NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Revan tidak bisa menahan rasa gugup yang tiba-tiba muncul. Kira-kira apa yang sudah disiapkan Sistem Keajaiban untuknya kali ini?

Dia buru-buru memeriksa hadiah yang didapatnya kemarin.

Alat penyadap tak kasatmata itu masih ada!

Tidak diragukan lagi, benda tersebut memang dibuat khusus untuk menguping. Tidak terlihat, tidak terdeteksi, dan jelas bukan barang murahan.

Revan memasukkan tangannya ke saku celana, lalu berjalan kembali menuju ruang kerja.

Namun, begitu sampai di kantor, dia langsung menyadari suasananya berbeda dari kemarin.

Ruangan yang biasanya penuh orang sekarang terlihat jauh lebih sepi. Hanya beberapa penyidik yang duduk di meja masing-masing, sibuk mengerjakan pekerjaan mereka.

Pak Budi dan Pak Dedi juga tidak terlihat.

Begitu menyadari Revan datang, beberapa penyidik yang ada di ruangan itu langsung melirik ke arahnya.

Tatapan mereka terasa sedikit canggung.

Wajar saja.

Apa yang dilakukan Revan kemarin benar-benar di luar dugaan semua orang.

Pria yang selama ini terlihat santai, bahkan cenderung tidak terlalu menonjol, tiba-tiba berubah menjadi seperti preman jalanan. Dia bahkan berhasil menyelesaikan Kasus Pemerkosaan seorang diri.

Sampai sekarang pun masih banyak yang sulit percaya.

Tapi Revan sama sekali tidak peduli dengan tatapan mereka.

Dia langsung berjalan menuju meja kerjanya dan menyalakan komputer.

Di sebelah mejanya duduk Rian dan Dimas. Keduanya saat ini bertugas menangani kasus-kasus lama yang belum terpecahkan.

Kasus dingin.

Begitulah para penyidik menyebutnya.

Kasus-kasus tersebut biasanya sudah terjadi bertahun-tahun lalu, tetapi sampai sekarang pelakunya belum berhasil ditemukan. Sebagai bagian dari Unit Investigasi Kasus Utama, kasus seperti ini tetap memiliki tingkat kepentingan yang tinggi.

Sebagian besar berkaitan dengan perampokan, penghilangan orang, bahkan pembunuhan.

Masalahnya, semakin lama sebuah kasus dibiarkan, semakin sulit pula untuk mengungkapnya.

Bukti-bukti bisa hilang.

Saksi bisa meninggal atau pindah.

Orang-orang yang dulu terlibat juga bisa melupakan detail penting.

Ada kasus yang bahkan sudah dua puluh atau tiga puluh tahun berlalu tanpa satu pun petunjuk baru.

Karena itulah, Unit Kasus Dingin menjadi salah satu bagian yang paling tidak diminati oleh para penyidik.

Tidak ada yang mau dipindahkan ke sana.

Selain pekerjaannya sering kali seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tekanan dari atasan juga cukup berat.

Kalau dalam batas waktu tertentu tidak ada perkembangan berarti, mereka bisa kena teguran bahkan hukuman.

Rian dan Dimas bisa dibilang sedang apes.

Entah karena masalah apa, keduanya dipindahkan ke bagian tersebut sejak awal tahun.

Saat ini, keduanya sedang membongkar tumpukan foto dan dokumen lama.

Revan masih menunggu komputernya menyala ketika rasa penasaran membuatnya melirik ke meja sebelah.

Begitu melihat foto-foto yang sedang mereka periksa, alis Revan langsung terangkat.

Foto-foto itu berisi gambar korban pembunuhan.

Darah ada di mana-mana.

Kondisinya benar-benar mengenaskan.

“Buset, kasus apa itu?” Revan bertanya sambil mendekat. “Sadis banget.”

“Ini...”

Ucapan Revan yang terlalu santai membuat Rian dan Dimas saling pandang.

Mereka sendiri sudah terbiasa melihat foto-foto TKP, tetapi mendengar komentar Revan dengan nada seperti sedang melihat sesuatu yang menarik di internet tetap terasa aneh.

“Ini...” Rian akhirnya menjelaskan. “Kasus pembunuhan yang terjadi sekitar sepuluh tahun lalu di kawasan pusat Jakarta.”

Dia menunjuk salah satu foto.

“Korban ditemukan dalam kondisi sangat mengenaskan. Tubuhnya disabet lebih dari empat puluh kali.”

“Oh?”

Komputer Revan sudah menyala.

Namun, sekarang perhatiannya justru tertuju pada kasus tersebut.

Dia mengambil salah satu foto dan mengamatinya lebih teliti.

“Kasus ini dulu sempat bikin heboh,” kata Dimas. “Korban seorang pengangguran yang hidupnya tidak jelas. Dia sering keluyuran, dan kabarnya juga kecanduan judi.”

“Terus?”

“Diduga dia punya utang kepada rentenir. Setelah dibunuh secara brutal, di dinding rumah ditemukan tulisan-tulisan seperti ‘utang harus dibayar’ dan ‘mata ganti mata’.”

Dimas menunjuk beberapa foto lainnya.

“Karena cara pembunuhannya begitu brutal, media waktu itu menjulukinya sebagai Kasus Pembunuhan Gang H.”

“Gang H?”

Revan mengernyit.

“Iya.”

Rian ikut menjelaskan.

“Menurut penyidik yang menangani kasus ini dulu, darah korban hampir memenuhi seluruh rumah. Istrinya bahkan mengalami gangguan mental setelah melihat kondisi suaminya.”

Rian menghela napas.

“Kasus ini benar-benar membuat warga sekitar ketakutan. Hampir setengah warga di kawasan itu akhirnya pindah. Pemerintah juga akhirnya mempercepat rencana pembongkaran kawasan tersebut.”

“Waduh...”

Revan kembali melihat foto-foto itu.

Setelah beberapa saat, dia bertanya,

“Kalau kasusnya sampai seheboh ini, kenapa pelakunya masih belum ketemu?”

Rian tertawa hambar.

“Kalau kasusnya sudah selesai, kami berdua tidak akan duduk di sini sambil menyiksa diri.”

Dia menghela napas.

“Dulu polisi mengerahkan banyak orang. Pencarian dilakukan siang malam. Bahkan beberapa kelompok kriminal yang dicurigai juga sempat dibongkar.”

“Tapi?”

“Tidak ada hasil.”

Rian menggeleng.

“Yang aneh, tidak ada satu pun bukti yang benar-benar mengarah kepada identitas pembunuh. Tidak ada saksi yang bisa memberikan informasi penting. Tidak ada senjata pembunuhan. Tidak ada jejak yang cukup kuat.”

“Pada akhirnya kasus ini mandek,” lanjut Dimas. “Sekarang malah jadi beban bagi Kepala Unit.”

“Dan sekarang...” Dimas mengangkat beberapa lembar dokumen lama. “Kawasan tempat kejadian sudah dibongkar. Bangunannya sudah tidak ada.”

Dia tersenyum pahit.

“Yang tersisa cuma foto-foto ini dan beberapa dokumen yang kondisinya sudah tidak lengkap. Mau mulai penyelidikan dari mana?”

“Kasus mati,” gumam Rian.

“Karena sudah hampir sepuluh tahun,” lanjutnya, “atasan justru semakin menekan kami untuk menyelesaikannya.”

Rian kembali menghela napas panjang.

“Kalau tetap tidak ada perkembangan, kami berdua mungkin bakal dipindahkan ke bagian lalu lintas.”

“Benarkah?”

Dimas memasang wajah pasrah.

“Ya.”

Dia kemudian mengepalkan tangan dan membuat gerakan seperti sedang menulis surat tilang.

“Kalau sampai benar-benar dipindahkan, latihan dari sekarang saja.”

Rian tertawa.

“Latihan apa?”

“Menilang.”

Dimas menunjuk ke arah jendela.

“Begitu masuk bagian lalu lintas, hal pertama yang akan kulakukan adalah keliling kompleks apartemen dekat rumahku. Semua kendaraan yang parkir sembarangan bakal kutilang.”

“Hahaha!”

Rian tidak bisa menahan tawa.

Dia ikut membuat gerakan menulis surat tilang di udara.

“Yang parkir di trotoar juga.”

“Yang parkir depan pintu masuk juga.”

“Yang berhenti sembarangan di pinggir jalan juga.”

Keduanya tertawa getir.

Revan hanya menatap mereka sambil menggaruk hidung.

Kemudian dia mengambil salah satu foto dari meja.

“Kalau boleh ngomong...” katanya.

Rian dan Dimas langsung menoleh.

“Silakan.”

“Kami sudah pasrah, kok.”

Revan mengerutkan kening.

“Menurutku ada yang aneh dari kasus ini.”

“Apa?”

“Kalian salah memberi nama kasusnya.”

“Hah?”

Rian dan Dimas saling pandang.

Jelas mereka tidak menyangka Revan akan mengatakan hal seperti itu.

Revan menunjuk foto korban.

“Kalian yakin pembunuhan ini dilakukan kelompok penagih utang?”

“Berdasarkan penyelidikan lama, iya.”

“Menurutku tidak.”

Revan menggeleng.

“Geng sungguhan tidak bekerja seperti ini.”

Rian mengangkat alis.

“Maksudmu?”

“Coba pikir.”

Revan meletakkan foto di atas meja.

“Kalau ada orang berutang banyak kepadaku, apa yang akan kulakukan? Memaksanya membayar utang atau langsung membunuhnya?”

“Ya jelas dipaksa bayar.”

Dimas menjawab tanpa berpikir lama.

“Nah.”

Revan menunjuknya.

“Itu maksudku.”

Dia kembali melihat foto.

“Kelompok penagih utang mencari uang. Mereka tidak punya alasan untuk membunuh orang yang berutang kepada mereka.”

“Bahkan kalau utangnya sampai miliaran rupiah sekalipun?”

“Justru semakin besar utangnya, semakin kecil kemungkinan mereka membunuhnya.”

Revan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Karena orang mati tidak bisa mengembalikan uang.”

Rian terdiam.

Matanya mulai menunjukkan ketertarikan.

Revan melanjutkan,

“Kelompok seperti itu biasanya punya cara sendiri untuk menekan orang. Menghancurkan barang, memecahkan kaca rumah atau mobil, mengancam keluarga, bahkan mengintimidasi korban secara langsung.”

Dia mengetuk meja dengan jarinya.

“Tujuannya cuma satu. Membuat orang itu takut dan akhirnya membayar.”

“Kalau mereka membunuh korban tanpa alasan,” lanjut Revan, “apa untungnya?”

“Tidak ada.”

Dimas mulai mengangguk perlahan.

“Benar juga.”

“Bukan cuma itu.”

Revan menunjuk luka pada tubuh korban.

“Kalau memang cuma ingin membunuh, satu tusukan atau satu tebasan sudah cukup.”

Dia berhenti sejenak.

“Tapi korban disabet lebih dari empat puluh kali.”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

“Menurutku,” kata Revan pelan, “ini bukan pembunuhan biasa.”

Rian menatapnya.

“Lalu apa?”

“Korban dan pelaku kemungkinan punya dendam pribadi yang sangat dalam.”

Revan menunjuk foto itu.

“Pelaku sengaja membuat pembunuhan ini terlihat seperti pekerjaan kelompok kriminal.”

“Pengalihan perhatian.”

“Benar.”

Revan mengangguk.

“Pelaku ingin polisi mengejar kelompok penagih utang, padahal sebenarnya orang yang mereka cari tidak ada hubungannya dengan kelompok itu.”

Rian terdiam sambil berpikir.

“Masuk akal...”

Dia mengambil kembali berkas kasus.

“Tapi masalahnya, korban memang punya banyak musuh.”

“Di catatan lama disebutkan dia pengangguran, sering berjudi, temperamennya buruk, dan sering bermasalah dengan orang lain.”

Rian membolak-balik beberapa halaman.

“Bahkan hubungan korban dengan tetangganya juga tidak terlalu bagus.”

Dia terdiam.

“Kalau harus menyelidiki semua orang yang pernah punya masalah dengannya...”

Rian menghela napas.

“Bisa gila kita.”

Revan tiba-tiba bertanya,

“Istrinya masih hidup?”

Dimas langsung mencari informasi di berkas.

“Masih.”

“Sekarang di mana?”

“Sudah menikah lagi.”

Dimas membaca catatan berikutnya.

“Sudah punya anak juga.”

“Bagaimana kondisinya?”

“Sepertinya hidupnya cukup baik sekarang.”

Revan langsung berdiri.

“Kalau begitu, kenapa kalian tidak menemuinya?”

Rian dan Dimas menatap Revan.

“Kalau korban memang punya musuh, istrinya kemungkinan tahu sesuatu.”

Revan mengambil mouse dan kembali duduk di depan komputernya.

“Kalaupun dia tidak tahu, setidaknya kita bisa mendapatkan informasi tentang kehidupan korban sebelum meninggal.”

Dia berhenti sejenak.

“Lagipula, kalau memang ada orang yang punya dendam sebesar itu terhadap korban, istrinya mungkin pernah melihat atau mendengar sesuatu.”

Dimas mulai mengangguk.

“Benar juga...”

Revan kembali menatap layar komputernya.

“Bahkan mungkin saja istrinya punya hubungan dengan pelaku.”

“Apa?”

Dimas sampai hampir berdiri dari kursinya.

“Maksudmu...”

“Empat puluh lebih sabetan.”

Revan berkata santai sambil mulai mencari informasi alamat dari komputer.

“Kalau ini pembunuhan karena dendam atau urusan pribadi, bisa saja ada motif lain.”

Dia mengangkat bahu.

“Bisa saja karena masalah hubungan.”

Rian dan Dimas saling pandang.

Kemudian keduanya langsung berdiri.

“Kalau begitu kita cari alamat istrinya.”

“Cepat.”

“Siapa tahu memang ada sesuatu.”

Keduanya buru-buru mengambil berkas dan meninggalkan ruangan.

Revan bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Rian dan Dimas sudah menghilang di balik pintu.

Dia hanya bisa menatap punggung mereka sambil menggeleng.

“Orang-orang ini...”

Revan kembali menghadap komputer.

Namun sudut bibirnya perlahan terangkat.

Sepertinya kasus yang sudah dianggap mati selama hampir sepuluh tahun itu akhirnya mulai memiliki celah baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!