"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 6] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Pagi itu suasana di perusahaan Oscar justru jauh dari kata serius.
Beberapa pria yang seharusnya sibuk menyelesaikan pekerjaan malah berkumpul di salah satu sudut ruangan. Wajah mereka dipenuhi seringai jahil, seolah sebuah topik yang sangat penting akan segera mereka bahas.
Padahal...
Yang mereka ingin bicarakan adalah Malam pertama tuan mereka.
Salah seorang pria bermata sipit bahkan berani menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menahan tawa.
"Bagaimana tadi malam, Tuan?" tanyanya dengan nada menggoda. "Apa wanita itu sampai kelimpungan?"
"Pfft—"
Pria di sebelahnya langsung menutup mulut, berusaha menahan tawa.
"Jangan-jangan justru Tuan Oscar yang kelimpungan?" sahut yang lain.
"HAHAHAHA!"
Tawa mereka langsung pecah.
Sayangnya, tawa itu hanya bertahan beberapa detik.
Sebab dari balik pintu, terdengar langkah kaki yang berat.
Tok.
Tok.
Tok.
Suasana mendadak membeku.
Oscar berdiri di ambang pintu dengan wajah datar. Tatapannya menyapu satu per satu bawahannya.
Tidak ada satu pun yang berani tertawa lagi.
"Lanjutkan."Suasana di dalam ruangan perlahan berubah serius.
Salah seorang bawahan Oscar maju membawa sebuah map tipis.
"Tuan, ada sedikit masalah."
Oscar yang semula hendak pergi menghentikan langkahnya.
"Masalah apa?"
"Orang-orang dari kelompok sebelah kembali memasuki wilayah distribusi kita. Mereka sempat terlihat di dekat gudang timur tadi malam."
Oscar mengambil map tersebut dan membukanya sekilas.
"Mereka menyerang?"
"Belum. Sepertinya hanya mengawasi."
"Kalau begitu jangan lakukan apa-apa dulu."
Oscar menutup map itu.
"Awasi mereka. Kalau mereka mulai menyentuh wilayah kita, baru bertindak."
"Baik, Tuan."
"Dan satu lagi."
Oscar menatap mereka tajam.
"Jangan sampai urusan kecil seperti ini mengganggu pekerjaanku."
"Dimengerti!"serentak para bawahannya membalas.
"Kalau begitu, kembali bekerja."
Mereka mengangguk cepat.
Namun baru beberapa langkah Oscar berlalu, salah seorang dari mereka kembali berbisik.
"Tapi, Tuan... kami hanya penasaran."
Langkah Oscar berhenti."Penasaran tentang apa?"
Pria itu tersenyum kaku.
"Bagaimana Tuan bisa tetap terlihat sehat pagi ini?"tanya nya dengan nada mengejek
Yang lain justru langsung menundukkan kepala untuk menyembunyikan tawa berbeda dengan Ezekiel yang nampak tenang.
Oscar memejamkan mata sejenak.Kesabarannya benar-benar sedang diuji, sangat tidak baik bagi image nya sendiri jika membiarkan adanya mayat tergeletak di kantor nya bukan?
"Dengar baik-baik."Ia berbalik.
"Pernikahanku dengan Anisa hanya sebatas kontrak."lanjut nya tegas.
Seketika ruangan menjadi hening.
"Jadi, buang jauh-jauh semua pikiran kotor kalian."Para bawahan saling berpandangan.
Oscar melanjutkan dengan wajah dingin.
"Tidak ada hubungan intim. Tidak ada perasaan cinta. Dan tidak ada alasan bagi kalian untuk membicarakan kehidupan pribadiku."
Salah seorang bawahannya mengangkat tangan perlahan.
"Kalau begitu... Tuan menikah hanya karena perjanjian?"
"Benar."balas nya singkat.
"Dan selama satu tahun?"
"Benar."
"Setelah itu?"
Oscar menatapnya tajam dan kembali berkata"Kontrak selesai."Jawaban singkat itu membuat mereka akhirnya mengerti.
Oscar mengambil dokumennya kembali.
"Lagipula, Anisa masih terlalu muda untuk memikirkan hal-hal seperti itu."
Kalimat itu terdengar begitu tegas.
Begitu dingin.
Namun anehnya, ada sesuatu dalam nada suara Oscar yang membuat bawahannya saling melirik.
Seolah-olah pria itu terlalu keras menyangkal sesuatu yang bahkan tidak mereka tanyakan.
"Baiklah, Tuan," ujar salah seorang dari mereka sambil terkekeh kecil. "Kami mengerti."
Oscar mendengus.
"Bagus."
Ia hendak pergi ketika seorang bawahan lain buru-buru berdiri.
"Tuan, mengenai masalah eksternal..."
Ekspresi Oscar seketika berubah.
"Laporkan."
Suasana di dalam ruangan perlahan berubah serius.Salah seorang bawahan Oscar maju membawa sebuah map tipis.
"Tuan, ada sedikit masalah."
Oscar yang semula hendak pergi menghentikan langkahnya.
"Masalah apa?"
"Orang-orang dari kelompok sebelah kembali memasuki wilayah distribusi kita. Mereka sempat terlihat di dekat gudang timur tadi malam."
Oscar mengambil map tersebut dan membukanya sekilas."Mereka menyerang?"
"Belum. Sepertinya hanya mengawasi."ucap sang bawahan menurut pemahaman nya.
"Kalau begitu jangan lakukan apa-apa dulu."
Oscar menutup map itu."Awasi mereka. Kalau mereka mulai menyentuh wilayah kita, baru bertindak."
"Baik, Tuan."
"Dan satu lagi."
Oscar menatap mereka tajam.
"Jangan sampai urusan kecil seperti ini mengganggu pekerjaanku."
"Dimengerti!"
Hingga ketika semuanya selesai akhirnya salah seorang pria mendekat dan membisikkan sesuatu
"Tuan, senjata pesanan Anda sudah tiba di markas."
Tatapan Oscar berubah.
"Senjata?"
"Ya. Baru saja dikirim."
Oscar berdiri.
"Kalau begitu aku ke sana."
...----------------...
Markas itu berada jauh dari hiruk-pikuk kota.
Begitu mobil Oscar memasuki halaman, puluhan anak buahnya langsung berdiri tegap.
Pintu mobil terbuka.
Oscar turun dengan langkah tenang.
"Selamat datang, Tuan!"Suara mereka menggema hampir bersamaan.
Oscar hanya mengangguk kecil.
"Buka gudang."
"Baik, Tuan!"
Beberapa saat kemudian, sebuah peti besar dibuka.Di dalamnya tersimpan senjata baru yang baru saja tiba.
Oscar mendekat.
Tatapannya langsung tertuju pada senapan dengan peluru baja tersebut.
"Ini pesananku?"
"Benar, Tuan."
Ia mengambilnya dan memeriksa bagian-bagiannya dengan teliti.
"Lumayan."
Seorang bawahannya tersenyum bangga.
"Menurut pengirimnya, senjata ini memiliki daya tembus yang sangat baik."
Oscar mengangkat senapan itu.
"Kalau begitu, kita lihat sendiri."Ia kemudian dibawa ke area latihan.
Beberapa menit kemudian—
Oscar berdiri seorang diri di tengah kawasan hutan.
Angin berembus melewati dedaunan.Ia mengangkat senapan.
Tidak terburu-buru.
Tidak banyak gerakan.
Hanya satu tarikan napas.
Kemudian—
Dor!
Suara tembakan menggema di seluruh hutan.
Sebuah target yang berada cukup jauh langsung terpukul tepat di tengah.
Anak buah yang menyaksikan dari belakang terdiam.
"Gila..."
Salah seorang bahkan tanpa sadar berbisik,
"Satu peluru."
Oscar menurunkan senjatanya.
"Kenapa?"
"Tidak... tidak ada, Tuan."
Oscar kembali memeriksa senapan tersebut, sebelum akhirnya kembali menembak.Beberapa tembakan terdengar menggema di tengah hutan.
Namun, di tengah keseriusannya menguji senjata baru itu...
Entah mengapa pikirannya justru melayang kepada seseorang.
Anisa
Oscar mengerutkan kening.
Bayangan wanita itu muncul di kepalanya—terutama ekspresi canggungnya ketika sarapan pagi tadi.
Roti lapis.
Secangkir teh susu.
Hanya itu.
Oscar menurunkan senjatanya seraya bergumam"Jangan-jangan..."
Seorang bawahannya yang berdiri tidak jauh darinya menoleh."Tuan?"
Oscar mengabaikannya."Dia tidak nyaman dengan sarapan tadi?"pikir Pria itu
Ia terdiam beberapa saat.
Selama hidupnya, Oscar memang terbiasa dengan kehidupan yang serba cukup. Namun itu bukan berarti ia tidak pernah merasakan kesederhanaan.Baginya, roti dan teh susu sudah merupakan sarapan biasa.
Tetapi Anisa?
Mungkin wanita itu memiliki kebiasaan yang berbeda.
Oscar menghela napas."Ahh..."
Ia mengusap keningnya."Tidak bisa terus begini."
"tuan ada yang salah dengan senjata itu?"
Oscar menatap kosong ke depan."Aku harus membuatnya nyaman."
Mendengar hal itu bawahannya berkedip."membuat nyaman?"
Oscar langsung menatap tajam."Supaya dia bertahan sampai kontrak selesai."
"Oh..."Pria itu mengangguk-angguk, langsung paham arah pembicaraan nya
"Begitu rupanya."
Oscar menyipitkan mata."Apa maksudmu dengan ‘begitu rupanya’?"
"Tidak ada, Tuan."
"Bagus."Oscar kembali memandang senapannya.
Satu tahun.
Ia hanya perlu memastikan Anisa tidak merasa ingin pergi sebelum satu tahun itu berakhir.
Namun bagaimana caranya?
Oscar berpikir keras.
Hingga seorang bawahan datang tergesa-gesa.
"Tuan!"
"Ada apa?"
"Gudang makanan diserang!"pekik nya panik.
Oscar mengerutkan kening."Diserang siapa?"
"Babi hutan."
Oscar terdiam."...Babi hutan? Lagi?!"
"Jumlahnya cukup banyak, Tuan. Beberapa bahkan berukuran sangat besar."
Oscar menatap hutan di hadapannya.
Kemudian pandangannya perlahan jatuh pada senapan di tangannya.Tak lama kemudian, Oscar sudah menyusuri hutan.
Daun-daun kering berderak di bawah langkahnya.Matanya mengamati setiap pergerakan di antara pepohonan.
Hingga akhirnya—
Suara geraman terdengar.Oscar berhenti.Di kejauhan, tampak sekumpulan babi hutan.
Beberapa berukuran cukup besar.
Namun seekor di antaranya benar-benar mencolok.Tubuhnya jauh lebih besar daripada yang lain.
Oscar menatapnya.
"Yang itu bos mereka"
Ia mengangkat senapannya.Tak lama kemudian, suara tembakan menggema di tengah hutan.
Beberapa menit kemudian—
Angin berembus melewati dedaunan.
Ia masih mengangkat senapan.
Tidak terburu-buru.
Tidak banyak gerakan.
Hanya satu tarikan napas.
Kemudian—
Dor!
Suara tembakan menggema di seluruh hutan.
Sebuah target yang berada cukup jauh langsung terpukul tepat di tengah.Anak buah yang menyaksikan dari belakang terdiam.
"Gila..."
Salah seorang bahkan tanpa sadar berbisik,
"Satu peluru."
Oscar menurunkan senjatanya.
"Kenapa?"
"Tidak... tidak ada, Tuan."
Oscar kembali memeriksa senapan tersebut.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa-
Tiga meter.
Dua meter.
Seekor babi Babi lain itu nampak mendekat.
Oscar mengangkat senapannya lagi dengan gerakan tenang.Tidak ada kepanikan.
Tidak ada tembakan membabi buta.
Ia hanya mengarahkan laras tepat ke depan.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
Dor!
Satu peluru melesat.Tepat sasaran.
Tubuh babi hutan raksasa itu tersentak hebat sebelum akhirnya ambruk ke tanah beberapa meter di depan Oscar.
Debu beterbangan.
Hutan kembali sunyi.
Para bawahan Oscar hanya bisa menatap dengan mata membulat.
"ahh sial!, ternyata yang itu peluru terakhir..."
Pria bermata sipit itu bahkan sampai kehilangan kata-kata.Oscar menurunkan senapannya dengan santai.
"Setidaknya tidak meleset"
Setelah memastikan buruannya berhasil dilumpuhkan, Oscar menurunkan senjatanya.
Anehnya, pikirannya kembali kepada Anisa.
Ia membayangkan tentang bagaimana wanita itu melihat hasil buruannya.Mungkin akan terkejut.
Mungkin juga tersenyum.
Dan mungkin...
"Dia akan senang dan langsung memasaknya,itu pasti.'"
Entah kenapa membayangkan hal itu membuat Oscar sedikit penasaran.
"Seperti apa ya rasa masakan Anisa?"
Oscar terdiam.Kemudian buru-buru menggeleng.
"Apa yang sedang kupikirkan?"
Ia memanggil salah seorang bawahannya."Bawa hasil buruan ini ke mansion."
"Baik, Tuan."
"Dan sampaikan sesuatu kepada Anisa."
"Apa yang harus saya katakan?"
Oscar berpikir sebentar.sebelum akhirnya mengatakan nya
"Katakan bahwa aku ingin dia memasak makanan enak malam ini."titah nya
"Baik."
Oscar kembali berbalik."Katakan juga bahan makanannya sudah tersedia di gudang tengah."
Bawahannya mengangguk.
"Dimengerti."
Oscar berjalan pergi.
Ia sendiri tidak ikut pulang.
Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di perusahaan.
Lagipula, menurutnya, satu-satunya tujuan membawa hasil buruan itu adalah membuat Anisa sedikit lebih betah tinggal di mansion.
Se sederhana itu.
Setidaknya...
Itulah yang terus ia yakini.
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...