Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Setelah beberapa hari menyusun proposal kerjasama, akhirnya hari itu tiba. Mario, didampingi David, melangkah masuk ke gedung perusahaan tempat Dera bekerja. Jas hitamnya terpasang rapi, wajahnya kembali menampilkan ekspresi profesional yang biasa ia pakai di lingkungan bisnis. Tidak ada senyum ringan seperti biasanya. Hari ini ia datang sebagai pemilik perusahaan raksasa yang menawarkan peluang kerjasama.
Lobi gedung itu tidak sebesar milik Mario, tapi bersih dan modern. Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menoleh. Bisikan pelan terdengar begitu mereka mengenali sosok yang baru saja masuk.
“Itu Mario Pratama…”
“Pemilik perusahaan seberang…”
“Katanya mau kerjasama…”
David yang berjalan di samping Mario langsung menatap resepsionis. “Kami dari Pratama Group. Ada janji dengan Direktur Utama.”
Resepsionis segera berdiri dan membungkuk hormat. “Selamat siang, Tuan. Silakan menuju ruang rapat di lantai delapan. Bapak Direktur sudah menunggu.”
Mereka masuk ke lift. Di dalam, David berbicara pelan. “Tuan, proposal sudah lengkap. Tapi saya tetap merasa ini sedikit dipaksakan.”
Mario tidak menoleh. “Semua kerjasama dimulai dari peluang. Kita ciptakan peluangnya.”
Lift berhenti. Pintu terbuka.
Ting...
Koridor lantai delapan terasa lebih sunyi. Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat, wajah mereka campur aduk antara kagum dan gugup. Mario berjalan dengan langkah mantap, sepatu kulitnya berbunyi jelas di lantai.
Di depan ruang rapat, seorang sekretaris membuka pintu untuk mereka.
Ceklek....
Di dalam, Direktur Utama perusahaan itu sudah berdiri menyambut, diikuti beberapa kepala divisi.
“Selamat datang, Tuan Mario. Suatu kehormatan menerima Anda di sini,” sapa sang Direktur dengan senyum formal.
Mario menjabat tangannya singkat. “Terima kasih. Saya harap pertemuan hari ini bisa membawa manfaat untuk kedua belah pihak.”
Mereka duduk. David segera membagikan dokumen proposal. Mario langsung masuk ke inti pembicaraan, peluang distribusi, potensi pasar, dan keuntungan jangka panjang. Suaranya tenang, tajam, dan penuh perhitungan. Tidak ada yang bisa menebak bahwa di balik sikap profesional itu, ada alasan pribadi yang turut mendorong kehadirannya hari ini.
Sementara itu di lantai yang berbeda, Dera sedang fokus menatap layar komputer. Ia sama sekali tidak tahu kalau Mario kini berada di gedung yang sama, hanya beberapa lantai di atasnya.
Mario sesekali melirik ke arah pintu ruang rapat, seolah berharap sekilas melihat sosok familiar. Tapi ia segera mengembalikan fokusnya. Hari ini, ia harus bermain dengan aturan bisnis.
Dan David, yang duduk di sampingnya, hanya bisa menghela napas dalam hati. Ia tahu majikannya sedang bermain di wilayah abu-abu antara urusan profesional dan urusan pribadi. Tapi seperti biasa, Mario jarang sekali bisa dihentikan begitu ia sudah memutuskan sesuatu.
*
*
Pembicaraan kerja sama berlangsung hampir satu jam. Direktur utama perusahaan itu tampak beberapa kali mengangguk, tertarik dengan penawaran yang disampaikan Mario. Nilai investasi yang ditawarkan Pratama Group cukup besar, begitu pula peluang memperluas jaringan distribusi ke berbagai kota.
“Kalau kerja sama ini berjalan sesuai rencana, perusahaan kami tentu akan mendapatkan banyak keuntungan,” ujar sang direktur sambil membalik lembar proposal. “Namun, kami perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum memberikan keputusan akhir.”
Mario mengangguk tenang. “Tentu. Saya tidak mengharapkan keputusan terburu-buru. Silakan pelajari seluruh ketentuannya. Tim kami siap menjawab jika ada hal yang perlu didiskusikan.”
“Baik, Tuan Mario. Kalau begitu, izinkan saya memperkenalkan beberapa kepala divisi yang akan terlibat dalam kerja sama ini.”
Sang direktur menoleh kepada seorang pria yang duduk di sebelah kanannya.
Pak Reno, silakan jelaskan rencana dari tim operasional.”
Pria itu segera berdiri dan mulai memaparkan beberapa hal teknis. Mario mendengarkan dengan saksama, sesekali memberikan pertanyaan yang cukup tajam. Ia memang dikenal sebagai pengusaha yang tidak mudah puas dengan jawaban yang berputar-putar.
“Bagaimana menurut Anda, Tuan Mario?” Suara direktur utama menyadarkannya.
Mario segera mengangkat wajah. “Maaf, bagian terakhir tadi bisa diulangi?”
David yang duduk di sampingnya langsung melirik sekilas. Ia hampir tidak percaya melihat Mario kehilangan fokus dalam rapat penting seperti ini.
Sang direktur mengulangi penjelasannya. Kali ini, Mario mendengarkan dengan saksama sampai pembicaraan kembali berjalan lancar.
Setelah beberapa menit, rapat akhirnya memasuki tahap penutupan.
“Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan,” ujar direktur utama sambil berdiri. “Saya akan meminta tim kami mempelajari proposal ini secepatnya.”
Mario menjabat tangannya. “Saya tunggu kabar baik dari Anda.”
Mereka keluar meninggalkan ruangan meeting. Namun, ketika mereka tiba di lobi lantai delapan, seorang perempuan yang membawa setumpuk dokumen keluar dari ruang administrasi di ujung koridor.
“Permisi, Pak. Berkas untuk rapat tadi tertinggal di meja saya,” ujar perempuan itu kepada salah seorang kepala divisi yang sedang berjalan bersama mereka.
Pada awalnya Mario tidak terlalu memperhatikan. Ia masih berbicara dengan direktur utama mengenai jadwal pertemuan selanjutnya.
Sampai akhirnya perempuan itu mengangkat wajahnya. Langkah Mario terhenti.
Perempuan itu mengenakan blus putih sederhana dengan rok hitam selutut. Rambut panjangnya diikat rapi, sementara beberapa helai rambut jatuh di sisi wajahnya. Ia terlihat sedikit lelah, tetapi tetap berusaha menjaga penampilan profesionalnya.
Mario mengenali wajah Dera dalam sekejap.
Jawaban itu membuat Mario sedikit terdiam. Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi menyadari bahwa mereka sedang berada di lingkungan kerja. Ia tidak ingin membuat Dera merasa tidak nyaman di hadapan rekan-rekannya.
Sementara itu, direktur utama yang berdiri di dekat Mario tampak terkejut melihat mereka saling mengenal.
“Rupanya Anda sudah mengenal salah satu karyawan kami, Tuan Mario?” tanyanya dengan nada ramah.
Mario mengalihkan pandangan kepada sang direktur.“Ya. Kami pernah bertemu sebelumnya.”
Dera segera menunduk sopan. “Permisi, Pak. Saya harus mengantarkan dokumen ini ke ruang rapat.”
“Silakan,” jawab direktur utama.
Dera hendak melangkah pergi ketika Mario kembali memanggilnya.
“Nona Dera.”
Sudah cukup lama tidak ada orang yang memperhatikannya dengan cara seperti itu. Sejak meninggalkan rumah, ia terbiasa mengurus segala sesuatunya sendiri. Ia harus bangun pagi, bekerja, menghitung pengeluaran, dan berusaha menabung agar bisa segera menyewa tempat tinggal sendiri.
Tidak ada yang bertanya apakah ia lelah. Tidak ada yang mengingatkannya untuk menjaga kesehatan.
Bahkan ketika ia jatuh sakit beberapa waktu lalu, hanya Rere yang berada di sisinya.
Karena itu, perhatian sederhana dari Mario terasa asing baginya.
Namun, Dera segera menepis perasaan tersebut. Ia tidak ingin salah mengartikan keramahan seorang pria yang hampir tidak dikenalnya.
“Terima kasih atas perhatiannya, Tuan. Saya baik-baik saja.”
Mario tidak tahu banyak tentang perempuan itu. Ia juga belum mengetahui alasan di balik sorot mata Dera yang sesekali tampak begitu muram.
Akan tetapi, satu hal semakin jelas baginya. Ia ingin mengenal Dera lebih jauh, bukan hanya sebagai perempuan yang pernah ditemuinya, melainkan sebagai seseorang yang ingin ia hadirkan dalam kehidupannya.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa