Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedalam Itukah Cintaku?
PLAKK!!
Dania menamparnya keras dengan segala amarah yang tertahan. Kini amarah itu mengalir begitu saja terbawa udara malam yang berusaha mendinginkan tangan Dania yang memanas.
Sedangkan Jax malah tersenyum seolah menikmati sensasi perih di pipi kirinya yang ikut memerah senada dengan warna telapak tangan Dania.
"PULANG!!!!" Bentak Dania.
Dengan langkah berat penuh kobaran amukan, Dania berjalan ke mobilnya dan membukakan pintu untuk suaminya.
"MASUK!!!"
Laki-laki yang tak menyadari dirinya kini tengah berada di lautan api, hanya berjalan santai. Entah ia benar tak menyadarinya atau pura-pura bersikap tenang.
Deru suara mobil yang melesat dengan kecepatan tinggi tidak menganggu kelirihan raut wajah Jax. Lampu-lampu kota yang merenggang menjadi pita-pita cahaya keemasan tampak seperti bintang jatuh yang menghibur malamnya.
Sementara di sampingnya, Dania dengan bola mata yang merah hampir mengeluarkan air mata, berusaha untuk fokus pada jalan meskipun itu sangat sulit. Kekecewaan, kekhawatiran yang berpadu menyelinap menjadi kemarahan yang bahkan dirinya sendiri tak mampu menanganinya.
"Sss- sial!!" Desis Dania.
"Haha, ternyata Bu Dosen bisa mengumpat juga," ejek Jax dengan mulut ngawurnya.
"Diam."
Dania mengatakannya dengan suara pelan karena sedang menahan diri untuk tidak meledak.
"Kan aku udah bilang bakalan nggak pulang. Kenapa kamu malah nyusul kesini sih."
Mulut berbentuk hati itu sepertinya ingin sekali merasakan pedihnya distaples.
"Kenapa? Kamu cemburu ya? Takut banget kalau aku tidur sama cewek lain."
"Diam!"
Kali ini Dania menaikkan suaranya satu oktaf.
"Bukannya kamu nggak mencintaiku ya? Kamu nikahin aku juga cuma karena kasian kan? Kalau gitu, mending kamu lepasin aku. Jadi bebanmu akan menghilang."
Cittttt!!!!
Dania menghentikan mobilnya mendadak sampai membuat Jax terdorong ke depan hampir menabrakkan wajahnya.
Jax mengencangkan pegangannya pada sabuk pengaman untuk bersiap mendengarkan ocehan dan amukan istrinya.
Namun, lagi-lagi hanya kesunyian memuakan itu yang Dania ungkapkan.
Beberapa detik entah menit, tidak ada suara yang mengudara. Dania hanya menatap lurus jalanan dengan kencangnya tangan berpegang pada setir.
"Kamu sudah berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Tapi kenapa kamu malah berada disana? Kenapa? Jawab pertanyaanku!"
"Aku.... Hanya berjalan-jalan. Memangnya tidak boleh ya jalan di jembatan sambil melihat sungai?"
Dania menatap mata hitam Jax dalam-dalam.
"Apa sih?" Jax malah melengos ke arah jendela. "Jangan melihatku seperti itu!" Lanjutnya sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu tahu kan kalau aku selalu bersamamu. Kamu nggak sendirian." Ucap Dania pelan berusaha menyelinap jauh ke relung hati Jax.
"Kamu tidak perlu melakukan semua itu. Aku.... Aku tidak butuh rasa ibamu."
Ingin sekali Dania memukul kepala belakang Jax yang bulat sempurna seperi bola. Tapi melihatnya menahan kesedihannya, membuat Dania mengurungkan niatnya.
"Baiklah, mending kita pulang dulu dan aku akan membuatkan teh hangat buatmu."
"Cih! Berhenti bersikap seolah kamu itu ibuku."
Dania tak mendengarkan.
Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah segera sampai rumah agar Jax tidak memikirkan untuk mengakhiri hidupnya lagi.
.
.
.
"Duduklah! Akan ku buatkan teh madu sebentar," perintah Dania ketika mereka berdua sampai di rumah.
"Tidak, aku akan langsung tidur."
"Benarkah? Kamu akan tidur? Kamu tidak akan memikirkan hal bodoh lagi?"
"Aku tidak bodoh, aku hanya--"
Suaranya tercekat karena tidak tahu lagi kalimat yang tepat menggambarkan tingkahnya selain apa yang dikatakan Dania.
Dania menghela nafasnya pelan, "duduklah...."
Cetakk!!
Suara kompor yang dinyalakan otomatis membuat Jax duduk menuruti perintah Sang Ratu. Kadang ia merasa bahwa dirinya terlalu 'penurut' kalau dihadapkan pada istrinya.
"Aku sungguh tidak bermaksud--, aku hanya ingin melihat sungai lalu pulang. Aku nggak bohong," ucap Jax tiba-tiba melunak seperti bukan dirinya.
Dania tak langsung menjawab. Ia menyibukkan dirinya membuat teh sambil merangkai kata yang tepat.
"Minumlah...."
Jax langsung mengangkat cangkir tehnya, menghirup aroma hangatnya dan menyesap perlahan.
Sedangkan Dania menatap lekat wajah suaminya yang dipenuhi keringat. Ia tahu bahwa Jax sekarang sedang dalam mode paling rendahnya. Meskipun ia selalu membalut kelemahannya dengan tingkah remaja labil yang suka bersenang-senang. Tapi dimata Dania, Jax hanya anak kecil yang sedang meraung meminta pertolongan.
"Apa aku harus memasang rantai di kakimu?"
Pppbuuah!!!
Jax menyemburkan tehnya tepat di wajah Dania.
"Hei???!!!!" Dania langsung mengambil tisu dan membersihkan wajahnya dari semburan mbah dukun.
"Ma-maaf, habisnya kamu tiba-tiba gitu. Kayak psikopat."
"Kalau kamu nggak mau ada rantai di kakimu, kamu harus menurutiku!!! Tidak ada lagi kunjungan di sungai, paham!!!!"
"Iya iya, maaf."
Malam itu terasa sangat panjang. Diawali dengan kekhawatiran dan kecemburuan (?) Dania menyadari sesuatu yang penting. Lebih baik ia melihat suaminya bersama perempuan lain daripada harus melihatnya mengambang di sungai yang dingin.
Sedalam itukah cintanya? Atau itu hanya pelampiasan segala lukanya? Seperti merasa lebih baik ketika melihat seseorang lebih terluka daripada diri sendiri. Lalu berlagak melindunginya, untuk memuaskan diri karena tak pernah mendapatkan perlindungan itu.
"Jangan dipendam sendiri. Kalau kamu mau, besok kita akan berkunjung ke rumah Nenek," ucap Dania berusaha untuk memulai deep talk.
"Tidak perlu, urusi saja urusanmu, Bu Dosen."
Jax bangun dan mencuci cangkir yang sudah kosong seolah mengatakan kalau obrolan mereka selesai sampai disini.
Hanya itu?
Itu tidak cukup untuk Dania.
Ia ingin mengobrol lebih lama dengan suaminya. Ia ingin Jax lebih terbuka dengannya, menceritakan semua keluh kesahnya tanpa terbebani. Tapi yang ia peroleh hanya punggung dingin Jax.
Bagaimana bisa seseorang dengan gampangnya berubah sikap? Bukankah baru saja mereka mengobrol santai? Apakah Jax punya masalah kepribadian? Mungkin kepribadian ganda?
"Haaah... Baiklah, cepatlah tidur. Besok kamu masih harus kuliah pagi kan?"
"Mm... Sepertinya Bu Dosen diam-diam memeriksa jadwalku."
Jax memiringkan senyumnya, meninggikan dagunya dan menyandarkan bokongnya di tepi wastafel.
Dania tidak mau kalah.
"Mau gimana lagi? Ada mahasiswa abadi yang seharusnya sudah skripsi tapi masih ngejar SKS. Tentu saja aku harus memeriksanya. Takutnya ada yang nggak beres sama OTAK-nya."
"Hahahaha," Jax tertawa. Tertawa?
Dania tidak pernah melihat Jax tertawa lepas seperti ini. Biasanya dia hanya tersenyum atau cengengesan saja. Dia tidak pernah selepas ini.
Bukankah ini sebuah peningkatan di hubungan mereka?
Dania ikut tersenyum. Namun senyumya pudar ketika Jax mulai melantur.
"Eh gimana kalau aku ajak aja pacarku tinggal di rumah ini. Siapa tahu aku semakin termotivasi. Boleh kan?"
.
.
.
lu sama aja kayak mas Aris, main perempuan di rumah yang ada istrinya
sabar jax 🤭
buang2 waktu doang sama si jax. masih labil dia.
kalo gak ada suamimu bisa2 udah digrepe kamu dan 😖