NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 INSIDEN KECIL DI WARUNG MAKAN IGA BAKAR

​Mobil dinas berwarna abu-abu gelap yang dikemudikan Ipda Harumi melaju dengan kecepatan sedang menembus kepadatan jalur lintas provinsi.

Sinar matahari siang yang terik memantulkan ilusi riak-riak air di atas permukaan aspal hitam yang membentang dari arah markas kota menuju kawasan selatan. Suara deru mesin empat silinder berpadu seirama dengan hembusan sejuk pendingin udara di dalam kabin, menciptakan suasana tenang yang amat bertolak belakang dengan ketegangan hebat di ruang rapat Polres dua jam sebelumnya.

​Perjalanan pulang menuju rumah kali ini menempuh waktu satu setengah jam penuh. Kemacetan khas pinggiran kota yang dipenuhi truk muatan ringan dan barisan sepeda motor sempat memperlambat laju kendaraan.

Namun, begitu roda mobil mulai melintasi batas Kecamatan Parung, pemandangan lanskap berubah drastis. Rindangnya deretan pohon angsana, hamparan toko kelontong warga, serta riuk pikuk khas daerah persimpangan pasar mulai menyambut kedatangan dua srikandi pembela keadilan tersebut.

​dr. Haruma menyandarkan kepalanya di sandaran kursi penumpang, menatap deretan sawah dan keramaian warga desa dari balik kaca jendela. Dokter forensik anggun itu menghembuskan napas panjang, menikmati hawa Kecamatan Parung yang selalu dirindukannya.

​"Aduh, Dek... rasanya lega banget ya begitu roda mobil kita masuk gapura Parung," ujar Haruma dengan suara lembut dan renyah. "Serasa semua uap formalin sama bau belerang di kamar jenazah mendadak hilang ketiup angin."

​Harumi yang duduk di balik kemudi tertawa renyah, memutar lingkar kemudi ke arah kanan untuk menghindari sebuah angkutan kota (angkot) yang berhenti mendadak di sisi kiri jalan.

​"Iya, Kak... Rumi juga ngerasa gitu!" sahut Harumi riang. "Mau sekeren apa pun gedung markas di kota, tetep aja bau tanah Parung ini yang paling juara bikin pikiran adem. Apalagi cacing di perut Rumi nih dari tadi udah demo minta diisi!"

​Haruma terkekeh pelan, menepuk pelan paha adiknya. "Hehehe... Sabar, Adikku yang paling rakus... Ini kita tinggal lima ratus meter lagi sampai Pasar Raya Parung. Warung Iga Bakar Rempah langganan kita udah buka kan jam segini?"

​"Jelas udah buka dong, Kak!" balas Harumi penuh semangat dengan mata berkilat-kilat. "Warung 'Mbah Sambel' dekat Pasar Raya itu kan bukanya dari jam sepuluh pagi sampai jam sepuluh malam. Kalau kita sampai sana sekarang, pas banget iganya baru diangkat dari tungku pembakaran pertama!"

​"Duh, denger ceritamu aja lidah Kakak udah langsung ngecap rasa gurih kecapnya nih, hihihi..." kata Haruma tertawa geli.

​Harumi memperlambat laju mobil dinasnya saat mereka mendekati kawasan sibuk Pasar Raya Parung.

Di seberang deretan toko kelontong dan lapak buah-buahan segar, berdiri sebuah warung makan berarsitektur kayu jati sederhana dengan spanduk kain putih bertuliskan "WARUNG IGA BAKAR REMPAH PARUNG - MBAH SAMBEL".

Asap tipis beraroma rempah bakaran membumbung tinggi dari tungku arang di bagian depan warung, menyebarkan aroma harum semerbak yang menggugah selera siapa pun yang melintas.

​Harumi memutar kemudinya, memarkir mobil dinasnya dengan rapi di pekarangan samping warung yang cukup luas di bawah naungan sebuah pohon ketapang.

​Haruma dan Harumi melangkah keluar dari dalam mobil. Hawa hangat sedikit panas udara siang Parung berhembus menyambut mereka. Harumi melepaskan kacamata hitamnya, menyelipkannya di kerah kemeja dinas cokelatnya, sementara Haruma merapikan letak jilbab dan blouse krem yang dikenakannya.

​Aroma gurih rempah ketumbar, pala, bawang putih, dan lelehan kecap manis yang terbakar di atas bara arang batok kelapa langsung menyergap indera penciuman mereka begitu mereka melangkah mendekati area tungku pembakaran di depan warung.

​Seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan celemek kain hitam yang sedang membalik piringan iga sapi di atas panggangan besi seketika mendongak. Wajahnya yang bersimbah keringat langsung mengembang lebar oleh senyuman ramah warga desa begitu mengenali dua pelanggan setianya.

​"Euleuh-euleuuuh! Selamat siang, Neng Dokter! Neng Polwan!" sapa Mang Kardi—pemilik warung iga bakar—dengan bahasa akrabnya. "Meuni pangling Mang Kardi, teh! Sudah lama pisan nggak kelihatan mampir ke sini. Darimana aja ini neng-neng cantik?"

​Haruma tersenyum manis, melangkah mendekati tungku bakaran seraya menyapa ramah. "Selamat siang, Mang Kardi! Iya nih, baru sempat mampir lagi. Biasa, Mang... kemarin-kemarin lagi banyak tugas nanganin kasus-kasus di markas. Hehehe..."

​"Wah, pantesan aja, atuh!" timpal Mang Kardi seraya mengibaskan kipas bambunya ke atas bara arang, membuat percikan api menari kecil mematangkan iga sapi yang tebal. "Pasti capek banget ya nanganin penjahat di kota. Tapi tenang aja, hari ini kebetulan Mang Kardi baru dapat kiriman iga sapi lokal yang super empuk! Dagingnya tebal, rempahnya ngeresep sampai ke dalam tulang!"

​Harumi menyenggol lengan kakaknya seraya tertawa lebar. "Tuh kan, Kak! Apa Rumi bilang! Takdir kita emang lagi bagus banget hari ini! Hihihi..."

​Harumi lalu berpaling menatap Mang Kardi dengan gaya akrab khasnya. "Mang Kardi! Saya mau pesan menu andalan yang paling jos ya! Pesan dua porsi iga bakar rempah ukuran jumbo buat makan di sini. Nasi putih hangatnya dua piring penuh, plus es teh manis jumbo dua gelas!"

​"Siap, Neng Polwan Harumi!" sahut Mang Kardi penuh semangat. "Terus buat oleh-oleh yang di rumah gimana, Neng?"

​Haruma menimpali ramah, "Buat yang di rumah tolong dibungkuskan tiga porsi ukuran sedang ya, Mang. Satu porsi pedas manis buat Ayah, satu porsi rempah gurih sedang buat Ibu, sama satu porsi original manis tanpa cabai buat Dek Niza. Sambal ijo sama kuah sup kaldu beningnya dipisah ya, Mang."

​"Siap laksanakan, Neng Dokter Haruma!" jawab Mang Kardi dengan jempol terangkat. "Semuanya langsung diracik sekarang! Silakan duduk dulu di dalam, Neng. Di meja dekat tungku depan masih kosong tuh, adem!"

​"Hatur nuhun ya, Mang Kardi!" ucap Harumi, seraya mereka berdua melangkah masuk ke dalam area meja makan.

​Warung makan kayu itu tampak bersih dan terawat. Deretan meja kayu panjang dengan bangku jati memanjang terisi oleh beberapa warga lokal yang sedang menikmati makan siang. Haruma dan Harumi memilih duduk di meja kayu nomor empat—posisi yang sangat nyaman di sudut depan dekat pemandangan tungku pembakaran, namun terlindung oleh sekat bambu hias.

​Harumi menarik kursi kayu, menjatuhkan dirinya seraya menyandarkan punggungnya dengan rileks.

​"Aduuuhhh... nikmatnya hidup!" seru Harumi renyah seraya meregangkan kedua tangannya ke atas. "Duduk di warung iga begini rasanya seribu kali lebih enak dibanding duduk di kursi rapat Polres tadi, Kak!"

​Haruma duduk di hadapannya, merapikan letak tas tangannya di atas meja seraya tertawa geli melihat tingkah adiknya.

​"Hahaha... Ya jelas beda lah, Dek," tutur Haruma lembut. "Di ruang rapat tadi kan isinya ketegangan, ancaman sihir, sama muka-muka panik para direksi. Kalau di sini kan isinya aroma rempah bakaran sama sambal ijo yang bikin kenyang."

​Harumi terkekeh riang, mengamati kepulan asap beraroma gurih dari tungku pembakaran Mang Kardi yang berjarak lima meter dari meja mereka.

​"Bener banget, Kak," kata Harumi seraya menopang dagunya dengan kedua tangan. "Oh iya, Kak... nanti sampai rumah, jangan langsung cerita soal insiden sihir pembungkam Ki Suroto di depan Dek Niza ya. Kasihan budak kecil itu, nanti dia kepikiran terus ketakutan pas malam."

​Haruma mengangguk tegar, matanya memancarkan kehangatan seorang kakak sekaligus anak tertua.

​"Iya, Rumi. Kakak paham kok," jawab Haruma jernih. "Nanti di depan Ayah sama Ibu kita cuma cerita kalau kasusnya udah selesai ditutup di markas, terus kita dikasih kelonggaran tugas buat istirahat di rumah dua hari. Cerita yang berat-berat cukup kita berdua aja yang tahu."

​"Sip! Kak Ruma emang paling mengerti keadaan rumah deh!" puji Harumi tertawa renyah seraya menjangkau gelas air putih netral di atas meja.

​Di tempat pembakaran depan, Mang Kardi sedang mengoleskan kuas besar berisi bumbu-bumbu rempah kecap ke atas empat potongan iga sapi berukuran tebal.

Cisss...!!!

Suara lelehan lemak sapi yang menetes menghantam bara arang merah membumbungkan uap wangi yang semakin menyengat gurih, membuat air liur siapa pun yang menciumnya seketika menetes.

​Haruma tersenyum menikmati aroma masakan tersebut. Matanya yang jernih memandang ke arah antrean pemesan di depan kasir dekat pintu masuk warung. Karena jam menunjukkan hampir pukul tiga sore, antrean warga yang ingin membeli porsi bungkus tampak cukup ramai, mengular sekitar sepuluh orang.

​Namun...

Tepat di saat Haruma sedang memperhatikan suasana antrean dengan santai...

Tiba-tiba...

​Kedua mata dr. Haruma yang memiliki ketajaman observasi dokter forensik itu seketika memicing tajam.

​Seorang pria berumur sekitar tiga puluh lima tahun baru saja melangkah menyusup ke tengah-tengah antrean pemesan.

Pria itu memiliki penampilan yang sangat mengecoh pandangan mata biasa. Ia mengenakan kemeja batik lengan pendek berwarna biru muda yang sangat rapi, celana kain hitam yang bersih, kacamata berbingkai tipis, serta memegang sebuah map dokumen tebal di tangan kirinya, tampak persis seperti seorang pegawai kantor dinas atau guru sekolah yang sedang mengantre makanan dengan sopan.

​Namun...

Yang menarik perhatian Haruma bukanlah pakaian rapinya...

Melainkan gerak-gerik gestur fisiknya!

​Pria berkemeja batik itu tidak pernah menatap papan menu atau tungku pembakaran Mang Kardi. Sepasang matanya yang liar dibalik kacamata terus-menerus melirik ke arah saku-saku jaket dan tas milik para pembeli di sekitarnya. Langkah kakinya bergerak sangat halus tanpa suara, merapat pelan ke belakang tubuh seorang bapak-bapak paruh baya yang mengenakan jaket kulit cokelat kusam.

​Bapak berjaket kulit cokelat kusam itu tampak sedang sibuk menghitung uang di dalam dompetnya untuk membayar pesanan. Setelah selesai, bapak itu memasukkan kembali dompet kulit tebalnya ke dalam saku dalam jaket bagian samping, lalu berdiri santai menunggu kembalian.

​Pria berkemeja batik biru itu memajukan posisinya!

Tangan kirinya yang memegang map dokumen diangkat sedikit ke atas untuk memblokir sudut pandang orang-orang di sekitarnya. Sementara tangan kanannya yang tertutup map... merayap dengan kecepatan dan kelenturan yang luar biasa masuk ke dalam saku jaket kulit sang bapak!

​Srrttt!!!

​Hanya dalam hitungan dua detik, jemari lincah pria itu telah menarik keluar dompet kulit tebal milik sang bapak tanpa menimbulkan gesekan sedikit pun!

Pria itu dengan cepat menyembunyikan dompet curian tersebut di balik lipatan map dokumennya, lalu melangkah mundur secara perlahan, hendak melarikan diri keluar dari warung!

​Di meja nomor empat, dr. Haruma menyaksikan seluruh adegan pencopetan itu dengan sangat terang benderang dari jarak dekat!

​Srekkk!!!

​Tanpa ragu sedikit pun, dr. Haruma seketika berdiri dari kursi kayunya.

​"Eh? Kak Haruma? Mau ke mana?" tanya Harumi heran menatap kakaknya yang mendadak berdiri.

​"Ada pencopet di antrean depan, Dek!" bisik-bisik Haruma, dan dengan cepat ia melangkah tegap mendekati area pintu masuk.

​"Hah?! Pencopet?!" seru Harumi terperanjat, langsung berdiri, dan ikut menyusul kakaknya dari belakang.

​Pria berkemeja batik biru itu menyunggingkan senyuman liciknya, berbalik arah hendak melangkah keluar menyeberangi pekarangan parkir.

​Namun...

Baru saja dua langkah pria itu mengayunkan kakinya...

​"Permisi, Mas! Berhenti!" panggil dr. Haruma dengan suara yang begitu jernih, tegas, dan dipenuhi wibawa yang menghentikan langkah pria itu seketika.

​Pria berkemeja batik itu tersentak kaget. Ia memutar tubuhnya, menatap dr. Haruma yang kini berdiri tegap tiga langkah di hadapannya. Pria itu mencoba mempertahankan raut wajah polos dan terkejutnya.

​"I-iya, Mbak? Ada apa ya?" tanya pria pencopet itu dengan nada suara yang sengaja dibuat-buat sopan. "Mbak manggil saya?"

​Haruma menatap pria itu lurus-lurus, pandangan matanya yang tajam seolah menembus seluruh kepalsuan pria berkemeja batik tersebut.

​"Tolong kembalikan dompet yang baru saja Mas ambil dari saku jaket bapak di antrean itu!" tegas Haruma jernih, menunjuk ke arah bapak berjaket kulit cokelat kusam yang masih berdiri di depan kasir.

​Suasana di dalam warung iga bakar itu seketika hening!

​Bapak berjaket kulit cokelat kusam itu tersentak kaget, refleks menepuk saku samping jaketnya. Matanya membelalak lebar saat menyadari sakunya telah kosong melompong!

​"Euleuh?! Dompet saya?! Dompet saya hilang!!" jerit bapak berjaket kulit itu panik.

​Para pembeli di antrean dan Mang Kardi di depan tungku seketika menoleh heboh.

​Wajah pria berkemeja batik biru itu seketika berubah drastis!

Wajah ramah dan sopannya luntur total, berganti dengan raut wajah beringas dan panik luar biasa karena aksi kejahatannya terbongkar basah di depan umum.

​"Heh! Jangan asal tuduh ya, Mbak!" bentak pria pencopet itu dengan nada melengking galak, mencoba mengintimidasi Haruma. "Saya ini pegawai dinas! Mana ada saya nyopet! Jangan bikin fitnah di tempat umum!"

​"Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri saat tangan kanan Mas menyusup ke saku bapak itu!" balas Haruma tidak gentar sedikit pun. "Dompetnya sekarang ada di balik lipatan map dokumen yang Mas pegang itu. Buka mapnya sekarang!"

​"Bangsat lu, perempuan sok jagoan!" jerit pencopet itu histeris karena terdesak hebat.

Dan dengan sangat cepat, tiba-tiba...

​Srrrttt... KLAK!

​Pria pencopet itu merogoh saku celananya dengan tangan kanan, lalu mencabut keluar sebuah pisau lipat stainless steel tajam berkilat!

Dengan satu hentakan jempolnya, mata pisau sepanjang sepuluh sentimeter melompat terbuka secara mengancam!

​"Awas! Dia bawa pisau!" jerit beberapa pembeli wanita di antrean histeris seraya melompat mundur ketakutan.

​Pria pencopet yang panik setengah mati itu mengayunkan pisau lipatnya secara membabi buta, meluncurkan tusukan tajam langsung ke arah dada dr. Haruma!

​"Mati lu, Mbak!!" teriak pencopet itu kalap.

​Serangan pisau itu terjadi dalam sepersekian detik!

dr. Haruma yang berdiri paling dekat sempat terkejut oleh nekatnya perlawanan pria pencopet itu dengan senjata tajam tersebut.

​Namun, sebelum mata pisau lipat itu sempat menyentuh serat kain baju Haruma...

​"KAK RUMA!! AWAS!!"

​Wussssshhh!

​Sesosok bayangan berkecepatan tinggi melompat menerjang dari sudut kiri!

Ipda Harumi melemparkan seluruh tubuhnya ke depan, berdiri pasang badan tepat di hadapan kakak sulungnya!

​Shet! Srrttt!

​Mata pisau lipat yang diayunkan secara liar oleh pencopet itu meleset dari dada Haruma, namun ujung pisaunya yang tajam menyabet keras pergelangan lengan bawah kiri Ipda Harumi!

​Sreeek!

​Kain kemeja dinas cokelat di lengan kiri Harumi tersobek sepanjang delapan sentimeter. Mata pisau baja itu menggores permukaan kulit lengan bawah Harumi, menciptakan luka sayat dangkal yang seketika mengucurkan cairan darah segar berwarna merah terang!

​"Aghh...!" ringis Harumi pelan saat rasa perih menyengat kulit lengannya.

​"RUMI!" jerit Haruma histeris, matanya membelalak kaget melihat adiknya tersabet pisau.

​Namun, rasa perih akibat sabetan pisau lipat itu sama sekali tidak melumpuhkan Ipda Harumi. Justru sabetan itu menyalakan insting bertempur profesional dari sang polwan Jatanras kasta tertinggi!

​"Kurang ajar kamu!" tegas Harumi dengan pandangan mata berkilat murka.

​Sebelum pencopet itu sempat menarik kembali pisau lipatnya...

​TAK!!!

​Dengan gerakan refleks teknik beladiri pencak silat dan taktis kepolisian yang teramat presisi, tangan kanan Harumi mencengkeram erat pergelangan tangan pelaku yang menggenggam pisau. Harumi memutar pergelangan tangan pencopet itu ke arah luar dengan satu dorongan memutar yang sangat kuat (wrist-lock)!

​KREK!!!

​"Aaaaghhh!!" jerit pencopet itu kesakitan saat engsel pergelangan tangannya terkunci kaku.

​Pegangannya pada pisau lipat seketika lepas. Pisau lipat stainless steel itu jatuh terpelanting bebas ke atas lantai warung.

​Klotak!!!

​Tanpa memberi jeda sedikit pun, Harumi melangkah maju, memutarkan tubuhnya dan menyapu kaki belakang pencopet itu dengan satu tendangan bawah yang kuat!

​GEDUK!!!

​Tubuh pria berkemeja batik itu terhempas keras telungkup di atas lantai!

Map dokumen di tangannya terlepas, dan dompet kulit cokelat milik sang bapak terjatuh terbuka di dekat meja.

​Harumi melompat menekankan lutut kanannya tepat di punggung atas pelaku, menarik kedua lengan pencopet itu ke belakang punggungnya, lalu menguncinya rapat dengan kuncian bahu taktis yang mematikan!

​"Ampun, Mbak! Ampun! Sakit, Mbak!" jerit pencopet itu melengking terdesak di atas lantai, tidak mampu bergerak sedikit pun.

​"Diam di tempat! Jangan coba-coba melawan petugas kepolisian!" tegas Harumi dengan suara berbobot yang menggelegar membelah keheningan warung.

​Seluruh warga di dalam warung, Mang Kardi, dan bapak pemilik dompet berdiri melongo terpana menyaksikan ketangkasan dan keberanian luar biasa dari Ipda Harumi yang melumpuhkan penjahat bersenjata tajam hanya dalam hitungan lima detik!

​"Mantap! Neng Polwan hebat pisan!" seru Mang Kardi gembira.

​"Iya! Mantap Mbak Polwan! Tangkap aja pencopet kurang ajar itu!" sorak warga sekitar sambil bertepuk tangan.

​dr. Haruma yang melihat adiknya berhasil melumpuhkan pelaku seketika berlutut di samping Harumi. Wajah anggun sang dokter forensik tampak sangat cemas dan penuh rasa prihatin melihat noda darah merah yang merembes membasahi lengan kemeja dinas adiknya.

​"Rumi! Astagfirullahal'adzim! Lenganmu luka, Dek!" seru Haruma dengan suara gemetar penuh kasih sayang.

​Harumi menoleh menatap kakaknya, menyunggingkan senyuman bahagianya yang renyah dan santai seolah luka sabetan itu bukanlah hal besar.

​"Aduh, Kak Ruma tenang aja..." kekeh Harumi renyah seraya tetap mengunci lengan pencopet di bawah lututnya. "Cuma tergores dikit doang ini. Rasanya cuma kayak digigit semut rangrang kok!"

​"Digigit semut rangrang gimana! Ini darahnya keluar begini, Dek!" omel Haruma dengan nada khawatir seorang kakak, namun tangannya dengan sangat cekatan merogoh saputangan kain putih steril dan minyak antiseptik dari tas tangannya.

​Haruma dengan penuh kelembutan membebat luka sayat di lengan bawah adiknya, menekan pendarahan ringan tersebut dengan saputangan putihnya.

​"Kamu tuh nekat banget sih, Dek..." bisik Haruma lembut, air mata keharuan menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa main pasang badan begitu... kalau pisaunya kena organ vitalmu gimana?"

​Harumi menatap mata kakak sulungnya dengan kedalaman rasa kasih sayang yang tulus.

​"Rumi kan adikmu, Kak," tutur Harumi lembut seraya tersenyum manis. "Tugas Rumi ya lindungin Kakak dari bahaya apa pun. Mau pisau, mau peluru, mau sihir iblis... Rumi gak bakal biarkan satu pun menyentuh Kak Ruma."

​dr. Haruma tersenyum haru, mengusap pipi adiknya dengan lembut. "Terima kasih banyak ya, Dek."

​Harumi merogoh ponsel pintarnya dari saku kemeja kanan menggunakan tangan kanannya yang bebas, lalu mendial nomor darurat siaga Polsek Kecamatan Parung.

​Hanya dalam tiga kali nada dering, panggilan langsung terhubung dengan petugas SPKT Polsek Parung.

​"Selamat siang, SPKT Polsek Parung di sini. Ada yang bisa dibantu?" sahut suara perwira jaga di seberang telepon.

​"Selamat siang, Pak," jawab Harumi dengan intonasi komando perwira yang tegas dan resmi. "Saya Inspektur Dua Harumi, Kanit Jatanras Satreskrim Polres. Izin melapor, kami baru saja mengamankan seorang pelaku tindak pidana pencurian dengan pemberatan (pencopetan) yang menggunakan senjata tajam jenis pisau lipat di Warung Iga Bakar Rempah Mbah Sambel dekat Pasar Raya Parung."

​Petugas SPKT Polsek Parung di seberang sana seketika terperanjat mendengar nama dan pangkat pelapornya. "Siap, Bu Kanit Harumi! Mohon izin, apakah pelaku sudah berhasil dilumpuhkan?"

​"Pelaku sudah terkunci aman di lokasi," tegas Harumi. "Tolong kirimkan satu unit mobil patroli Sabhara bersama petugas piket Reskrim ke lokasi sekarang untuk proses evakuasi tersangka dan pengamanan barang bukti."

​"Siap, Bu Kanit! Mobil patroli Sabhara segera meluncur ke lokasi sekarang juga! Delapan-enam!"

​"Terima kasih. Selamat siang."

​Klik.

​Harumi mematikan sambungan teleponnya, lalu menatap pencopet yang masih meringis terkapar di bawah kuncian lututnya.

​Bapak berjaket kulit cokelat mendekati Harumi seraya mengambil dompet kulitnya dari atas lantai. Pria tua itu membungkuk penuh rasa terima kasih dan haru.

​"Mbak Polwan... Mbak Dokter... terima kasih banyak ya!" ucap bapak itu dengan suara bergetar. "Di dalam dompet ini ada uang lima juta rupiah hasil jualan sayur saya buat bayar pengobatan istri di rumah sakit. Kalau sampai hilang... saya ndak tahu harus gimana. Terima kasih banyak, Mbak-Mbak!"

​Haruma tersenyum ramah menatap bapak tersebut. "Sama-sama, Pak. Yang penting dompet dan uang Bapak sudah aman kembali. Lain kali kalau di tempat ramai tetap waspada ya, Pak."

​"Siap, Mbak Dokter! Terima kasih banyak!"

​Sepuluh menit kemudian, suara sirine khas mobil patroli Sabhara Polsek Kecamatan Parung terdengar mendekat dan berhenti di pekarangan depan warung. Dua orang personel berseragam cokelat lengkap dengan sabuk kopel melangkah masuk dengan sigap dipimpin oleh Aiptu Bambang—Perwira Jaga Polsek Parung.

​Begitu melihat sosok Ipda Harumi dan dr. Haruma di dalam warung, Aiptu Bambang langsung memberi hormat tegap dengan penuh rasa hormat.

​"Selamat siang, Bu Kanit Harumi! Dokter Haruma!" sapa Aiptu Bambang tegas.

​"Selamat siang, Pak Bambang," balas Harumi berdiri seraya menyerahkan pencopet berkemeja batik yang sudah lemas terborgol tangannya. "Ini tersangka pencopetan bernama Anton. Barang bukti berupa satu buah pisau lipat stainless steel dan dompet milik korban sudah kami amankan."

​Aiptu Bambang bersama anggotanya dengan sigap menerima tersangka dan memborgolnya rapat.

​"Siap, Bu Kanit! Terima kasih banyak atas bantuan dan aksinya melumpuhkan pelaku," ujar Aiptu Bambang bangga. "Tersangka dan barang bukti akan langsung kami bawa ke Polsek Parung untuk pemeriksaan BAP awal."

​"Bagus, Pak Bambang. Tolong proses sesuai hukum yang berlaku ya," pesan Harumi profesional.

​"Siap, Bu Kanit! Mari Bu, kami mohon izin pamit dulu!" pamit Aiptu Bambang seraya menggiring pencopet yang tertunduk malu masuk ke dalam mobil patroli.

​Mobil patroli Polsek Parung melaju pergi meninggalkan lokasi.

Suasana di Warung Iga Bakar Mbah Sambel seketika kembali kondusif, tenang, dan aman penuh keceriaan. Warga sekitar kembali menikmati makan siang mereka seraya memuji-muji keberanian dua srikandi tersebut.

​"Euleuh-euleuh! Neng Harumi... Neng Haruma... Maaf ya jadi ada kegaduhan begini!" seru Mang Kardi melangkah keluar dari dapur membawa nampan kayu besar.

​Di atas nampan kayu tersebut, tersaji dua piring porsi jumbo Iga Bakar Rempah Mbah Sambel yang masih mengepulkan uap panas gurih, lengkap dengan dua piring nasi putih hangat, dua mangkok sup kaldu bening, dan dua gelas besar es teh manis.

​"Aduh, Mang Kardi... Nggak apa-apa kok," sahut Haruma tersenyum manis seraya membantu merapikan meja. "Justru kebetulan kita lagi di sini, jadi bisa bantu mengamankan warung Mang Kardi."

​Mang Kardi meletakkan piring-piring iga bakar yang membara gurih itu di tengah meja nomor empat.

​"Ini dia pesanan porsi jumbonya sudah matang sempurna!" seru Mang Kardi gembira. "Iga sapi pilihan, bumbu rempah bakarannya meresap sampai ke tulang! Ditambah sambal ijo dadakan khas Mbah Sambel! Khusus hari ini... pesanan Neng Dokter sama Neng Polwan, semuanya GRATIS dari Mang Kardi sebagai ucapan terima kasih!"

​Harumi terbelalak gembira, matanya berbinar-binar melihat potongan iga tebal berbalut kecap dan karamelisasi rempah di hadapannya.

​"Wah! Serius gratis nih, Mang Kardi?!" seru Harumi renyah tertawa lebar.

​"Serius seratus persen, Neng Polwan!" jawab Mang Kardi tertawa. "Apalagi lengan Neng Harumi sampai tergores gitu demi menolong warga. Selamat menikmati ya, Neng!"

​"Hatur nuhun pisan ya, Mang Kardi!" ucap Haruma dan Harumi gembira.

​Mang Kardi kembali ke tungku pembakarannya untuk menyiapkan pesanan tiga porsi bungkus untuk keluarga Haruma-Harumi di rumah.

​dr. Haruma mengambil botol antiseptik kecil dari tasnya, merapikan kembali balutan saputangan putih steril di lengan kiri adiknya dengan sangat teliti.

​"Nah, lukanya sudah Kakak bersihkan dan dibebat rapi," tutur Haruma lembut seraya tersenyum tegar. "Nanti sampai rumah Kakak ganti perbannya pakai kassa steril sama salep antibiotik ya."

​"Siap, Dokter Haruma tersayang!" balas Harumi riang. "Aduh, bau iga bakarnya ini benar-benar bikin lupa sama rasa perih di lengan deh, Kak!"

​Haruma terkekeh renyah, merapatkan kedua telapak tangannya memimpin doa sebelum makan. "Ya sudah, kita berdoa dulu..."

Usai membaca doa, dua bersaudari itu langsung menikmati santapan siang mereka dengan amat lahap.

Daging iga sapi lokal yang terasa begitu lembut, lumer di mulut dengan perpaduan cita rasa rempah ketumbar, pala, dan manis gurih kecap yang meresap sempurna. Dipadukan dengan pedas menyegarkan dari sambal ijo dan kehangatan kuah sup kaldu bening, santapan di tepi Pasar Raya Parung siang menuju sore itu terasa bagaikan kenikmatan tiada tara.

Insiden kecil dengan pencopet di warung iga bakar telah berlalu dengan aman dan kondusif berkat keharmonisan dan ketangkasan dua srikandi tersebut.

Rasa lelah usai menyelesaikan penindakan Kasus Pertama terbayar tuntas oleh kehangatan kuliner lokal dan kebersamaan yang manis.

Dan usai mengenyangkan perut serta membawa buah tangan tiga porsi iga bakar bungkus, Haruma dan Harumi siap melanjutkan perjalanan melintasi jalanan Parung, kembali ke hangatnya naungan rumah tempat Ayah Zaki, Ibu Nisa, dan Dek Niza telah menanti kedatangan mereka dengan penuh cinta.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!