NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 15

Tiga hari berlalu sejak Emma jatuh sakit.

Selama dua hari terakhir, Damian hampir tidak pernah bisa tidur dengan leluasa. Bukan karena pekerjaan atau rapat perusahaan yang menumpuk, melainkan karena seorang perempuan yang terus-menerus memeluknya sepanjang malam.

Emma.

Sejak demamnya mulai membaik, perempuan itu justru semakin manja. Ia selalu mencari Damian setiap kali pria itu hendak menjauh, bahkan tidak jarang memeluk pinggangnya erat-erat saat mereka tidur.

Awalnya, Damian merasa terganggu. Namun, anehnya, ia mulai terbiasa dengan kehadiran Emma di dekatnya.

Bahkan, ketika terbangun di tengah malam dan mendapati Emma masih memeluknya, Damian hanya akan menghela napas pelan sebelum kembali memejamkan mata.

Namun, pagi ini ada sesuatu yang berbeda.

Damian perlahan membuka matanya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menoleh ke samping.

Kosong.

Tidak ada Emma yang biasanya tidur sambil memeluk lengannya. Tidak ada pula perempuan yang suka menarik selimutnya sampai Damian terpaksa mengalah.

Damian mengernyit.

Ke mana perginya perempuan itu sepagi ini?

Ia bangkit dari tempat tidur, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu memandang sekeliling kamar.

“Emma?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Damian berjalan menuju kamar mandi, tetapi tidak menemukan siapa pun di sana. Ia kemudian keluar dari kamar dan memeriksa ruang keluarga di lantai bawah. Namun, Emma tetap tidak terlihat.

Keningnya semakin berkerut.

“Perempuan ini pergi ke mana?” gumamnya.

Damian kembali ke kamar, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan rumah mereka. Awalnya, ia hanya berniat melihat apakah Emma sedang berada di taman.

Namun, begitu pandangannya tertuju ke bawah, langkahnya langsung terhenti.

Di halaman depan, Emma sedang berdiri bersama seorang pria yang belum pernah dilihat Damian sebelumnya.

Pria itu tampak seusia dengannya, mengenakan kaus santai dan celana panjang. Mereka berbicara dengan akrab, sesekali tertawa seolah sudah saling mengenal cukup lama.

Yang membuat Damian semakin tidak senang adalah ketika ia melihat Emma menjabat tangan pria tersebut.

Rahang Damian mengeras.

Siapa laki-laki itu?

Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari dua orang yang berada di bawah sana.

Emma bahkan terlihat begitu ceria. Perempuan itu tertawa lepas ketika pria tersebut mengatakan sesuatu, kemudian menepuk pelan lengan pria itu sambil tersenyum.

Damian menyipitkan matanya.

Kenapa harus tertawa seperti itu? Memangnya apa yang lucu?

Ia sendiri tidak mengerti mengapa pemandangan sederhana itu membuat suasana hatinya memburuk.

Bukankah Emma hanya berbicara dengan seseorang?

Lalu, mengapa ia merasa tidak suka melihat tangan pria asing itu bersentuhan dengan tangan istrinya?

Damian mengembuskan napas kasar.

“Benar-benar membuat masalah sejak pagi,” gerutunya, meskipun ia sendiri tidak tahu siapa yang sebenarnya sedang membuat masalah.

Tanpa membuang waktu, Damian segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu kamar. Ia menuruni tangga dengan langkah lebar, bahkan nyaris lupa mengenakan sandal rumahnya.

Begitu tiba di lantai bawah, ia langsung menuju pintu depan.

---

“Jadi, kamu baru pindah ke sini?” tanya Emma sambil tersenyum kepada pria di hadapannya.

Pria itu mengangguk. “Iya. Keluargaku baru menempati rumah di sebelah beberapa hari lalu. Aku sebenarnya mau berkenalan sejak kemarin, tapi sepertinya kamu sedang tidak enak badan.”

Emma tertawa kecil. “Oh, pantas saja aku baru melihatmu. aku juga baru pindah di sini.”

“Sekarang sudah sehat?”

“Sudah jauh lebih baik. Untung saja, suamiku sempat membuatkan makanan untukku waktu aku sakit.”

Pria itu terlihat sedikit terkejut.

“Wah, suamimu bisa memasak?”

“Bisa, dong!” jawab Emma antusias. “Walaupun awalnya dia mengomel dulu sebelum akhirnya mau memasak.”

Keduanya kembali tertawa.

Namun, tawa Emma terhenti ketika sebuah suara dingin memanggil namanya dari arah belakang.

“Emma.”

Emma spontan menoleh.

Damian berdiri beberapa langkah dari mereka dengan wajah datar. Namun, dari tatapan matanya, Emma bisa merasakan bahwa suasana hati suaminya sedang tidak terlalu baik.

“Loh, Damian? Kamu sudah bangun?” tanyanya santai.

Damian tidak langsung menjawab. Tatapannya justru beralih kepada pria yang berdiri di samping Emma.

“Siapa dia?” tanyanya singkat.

Pria itu menoleh ke arah Emma, seolah menunggu perempuan itu memperkenalkannya.

Emma mengangkat alis.

“Ini tetangga kita. Dia baru pindah ke rumah sebelah.”

Damian tetap menatap pria tersebut.

“Namanya siapa?”

Emma mengembuskan napas kecil. “Ya, tanya saja langsung sama orangnya. Kenapa malah aku yang ditanya?”

Damian melirik istrinya sekilas sebelum kembali menatap pria di hadapannya.

“Siapa namamu?” tanyanya dengan nada dingin.

Pria itu sedikit terkejut dengan cara Damian berbicara, tetapi ia tetap mengulurkan tangannya dengan sopan.

“Perkenalkan, nama saya Adrian. Saya tetangga baru kalian.”

Damian menatap tangan yang terulur itu selama beberapa detik sebelum akhirnya menjabatnya singkat.

“Damian. Suami Emma.”

Cara Damian menekankan kata suami membuat Emma menoleh kepadanya.

Kenapa juga harus ditekankan begitu? Memangnya Adrian tidak punya telinga?

Adrian tersenyum ramah. “Senang berkenalan denganmu, Damian.”

“Ya.”

Hanya satu kata yang keluar dari mulut Damian.

Emma sampai harus menahan keinginan untuk memutar bola matanya.

Pria itu benar-benar tidak bisa bersikap ramah sedikit saja, ya?

Adrian kemudian menoleh kepada Emma.

“Kalau begitu, aku kembali dulu. Senang bisa berkenalan denganmu. Semoga kita bisa mengobrol lagi lain kali.”

Emma mengangguk sambil tersenyum. “Tentu saja! Kalau ada waktu, mampir saja.”

Damian langsung menoleh tajam kepada istrinya.

“Mampir untuk apa?” tanyanya datar.

Emma mengerutkan kening. “Ya, untuk bertamu. Masa untuk mencuri barang?”

Adrian terkekeh kecil mendengar jawaban Emma, lalu berpamitan kepada mereka sebelum berjalan menuju rumahnya.

Emma sempat melambaikan tangan kepada tetangga barunya itu.

Namun, begitu pria tersebut menjauh, ia merasakan tatapan Damian yang masih tertuju kepadanya.

Emma perlahan menoleh.

“Apa?” tanyanya.

Damian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Kenapa kau berbicara dengan orang asing pagi-pagi begini?”

Emma langsung mengerutkan kening.

“Apaan, sih? Dia bukan orang asing. Dia tetangga kita!”

“Baru pindah beberapa hari, lalu kau sudah tertawa dan berjabat tangan dengannya?”

Emma terdiam sejenak, kemudian menatap Damian dengan ekspresi tidak percaya.

“Jadi, masalahnya cuma karena aku berjabat tangan sama tetangga sendiri?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Terus apa? Kau mau aku diam saja setiap kali bertemu orang baru?”

Damian tidak langsung menjawab.

Sebenarnya, ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan kesalnya. Ia hanya tidak menyukai pemandangan tadi. Tidak suka melihat Emma tertawa bersama pria lain, apalagi ketika pria itu menyentuh tangan istrinya.

Namun, mengatakannya secara langsung tentu saja bukan sesuatu yang akan ia lakukan.

Akhirnya, Damian hanya berkata, “Lain kali, jangan terlalu mudah akrab dengan orang yang baru kau kenal.”

Emma menatapnya selama beberapa detik sebelum mendengus kesal.

“Ya ampun, Damian! Aku cuma berkenalan dengan tetangga. Bukan sedang merencanakan kawin lari!”

Damian terdiam.

Emma melipat kedua tangannya di depan dada.

“Lagipula, kamu sendiri yang sering menyuruhku jangan banyak bertanya dan jangan mengganggu pekerjaanmu. Sekarang aku mengobrol sebentar dengan orang lain, kamu malah marah. Jadi, maumu apa sebenarnya?”

Damian menatap istrinya yang mulai mengomel tanpa henti.

Biasanya, ia akan langsung menyuruh siapa pun yang berbicara terlalu banyak untuk diam. Namun, ketika berhadapan dengan Emma, entah mengapa, ia selalu kesulitan melakukan hal yang sama.

“Sudah selesai?” tanyanya akhirnya.

“Belum!”

Damian memejamkan mata sebentar.

Tuhan, kenapa perempuan ini tidak pernah kehabisan kata-kata?

Emma kemudian berbalik hendak masuk ke rumah, tetapi sebelum melangkah jauh, ia berhenti dan menoleh kembali.

“Oh, iya! Aku belum sarapan.”

Damian membuka matanya.

“Lalu?”

Emma tersenyum manis, seolah baru saja melupakan pertengkaran mereka.

“Buatkan aku sarapan, dong.”

Damian menatapnya tanpa ekspresi.

“Bukankah kau sudah sehat?”

“Memangnya orang sehat tidak boleh minta dibuatkan sarapan?”

Damian mengembuskan napas panjang.

“Emma, kau benar-benar—”

“Benar-benar apa?” potong Emma cepat.

Damian menatap wajah istrinya yang kini menunggu jawaban dengan penuh rasa ingin tahu.

Ia akhirnya menyerah.

“Masuklah. Aku akan menyiapkan sarapan.”

Wajah Emma langsung cerah.

“Yeay! Suamiku memang paling baik!”

Ia segera berlari kecil masuk ke rumah, meninggalkan Damian yang masih berdiri di depan pintu dengan ekspresi sulit dijelaskan.

Beberapa detik kemudian, Damian mengikuti Emma masuk.

Namun, sebelum menutup pintu, ia sempat melirik rumah di sebelah tempat Adrian tinggal.

Tatapannya kembali mengeras.

Adrian, ya?

Damian mendengus pelan, lalu menutup pintu Ia tidak peduli siapa tetangga barunya itu.Setidaknya, itulah yang berusaha ia yakinkan kepada dirinya sendiri Padahal, sejak tadi, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.

Kenapa ia merasa begitu kesal hanya karena melihat Emma tertawa bersama pria lain?

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!