NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 06

Pagi berganti dengan cahaya keemasan yang menerobos celah jendela kamar Kenan. Suara burung gereja di luar menandakan cuaca cerah setelah hujan deras semalaman.

Kirana tersadar dari tidurnya dengan posisi kepala bersandar di tepi kasur dan tangannya masih berada di dalam genggaman hangat seseorang. Ia mengerjapkan matanya, merasakan pegal di area lehernya karena tertidur dalam posisi duduk bersandar di lantai semalaman.

Saat mendongak, Kirana terkejut mendapati Kenan sudah terbangun. Cowok itu berbaring menyamping, memandangi wajah bangun tidur Kirana dengan tatapan yang jauh lebih hangat dan jernih dibanding semalam. Handuk kompresan hangat sudah kering dan berada di atas meja.

"Eksis juga lo ketiduran di lantai," suara Kenan terdengar, masih sedikit serak namun sudah jauh lebih bertenaga.

Kirana buru-buru menarik tangannya dari genggaman Kenan, meluruskan punggungnya yang kaku. "G-gue ketiduran gara-gara nungguin demam lo turun tahu! Udah mendingan belum?"

Kirana menyentuhkan punggung tangannya ke dahi Kenan. Suhu tubuh cowok itu sudah kembali normal, tidak panas seperti semalam. Kirana menghela nafas lega.

"Udah mendingan," kata Kenan pelan. Ia duduk di tepi kasur, menatap Kirana yang sedang memijat lehernya sendiri. 

"Makasih udah ngerawat gue semalam."

Kirana tertegun. Ini pertama kalinya Kenan mengucapkan terima kasih dengan tulus tanpa nada sarkas atau tatapan dinginnya yang biasa. Wajah Kirana sedikit memerah.

"I-iya, santai aja. Lagian kan lo juga sering masak sarapan buat gue," alih Kirana cepat sambil berdiri mengibaskan roknya. 

"Hari ini lo gak usah masuk sekolah dulu deh. Istirahat aja di rumah."

Kenan mengernyitkan dahi, langsung menggeleng. "Gak bisa. Hari ini ada rapat gabungan OSIS sama guru pembina buat persiapan Pensi."

"Kenan! Lo baru saja sembuh dari demam tinggi!" amuk Kirana tidak percaya dengan keras kepalanya cowok itu. "Batu banget sih jadi cowok!"

"Gue udah sehat, Kirana," potong Kenan berdiri tegak untuk membuktikan ucapannya. Walau wajahnya masih agak pucat, postur tubuhnya sudah kembali tegap seperti biasa. "Lagian kalau gue gak masuk, siapa yang bakal ngatur OSIS? Clarissa gak bakal bisa nanganin guru pembina sendiri."

Mendengar nama Clarissa disebut, Kirana seketika kesal . Ada perasaan tidak rela jika Kenan membiarkan cewek itu mengambil alih atau perhatian di sekolah. 

"Ya udah! Terserah lo!" putus Kirana bersedekap dada. "Tapi hari ini lo gak boleh bawa motor! Kita naik angkot atau taksi!"

Kenan menatap Kirana sejenak, lalu mengangguk pelan tanpa bantahan. "Oke. Naik taksi."

Sesampainya di kawasan dekat SMA Garuda, sesuai prosedur 'menjaga jarak' mereka, taksi berhenti beberapa ratus meter sebelum gerbang utama. Kirana turun lebih dulu, disusul oleh Kenan yang berjalan dengan jeda jarak lima puluh meter di belakangnya.

Suasana SMA Garuda pagi itu seperti biasa, ramai oleh obrolan murid-murid di sepanjang koridor. Namun, ada atmosfer aneh yang dirasakan Kirana begitu melangkah masuk ke dalam kelas XII IPA 2.

Maya langsung menyambar lengan Kirana begitu cewek itu meletakkan tasnya di atas meja.

"Kir! Lo tahu berita terbaru gak?!" bisik Maya heboh dengan mata membelalak.

"Berita apa? Ada ujian mendadak?" tanya Kirana polos.

"Bukan! Ini soal Pak Ketos kesayangan sekolah!" Maya mendekatkan wajahnya. "Katanya Kenan kemarin absen dari kegiatan ekstrakurikuler sore gara-gara sakit! Dan yang bikin gempar, Clarissa kemarin sore sengaja datang ke rumah Kenan bawa bubur!"

DEG!

Jantung Kirana terasa berhenti berdetak seketika. "M-maksud lo apa, May? Clarissa ke rumah Kenan?"

"Iya! Anak-anak OSIS pada ngomongin itu tadi di kantin!" ujar Maya berapi-api. "Katanya Clarissa minta alamat rumah Kenan dari sekre OSIS buat nganterin makanan. Tapi anehnya, kata Clarissa rumah Kenan sepi banget dan dipagar rantai dari luar. Jadi dia cuma bisa nitipin di pos satpam kompleks!"

Kirana menarik napas lega secara diam-diam. Rumah yang didatangi Clarissa pasti rumah lama orang tua Kenan, bukan rumah minimalis dua lantai tempat mereka berdua tinggal sekarang.

"O-oh... gitu ya," respon Kirana mencoba bersikap senormal mungkin.

"Tapi tetep aja, Kir! Clarissa makin berani terang-terangan ngejar Kenan!" kata Maya antusias. "Lo bayangin, cewek secantik dan sepintar Clarissa aja rela ke kompleks rumahnya cuma buat anter makanan. Gimana cewek-cewek lain gak makin minder coba?"

Kirana mengerutkan bibir. Dalam hatinya ia ingin sekali berteriak, Buat apa minder! Wong yang ngerawat Kenan semalaman sampai kompres nya kering itu GUE! 

Namun tentu saja, kalimat itu hanya tertahan rapat di balik tenggorokannya.

…

Saat jam istirahat pertama, Kirana berjalan menuju kantin bersama Maya. Dari jauh, ia melihat kerumunan siswa mengelilingi mading OSIS. Di tengah koridor, Kenan tampak sedang berdiri dikelilingi oleh Clarissa dan beberapa anggota OSIS lainnya.

Kenan mengenakan seragam rapinya, namun raut wajahnya masih tampak agak pucat jika diperhatikan dari dekat. Clarissa sibuk menyodorkan sebuah botol minuman suplemen Vitamin C ke arah Kenan.

"Kenan, ini diminum ya. Kemarin aku khawatir banget waktu tahu kamu sakit dan gak bisa ditemuin di rumah," ucap Clarissa dengan nada lembut yang dipenuhi perhatian.

Kenan menatap botol suplemen itu dengan pandangan datar. "Makasih, Clarissa. Tapi gue udah sehat. Simpan aja buat yang lain."

"Tapi kamu masih pucat, Nan..." paksanya lagi, hendak menyentuh lengan kemeja Kenan.

Sebelum jemari Clarissa berhasil menyentuh lengan Kenan, Kenan dengan sigap melangkah mundur setengah jalan, menghindari sentuhan itu secara halus namun tegas.

"Gue ada urusan sebentar," potong Kenan dingin.

Pandangan mata Kenan tak sengaja menangkap sosok Kirana yang berdiri di ujung koridor memperhatikan mereka. Kenan tidak mengacuhkan Clarissa lagi, melainkan melangkah lurus melewati kerumunan dan berjalan tepat ke arah Kirana.

Jantung Kirana mendadak berdegup kencang saat Kenan makin mendekat. Mau ngapain si Es Batu ini?! Jangan bikin masalah di depan umum! jerit Kirana dalam hati panik.

Kenan berhenti tepat di samping Kirana. Tanpa memperdulikan puluhan pasang mata yang sedang menatap mereka termasuk Clarissa yang memandang dari jauh dengan wajah tak suka, Kenan merogoh saku jasnya.

Ia mengeluarkan sebuah kotak pulpen milik Kirana yang tertinggal di dalam tasnya saat belajar semalam.

"Kotak pulpen lo tertinggal di rumah... maksud gue, tertinggal pas nyalin tugas kelompok kemarin," ujar Kenan dengan suara bariton yang cukup keras hingga terdengar oleh murid di sekitar mereka.

Kirana menyambar kotak pulpen itu dengan wajah memerah sempurna. "Eh... Iya! Makasih, Pak Ketos!"

Kenan mendekatkan sedikit wajahnya ke telinga Kirana, berbisik sangat pelan yang hanya bisa didengar oleh cewek itu.

"Obat minum gue ada di tas. Nanti jam makan siang siapin air hangat buat gue di kantin. Tugas Lo."

Setelah membisikkan kalimat mematikan itu, Kenan kembali menegakkan tubuhnya, menatap Kirana dengan raut datar tanpa dosa, lalu melangkah pergi begitu saja menuju ruang OSIS.

Kirana membeku di tempatnya bagaikan patung. Tangannya menggenggam kotak pulpen erat-erat sementara napasnya tercekat.

Maya di sebelahnya langsung mengguncang-guncang bahu Kirana histeris. "KIRANA! BARUSAN SI KETOS NGAPAIN?! DIA BISIK-BISIK APAAN SAMA LO?! KOK MUKA LO MERAH KAYAK KEPITING REBUS?!"

"G-gak ada! Dia cuma... cuma bilang jangan lupa kumpulin tugas Kimia!" bohong Kirana dengan suara melengking akibat panik setengah mati. “Sialan kenapa dia jadi panik begini, tuh ketos juga ngapain pakai bisik-bisik segala!” Batin Kirana kesal sendiri.

Dari kejauhan, Clarissa menatap Kirana dengan pandangan mata yang sangat tajam dan penuh rasa curiga.

Sesuai perintah rahasia Kenan, saat jam makan siang Kirana berpura-pura pergi ke kantin untuk membeli dua botol air hangat. Ia menyusuri koridor belakang menuju ruang sekre OSIS yang sepi karena sebagian besar pengurus sedang beristirahat di kantin.

Kirana mengintip lewat celah pintu ruang OSIS yang sedikit terbuka. Di dalam ruangan yang dingin oleh AC itu, Kenan sedang duduk di kursi kebesarannya, bersandar lelah sambil memejamkan mata dengan tangan memegang pelipisnya. Rupanya demamnya belum sepenuhnya hilang dan rasa pusing kembali menyerang.

Kirana menghela napas, mendorong pintu ruang OSIS hingga terbuka.

"Kan udah dibilang... kalau masih pusing tuh istirahat di rumah, batu banget sih lo" omel Kirana pelan sambil melangkah masuk dan menutup pintu ruangan dari dalam.

Kenan membuka matanya perlahan. Binar lelah di matanya seketika mereda saat melihat kehadiran Kirana.

Kirana meletakkan botol air hangat di atas meja Kenan, lalu mengambil obat dari dalam tas cowok itu. "Nih, minum obatnya. Jangan keras kepala terus, ribet banget tau"

Kenan menerima botol air minum dan obat itu tanpa bantahan. Ia meminumnya dengan tenang di bawah pengawasan Kirana.

"Kenapa lo ke sini? Nanti ada yang lihat," kata Kenan setelah menyapu bibirnya dengan tisu.

"Ya lagian lo yang nyuruh gue bawa air hangat!" omel Kirana bersedekap dada. "Lagian gue kasihan aja lihat muka pucat lo. Nanti kalau lo pingsan di sekolah, reputasi gue sebagai istri yang gak bisa ngurus suami gimana coba?" 

Kenan terkekeh pelan. Ia menarik tangan Kirana hingga cewek itu mendekat ke arah kursinya. Kenan menyandarkan dahinya di perut Kirana, melingkarkan kedua tangannya di pinggang cewek itu dengan lemas.

Kirana membeku seketika. Sentuhan mendadak di dalam ruang OSIS sekolah itu membuat jantungnya liar tak terkendali.

"Sebentar aja..." bisik Kenan lirih dari balik seragam Kirana. "Kepala gue pusing banget. Biarkan begini lima menit."

Kirana yang awalnya hendak mendorong Kenan karena takut ada yang melihat, akhirnya mengurungkan niatnya. Perlahan dan ragu, Kirana mengangkat tangannya, mengelus lembut rambut hitam Kenan yang halus.

"Batu banget sih... dikasih tahu jangan masuk sekolah malah nekad," gumam Kirana pelan.

"Gue harus masuk..." balas Kenan pelan. "...biar bisa ngeliat lo dari jauh."

Kalimat singkat itu berhasil meruntuhkan seluruh pertahanan hati Kirana. Cowok yang dulu sangat ia benci karena keterlaluan disiplinnya, kini menjadi sosok yang begitu berarti dalam hidupnya.

Namun, momen hangat di dalam ruang OSIS itu mendadak terganggu oleh suara langkah kaki yang mendekati pintu depan.

Klek!

Gagang pintu ruang OSIS bergerak berputar dari luar!

"Kenan? Kamu di dalam?" suara Clarissa terdengar dari balik pintu.

Kirana membelalakkan mata panik, secara refleks hendak melompat mundur. Namun Kenan dengan sigap berdiri, menarik Kirana ke belakang lemari kayu besar di sudut ruangan yang tertutup bayangan.

Kenan membekap mulut Kirana dengan jarinya yang hangat, menyuruh cewek itu diam dengan isyarat mata. Tubuh mereka saling menempel sangat rapat di balik balik lemari tua itu.

Pintu ruang OSIS terbuka lebar. Clarissa melangkah masuk membawa sebuah berkas, celingukan melihat ruangan yang tampak kosong.

"Lho... tadi perasaan ada suara orang?" gumam Clarissa curiga. Ia berjalan mendekati meja utama Kenan, melihat ada dua botol air hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

Mata Clarissa menyipit tajam. "Dua botol air hangat? Kenan tadi sama siapa di sini?"

Di balik lemari, Kirana menahan nafasnya rapat-rapat dalam dekap tegap Kenan. Kenan menatap Kirana dari dekat, menyunggingkan senyum tipis yang amat jahil, menikmati sensasi ketegangan di antara mereka.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!