JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasib Sang Babu
Rasa panas dan perih bekas cengkeraman jemari es Pangeran Nataniel masih membakar kulit leherku. Napasku masih memburu, terbatuk-batuk meraup pasokan udara ke dalam paru-paru yang serasa hangus. Namun, sebelum sempat aku menguasai diri dari guncangan ancaman kematian di Ruang Tahta Teluk Bayangan, hukuman berikutnya langsung dijatuhkan tanpa ampun.
"Jangan pikir kau bisa bernapas lega malam ini, Badut Kecil," bisik Nataniel seraya menatapku dari atas tahta karangnya dengan pandangan dingin yang merendahkan. Iris mata keemasannya memancarkan aura dominasi mutlak yang tak terbantahkan. "Kau pikir mulut manismu itu bisa membelikanmu tempat tidur yang hangat di dalam sel? Kau salah besar."
Nataniel memutar tubuhnya, mengibaskan jubah hitam bersulam benang emasnya yang megah.
"Prajurit!" seru Nataniel menggelegar, suaranya memantul keras di sepanjang pilar-pilar koral raksasa. "Seret manusia ini ke area air dangkal dekat dasar tebing! Paksa dia membersihkan seluruh sisa perhiasan dan barang berharga milik bangsamu dari bangkai kapal manusia yang hancur kemarin. Pastikan dia tidak beristirahat semenit pun hingga seluruh pekerjaan selesai!"
"Paduka yang Mulia!" aku memekik tertahan, mencoba memprotes di tengah rasa sakit di leherku. "M-Malam ini?! Sekarang juga?!"
Nataniel bahkan tidak sudi berpaling lagi padaku. Tanpa jeda istirahat, tanpa kesempatan ganti baju, masih dalam balutan bikini perak mini yang irit bahan dan menyisakan seluruh perut serta pahaku terpapar bebas, dua pengawal Siren bertubuh raksasa langsung mencengkeram kedua lengan atas ku secara brutal. Mereka menyeretku keluar dari ruang tahta yang megah, menyusuri lorong-lorong batu yang dingin menuju kegelapan samudra di luar istana.
Malam di dasar laut terasa sepuluh kali lipat lebih membekukan. Air laut yang dingin merayap menusuk kulitku yang telanjang, membuat seluruh tubuhku gemetar hebat seraya merinding sampai ke tulang sumsum.
Maka di sinilah aku sekarang. Menjadi seorang babu atau pelayan tak berbayar di tengah kegelapan malam samudra.
Bangkai kapal penelitian kami, kapal yang selama bertahun-tahun menjadi rumah, tempat bernaung, sekaligus saksi bisu perjuangan kami, kini karam terbelah dua di antara himpitan karang tajam. Lambung kapal yang dahulunya kokoh berbalut besi kini hancur berkeping-keping. Puing-puing kayu yang lapuk, kain layar yang robek tercabik-cabik, serta perlengkapan selam yang rusak berserakan di mana-mana di bawah pendaran temaram obor sihir biru milik para pengawal Siren.
Aku melangkah pelan dengan telanjang kaki di atas pasir laut yang dingin dan berkerikil tajam. Setiap kali kakiku menyentuh bongkahan kayu atau besi tua, rasa perih menjalar halus, namun tombak-tombak tajam di tangan para Siren di sekelilingku membuatku terpaksa terus bergerak tanpa berani mengeluh.
("Tuhan... nasibku tragis banget!") jeritku pilu di dalam hati seraya memunguti sebuah gelang emas yang tersangkut di antara celah karang. ("Baru aja leher mau patah dicekik iblis ganteng itu, sekarang malah diturunkan pangkatnya jadi pemulung bangkai kapal di tengah malam buta! Baju cuma selendang tipis sama bikini begini, dinginnya bikin paru-paruku serasa mau membeku! Kalau ayah ku di rumah lihat anak gadisnya disuruh ngumpulin rongsokan kurang bahan begini di dasar samudra, pasti beliau langsung kejang-kejang!")
Sambil memunguti barang-barang berharga seperti cangkir perak, perhiasan emas, dan perabot ukir yang tercecer di sekitar bangkai kapal di bawah cahaya malam yang remang-remang, mataku tiba-tiba menangkap sebuah kilatan cahaya redup yang tersembunyi di dalam celah pecahan lemari kayu milik kapten.
Jantungku berdegup kencang seketika.
Aku mengamati sekitar dengan cermat. Dua prajurit Siren yang bertugas mengawasiku tampak sedang berdiri agak jauh di dekat pilar karang, sibuk berdiskusi memunggungi posisiku. Dengan gerakan secepat kilat, aku merangkak mendekati pecahan lemari tersebut dan menjangkau benda berkilau itu.
Sebuah mutiara. Tapi bukan sembarang mutiara.
Ini adalah Mutiara Laut Dalam, mutiara langka berwarna kebiruan dengan pendaran keemasan yang sangat indah. Benda ini adalah objek penelitian utama tim kami yang berhasil kami temukan setelah bertahun-tahun menyusuri berbagai peta kuno dan menghadapi badai ganas di lautan lepas. Mutiara ini memiliki nilai ilmiah dan sejarah yang tak ternilai harganya.
("Mutiara Laut Dalam milik kami...") bisikku lirik, mataku berkaca-kaca menatap pendaran ajaib di telapak tanganku. ("Benda ini nggak boleh jatuh ke tangan iblis-iblis laut itu! Ini bukti perjuangan kami semua!")
Tanpa membuang waktu, aku buru-buru memasukkan mutiara seukuran telur burung dara itu ke dalam kantung celana pendek yang melapisi bagian bawah bikini perakku. Aku menepuk-nepuk kantung itu secara perlahan, memastikan bentuk bulatnya tersembunyi dengan sempurna di balik rumbai-rumbai kain pinggulku. Benda ini harus kusimpan rapat-rapat di balik jeruji sel nanti sebagai kenang-kenangan terakhir dari dunia luar.
Namun, saat aku melangkah lebih jauh memasuki bagian dalam lambung kapal yang terbelah untuk mencari perhiasan tersisa, langkah kakiku mendadak terhenti kaku.
Napasku tertahan di tenggorokan. Benda-benda emas dan perak yang tadinya kugenggam erat mendadak terlepas dari jemariku, jatuh merontok ke atas lantai kayu.
*Klentang!*
Di hadapanku, di bawah siraman cahaya obor biru yang muram, tersaji sebuah pemandangan yang teramat mengerikan.
Cairan merah kental yang telah mengering dan membeku terlukis secara brutal di sepanjang dinding kayu kapal. Noda-noda darah segar itu mengalir membasahi meja peta, mencemari lantai navigasi, bahkan terpercik di atas foto-foto dokumentasi kami yang robek. Di beberapa celah karang tajam, sisa-sisa pakaian kerja berwarna oranye milik para kru terikat secara mengenaskan.
Tidak ada mayat di sana. Lautan yang kejam dan para monster pemakan daging telah melahap habis raga mereka tanpa sisa. Mereka, sahabat-sahabatku, para peneliti gigih, dan para kru kapal yang selama bertahun-tahun tertawa dan berjuang bersamaku, kini tidak akan pernah memiliki tempat persemayaman atau batu nisan yang layak di daratan.
Rasa mual yang amat dahsyat meledak hebat di dalam perutku. Bau amis darah yang bercampur dengan kebusukan air laut menghantam indra penciumanku secara bertubi-tubi.
"Ugh... huekk!" aku menutup mulutku dengan kedua tangan, terduduk lelah di atas lantai kayu yang basah seraya memuntahkan rasa mual yang melilit dadaku.
Dinding pertahanan mental yang selama ini kupertahankan rapat-rapat dengan topeng akting konyol dan monolog batin yang ceria mendadak hancur berkeping-keping di tengah kegelapan malam. Kesadaran pahit bahwasanya aku adalah satu-satunya penyintas dari tragedi berdarah ini menghantam dadaku tanpa ampun.
Airmata meleleh deras membasahi pipiku, menyatu dengan air laut yang dingin.
"Maafin aku..." isakku tergapai-gapai dalam tangisan yang pecah tanpa mampu ditahan lagi. Dada terasa begitu sesak hingga paru-paruku serasa dihimpit batu raksasa. "Maafin aku... Kapten... Maya... Leo... Maafin aku karena cuma bisa diam dan pura-pura tertawa di depan iblis-iblis yang sudah membantai kalian..."
Bayangan masa-masa perjuangan kami mendadak berputar cepat di dalam kepalaku bagaikan tayangan film tua.
Teringat saat Kapten tertawa terbahak-bahak membagikan kopi hangat di tengah badai malam. Teringat saat Maya melompat kegirangan ketika radar kami berhasil mendeteksi keberadaan Mutiara Laut Dalam. Teringat saat kami semua berjanji akan merayakan keberhasilan ekspedisi ini dengan makan malam mewah di tepi pantai bersama keluarga masing-masing begitu kami pulang.
Tapi tak ada yang bisa pulang. Raga mereka telah lenyap ditelan kegelapan samudra, menjadi tumbal bagi kesombongan bangsa Siren yang menganggap manusia tidak lebih dari sekadar ternak untuk makanan utama mereka.
Aku menangis sesenggukan di sudut bangkai kapal yang gelap, memeluk kedua lututku yang gemetar rapat-rapat. Rasa bersalah yang teramat besar meremukkan jiwaku. Mengapa harus aku yang selamat? Mengapa aku harus bertahan hidup dengan cara menjadi badut pemuas telinga Pangeran Siren yang kejam itu?
("Aku cuma sendirian...") batinku meratapi kepedihan yang teramat sangat. ("Gak ada yang bakal datang menolongku... Aku sendirian di samudra yang gelap ini...")
Begitu dalamnya aku tenggelam dalam kesedihan dan tangisan malam itu, aku sampai tidak menyadari bahwa situasi di sekitarku telah berubah membahayakan.
Dua prajurit Siren yang bertugas mengawasiku ternyata telah bergeser berpatroli ke area karang lain, meninggalkan posisiku di bangkai kapal secara tak terjaga. Dan di tengah kelengahan serta kegelapan malam samudra itu, dari balik bayangan terumbu karang gelap di dekat air dangkal, muncul sosok Siren lain yang sama sekali.
Siren ini adalah seorang prajurit pemburu liar. Wujudnya jauh lebih mengerikan dan liar dibandingkan prajurit istana. Sisik-sisiknya berwarna hijau lumut yang kusam, matanya yang berwarna merah menyala memancarkan aura buas di tengah kegelapan malam, dan jemarinya dilengkapi kuku-kuku panjang melengkung yang tajam bagaikan pisau daging.
Melihatku terduduk sendirian di dalam bangkai kapal tanpa pengawalan, matanya berkilat penuh dengan keserakahan dan kelaparan yang tak tertahankan. Bagi prajurit pemburu liar seperti dirinya, seekor manusia mulus yang berkeliaran sendirian di malam hari adalah harta karun makanan yang sangat langka.
*Srrrkk!*
Suara gesekan sisik kasar di atas kayu kapal mengejutkanku.
Belum sempat aku menengadah untuk melihat apa yang terjadi, sebuah tangan raksasa bersisik hijau meluncur cepat dari balik kegelapan malam! Kuku-kuku tajamnya langsung mencengkeram lengan atasku dengan sangat kuat hingga menembus kulitku, menimbulkan rasa perih yang amat luar biasa!
"Aakh!" jeritku melengking kesakitan.
"Khakhakha! Manusia!" geram Siren pemburu itu dengan suara parau yang amat mengerikan. Air liurnya yang kental dan berbau busuk menetes jatuh ke atas bahuku yang terbuka. "Ternyata benar ada bangkai bernapas yang berkeliaran sendirian malam-malam begini! Dagingmu pasti sangat manis dan empuk!"
"Lepaskan aku! Lepas!" teriakku histeris seraya memukul-mukul tangannya yang keras bagaikan batu.
Siren pemburu itu tidak memedulikan pukulan lemahku. Dengan kekuatannya yang luar biasa raksasa, ia menyeret tubuh mungilku secara brutal keluar dari lambung kapal menuju celah karang di area air dangkal!
Tubuhku terseret kasar di atas pecahan kayu tajam dan batu karang yang menggores paha serta punggungku yang telanjang. Rasa sakit yang melilit di lenganku bercampur dengan kepanikan luar biasa yang membakar seluruh sarafku. Ketakutan akan kematian yang nyata kembali menghantam dadaku di tengah kegelapan malam!
("Tuhan! Tolong aku! Tolong!" jeritku histeris di dalam hati, memohon keajaiban di tengah keputusasaan yang membeku.)
"Jangan berteriak, Serangga!" bentak Siren pemburu itu seraya makin kencang mencengkeram dan menyeret tubuhku. "Sebelum para pengawal istana kembali dan merebutmu, aku akan mencicipi daging lehermu dulu di celah karang sana!"
"Lepaskan aku, Monster Biadab!" jeritku seraya sekuat tenaga menggunakan kaki manusiaku untuk menendang rahangnya yang bersisik kusam.
*BUK!*
Tendangan manusiaku yang lemah sama sekali tidak melukai wajah kasarnya, justru makin menyulut kemarahannya. Siren pemburu itu mendesis murka, mengangkat tubuhku tinggi-tinggi dengan satu tangan, lalu siap menghempaskan tubuhku ke atas karang tajam untuk melumpuhkanku sepenuhnya!
Aku memejamkan mata rapat-rapat, pasrah menantikan benturan keras yang akan mematahkan tulang-tulangku.
Namun, tepat pada detik yang teramat kritis itu...
sebuah tekanan energi magis yang sangat dahsyat dan membekukan mendadak meledak menghantam seluruh area air dangkal tersebut!
Aura kematian yang teramat dingin dan pekat merayap cepat, membekukan aliran air malam di sekitar kami. Suara kepakan jubah hitam yang megah terdengar membelah keheningan malam, diiringi oleh sebuah suara berat yang sarat akan dominasi mutlak dan kemurkaan yang tak terhingga.
"Berani sekali kau menyentuh barang milikku... Wira liar yang tak tahu diri!"
Siren pemburu yang sedang mencengkeram tubuhku mendadak membeku di tempat, matanya membelalak sempurna oleh rasa takut yang luar biasa.
Aku perlahan membuka mataku yang basah oleh air mata. Di atas bongkahan karang tertinggi di hadapan kami, berdiri sosok Pangeran Nataniel di bawah pendaran rembulan samudra. Pria itu menatap tajam ke arah kami dengan iris mata keemasan yang berkilat berbahaya bagaikan petir malam.
Penyelamatan di ujung maut itu, Pangeran Nataniel...
⭐⭐⭐⭐⭐
Gimana Kiravers! Perubahan setting malam harinya makin menambah suasana mencekam dan dramatis, kan? Alessia yang langsung dihukum tanpa ganti baju benar-benar malang banget, tapi penyelamatan Nataniel di akhir jadi kelihatan makin gagah!
Yuk, jangan lupa klik LIKE, simpan novel ini ke rak bukumu, dan VOTE cerita ini sekarang juga ya! Mau lanjut gubahan outline buat Bab 6? Langsung kirim aja detailnya!