Carter Bruce pernah kehilangan segalanya dalam satu malam—istri yang ia cintai pergi demi pria kaya, meninggalkannya sendirian bersama tiga anak kecil dan hati yang hancur. Kini ia bangkit sebagai pengacara paling ditakuti di dunia hitam, tangan kanan seorang bos mafia, seorang pria berdarah dingin yang dijuluki "Sang Algojo". Kekayaan, kuasa, dan ketakutan tunduk di kakinya. Hanya satu hal yang tak bisa ia beli: sebuah keluarga yang utuh.
Meghan Pirs hanyalah seorang guru TK muda, yatim, dan berhati lembut—sampai takdir mempertemukannya dengan si sulung Carter yang manis, lalu dengan sang ayah yang dingin dan berbahaya. Ketika hidup Meghan runtuh dan ia terdesak tanpa pilihan, Carter menawarkan sebuah kesepakatan yang mustahil ditolak: menikah dengannya, berpura-pura menjadi pasangan penuh cinta selama satu tahun. Tak lebih.
Tapi tak ada yang memberi tahu mereka betapa berbahayanya berpura-pura mencintai seseorang—karena kadang, kepura-puraan itu berubah menjadi sungguhan.
Di antara pelukan hangat anak-anak yang memanggilnya "Mami", ancaman dari musuh-musuh yang mengintai dari kegelapan, dan rahasia masa lalu yang tak sanggup mereka lupakan, Meghan dan Carter mulai menemukan sesuatu yang tak pernah mereka duga. Namun dunia mafia tak pernah tidur, dan setiap orang yang berani menyentuh keluarga Sang Algojo akan belajar satu hal dengan cara yang paling mengerikan: tak ada yang boleh menyentuh apa yang menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Reveca Díaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Meghan duduk dengan ketiga bocah kecil di pangkuannya. Carter memandangi anak-anaknya lalu berjalan menuju meja kerjanya. Ada banyak hal yang harus ia cerna. Ia telah mengambil sebuah keputusan yang bukan hanya berdampak pada dirinya, tetapi juga pada anak-anaknya. Seluruh hidupnya akan berubah mulai saat ini.
Sementara itu, Carmen tahu bahwa jika ada seseorang yang bisa menyembuhkan luka lama putranya, orang itu adalah Meghan.
"Meghan, aku sudah menyuruh orang membawa kopermu ke kamar utama," kata Carmen.
Tidur di kamar yang sama. "Terima kasih, Carmen," jawab Meghan.
Setelah beberapa saat bermain dengan anak-anak, tibalah waktu makan malam, dan suasananya sangat menyenangkan.
Ketika mereka selesai, Meghan mengurus anak-anak, memandikan mereka, lalu menidurkan mereka. Ia senang berada di dekat anak-anak.
Ia pergi ke kamar untuk tidur. Saat masuk, Carter baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan celana panjang dengan bagian dada terbuka.
"Maaf, saya akan tidur di sofa saja," kata Meghan.
"Tidak. Kalau ibuku atau anak-anak masuk, mereka tidak boleh melihatmu tidur di sofa. Kita harus tampak sebagai pasangan di mata semua orang, termasuk keluargaku. Tenang saja, aku tidak akan berbuat apa-apa padamu," kata Carter.
Meghan menghampiri kopernya dan mengeluarkan piama untuk tidur, lalu pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Carter memandanginya dan dalam hati menertawakan piamanya yang bermotif kucing.
Ha, ha, kukira dia akan mengenakan sesuatu yang seksi, malah pakai piama seperti punya Yulisa.
Meghan berbaring. Ia sulit sekali tidur. Carter mengamatinya yang tertidur, garis wajahnya yang cantik, raut yang lembut dan sedikit kekanakan, tetapi sungguh manis. Aroma parfumnya yang lembut seperti bunga memikat Carter, begitu memikat hingga ia mendekatkan hidungnya ke leher Meghan untuk menghirup wangi itu.
Sialan, apa yang sedang kulakukan.
Ia membetulkan posisinya di ranjang untuk tidur, lalu tertidur pulas, sampai sebuah jeritan minta tolong membangunkannya. Ketika ia menoleh ke samping, wajah Meghan bermandi air mata dan keringat.
Carter mendekat dan berusaha menenangkan Meghan dari mimpi buruknya. Meghan memeluk Carter dan perlahan-lahan mulai tenang.
Begitu kutemukan siapa yang menyakitinya, dia takkan pernah lagi melihat cahaya matahari.
Carter membaringkan Meghan dengan nyaman lalu kembali tidur di sisinya. Pagi-pagi sekali, pintu kamar terbuka dan tiga bocah kecil menatap ayah mereka yang sedang tidur. Carmen lewat dan melihat pintu yang terbuka. Ia mendapati cucu-cucunya berdiri sambil memperhatikan. Ia mendekat dan melihat Meghan berada dalam pelukan Carter, dan Carter memeluknya dengan sangat lembut.
Carmen memanggil anak-anak dengan suara pelan dan membawa mereka sarapan. Meghan mulai terjaga dan mendapati dirinya sedang berada dalam pelukan Carter. Wajahnya merona dan ia langsung menjauh. Ia bangun dan pergi ke kamar mandi, mandi, lalu mengenakan pakaian yang nyaman: setelan olahraga dan sepatu olahraga. Ia turun ke arah suara anak-anak yang terdengar.
Mereka sedang sarapan di meja makan.
"Selamat pagi," sapa Meghan.
"Selamat pagi, Mami," sahut Alejo.
"Selamat pagi, Mami," ujar Yulisa dan Donovan.
Carmen tersenyum. "Selamat pagi."
"Sini, duduk di sebelahku," kata Alejo.
Meghan duduk di samping Alejo dan mulai sarapan bersama mereka sambil berbincang dengan Carmen. Carter turun dengan setelan jas yang memperlihatkan tubuhnya yang terbentuk sempurna.
"Selamat pagi. Hari ini aku ada beberapa rapat kerja, jadi aku tidak akan pulang untuk makan siang," kata Carter.
"Baik, Nak," sahut Carmen.
Setelah sarapan, Carter berangkat menuju pertemuannya dengan geng-geng mafia. Sebuah pertemuan telah disepakati untuk mengoordinasikan operasi mereka agar tidak terjadi masalah wilayah.
Sementara itu, Carmen dan Meghan keluar bersama anak-anak menuju tempat penitipan anak dan TK.
Di tempat penitipan anak, Nyonya Carmen memperkenalkan Meghan sebagai istri putranya. Sang pengasuh, Nyonya Lujan, menatap Meghan dengan sangat serius.
Setelah itu mereka pergi ke TK. Begitu turun, Alejo tampak gembira dan membanggakan pada teman-temannya bahwa ibunya adalah mantan gurunya, Bu Meghan.