Rania menatap tubuh Rina yang terlihat begitu kurus kering seolah tidak memiliki daging, padahal bisa dibilang bahwa Rina memiliki porsi makan yang begitu banyak ketika sedang mengisi perut, namun entah ke mana semua makanan yang sudah masuk sehingga dia terlihat begitu kurus dan pucat.
"Kok Mbak punya air susu?" Rania bertanya dengan nada heran.
Namun pertanyaan itu tidak pernah Rina jawab, tentu saja membuat Rania semakin bingung sehingga dia memutuskan untuk mencari tahu Dan setelah sedikit demi sedikit mengetahui maka Rania yang menjadi sangat syok, terlebih lagi dia juga menyadari bahwa Rina sama sekali tidak memiliki bayi namun dia terus memiliki air susu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03. Perjanjian
''Enggak, aku enggak mau!'' Rina langsung menolak karena dia tahu apa yang akan dihadapi nanti.
''Tapi ini adalah kesempatan kita untuk memperbaiki hidup.'' Ilham berusaha untuk membujuk sang istri.
''Mas! tapi itu tuyul dan aku tidak mau menyusui iblis.'' teriak Rina yang sudah merasa ngeri sendiri melihat bentuk tuyul itu.
Ilham langsung menutup mulut sang istri karena dia tidak mau nanti ada orang yang mendengar percakapan di antara mereka berdua, bila sampai nanti ada tetangga yang mendengar maka rencana mereka untuk menjadi orang kaya hancur berantakan dan sudah tidak ada lagi harapan untuk bisa memperkaya hidup ini seperti warga lain.
Rina sendiri sebenarnya sudah membayangkan bahwa dia setiap malam akan menyusui tuyul itu, rasa Ngeri saja sudah membayang di dalam diri ini sehingga dia tidak mau bila terlalu mengendarai risiko seperti ini meski di dalam hati ada niat juga untuk menjadi orang kaya, namun jalan yang akan mereka pilih sungguh terasa begitu berat sekali.
Berulang kali dia melirik kepada bocah kecil yang duduk di atas kursi itu dengan pandangan begitu takut serta ngeri sekali, bahkan taring dari tuyul itu juga mampu dia lihat sehingga Rina langsung reflek menutup payudara dia, sebab dirinya merasa tidak mampu bila harus menyusui tujuh itu setiap malam.
Sementara Ilham merasa pesugihan ini tidak terlalu berat karena mereka tidak membutuhkan tumbal dalam misi kekayaan diri ini, nenek tua yang tak datang dari mana itu dengan lantang mengatakan bahwa mereka tidak perlu mencari tumbal seperti pesugihan lain yang membutuhkan nyawa manusia setiap tahun atau bahkan setiap bulan.
Tuyul ini hanya perlu mencari ASI seperti para bayi pada umumnya, tentu itu pengorbanan dari pasangan Ilham sendiri dan tidak boleh bila dari orang lain karena kekayaan itu adalah untuk mereka juga sehingga Rina yang harus berkorban untuk menyusui tuyul tersebut, tidak boleh orang dari luar atau bahkan saudara mereka sendiri.
''Kamu apa tidak ingin seperti orang lain yang memiliki hidup enak serta bisa ke sana kemari tanpa memikirkan biaya?'' Ilham kembali membujuk.
''Tapi aku takut nanti terlalu beresiko.'' Rina tertunduk.
''Justru yang ini paling jauh dari resiko karena tidak membutuhkan tumbal.'' Ilham memegang tangan sang istri.
''Aku takut nanti dia malah memakan payudara ku.'' cemas Rina.
Ilham melirik kepada tuyul itu dan memastikan sendiri Apakah nanti memang akan membahayakan sang istri atau tidak, takut juga bilang nanti Rina malah menderita karena menyusui tuyul tersebut dan terkena penyakit yang tidak biasa, jelas itu nanti justru akan membuat masalah semakin tidak terkendali.
''Aku akan selalu menjaga dan menemani kamu ketika nanti dia akan menyusul.'' janji Ilham.
''Ini apa kita memang akan langsung kaya setelah memelihara dia?'' Rina memperhatikan bocah kecil yang duduk itu.
''Nanti malam dia akan bergerak dan kita lihat apakah akan membawa pulang uang atau hanya tangan kosong.'' jawab Ilham.
''Baiklah, aku juga sudah sangat bosan hidup seperti ini dan tidak ada kemajuan sama sekali.'' Rina akhirnya setuju untuk mengambil resiko iini
''Terima kasih ya, ini semua demi kelangsungan hidup kita berdua agar tidak terlalu di hina oleh para warga yang ada di sini.'' Ilham memeluk tubuh sang istri.
Meski ada rasa takut di dalam hati namun akhirnya Rina memilih untuk mengambil resiko itu saja karena dia memang sudah begitu muak hidup melarat seperti ini, yang paling membuat dia tenang adalah Ilham yang sudah mengatakan bahwa tuyul ini tidak akan meminta tumbal dari semua orang yang ada di sekitar mereka.
''Kamu nanti malam cari uang ya buat kita.'' Ilham berkata pada tuyul itu.
''Iya, Pak.'' angguk bocah kecil dengan taring mencuat serta kuping panjang itu.
''Setelah dapat uang maka baru minum susu sama Ibu, jadi kamu harus cari uang yang banyak.'' ujar Ilham.
''Ibu.'' tuyul berlari dan memeluk kaki Rina karena tubuh dia sangat kecil sekali.
Rina tertegun karena dia sudah tidak punya rasa takut lagi, seolah dia dan juga tuyul ini memiliki ikatan batin yang begitu kuat satu sama lain, tidak bisa kalau seperti biasa saja.
tuyul itu juga bisa tersenyum dengan sangat manis sekali di depan Rina.
...****************...
"Makan, Ran!" Rina sibuk mengunyah daging empal.
"Banyak banget makan mu, Mbak." Rania tertawa sendiri.
"Ya nama nya juga masa pertumbuhan." Rina menjawab asal.
"Makan mu banyak tapi badan mu kecil, aku yang jarang makan malah gemuk begini." keluh Rania.
Rina yang mendengar hal itu tentu saja hanya tertawa saja karena menurutnya tidak perlu dia jelaskan kepada Rania, tapi Rania memang sangat penasaran kenapa Rina bisa begitu kurus sekali tanpa melakukan diet ataupun pekerjaan lain, sementara porsi makan dia saja begitu banyak sekali dan melebihi manusia pada umumnya.
''Nah kan masih nambah nasi lagi.'' Rania melotot ketika tangan Rina mengambil bakul nasi.
''Kamu daripada terus komentar saja seperti itu maka Lebih baik makan apa yang ada.'' Rina tetap tidak peduli dengan hal itu.
''Makan lah aku, dikit saja begini.'' Rania mengambil seujung sendok nasi.
Meski begitu, mata Rania tetap memperhatikan Rina yang sangat kurus, kaos yang sering dia pakai juga terlibat basah pada kedua payudara nya itu seperti orang yang sedang menyusui anak kecil, jadi semua memang terasa aneh sekali.
''Aku boleh minta uang seratus enggak, Mbak?'' Rania bertanya dengan nada sungkan.
''Mau buat apa?'' tanya Rina.
''Mau untuk tambah beli HP yang baru karena ini sudah sangat tidak bisa disentuh, tapi kurang seratus.'' Rania menjelaskan kondisi dia saat ini.
''Em itu, Ya sudah makan saja dulu nanti kita akan pergi ke counter bersama untuk melihat ponsel yang ada di sana.'' Rina mengangguk begitu saja.
''Aku beli yang murah saja kok karena tabungan Aku cukup untuk yang murah.'' ujar Rania.
''Iya.'' Rina tersenyum kecil dan dia masih tetap melanjutkan makan karena rasanya begitu lapar sekali.
''Emang Mas Ilham beneran usaha dia di kota sangat lancar sekali sekarang?'' Rania bertanya dengan nada penasaran.
''Ya kalau tidak lancar maka hidup kita tidak akan jadi beginilah.'' ujar Rina.
Rania mengangguk paham dan dia tidak banyak bertanya lagi karena menurutnya Mungkin memang benar bahwa Ilham punya bisnis di kota, semuanya memang lancar dan tidak ada kendala sama sekali sehingga membuat hidup mereka menjadi lebih baik dan bisa membeli apa saja yang mereka mau, tapi sejauh ini Rania selalu menahan diri dan dia menabung agar tidak merepotkan Rina.
Selamat pagi, jangan lupa like dan komentar nya ya.