NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - SANG BAYANGAN SEMPURNA

Mobil Maybach S-Class hitam pekat melaju mulus membelah jalanan kota yang udah mulai sepi. Lampu-lampu jalanan berkelebat cepat lewat kaca jendela, mantul di permukaan mobil yang mengkilat sempurna. Di dalam kabin yang senyap dan kedap suara, wangi parfum *Baccarat* milik Valeria masih mendominasi, sedikit bercampur sama bau samar mesiu yang nempel di bajunya.

Valeria duduk bersandar di kursi belakang, memejamkan mata sambil mijat pelipisnya perlahan. Sepatu hak tinggi warna merahnya udah dia lepas dan dibiarkan tergeletak di karpet mobil yang tebal. Jas merah gelapnya sedikit kusut, tapi dia sama sekali nggak peduli. Malam ini rasanya panjang banget.

Di kursi kemudi, Kael menyetir dengan tenang. Pandangannya fokus ke jalanan, tapi sesekali matanya melirik ke kaca spion tengah, merhatiin bosnya yang kelihatan kelelahan. Kael kenal banget gestur itu. Kalau Valeria udah mulai mijat pelipis pakai dua jari, itu artinya sakit kepalanya kumat karena terlalu banyak pikiran.

"Suhu AC-nya terlalu dingin, Nyonya?" tanya Kael memecah keheningan dengan suara baritonnya yang lembut.

"Nggak, pas kok. Biarin aja begini," gumam Valeria tanpa membuka matanya.

Kael diam. Tangannya yang besar dan kokoh bergerak mulus memutar setir saat mobil berbelok masuk ke kawasan elit pusat kota. Tanpa disuruh, jari Kael menekan tombol di dasbor. Tiba-tiba, suara alunan musik klasik *Claire de Lune* dari Debussy mengalun pelan dari speaker mobil. Volume-nya diatur sangat rendah, pas banget buat jadi latar yang menenangkan.

Valeria menghela napas panjang, senyum tipis perlahan muncul di bibirnya yang dipoles lipstik merah gelap.

"Kamu selalu tahu cara bikin aku rileks, Kael," puji Valeria pelan, kepalanya kini bersandar nyaman di jok kulit yang empuk.

"Sudah jadi tugas saya, Nyonya," balas Kael sopan, meski di balik nada datarnya, ujung telinganya sedikit memerah mendengar pujian kecil itu.

"Berhenti panggil aku Nyonya kalau kita lagi berdua kayak gini di dalam mobil. Rasanya kaku banget," protes Valeria membuka matanya, menatap punggung tegap Kael dari belakang.

"Maaf, kebiasaan, Val," ralat Kael cepat.

Sepuluh tahun mengabdi bikin Kael hafal di luar kepala semua hal tentang Valeria. Mulai dari kebiasaannya yang suka minum kopi hitam tanpa gula tiap jam delapan pagi, sampai fakta kalau wanita kejam yang ditakuti seantero dunia bawah ini sebenarnya nggak bisa tidur kalau nggak ada suara rintik hujan atau alunan musik klasik. Kael adalah bayangan yang sempurna. Dia ada di mana-mana, ngatur semuanya, tanpa pernah minta panggung.

Sekitar lima belas menit kemudian, mobil mewah itu berhenti mulus di *basement* VIP gedung pencakar langit milik klan mereka. Gedung ini adalah pusat dari segala operasi bisnis legal maupun ilegal yang dikendalikan Valeria.

Kael buru-buru turun dari mobil. Dengan gerakan gesit tapi elegan, dia membukakan pintu belakang untuk Valeria. Pria itu sedikit menunduk, mengulurkan tangannya untuk jadi pegangan bosnya saat turun. Valeria meraih tangan besar Kael, memakai kembali sepatunya, dan melangkah keluar dengan gaya anggun yang udah mendarah daging.

Mereka berdua berjalan bersisian menuju lift pribadi. Kael seperti biasa berdiri setengah langkah di belakang Valeria. Posturnya yang tinggi besar ngebuat dia kelihatan kayak tameng hidup buat wanita itu.

"Tingkat 50, ruang kerja," perintah Valeria saat pintu lift tertutup rapat.

Kael menempelkan kartu akses khususnya ke panel lift, lalu menekan angka 50. Lift melesat naik tanpa suara.

"Jadi, soal sektor selatan yang baru aja kosong karena si idiot Marco udah pindah alam... Siapa yang menurutmu pantas gantiin posisinya?" tanya Valeria membuka obrolan bisnis. Matanya menatap pantulan dirinya dan Kael di pintu lift yang terbuat dari cermin gelap.

"Kalau dilihat dari kinerja dan loyalitas, ada dua kandidat terkuat. Bastian dari divisi keamanan, dan Leon dari divisi logistik pelabuhan," lapor Kael lancar, seolah data seluruh anggota klan udah tertanam di otaknya.

"Bastian terlalu kaku, dia cuma jago main otot. Kalau Leon... dia pintar cari duit, tapi agak licik. Aku nggak suka orang licik yang nggak bisa dikontrol," analisis Valeria sambil menyilangkan tangan di dada.

"Kalau begitu, biarkan saya yang memegang kendali sektor selatan sementara waktu, sampai kita menemukan orang yang benar-benar bersih dan bisa dipercaya. Klan Viper pasti akan mencoba mengambil keuntungan dari kekosongan ini," tawar Kael memberi solusi.

Valeria memutar tubuhnya, menatap Kael dengan alis terangkat.

"Kamu? Ngurusin sektor selatan, iya. Ngawal aku 24 jam, iya. Ngurusin jadwal rapat sama para tetua, iya juga. Kamu ini robot atau manusia, sih? Nggak capek?" sindir Valeria setengah bercanda.

"Selama itu untuk Anda, saya tidak kenal kata capek," jawab Kael menatap lurus ke mata Valeria. Tatapannya serius banget, nggak ada nada bercanda sama sekali.

*Ting!*

Pintu lift terbuka tepat sebelum Valeria sempat membalas perkataan Kael yang entah kenapa bikin jantungnya berdetak setitik lebih cepat. Wanita itu berdeham pelan, menyembunyikan kecanggungannya, lalu melangkah keluar menuju ruang kerjanya yang luas bak *penthouse*.

Ruangan itu didesain dengan gaya modern minimalis, didominasi warna hitam, emas, dan kaca. Dari dinding kaca raksasa di satu sisi ruangan, pemandangan kelap-kelip lampu kota dari ketinggian lantai 50 terlihat menakjubkan banget.

Valeria langsung berjalan menuju meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni mahal. Dia melempar jas merahnya ke sofa terdekat, menyisakan kemeja sutra hitamnya yang melekat pas di badan.

Kael masuk menyusul. Tanpa disuruh, pria itu mengambil jas Valeria yang dilempar sembarangan, melipatnya rapi, dan menggantungnya di *standing hanger*. Setelah itu, dia berjalan ke arah mini bar di sudut ruangan.

"Kopi atau *wine*?" tawar Kael sambil mengangkat sebuah botol *red wine* mahal dari rak.

"Hmm, *wine* aja. Kepalaku butuh sedikit alkohol buat mencerna drama malam ini," sahut Valeria menjatuhkan diri di kursi kulitnya yang kebesaran.

Kael menuangkan *wine* merah gelap itu ke dalam gelas kristal dengan takaran yang pas, nggak terlalu banyak, nggak terlalu sedikit. Dia lalu membawanya ke meja Valeria, meletakkannya tepat di jangkauan tangan kanan wanita itu, lengkap dengan sebuah tablet yang layarnya udah menyala menampilkan laporan keuangan mingguan klan.

"Ini laporan pergerakan dana dari kasino kita minggu ini. Semua kerugian yang disebabkan Marco sudah saya *cover* menggunakan dana cadangan dari sektor utara. Audit internal besok pagi tidak akan menemukan celah sedikit pun," lapor Kael sambil berdiri tegap di samping meja.

Valeria menyesap *wine*-nya perlahan, lalu menatap layar tablet itu dengan takjub. Angka-angkanya rapi, kerugian udah ditutup, dan semuanya beres bahkan sebelum dia sempat ngasih perintah.

Wanita itu meletakkan gelasnya, lalu mendongak menatap wajah Kael yang dingin dan kaku dari samping. Rahang pria itu tegas, rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, dan sorot matanya selalu waspada menatap ke arah pintu, memastikan ruangan itu seratus persen aman.

"Kael, jujur sama aku," panggil Valeria dengan nada yang lebih serius.

Kael menoleh, memusatkan seluruh perhatiannya pada sang ratu. "Ya, Val?"

"Kenapa kamu nggak pernah minta posisi yang lebih tinggi? Dengan semua otak dan kemampuan yang kamu punya, kamu bisa aja duduk di kursi dewan tetua. Atau bahkan mimpin sektor utama. Tapi kamu malah milih terus-terusan jadi bayanganku. Nyuci piring bekas makanku, bawain jas, sampai ngurusin mayat-mayat sampah kayak tadi," tanya Valeria memicingkan matanya menyelidik.

Kael terdiam sejenak. Tangannya yang bersembunyi di balik saku celana mengepal erat. Kalau aja Valeria tahu, jangankan posisi di dewan tetua, seisi dunia ini pun nggak ada harganya dibanding berdiri di samping wanita itu. Kael nggak butuh takhta, dia cuma butuh ratunya.

"Karena posisi tertinggi yang saya inginkan sudah saya dapatkan," jawab Kael akhirnya, suaranya terdengar sangat tenang.

"Maksudnya? Posisi kepala pengawal?" tanya Valeria mengerutkan kening nggak paham.

"Posisi di mana saya bisa melihat punggung Anda, dan memastikan tidak ada satu peluru pun yang bisa menembus jantung Anda. Bagi saya, itu adalah takhta yang paling berharga," ucap Kael jujur, meski setengah mati dia menahan diri biar suaranya nggak terdengar terlalu emosional.

Valeria terpaku. Tangan lentiknya yang tadinya mau mengambil tablet terhenti di udara. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dadanya tiap kali Kael ngomong dengan nada seserius itu. Seolah kalimat barusan bukan cuma sekadar janji seorang bawahan kepada bosnya, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang berbahaya.

"Kamu... kadang-kadang omonganmu itu ngeri banget, tahu nggak? Mirip psikopat obsesif yang ada di film-film," kekeh Valeria akhirnya, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa terlalu padat.

Kael cuma tersenyum tipis, sangat tipis sampai hampir nggak kelihatan. "Saya anggap itu sebagai pujian, Val."

"Terserah kamu deh," dengus Valeria sambil tersenyum kecil. "Oh ya, besok pagi tolong aturkan pertemuanku sama perwakilan dari pelabuhan. Kita harus pastiin rute pengiriman senjata yang baru aman dari endusan Klan Viper. Aku nggak mau kejadian kayak Marco terulang lagi."

"Baik. Jadwal Anda besok pagi pukul sembilan. Setelah itu, pukul satu siang ada rapat rutin dengan para tetua klan di ruang konferensi," rinci Kael mencatatnya dalam memori otaknya.

Valeria langsung mengerang malas mendengar kata 'tetua'. "Ugh, rapat sama kakek-kakek bau tanah yang bisanya cuma protes itu lagi? Bisakah kita lewati saja dan langsung kirim mereka ke panti jompo?"

"Sayangnya tidak bisa. Mereka masih memegang dua puluh persen saham bisnis legal kita. Anda harus tetap bermanis muka di depan mereka," saran Kael objektif.

"Iya, iya, aku tahu," keluh Valeria menyerah.

Wanita itu kembali menyesap *wine*-nya sampai habis, lalu menyandarkan kepalanya ke punggung kursi. Matanya terlihat sangat lelah. Beban memimpin sindikat mafia terbesar di kota ini jelas bukan main-main. Di balik gaun mewah, harta melimpah, dan kekuasaan absolut, Valeria tahu bahwa setiap malam dia tidur dengan satu mata terbuka, menunggu siapa lagi yang akan mengkhianatinya esok hari.

Kecuali Kael.

Entah kenapa, satu-satunya hal yang bikin Valeria masih bisa bernapas normal di dunia yang gila ini cuma kehadiran pria jangkung di dekatnya itu. Kael adalah jangkar kewarasannya.

"Kamu pulanglah, Kael. Udah jam dua pagi. Aku mau tidur di kamar sini aja malam ini," usir Valeria pelan sambil mengibaskan tangannya, menyuruh Kael pergi beristirahat. Di balik pintu kayu di ruang kerjanya ini memang ada kamar tidur rahasia yang super mewah untuknya.

"Saya akan berjaga di luar ruangan Anda," tolak Kael keras kepala.

"Kael, jangan konyol. Keamanan gedung ini udah dilapis sama sistem level tinggi. Nyamuk aja nggak bisa masuk sini. Pulang dan tidurlah di apartemenmu. Itu perintah," tegas Valeria.

Kael terdiam, tampak bimbang sejenak. Berdebat dengan Valeria adalah hal yang paling jarang dia lakukan, tapi kalau menyangkut keselamatan bosnya, Kael rela melanggar perintah. Namun malam ini, melihat wajah pucat Valeria, Kael memutuskan untuk mengalah.

"Baik, Val. Saya akan pulang. Tolong kunci pintu dari dalam, dan tekan tombol panik di bawah meja jika terjadi sesuatu," pesan Kael protektif.

"Bawel," ejek Valeria terkekeh pelan. "Udah sana."

Kael sedikit membungkukkan badannya memberi hormat, lalu memutar langkah menuju pintu keluar. Saat tangannya meraih kenop pintu kaca besar itu, Kael berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.

Dilihatnya Valeria udah memejamkan mata di kursinya, tampak begitu damai sekaligus rapuh di saat bersamaan. Tangan Kael kembali mengepal. Dia berjanji dalam hati, apa pun badai yang akan menghantam klan ini ke depannya, entah itu dari Klan Viper, dari para tetua, atau dari pengkhianat lain, Kael akan jadi dinding baja pertama yang harus mereka lewati sebelum bisa menyentuh sehelai rambut Valeria.

"Selamat malam, Ratuku," bisik Kael sangat pelan ke udara kosong, sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu ruangan itu rapat-rapat, meninggalkan Valeria terlelap dalam keamanan mutlak yang dia jaga.

1
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!