Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aris Ditangkap Polisi
Sinar matahari sore menembus celah-celah tirai kusam di rumah kontrakan sempit itu, menyoroti debu-debu yang menari di udara. Suasana di dalam terasa menyesakkan, bukan hanya karena ruangannya yang sempit, tetapi karena hawa dingin yang dibawa oleh kehadiran Pak Hendra dan dua pria berbadan tegap di belakangnya.
"Kalian tidak bisa melakukan ini!" teriak Ibu Melati kembali, suaranya parau dan bergetar hebat. "Ini rumah kami sekarang! Bagas yang menyewanya untuk kami, kalian tidak punya hak untuk menyentuh barang-barang di sini!"
Pak Hendra sama sekali tidak terusik oleh teriakan melengking tersebut. Ia menoleh ke arah salah satu pria di sampingnya, memberikan isyarat dengan anggukan kepala yang sangat tipis, namun penuh otoritas.
"Silakan mulai," ucap Pak Hendra dengan nada tenang. "Pastikan semua inventaris yang terdaftar dalam lampiran dokumen ini dibawa dengan hati-hati. Kita tidak ingin ada barang yang rusak sebelum sampai ke gudang penyimpanan."
Dua pria itu melangkah maju dengan gerakan yang terukur dan terlatih. Mereka mulai memindahkan meja kayu tua yang baru saja dibeli Siska dengan uang sisa hasil menggadaikan perhiasan terakhirnya.
"Itu milikku!" Siska melompat dari kursinya, mencoba menghalangi langkah salah satu pria tersebut. "Kalian benar-benar tidak punya hati! Apakah Laras sudah menjadi monster yang begitu kejam hingga tega melihat mertuanya sendiri terlunta-lunta?"
Pria itu berhenti sejenak, menatap Siska dengan tatapan datar yang justru membuat nyali Siska menciut seketika. Ia tidak membalas dengan kemarahan, melainkan hanya menggeser tubuhnya dengan tenang untuk menghindari jangkauan tangan Siska.
"Nyonya, mohon jangan menghalangi tugas kami," ujar pria itu dengan suara berat. "Kami hanya menjalankan perintah berdasarkan surat pengadilan. Jika ada keberatan, silakan ajukan ke pengadilan, bukan di depan perabotan ini."
Ibu Melati jatuh terduduk di atas lantai semen yang dingin, wajahnya yang penuh kerutan tampak sangat pucat. Ia menatap kosong ke arah petugas yang kini mulai membuka baut televisi layar datar yang terpasang di dinding.
"Tolong, Pak," rintih Ibu Melati dengan suara yang kini melemah. "Anak saya, Bagas, sedang bekerja keras di luar sana untuk membayar semuanya. Bisa tolong tunggu sampai dia pulang? Dia pasti punya penjelasan untuk semuanya."
Pak Hendra melipat tangannya di dada, menatap Ibu Melati dengan sorot mata yang penuh dengan ketidaksukaan yang tertahan. Ia merasa sudah terlalu sering mendengar kebohongan dan pembelaan dari keluarga ini selama proses hukum berlangsung.
"Ibu Melati, sudah berapa kali saya katakan bahwa Bagas sudah tidak memiliki akses ke dana tersebut," jawab Pak Hendra dengan penekanan pada setiap katanya. "Dia bukan lagi pengelola aset Larasati. Dia hanyalah seorang pria yang sedang menanggung konsekuensi atas keserakahannya sendiri."
Siska mulai terisak keras, air matanya jatuh membasahi lantai kayu yang lapuk. Ia merasa sangat terhina, terutama karena ia melihat beberapa tetangga di sekitar kontrakan mulai mengintip dari balik pintu rumah mereka.
"Lihat mereka," bisik Siska sambil menunjuk ke arah jendela. "Mereka semua menertawakan kita, Bu. Mereka pasti senang melihat kita jatuh seperti ini."
Ibu Melati tidak menjawab, ia hanya memeluk lututnya sendiri dengan erat. Pikirannya melayang pada masa-masa saat ia masih bisa berbelanja barang mewah setiap akhir pekan tanpa perlu memikirkan harga.
"Dunia ini memang tidak adil," gumam Ibu Melati dengan nada getir. "Kenapa orang seperti Laras yang dulu sangat patuh, kini berubah menjadi seseorang yang begitu kejam dan tak kenal ampun?"
Pak Hendra yang mendengar gumaman itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat dengan ironi. Ia berjalan mendekati Ibu Melati, lalu berjongkok sedikit agar tingginya setara dengan wanita yang sedang terpuruk itu.
"Nyonya Melati, keadilan bukanlah tentang siapa yang paling menderita, melainkan tentang siapa yang berhak atas apa," ujar Pak Hendra dengan nada yang lebih rendah namun tajam. "Larasati selama ini diam bukan karena dia lemah, melainkan karena dia memberikan kesempatan bagi kalian untuk memperbaiki diri."
Ia kemudian berdiri kembali dan menatap ke arah ruangan yang kini semakin kosong. Para petugas sudah berhasil mengangkut hampir seluruh perabotan utama yang bernilai tinggi ke dalam truk.
"Sayangnya, kesempatan itu telah kalian sia-siakan," tambah Pak Hendra sambil melangkah menuju pintu keluar. "Inilah akhir dari perjalanan kalian yang dibangun di atas kebohongan."
Siska mencoba berdiri, matanya yang sembab menatap punggung Pak Hendra dengan kebencian yang mendalam. Ia merasa ingin berteriak dan memaki, namun suaranya seolah tercekat di kerongkongan saat melihat mobil mewah Pak Hendra mulai dinyalakan.
"Jangan pernah kembali!" teriak Siska dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Katakan pada Laras bahwa kami tidak akan pernah memaafkannya!"
Pak Hendra tidak menoleh lagi, ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan suara dentuman yang cukup keras. Truk pengangkut yang sudah terisi penuh dengan barang-barang mereka mulai melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah kontrakan.
Debu jalanan mengepul di belakang truk, menutupi pandangan Siska dan Ibu Melati yang masih berdiri di depan pintu yang kini terbuka lebar. Hening kembali menyelimuti rumah itu, sebuah kesunyian yang mencekam dan menyakitkan.
Ibu Melati melangkah masuk ke dalam rumah yang kini benar-benar kosong, hanya menyisakan beberapa helai koran bekas dan sampah kecil di sudut ruangan. Ia menatap ke arah tempat televisi tadi berada, hanya ada lubang-lubang bekas baut yang tertinggal di dinding.
"Kita tidak punya apa-apa lagi, Siska," ucap Ibu Melati dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Bahkan kasur tempat kita tidur pun sudah mereka bawa."
Siska terduduk di lantai, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa lapar mulai menyerang perutnya, namun ia sadar tidak ada lagi uang di dalam dompetnya untuk membeli makanan, bahkan untuk sekadar membeli sebungkus mi instan.
"Apa yang akan kita katakan pada Bagas saat dia pulang nanti?" tanya Siska dengan nada yang penuh keputusasaan. "Dia pasti akan sangat murka melihat rumah ini kosong melompong seperti ini."
Ibu Melati tidak menjawab, ia hanya menatap ke arah langit-langit rumah yang mulai retak di beberapa sisi. Ia teringat kembali pada masa-masa saat Laras masih tinggal bersama mereka, saat Laras selalu menyajikan makanan hangat di meja setiap malam.
"Mungkin kita memang tidak seharusnya memperlakukannya seperti itu," gumam Ibu Melati, untuk pertama kalinya ia merasakan sedikit penyesalan. "Tapi sudah terlambat untuk semua itu sekarang, bukan?"
Di dalam apartemen mewahnya yang berada jauh dari kawasan kumuh tersebut, Laras berdiri di depan cermin besar di ruang tamu. Ia menatap pantulan dirinya, seorang wanita yang kini tampak jauh lebih dewasa, tenang, dan berwibawa.
Ia mengenakan gaun sutra tipis, rambutnya tertata rapi, dan wajahnya tampak bersinar dengan kebahagiaan yang tulus. Ia tahu bahwa apa yang terjadi di rumah kontrakan tadi adalah bagian dari proses pembersihan hidupnya dari masa lalu yang kelam.
"Nona Laras, makan malam sudah siap," ujar Rina yang muncul dari arah dapur dengan membawa nampan berisi teh dan camilan ringan. "Apakah Anda ingin saya memesankan makanan dari luar untuk malam ini?"
Laras tersenyum tipis ke arah asisten setianya itu, sebuah senyuman yang jarang terlihat selama tiga tahun terakhir. Ia merasa beban yang selama ini menghimpit pundaknya telah terangkat sepenuhnya, memberikan ruang baginya untuk bernapas lebih lega.
"Tidak perlu, Rina," jawab Laras dengan nada yang lembut namun tegas. "Malam ini aku ingin menikmati ketenangan ini sendirian. Kamu boleh pulang lebih awal, aku ingin menghabiskan waktu dengan diriku sendiri."
Rina mengangguk patuh lalu segera merapikan meja kerja sebelum pamit meninggalkan apartemen tersebut. Pintu tertutup rapat, meninggalkan Laras dalam kesendirian yang kini terasa sangat nyaman dan berharga.
Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah lampu kota yang gemerlap di kejauhan. Laras menarik napas panjang, menikmati keheningan yang menyelimuti ruangan, sebuah kemewahan yang selama ini dirampas darinya.
"Ini baru permulaan," bisiknya pelan ke arah kegelapan malam. "Masa lalu sudah terkubur, dan sekarang adalah saatnya untuk membangun sesuatu yang jauh lebih baik dari sebelumnya."
Laras mengambil segelas teh hangat dan duduk di sofa, membiarkan pikirannya tenang sejenak sebelum memulai rencana besar selanjutnya. Di luar sana, angin malam berhembus kencang, membawa pergi sisa-sisa kesedihan yang sempat tertinggal di hatinya.
Ia siap menyambut masa depan, dengan tangan yang kuat dan hati yang sudah tidak lagi mudah dipermainkan oleh siapa pun. Baginya, setiap detik yang ia lalui sekarang adalah kemenangan kecil yang patut dirayakan dengan penuh syukur.