Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 04
_____🌺
"Masalah kesuburan itu bukan soal rahim dingin atau hangat, Bu. Ini murni urusan medis," jelas Dokter Haryo sabar. "Banyak faktor yang mempengaruhi kehamilan. Bisa dari tingkat stres, kelelahan bekerja, atau memang belum waktunya saja dikasih rezeki. Kalau boleh saya kasih saran, biarkan saja mereka berdua menjalani program hamil dengan tenang tanpa tekanan dari siapa pun. Stres pikiran itu musuh utama kesuburan, Bu."
"Tuh, dengerin, Ma," gumam Nisa pelan, sengaja mengulangi kata-kata dokter barusan.
Bu Ratna langsung melotot, ke arah Nisa. "Dengerin apa? Dokter ini bilang gitu biar kita bayar periksa terus ke klinik dia. Kamu jangan mau di bodoh-in gitu aja. Pokoknya Dok, saya mau menantu saya ini dikasih vitamin yang paling mahal harganya. Biar cepet jadi itu bayinya di perut."
Dokter Haryo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. Ia tahu berdebat dengan sosok ibu mertua seperti bu Ratna tidak akan pernah ada ujungnya.
Akhirnya, dokter itu meresepkan beberapa vitamin standar untuk program kehamilan dan obat maag untuk meredakan perut pasiennya itu.
"Ini resep obatnya ya, Bu. Bisa ditebus di apotek depan sana. Dan ingat pesen saya, tolong hindari makanan pedas untuk sementara waktu," pesan Dokter Haryo sambil menyerahkan secarik kertas resep.
"Iya, iya, Dok. Makasih banyak," jawab bu Ratna ketus, merasa harga dirinya turun karena ketahuan jajan rujak cingur diam-diam tadi.
Mereka berdua berjalan keluar dari ruang dokter dan menuju bagian apotek. Di sepanjang lorong panjang itu, Ibu Ratna tak henti-hentinya terus mengomel menyalahkan Nisa lagi.
"Kamu ini memang sengaja ya tadi ngejatuhin harga diri Mama di depan dokter? Pakai bawa-bawa minyak goreng curah segala," omelnya tak henti.
"Loh, kan Mama sendiri tadi yang nyalahin masakan Nisa duluan. Terus ujungnya Mama ngaku sendiri habis makan rujak cingur pedes. Nisa salah apa lagi coba, Ma?" balas Nisa mencoba membela diri.
"Ya kamu harusnya pinter nutupin aib mertua dong di depan orang luar! Kalau ditanya dokter, bilang aja iya mungkin masakan Nisa yang salah bikin perut kembung. Gitu kek! Jangan malah bikin mertuamu kelihatan kayak tukang jajan sembarangan di pinggir jalan!"
Nisa menarik napas panjang. Logika macam apa lagi ini? Mengakui kesalahan yang tidak pernah diperbuat hanya demi menyelamatkan gengsi mertua yang hobi makan rujak cingur diam-diam?
"Iya, Ma. Maafin Nisa ya. Besok-besok kalau Mama sakit perut kembung lagi gara-gara makan seblak diam-diam malam hari, Nisa yang bakal bilang ke dokter kalau Nisa yang masukin racun tikus ke makanan Mama," sindir Nisa tajam, tapi dengan wajah datar tanpa dosa sedikit pun.
Bu Ratna langsung berhenti berjalan di tempat. Ia memutar tubuhnya dan menatap tajam mata menantunya itu. "Nisa! Kamu doain Mama cepet mati ya? Hah? Berani banget kamu ngomong begitu sama mertuamu sendiri?"
"Astaga, Ma. Nisa kan cuma bercanda aja. Katanya disuruh pinter nutupin aib, kalau nutupin aib sekalian aja bikin skenario drama yang seru. Biar dokternya kaget," sahut Nisa santai.
Menantu itu mulai menikmati cara membalas omongan julid mertuanya tanpa harus berteriak marah.
"Anak zaman sekarang, dikasih tahu baik-baik malah ngelawan terus. Pantas aja rezekinya dapet anak seret. Mulutnya aja nggak bisa dijaga sama sekali," sungut bu Ratna kesal.
Wanita tua itu, berjalan cepat meninggalkan Nisa di belakang lorong.
Nisa hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan ajaib mertuanya. Ia merogoh ponsel di sakunya dan kembali mengirim pesan singkat pada Dimas.
"Mas, seblak-nya jadiin level sepuluh ya nanti sore. Kerupuknya dibanyakin aja. Aku butuh energi lebih buat dengerin kultum sore nanti."
"Siap, Bos Besar. Otw cari seblak paling enak se-kecamatan buat istri tercinta," balas Dimas cepat.
Nisa tersenyum tipis merasa lega. Untung saja ia memiliki Dimas di sisinya. Kalau bukan karena suaminya yang sangat penyabar dan selalu berusaha membahagiakannya dengan hal-hal kecil, mungkin Nisa sudah mengepak semua barang-barangnya ke dalam koper dan kabur dari rumah mewah yang terasa seperti neraka bocor ini sejak dulu.
Menghadapi mertua julid memang butuh kesabaran ekstra, dan Nisa bertekad tidak akan kalah begitu saja.
_____🌺
Keesokan harinya.
Di pinggir jalan, ibu-ibu kompleks sedang belanja sayur, di pedagang sayur keliling.
"Oh, jadi ini daun katuk buat pelancar ASI anak kandung ibu yang baru nikah tujuh bulan tapi bayinya udah lahir dengan berat tiga koma lima kilo itu? Hebat banget ya, Bu RW. Zaman sekarang sistem bikin anak emang udah kayak beli motor kreditan, bisa sistem DP duluan sebelum akad nikah."
Suara cempreng nan pedas dari mulut bu Ratna itu sukses membuat suasana di lapak sayur keliling Kang Maman mendadak hening seketika.
Ibu-ibu kompleks perumahan yang sedang sibuk memilah tomat dan bawang merah langsung menghentikan pergerakan tangan mereka. Angin pagi yang biasanya sejuk, kini mendadak terasa panas menyengat bagai berada di tengah gurun pasir.
Bu RW yang sedang memegang dua ikat daun katuk di tangan kanannya, wajahnya langsung berubah merah padam menahan amarah.
Senyum bangga yang sedari tadi ia pamerkan kepada ibu-ibu kompleks karena baru saja resmi menjadi nenek, kini luntur tak bersisa.
"Jaga ya mulutnya, Bu Ratna! Anak saya Rina itu lahirannya prematur! Bukan hamil duluan seperti yang ibu tuduhkan barusan. Dokter kandungannya sendiri yang bilang kalau anak saya itu lahir prematur," bantah Bu RW dengan nada suara yang mulai meninggi dan dada membusung.
Bu Ratna tersenyum miring. Tangannya yang dipenuhi gelang emas keroncong dengan santai memilih-milih paprika merah yang harganya selangit.
Ia sama sekali tidak peduli dengan tatapan mata ibu-ibu lain yang kini mulai berbisik-bisik di belakang punggungnya.
"Prematur dari Hong Kong?" sahut Ibu Ratna telak tanpa ampun. "Bu RW, yang namanya bayi prematur lahir di usia kandungan tujuh bulan itu, beratnya paling banter dua kilo. Itu juga harus masuk inkubator dulu berhari-hari di rumah sakit. Lah ini? Tiga koma lima kilo ibu bilang prematur? Itu mah bukan prematur, Bu. Itu mah bayinya udah ketuaan di dalem perut alias udah mateng banget siap panen! Ibu kira saya ini bodoh, nggak pernah sekolah biologi pas SMA?"
Beberapa ibu-ibu yang berkerumun menahan tawa mereka dengan susah payah. Kang Maman, si tukang sayur yang malang, hanya bisa menelan ludah sambil pura-pura sibuk menata tumpukan tahu tempe. Ia tidak berani ikut campur urusan perang bintang ibu-ibu sosialita di kompleks elit ini.
"Astaghfirullah, Bu Ratna! Hati ibu itu terbuat dari apa sih? Dengki banget lihat orang lain bahagia punya cucu pertama! Bilang aja ibu iri kan sama saya? Soalnya menantu kesayangan ibu itu, si Nisa, udah tujuh tahun nikah tapi perutnya masih rata aja kayak triplek! Mandul kok dipelihara, mending suruh anak ibu nikah lagi aja sana sama perempuan yang beneran subur!" serang Bu RW tak mau kalah, mengeluarkan senjata pamungkasnya untuk membalas dendam.
Deg.
Nisa yang baru saja berjalan santai mendekati gerobak sayur Kang Maman, langsung membeku di tempat. Niat awalnya pagi ini sangat sederhana, hanya ingin membeli kangkung dan tempe gembus untuk sarapan Dimas sebelum berangkat kerja.
Namun siapa sangka, ia malah disambut dengan peluru nyasar yang langsung menusuk tepat di ulu hatinya. Tujuh tahun pernikahan tanpa kehadiran seorang anak memang selalu menjadi sasaran empuk untuk dijadikan bahan hinaan yang menyakitkan.
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh