NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Pembersihan Kutukan

"Buka bajumu, Ayah," kataku santai sambil menarik sebuah kursi kayu ke tengah Ruang Kerja Utama.

Duke Gaius Pendelton mendengus kasar. Ia melepas jubah kebesarannya dan membuka kemejanya tanpa banyak tanya. Di dada kirinya, tepat di atas jantung, terdapat sebongkah kristal es berwarna biru pucat yang menancap ke dalam kulit. Es itu menyebarkan urat-urat kebiruan yang terlihat membeku di balik kulit dadanya.

"Tabib terhebat di kekaisaran saja menyerah melihat ini," kata Gaius dengan nada meremehkan, meski matanya menyiratkan sedikit harapan. "Kau yakin api hitammu itu tidak akan membakar jantungku sampai hangus, Arthur?"

"Tergantung," jawabku sambil memanggil nyala api hitam murni di telapak tanganku. "Kalau Ayah banyak bergerak, mungkin jantung Ayah akan sedikit terpanggang. Jadi, duduk diam dan tahan rasa sakitnya."

Aku tidak membuang waktu. Tanpa aba-aba, aku menempelkan telapak tanganku yang berkobar api hitam langsung ke dada Gaius.

"Argh!" Gaius mengertakkan gigi. Urat-urat di lehernya menonjol keluar menahan siksaan.

Api kegelapanku tidak terasa panas bagi orang biasa, tapi bagi Kutukan Es Abadi, ini adalah musuh alaminya. Kutukan itu mencoba melawan, mengeluarkan hawa dingin yang luar biasa, tapi kekuatan penelan sihirku jauh lebih rakus. Dalam hitungan detik, es biru di dada Gaius mulai mencair dan berubah menjadi uap hitam yang langsung kuhisap habis.

"Fokuskan napasmu, Ayah. Jangan melawan aliran sihirku," kataku memperingatkan.

"Bocah kurang ajar," geram Gaius di sela-sela rasa sakitnya. "Sejak kapan kau belajar sihir tingkat tinggi seperti ini?"

"Ada banyak hal yang aku pelajari saat Ayah sibuk membuangku di akademi," jawabku datar.

Lima menit berlalu. Suasana ruangan dipenuhi ketegangan dan suara napas yang memburu. Hingga akhirnya, kristal es terakhir di dada Gaius lenyap tak berbekas. Luka di dadanya menutup perlahan berkat sisa sihir penyembuhan alami miliknya.

Aku menarik tanganku dan mematikan api hitamku. "Selesai. Jantung Ayah sudah bersih dari kutukan."

Gaius terengah-engah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Ia meraba dada kirinya. Matanya yang tajam membelalak tak percaya. Detak jantungnya yang selama bertahun-tahun terasa berat dan dingin, kini berdegup kencang, hangat, dan penuh tenaga. Auranya sebagai petarung kelas SS kembali meledak memenuhi ruangan, membuat dinding kayu di sekitar kami bergetar.

"Ini... benar-benar hilang," gumam Gaius. Ia menatapku dengan tatapan yang sepenuhnya berubah. Tidak ada lagi keraguan atau tatapan meremehkan. Yang ada hanyalah rasa hormat antara sesama petarung kuat.

Gaius tertawa keras. Tawanya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Ia berjalan ke arah meja kerjanya, membuka laci rahasia, dan melemparkan sebuah medali perak hitam berlambang kepala serigala padaku.

Kutangkap medali itu dengan satu tangan.

"Itu adalah Medali Komando," ucap Gaius, wajahnya kembali serius dan tegas. "Mulai detik ini, Pasukan Bayangan Pendelton berada di bawah kendalimu. Tidak ada satu pun tetua keluarga yang boleh menentang keputusanmu. Dan sesuai kesepakatan kita, aku akan mengumumkanmu sebagai Pewaris Tunggal di pesta perayaan istana minggu depan."

"Pilihan yang sangat bijak, Duke Pendelton," balasku dengan senyum tipis.

"Satu hal lagi, Arthur," panggil Gaius sebelum aku keluar dari ruangan. "Pasukan Bayangan tidak tunduk pada darah atau nama keluarga. Mereka tunduk pada kekuatan mutlak. Medali itu hanya kuncinya. Kalau kau tidak bisa menundukkan komandan mereka secara langsung, mereka akan membunuhmu dalam tidurmu malam ini juga."

"Terima kasih atas peringatannya," aku tersenyum puas. "Aku suka bawahan yang sedikit galak."

Malam itu juga, aku turun ke ruang bawah tanah paling rahasia di kediaman Pendelton. Tempat ini dingin, gelap, dan berbau besi berkarat. Di tengah ruangan, lima orang pria berpakaian serba hitam sedang duduk melingkar di meja kayu. Mereka adalah para kapten Pasukan Bayangan, elit pembunuh dan intelijen terbaik yang selama ini bekerja di balik layar kekaisaran.

Pemimpin mereka, seorang pria bermata satu bernama Kael, menatapku tajam saat aku melangkah masuk.

"Tuan Muda Arthur?" Kael berdiri, nada suaranya penuh keheranan sekaligus ejekan terang-terangan. "Tempat bermain Anda ada di taman atas. Ruang bawah tanah ini bukan tempat untuk anak akademi."

Aku tidak membalas perkataannya. Aku berjalan ke arah meja dan melemparkan Medali Komando ke tengah meja mereka. Medali itu berbunyi denting yang nyaring.

Keempat kapten lainnya langsung berdiri dengan wajah tegang.

"Itu... Medali Komando Tuan Besar," bisik salah satu dari mereka, matanya tidak bisa lepas dari lambang serigala tersebut.

Kael menatap medali itu, lalu menatapku. Tawanya pecah. "Tuan Besar pasti sedang mabuk atau bercanda. Menyerahkan Pasukan Bayangan pada anak manja yang kalah duel dengan murid jelata? Maaf, Tuan Muda. Kami menolak."

Kael mencabut belati dari pinggangnya dengan gerakan yang sangat cepat. "Pasukan Bayangan hanya mengikuti perintah orang yang bisa memotong leher kami. Kalau Anda mau memimpin kami, buktikan."

Begitu Kael selesai bicara, aku langsung melangkah maju. Tidak ada sihir, tidak ada kecepatan bayangan yang dibuat-buat. Aku hanya menggunakan insting dan kekuatan fisik dari Tulang Obsidianku.

Kael mengayunkan belatinya lurus ke arah leherku. Namun, sebelum ujung senjatanya berjarak satu inci dari kulitku, tanganku sudah lebih dulu melesat, mencengkeram wajahnya, dan membanting punggungnya ke meja kayu hingga hancur berantakan.

Brak!

Belati Kael terlempar entah ke mana. Keempat kapten lainnya bahkan belum sempat mengedipkan mata atau mencabut senjata mereka.

Aku menekan wajah Kael ke puing-puing meja, menatap matanya yang kini membelalak panik. Cengkeramanku sekuat baja, membuat tulang rahangnya berderit pelan.

"Aku tidak suka mengulang perintah," kataku dengan nada suara yang sangat pelan, tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa mencekik. "Mulai malam ini, aku adalah atasan mutlak kalian. Panggil aku Tuan. Mengerti?"

Kael terbatuk darah, tapi ia buru-buru mengangguk cepat. "M-Mengerti... Tuan Arthur!"

Aku melepaskan cengkeramanku dan merapikan lengan jasku yang sedikit berkerut. Keempat kapten lainnya, menyadari perbedaan kekuatan yang sangat mengerikan, langsung berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

"Bagus," ucapku santai, mengambil kembali medali itu. "Sekarang, aku punya tugas pertama untuk kalian. Kumpulkan semua data korupsi, utang rahasia, dan skandal gelap bangsawan yang mendukung faksi Pangeran Julian. Aku ingin semuanya ada di mejaku sebelum Malam Puncak Bintang Surgawi."

Kael bangkit dengan susah payah sambil memegangi rahangnya, lalu ikut berlutut. "Akan kami laksanakan dengan sempurna, Tuan."

Senyum puas mengembang di bibirku. Kekuatan sihir sudah kumiliki, mata yang bisa membaca titik lemah sudah aktif, dan sekarang, jaringan informasi terkuat di ibu kota ada di genggamanku.

Satu minggu berlalu dengan cepat. Malam Puncak Bintang Surgawi akhirnya tiba.

Istana Kekaisaran Solaria bersinar terang benderang. Kereta-kereta kuda mewah berlapis emas berjejer rapi di halaman istana. Para bangsawan kelas atas, ksatria suci, dan tokoh politik berkumpul untuk merayakan hari kelahiran kekaisaran.

Di sinilah arena pertarungan yang sesungguhnya. Tempat di mana senyum jauh lebih mematikan daripada tebasan pedang.

Aku turun dari kereta kuda keluarga Pendelton, mengenakan jas formal berwarna hitam pekat dengan sulaman benang perak di bagian kerah. Rambut putihku disisir rapi ke belakang. Di sampingku, Duke Gaius berjalan dengan dada membusung, tampak jauh lebih sehat, bertenaga, dan memancarkan aura penguasa yang membuat para penjaga menunduk hormat.

Saat kami berjalan menaiki tangga utama istana, semua mata langsung tertuju pada kami. Bisik-bisik mulai menyebar seperti api di padang rumput.

"Itu Tuan Muda Arthur? Kudengar dia membantai monster mematikan di labirin sendirian!"

"Mustahil. Lihat saja wajahnya, dia masih terlihat seperti bangsawan arogan biasa."

"Tapi Duke Gaius terlihat sangat sehat! Bukankah kabarnya beliau sedang sakit keras?"

Aku mengabaikan tatapan dan bisikan mereka. Begitu memasuki aula utama istana yang sangat luas, mataku langsung menangkap dua sosok yang sangat kukenal.

Di tengah ruangan, dikelilingi oleh para bangsawan penjilat, berdiri Pangeran Julian. Di sebelahnya, Leon juga hadir. Protagonis berambut merah itu tampak pucat dan masih harus menggunakan tongkat penyangga berhias perak untuk bisa berdiri tegak, tapi ia memaksakan diri datang demi menunjukkan keteguhannya.

Begitu Pangeran Julian melihatku masuk bersama Gaius, wajah sang pangeran langsung menegang kaku. Sementara itu, Leon mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, menatapku dengan kebencian yang mendalam.

Aku tersenyum tipis, lalu dengan santai berjalan perlahan membelah keramaian menuju ke arah mereka berdua. Malam ini, aku akan merobohkan sisa-sisa harga diri pahlawan dan pangeran ini tepat di depan mata seluruh elit kekaisaran.

1
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!