Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Zaira merasakan napasnya tersangkut di dada saat Leonardo, tanpa mengalihkan tatapan kelabunya yang menusuk, meninggalkan pusat tubuhnya.
"Aah..." bisiknya, hanya sehela suara.
Pria itu menggeram rendah, bunyi purba yang bergetar di kerongkongannya sementara ia mengangkat Zaira ke dalam pelukannya tanpa susah payah, membawanya melintasi kamar.
Zaira mencengkeram leher pria itu, merasakan detak mantap di bawah kulitnya, aroma yang menyelubunginya, menandainya. Setiap langkah pria itu berdentum di telinganya bagai genderang perang.
Leonardo menjatuhkannya ke ranjang dengan kekasaran yang terukur, seperti serigala meletakkan mangsanya.
Seprai berderit di bawah bobotnya.
Langit-langit berputar sejenak di atas kepala Zaira, tetapi pandangannya kembali terpaku pada pria itu: berdiri di depan ranjang, menuntaskan bukaan kemejanya dengan kelambatan yang menyiksa.
Setiap senti kulit yang tersingkap adalah janji berbahaya: dada kokoh, ditandai otot-otot yang tegang; tato-tato menggores garis hingga lenyap di balik ikat pinggang celananya. Sebuah bekas luka melintangi perutnya, tanda yang bercerita tentang kisah-kisah tak terucap.
Zaira menelan ludah, mulutnya mengering sementara perutnya mengencang oleh antisipasi.
Leonardo melemparkan kemejanya ke samping, dan dalam dua langkah lebar ia sudah berada di atas Zaira, menyelimutinya dengan bayangannya.
Tangannya menemukan tepi gaun dan menariknya perlahan ke atas, seolah menelanjangi Zaira sejengkal demi sejengkal, sementara bibirnya menjelajahi jalannya: perut yang gemetar, lengkung pinggang, lembah lembut di antara tulang-tulang rusuknya.
Zaira terengah, melengkungkan punggung ke ranjang, tubuhnya bereaksi pada tiap belaian seolah kulitnya mesiu dan Leonardo percikan yang menyulutnya.
Ketika gaun itu akhirnya teronggok kusut di sekitar pinggangnya, Leonardo menegakkan tubuh secukupnya untuk menatapnya: pakaian dalam renda yang nyaris tak menutupi dan basah kuyup, kulitnya meremang, matanya yang setengah terpejam memohon sesuatu yang tak bisa ia namai.
"Kau cantik sekali seperti ini..." gumamnya, suaranya serak bagai beludru usang.
Jari-jarinya, kokoh namun penuh khidmat, menyusuri garis tulang rusuk Zaira, turun ke pinggulnya, mencengkeramnya seakan hendak menghafal tiap lekuk.
Zaira mengeluarkan erangan tertahan saat merasakan bibir pria itu di bagian dalam pahanya, napas hangatnya meluncur ke wilayah yang belum pernah disentuh lelaki mana pun dengan cara semacam itu.
Leonardo menggigit lembut kulit sensitif itu, merenggut satu kejang dari tubuh Zaira, sebelum perlahan menurunkan kain pakaian dalamnya melewati kakinya.
Udara dingin menyapu kewanitaannya yang telanjang, membuatnya menggigil.
Lalu, tanpa peringatan, Leonardo membungkuk dan menciumnya di sana, langsung, tanpa malu.
Zaira melepas jeritan terputus-putus, mencengkeram seprai seakan bisa menautkan jiwanya pada sesuatu sementara tubuhnya melengkung tak terkendali ke arah pria itu.
Lidah Leonardo tak kenal ampun, lambat dan dalam, menjelajahinya, menikmatinya seolah ia santapan yang lezat.
Setiap gerakan mengirimkan gelombang kenikmatan brutal yang merampas napasnya, air mata mengaburkan pandangannya oleh intensitas murni.
"Aaah..." isaknya, pinggulnya bergerak liar tak beraturan menyambut mulut pria itu, suaranya patah di antara permohonan dan erangan.
Leonardo menggeramkan sesuatu yang tak terpahami di kulit Zaira, seakan hasratnya monster yang nyaris tak bisa ia tahan, lalu mencengkeram pinggulnya untuk menaklukkan getaran tubuhnya.
Ketika Zaira sudah di tepi jurang, menangis oleh kebutuhan, pria itu menarik diri.
Zaira mengerang protes, tetapi tak sempat memohon.
Leonardo membuka ikat pinggangnya, menurunkan ritsleting dengan bunyi yang nyaris cabul di kamar yang senyap, dan membebaskan kejantanannya yang berat, tebal, berdenyut penuh gairah.
Zaira menatapnya dengan mata yang melebar oleh hasrat, ketakutan, dan pesona.
"Jangan takut..." bisik pria itu, membelai wajah Zaira dengan kelembutan yang tak terduga. "Malam ini kau hanya akan mengenal aku... dan segala yang bisa kubuat kau rasakan."
Lalu, perlahan, ia menempatkan diri di antara kedua kaki Zaira.
Ujung kejantanannya menemukan pintu masuk Zaira yang sudah basah dan bergetar, menyentuhnya samar, menggodanya.
Zaira melepas erangan patah, tubuhnya memohon lebih.
Dengan geraman tertahan, Leonardo mendorong, masuk ke dalam Zaira dalam satu gerakan mantap dan dalam yang merampas napasnya.
Zaira melepas jeritan tertahan, mencengkeram bahu pria itu, merasakan bagaimana ia memenuhinya, mengklaimnya dari dalam.
Leonardo berhenti beberapa detik, terengah di leher Zaira, memberinya waktu membiasakan diri pada ukurannya, pada sensasi memabukkan karena dimiliki sepenuhnya dan sebrutal itu.
"Ketat sekali, sempurna sekali..." gumamnya di telinga Zaira, suaranya sarat kenikmatan liar yang membuatnya bergidik.
Ketika Zaira menggerakkan pinggul, mencari lebih, Leonardo mengumpat dan mulai bergerak.
Iramanya lambat pada awalnya, nyaris menyiksa, tiap sodokan dalam menyentuh satu titik di dalam tubuh Zaira yang membuatnya melihat bintang-bintang.
Kamar itu dipenuhi bunyi tubuh mereka berbenturan, erangan mereka, nama-nama mereka yang dibisikkan bagai doa.
Leonardo menciumnya dengan putus asa, berpindah dari bibirnya, lehernya, dadanya, meninggalkan jejak-jejak membara dari lidah dan giginya di kulit Zaira yang sensitif.
Dunia lenyap.
Yang ada hanya ayunan tubuh mereka, panas yang menyelubungi, listrik yang memercik di udara tiap kali pandangan mereka bertemu.
Ketika iramanya berubah liar tak terkendali, Zaira merasakan sesuatu di dalam dirinya pecah, sebuah bendungan yang jebol di bawah intensitas yang tak tertahankan.
Ia menjerit saat mencapai puncak, tubuhnya diguncang gelombang kenikmatan yang brutal.
Leonardo menyusul tak lama kemudian, membenamkan diri sedalam-dalamnya, menumpahkan dirinya di dalam Zaira dengan geraman dari kerongkongan, gemetar menempel pada tubuh gadis itu seolah Zaira adalah kutukan sekaligus penebusannya.
Selama beberapa detik panjang, yang ada hanya napas terputus-putus, jantung yang berpacu, dan bobot tubuh mereka yang saling bertaut.
Leonardo menyandarkan keningnya pada kening Zaira, matanya terpejam, napasnya berbaur dengan napas gadis itu.
Zaira merasakan air mata hangat menetes menuruni pelipisnya, tak tahu apakah itu air mata lega, takut, atau karena intensitas brutal dari apa yang baru saja mereka bagi.
Pria itu menciumnya tanpa sepatah kata, bibirnya memungut tiap air mata dengan pengabdian yang meluluhkannya.
"Beristirahatlah, boneka," bisik Leonardo.
Ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tetapi Zaira bukan sekadar satu lagi dari sekian banyak wanita. Bersama gadis itu, semuanya terasa berbeda.
Sejak awal gadis itu menantangnya, berlagak sulit, hingga saat tubuhnya sendiri menyambut Zaira dengan hasrat yang memabukkan.