NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Melania-1623

Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."

Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.

Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.

Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Aroma Kopi dan Kecemburuan yang Asing

Tiga hari berlalu sejak operasi Laras. Kondisi sang adik meningkat drastis hingga sudah dipindahkan ke kamar perawatan reguler VIP. Setelah memastikan ibunya sanggup menjaga Laras bersama suster jaga, Aura akhirnya memutuskan untuk kembali ke penthouse Evan sore itu.

Menggunakan taksi daring, Aura sampai di depan pintu bernomor 3601. Ia memasukkan kata sandi pintu yang sebelumnya sudah diberikan oleh Bimo.

Beep. Klik.

Pintu terbuka. Suasana penthouse tampak sepi dan remang-remang. Hanya ada lampu meja di area ruang tamu yang menyala. Aura melepaskan sepatunya, melangkah masuk seraya membawa tas jinjing berisi pakaian kotornya.

"Kau baru ingat punya rumah?"

Suara dingin yang tiba-tiba menggelegar dari balik kegelapan sofa membuat Aura terkejut hingga hampir menjatuhkan tasnya.

Evan duduk di sana. Pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya yang kancing atasnya sudah dibuka dua buah, memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Di atas meja kaca di hadapannya, tergeletak satu gelas kristal berisi cairan wiski amber dan satu map berkas yang terbuka.

Aura menetralkan detak jantungnya yang berpacu kaget. "Evan... kamu sudah pulang? Ini baru jam tujuh malam."

Evan menyesap wiskinya perlahan, matanya menatap Aura tajam dari balik kegelapan. "Ini rumahku. Aku bebas pulang jam berapa saja. Yang mengherankan adalah dirimu. Tiga hari tidak ada kabar, tidak ada telepon, seolah kau lupa pada statusmu di rumah ini."

Aura mengerutkan kening. Mengapa pria ini mendadak marah? Bukankah dia sendiri yang memberinya izin untuk tinggal di rumah sakit?

"Aku kan sudah memberi pesan pada Pak Bimo setiap hari untuk menyampaikan kondisiku padamu," ujar Aura pelan seraya melangkah mendekati area dapur untuk menuang air putih. "Lagipula, kamu bilang sendiri kalau kamu tidak suka diganggu saat bekerja."

Evan terkekeh sinis sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Aura berdiri. Ia meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan dentingan yang sedikit keras.

"Bimo? Jadi kau lebih rajin memberi kabar pada asistenku daripada padaku?" sindir Evan, suaranya sarat akan nada tidak puas yang aneh. "Dan siapa pria berjaket denim yang mengantarmu sampai ke lobi rumah sakit kemarin sore?"

Aura menghentikan gerakannya yang hendak minum. Ia menoleh kaget. "Pria berjaket denim?"

Aura mencoba mengingat-ingat. "Maksudmu... Rian? Dia teman satu tempat kerjaku dulu di kantor lama. Dia hanya sengaja menjenguk Laras setelah mendengar kabar dari teman-teman kantor."

"Teman?" Evan berdiri dari sofanya. Pria bertubuh tinggi menjulang itu melangkah mendekati Aura dengan gerakan lambat namun penuh intimidasi. "Teman yang merangkul bahumu di depan pintu masuk rumah sakit? Teman yang tertawa bersamamu di kafe lantai bawah?"

Aura melotot tak percaya. "Kamu... memata-matai aku?"

"Aku tidak memata-matai!" potong Evan cepat dengan suara meninggi. Pria itu kini sudah berdiri tepat di hadapan Aura, mengikis jarak di antara mereka hingga Aura bisa mencium aroma samar alkohol berpadu dengan wewangian kayu dari tubuh Evan. "Aku Presdir Adijaya Group. Ada puluhan mata di kota ini yang mengenali wajahmu sebagai istriku sekarang. Apa jadinya kalau ada wartawan yang memotret Istri Sah Evan Adijaya sedang tertawa mesra dengan pria asing dari masa lalunya?!"

Dada Aura bergoyang menahan kekesalan. Ia merasa dituduh melakukan sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukan.

"Rian cuma memegang bahuku sekejap untuk menenangkan sewaktu aku menceritakan rasa cemasku, Evan! Kami tidak ada hubungan apa-apa!" seru Aura membela diri, matanya menatap lurus ke dalam iris cokelat Evan yang berkilat amarah. "Dan soal tertawa di kafe... dia hanya mencoba menghiburku yang sudah tiga hari kurang tidur! Kenapa kamu harus berlebihan seperti ini?!"

"Berlebihan?" Evan mencondongkan tubuhnya, mencengkeram pembatas meja dapur di belakang tubuh Aura, mengunci wanita itu di antara kedua lengannya. "Kau adalah istriku di mata hukum dan kertas perjanjian itu, Aura! Selama dua tahun ini, tubuhmu, namamu, dan seluruh interaksi sosialmu ada di bawah pengawasanku! Aku tidak suka milikku disentuh atau dipandang oleh pria lain!"

Milikku.

Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Evan. Suasana di antara mereka mendadak membeku.

Aura terpaku, menatap wajah Evan yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Nafas hangat Evan menyapu permukaan kulit pipinya. Untuk pertama kalinya, Aura melihat bahwa kemarahan Evan bukan sekadar karena alasan 'nama baik keluarga' atau 'bisnis' semata. Ada letupan emosi yang jauh lebih primitif di sana: rasa cemburu.

Evan sendiri tampaknya baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Matanya membelalak kecil, dan cengkeramannya pada meja dapur perlahan melonggar. Pria itu tampak terkejut dengan reaksi impulsif dari dalam dirinya sendiri.

Evan berdehem keras, menarik tubuhnya mundur dan kembali membelakangi Aura. Ia merapikan lengan kemejanya dengan gerakan canggung.

"Pokoknya... aku tidak ingin melihat pria itu mendekatimu lagi," gumam Evan dingin, berusaha merebut kembali topeng wibawanya. "Mulai besok, Bimo akan mengatur pengawal pribadi untuk mengawasimu jika kau keluar rumah."

Aura menarik napas panjang, meresapi sisa-sisa ketegangan yang baru saja lewat. Rasa kesal di hatinya anehnya perlahan memudar, berganti dengan rasa geli samar yang coba ia sembunyikan.

"Baik, Tuan Presdir yang terhormat," sahut Aura dengan nada sedikit menyindir namun lembut. "Saya tidak akan menemui teman pria mana pun lagi tanpa izin tertulis dari Anda."

Evan menoleh sedikit, menangkap kilatan jahil di mata Aura. Pria itu mendengus gusar, merasa harga dirinya agak terganggu karena wanita di hadapannya ini sama sekali tidak takut padanya.

"Jangan bercanda," cetus Evan pendek. Ia berbalik melangkah menuju tangga lantai dua. "Mandilah. Bau karbol rumah sakit menempel di bajumu."

Aura menggeleng-gelengkan kepala melihat punggung Evan yang menaiki tangga dengan cepat seolah-olah sedang melarikan diri dari sesuatu.

Satu jam kemudian, setelah bersuci dan membersihkan diri, Aura melangkah ke kamar utama di lantai dua. Ia membawa secangkir teh chamomile hangat yang baru saja ia seduh di dapur.

Di dalam kamar, Evan sedang duduk di tepi ranjang besar, memijat pelipisnya yang tampak tegang sambil menatap layar ponselnya. Pria itu tampak sangat lelah. Aura tahu, selain mengurus bisnis triliunan rupiah, Evan harus membagi pikirannya untuk menghadapi tekanan dari ibu tirinya dan memantau kesehatan Kakek Surya.

Aura melangkah mendekat tanpa suara, lalu meletakkan cangkir teh hangat itu di atas meja kecil di samping tempat tidur Evan.

Evan mendongak, menatap cangkir berbuih tipis itu, lalu menatap Aura yang berdiri di sampingnya dengan piyama katun berlengan panjang.

"Apa ini?" tanya Evan datar.

"Teh chamomile," jawab Aura pelan seraya duduk di sisi ranjang yang berlawanan. "Kamu minum alkohol saat perutmu belum terisi makanan malam ini. Teh ini bisa membantu menenangkan lambungmu dan membuat tidurmu lebih nyenyak."

Evan menatap cangkir itu selama beberapa detik. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Namun, dengan perlahan, tangannya terulur meraih cangkir seramik tersebut dan menyesapnya hangat-hangat.

Rasa manis dan aroma bunga yang menenangkan menjalar di tenggorokannya, mengusir rasa pening yang sejak sore menyiksa kepalanya.

"Bagaimana rasa tehnya?" tanya Aura lembut.

Evan meletakkan kembali cangkir yang kini tinggal separuh itu. Ia menatap Aura yang sedang merapikan selimutnya di tepi kasur.

"Biasa saja," sahut Evan dingin.

Namun, bukannya melangkah menuju sofa sudut tempat ia biasa tidur, Evan justru menarik selimut besar di atas ranjang utama, lalu merebahkan tubuh tingginya di sisi kasur sebelah kanan.

Aura membeku seketika. Matanya membelalak menatap pria di sampingnya. "Evan? Kamu... tidak tidur di sofa?"

Evan memejamkan matanya, membelakangi posisi Aura. "Sofanya sedang dibersihkan Bimo tadi siang. Mulai malam ini aku tidur di sini. Tempat tidur ini cukup luas untuk dua orang, asal kau tidak melintasi garis tengah."

Jantung Aura berdegup kencang bagaikan drum yang ditabuh bertubi-tubi. Ia menatap punggung tegap Evan yang hanya berjarak beberapa puluh sentimeter darinya di atas kasur yang sama.

Malam itu, di bawah kegelapan kamar mewah penthouse, batasan dingin di antara mereka mulai retak perlahan. Dan kecemburuan asing sang CEO menjadi awal dari babak baru pernikahan rahasia mereka.

1
Orang
Kerenn...
Orang
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!