungannya sedikit lebih baik. 

Di atas sebuah batu besar yang berada di antara akar-akar pohon, dia akhirnya menemukan salah satu tanaman obat yang dicarinya. 

“Ketemu juga.”

Dia segera berjongkok dan mengambilnya dengan hati-hati agar bagian akarnya tidak rusak. Setelah membersihkan tanahnya, dia memasukkannya ke dalam kantong kain yang dibawanya.

Namun ketika hendak berdiri, pandangannya tanpa sengaja jatuh pada lengannya sendiri.

Chongyue terdiam.

Luka parah akibat cambukan yang diterimanya kemarin sudah sembuh sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah beberapa bekas samar pada kulitnya.

Dia hanya tidur semalam, tanpa meminum obat atau mengoleskan obat apa pun pada lukanya. Bagaimana mungkin luka separah itu bisa sembuh secepat ini?

Chongyue menyentuh salah satu bekas luka dengan ujung jarinya. Menurut ingatan tubuh ini, luka separah itu seharusnya membutuhkan setidaknya tujuh atau delapan hari untuk pulih tanpa pengobatan yang layak. 

Namun hanya dalam semalam, tubuhnya sudah memperlihatkan pemulihan yang jauh lebih cepat daripada manusia biasa.

Chongyue mengerutkan kening dan mencoba mengingat apakah ada sesuatu yang mungkin menyebabkan hal ini, tetapi tidak menemukan jawabannya. 

Pada akhirnya, dia hanya menganggapnya sebagai salah satu keanehan tubuh barunya.

“Kalau begitu, anggap saja ini keuntungan.”

Dia tidak ingin membuang waktu memikirkan sesuatu yang tidak diketahuinya.

Masih ada tujuh tanaman obat yang harus dia temukan sebelum membuat ramuan untuk mengubah warna matanya.

Dia menghabiskan hari-hari berikutnya dengan terus menjelajahi pegunungan.

Kadang-kadang Chongyue merasa beruntung karena tidak bertemu dengan binatang spiritual, tetapi disisi lain, keberuntungannya tidak banyak membantu karena tanaman yang dicarinya tidak kunjung ditemukan. 

Dia bahkan mulai merasa bahwa pegunungan ini sengaja mempermainkannya.

Pada suatu sore, setelah berjalan cukup jauh, Chongyue akhirnya berhenti di sebuah tempat yang lebih tinggi.

Dia bersandar pada batang pohon sambil memandang hutan yang terbentang luas di hadapannya.

“Besok aku harus mencari ke arah sana.”

Tatapannya kemudian beralih ke wilayah yang lebih jauh, tempat beberapa tebing tinggi terlihat samar di balik pepohonan.

Dia tidak tahu berapa lama lagi dirinya harus tinggal di pegunungan hanya untuk mencari tanaman obat. 

Malam kembali datang.

Chongyue menemukan tempat yang cukup aman untuk beristirahat dan duduk bersandar pada batang pohon sambil menatap langit yang terlihat melalui celah dedaunan.

Tanpa sadar, pikirannya kembali pada kejadian terakhir di kehidupannya sebelumnya.

Katalin Loya.

Dia mengingat dengan jelas saat dirinya menekan pemicu T-XS dan memeluk tubuh Katalin Loya sebelum ledakan menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya. 

Dia sudah mempertaruhkan nyawanya untuk memastikan pria itu ikut mati bersamanya.

“Vampir murni seperti dia... seharusnya tidak mungkin selamat dari ledakan sebesar itu, kan?”

Chongyue menghela nafas pelan, memejamkan matanya dan mencoba berhenti memikirkan masa lalu.

Dia tidak tahu apakah dirinya benar-benar sudah mati atau bagaimana dia bisa terbangun di tubuh orang lain, tetapi satu hal yang pasti-- Dia masih hidup.

Keesokan paginya, Chongyue kembali melanjutkan perjalanannya.

Kali ini dia menuju wilayah tebing yang berada lebih jauh dari tempat sebelumnya. Dia berjalan hampir sepanjang hari hingga akhirnya pepohonan mulai berkurang dan sebuah tebing tinggi muncul di hadapannya.

Chongyue berhenti di tepi tebing dan memandang ke bawah.

Kabut tebal memenuhi dasar jurang, membuatnya tidak melihat dengan jelas apa yang berada jauh di bawah sana. Tebing itu sangat curam dan tampaknya tidak mungkin untuk dituruni dengan aman.

“Lupakan saja.” Dia menggelengkan kepalanya pasrah.

“Aku sudah mati sekali. Aku tidak berniat mati untuk kedua kalinya hanya karena ingin turun dari tebing.”

Chongyue berbalik hendak mencari jalan lain ketika tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari kejauhan.

BOOM

Tanah di bawah kakinya terasa bergetar.

Chongyue menoleh ke arah suara itu.

Di antara pepohonan, sebuah cahaya merah melesat dengan kecepatan tinggi, dikejar oleh cahaya biru pucat yang jauh lebih cepat.

Dia mengumpat dalam hati, Apa-apaan ini? Apakah aku tanpa sengaja masuk ke area pertempuran antara orang-orang terkuat di dunia ini?

Sialan! Tidak bisakah mereka mencari tempat lain?

Tidak ada tempat untuk bersembunyi di tepi tebing ini!

Kedua cahaya itu bergerak semakin dekat hingga akhirnya berhenti tidak jauh dari tempat Chongyue berdiri.

Karena tidak menemukan tempat untuk bersembunyi, Chongyue segera berjongkok di tempat dan membalikkan tubuhnya, memunggungi cahaya itu.

Dia berharap dengan begitu keberadaannya tidak akan diperhatikan.

“Di belakangmu ada tebing, kau tidak akan bisa melarikan diri lagi!”

Suara dingin salah satu dari empat pria berpakaian hitam terdengar.

Berdiri di seberang keempat pria berpakaian hitam tersebut adalah seorang pria yang dikelilingi cahaya berwarna biru.

Pria itu mengangkat sudut bibirnya dan berkata dengan nada mengejek, “Rumor mengatakan orang-orang dari Paviliun Xiaoyao tidak memiliki penglihatan yang baik. Tampaknya itu memang benar. Jelas-jelas ada seorang wanita di belakangku, tetapi kalian bersikeras menyebutnya tebing.”

Keempat pria itu langsung menoleh. Barulah mereka menyadari keberadaan Chongyue.

Chongyue sendiri membeku.

Pria yang dikepung oleh keempat orang itu adalah Bei Mingye.

Sejak awal, ketika melesat menuju tempat ini, pandangannya sudah menangkap sosok Chongyue yang berada di dekat tebing.

Saat itu, topi bambu besar yang dikenakannya terangkat akibat hembusan angin dan sisa benturan dari pertarungan, sehingga wajahnya terlihat.

Sangat cantik.

Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah matanya yang berwarna biru kristal.

Selain matanya yang begitu indah, Bei Mingye juga melihat tanda teratai merah tua di dahi wanita itu.

Tanda itu begitu merah hingga membuat kecantikannya semakin menakjubkan.

Keempat pria di seberangnya saling bertukar pandang. Api muncul serentak di tangan mereka saat mereka melesat ke arah Bei Mingye.

"Mencari kematian!" Bei Mingye hanya mencibir seraya mengepalkan jemarinya.

Cahaya biru pucat tiba-tiba meledak dari tubuhnya dan bertabrakan keras dengan empat cahaya merah.

BOOM

Benturan dua kekuatan dahsyat itu menghasilkan gelombang energi yang menyebar ke segala arah.

Chongyue yang berada tidak jauh dari sana ikut terkena dampaknya. Tubuhnya terguncang hebat, memuntahkan seteguk darah dan hampir saja terjatuh dari tebing.

Segera setelah itu, ledakan lain kembali terdengar.

BOOM

Chongyue yang masih berjongkok di sana menatap sekelilingnya dengan bingung.

Dia mulai bertanya-tanya apakah tebing ini benar-benar sangat kokoh. Ledakan sebesar itu sudah terjadi beberapa kali, tetapi tebing ini bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda akan runtuh.

Merasakan tidak ada lagi pergerakan di belakangnya, Chongyue perlahan berdiri dan melihat ke tempat para pria itu bertarung.

1
marlaina marliana
beraninya main keroyokan dasar iblis
marlaina marliana
semangat chongyue, balas dendam musnahkan semua musuh 💪💪
marlaina marliana
nah baru tau cerita awalnya pertemuan mereka ternyata seperti itu ya 🤔
marlaina marliana
masih menyimak 😊😊❤❤
marlaina marliana
kakak syantik ini sama seperti yg yg f**z* ya.
Author Nita_001: Iya kak say, aku pindah kesini, karena disana sepi pembacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!