NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 ORANG MATI TIDAK MEMILIKI HAK

Ruangan tetap sunyi. Bunyi kertas dan percakapan pelan yang tadi memenuhi tempat itu lenyap. Beberapa anggota dewan memandangi surat pengalihan saham di tengah meja; yang lain saling melirik, berharap orang di sebelahnya punya penjelasan. Arsen masih memegang dokumen tersebut. Matanya kembali pada tanggal di bagian bawah: dua belas November. Jemarinya menegang di ujung kertas. Kaluna mengenali ekspresi itu. Arsen sedang berpikir keras, mencari penjelasan atas tanggal yang janggal itu.

Bramasta meletakkan penanya dengan tenang.

“Menarik,” katanya. “Tapi tanggal pengesahan tidak selalu sama dengan tanggal penandatanganan.”

Kaluna mengalihkan pandangan kepadanya. Bramasta menyandarkan tubuh di kursi. Wajahnya tidak menunjukkan kegelisahan. Nada bicaranya tetap datar, bahkan terdengar seperti seorang paman yang sedang membantu menjelaskan persoalan sederhana.

“Dokumen bisa saja ditandatangani sebelum kecelakaan,” lanjutnya. “Proses administrasinya baru selesai setelah Kaluna dinyatakan meninggal.”

“Kalau begitu, tunjukkan dokumen aslinya,” kata Kaluna.

Bramasta diam sebentar. Ia memandang sekretaris rapat yang duduk di sisi meja.

Perempuan itu membuka beberapa map, lalu memeriksa daftar dokumen di hadapannya. “Dokumen asli tidak dibawa ke rapat ini.”

“Di mana disimpan?” tanya Salindri.

“Di arsip hukum perusahaan.”

“Siapa yang memiliki akses?”

Sekretaris rapat kembali memandang Bramasta sebelum menjawab. “Bagian hukum dan beberapa pejabat yang berwenang.”

Salindri menyilangkan tangan di atas meja. “Saya meminta dokumen asli diperlihatkan kepada kami.”

“Tentu,” jawab Bramasta. “Melalui prosedur yang berlaku.”

“Aturan yang berlaku juga seharusnya mencegah orang mati menandatangani surat.”

Salah seorang anggota dewan berdeham. Seorang pria berkacamata yang sejak awal terlihat tidak menyukai kehadiran Kaluna mengetuk meja dengan ujung jarinya.

“Kita terlalu jauh membahas tuduhan yang belum terbukti,” katanya. “Identitas perempuan ini bahkan belum sah.”

Kaluna menoleh kepadanya.

Pria itu melanjutkan, “Dalam dokumen negara, Kaluna Adiswara sudah meninggal. Perempuan yang duduk di sini belum mempunyai dasar hukum untuk mengaku sebagai pemegang saham.”

Ucapan itu tidak kasar, tetapi Kaluna tetap merasa tersinggung. Kaluna berdiri hidup-hidup di hadapan mereka, sementara hukum masih menganggapnya tidak ada. Namanya tercatat mati, sahamnya dipindahkan, rumahnya ditempati keluarga lain. Bahkan hak untuk duduk di ruangan itu dapat ditolak hanya dengan satu lembar dokumen.

Salindri membuka mapnya. “Identitas klien saya sedang dalam proses pembuktian. Tes DNA pertama gagal karena sampelnya hilang dari tempat penyimpanan.”

Beberapa anggota dewan mulai berbisik.

“Dengan adanya dugaan pemalsuan dokumen dan sengketa identitas,” lanjut Salindri, “rapat ini tidak seharusnya mengambil keputusan apa pun terkait kepemilikan saham Kaluna Adiswara.”

Bramasta mengangguk kecil, memberi kesan seakan ia memahami keberatan itu.

“Perusahaan tidak bisa berhenti hanya karena seorang perempuan datang dan mengaku sebagai Kaluna.”

“Aku bukan cuma mengaku. Aku bawa dokumen ini.”

“Salinan dokumen.”

“Karena dokumen aslinya disimpan oleh perusahaan kalian.”

Bramasta memandangnya beberapa saat. “Perusahaan kita.”

Kaluna hampir tertawa, tetapi tidak ada yang lucu dari kalimat itu.

“Belum,” katanya. “Saat ini kalian bahkan tidak menganggap aku punya hak untuk menyebutnya milikku.”

Arsen meletakkan surat pengalihan saham di atas meja.

“Aku ingin dokumen aslinya diperiksa.”

Bramasta menoleh kepadanya. “Tentu akan diperiksa.”

“Bukan nanti. Sebelum rapat ini dilanjutkan.”

Perubahan sikap Arsen membuat beberapa orang kembali saling pandang.

Bramasta tetap tenang. “Apa kau meragukan proses yang dahulu kau setujui sendiri?”

Arsen tidak menanggapi. Kaluna memandangnya.

Bramasta mengambil salinan dokumen tersebut, lalu membalik beberapa halaman. “Setelah Kaluna dinyatakan meninggal, struktur kepemilikan perusahaan harus disesuaikan. Kau menandatangani persetujuan sebagai direktur utama.”

“Aku tidak pernah melihat surat ini,” kata Arsen.

“Mungkin karena saat itu ada puluhan dokumen yang harus kau selesaikan.”

“Itu bukan jawaban.”

“Bukan juga tuduhan.”

Arsen menarik napas. “Aku ingin tahu siapa yang menyiapkan surat ini.”

“Bagian hukum perusahaan.”

“Siapa yang memeriksa?”

“Prosedurnya dilakukan oleh tim. Bukan satu orang.”

Setiap jawaban Bramasta terasa masuk akal, tetapi Kaluna tetap tidak mendapatkan jawaban yang ia cari.

Kaluna memandang Arsen. “Kamu menyetujuinya?”

Arsen diam sesaat sebelum membalas.

“Aku kira semua proses sudah diperiksa,” katanya akhirnya.

“Karena kamu percaya aku sudah mati.”

“Semua orang percaya begitu.”

“Tubuhku tidak pernah ditemukan.”

“Mobilmu ditemukan di dasar sungai.”

“Dan itu cukup untukmu?”

Arsen menegang. Kaluna menahan suaranya agar tetap stabil. Ia tidak ingin menjadikan ruang rapat itu tempat mereka membuka semua luka lama. Walau begitu, fakta di atas meja tidak bisa diabaikan.

“Kamu terlalu mudah menerima kematianku,” katanya. “Lalu terlalu cepat menyerahkan semua yang menjadi hakku.”

“Aku tidak mengambil sahammu.”

“Tapi kamu menyetujui perpindahannya.”

“Aku tidak tahu dokumen itu bertanggal setelah kematianmu.”

“Karena kamu tidak memeriksanya.”

Arsen memandangnya dengan wajah kaku. Rasa bersalah sempat melintas, lalu tertutup lagi oleh pertahanan yang dibangunnya sejak Kaluna kembali.

“Aku kehilangan istri,” katanya. “Perusahaan sedang kacau. Elara masih kecil. Aku mengambil keputusan dari informasi yang aku terima.”

“Dan kamu tidak pernah bertanya apakah informasi itu benar.”

Bramasta mengangkat tangan sebelum Arsen menjawab. “Kita tidak perlu membawa urusan rumah tangga ke sini.”

“Ini juga bukan sekadar masalah rumah tangga,” kata Salindri. “Ada dua puluh tujuh persen saham yang dipindahkan dengan dokumen yang waktunya tidak masuk akal.”

Naren yang sejak tadi berdiri di belakang Kaluna maju satu langkah. Ia menyerahkan salinan lain kepada Salindri.

“Di halaman ketiga ada tanggal pengesahan notaris,” katanya.

Salindri membacanya, lalu meletakkan dokumen tersebut di depan anggota dewan.

“Pengesahan dilakukan tiga hari setelah tanggal yang tercantum sebagai penandatanganan.”

Pria berkacamata tadi ikut membaca. “Tapi itu masih tidak membuktikan dokumen ditandatangani setelah kecelakaan.”

“Karena itu kami meminta dokumen asli,” jawab Salindri.

Salah satu anggota dewan perempuan mengangkat tangan. “Saya setuju rapat ditunda. Kalau nanti terbukti ada pemalsuan, kita semua bisa ikut terseret.”

Dua orang lainnya mengangguk. Bramasta memandang satu per satu wajah di meja. Ia tidak terlihat tersinggung. Setelah beberapa detik, ia merapikan dokumen di hadapannya.

“Baik,” katanya. “Rapat ditunda sampai pemeriksaan awal selesai.”

Kaluna belum merasa menang. Rapat ditunda, tetapi masalahnya belum berubah. Sahamnya belum kembali. Namanya masih tercatat mati. Bahkan keberadaannya di ruangan itu masih dianggap gangguan yang belum terbukti. Bramasta memandang Kaluna.

“Satu hal perlu saya tegaskan. Selama status kematianmu belum dibatalkan, kau belum punya hak resmi sebagai pemegang saham.”

Kaluna tidak mengalihkan pandangan.

“Jadi orang yang hidup tidak punya hak karena selembar kertas mengatakan dia mati?”

“Saya cuma mengikuti aturan yang ada.”

“Tapi kalian yang memakai aturan itu.”

Bramasta tidak menjawab.

Salindri menutup map. “Kami juga meminta salinan surat kematian Kaluna dan seluruh dokumen pendukung proses pengajuannya.”

Bramasta mengangguk kepada sekretaris rapat.

Kaluna memandang Arsen. “Siapa yang mengurus surat kematianku?”

Arsen mengusap bagian belakang lehernya. “Keluarga. Sama kuasa hukum perusahaan.”

“Siapa tepatnya?”

“Aku tidak ingat semua nama yang terlibat.”

“Sampai sebanyak itu orang yang mengurus kematianku, kamu nggak ingat satu pun?”

Nada Kaluna tetap rendah, tetapi Arsen memalingkan wajah sebentar.

“Waktu itu pencarian sudah tidak menemukan hasil,” katanya. “Kami harus mengurus banyak hal.”

“Kapan surat kematiannya diajukan?”

“Aku tidak hafal tanggalnya.”

Salindri menoleh kepada sekretaris. “Kirimkan seluruh salinannya sekarang.”

Perempuan itu tampak ragu. “Saya harus meminta persetujuan bagian hukum.”

Bramasta mengangguk kecil. “Berikan.”

Sekretaris segera membuka laptop dan mengetik beberapa perintah. Beberapa menit kemudian, Salindri menerima surel berisi dokumen administrasi kematian Kaluna. Rapat resmi ditunda. Satu per satu anggota dewan meninggalkan ruangan. Beberapa masih memperhatikan Kaluna dengan rasa ingin tahu, sementara yang lain tampak menghindari tatapannya. Bramasta berdiri paling akhir.

“Saya berharap persoalan ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin,” katanya.

Kaluna memasukkan salinan dokumen ke dalam map. “Aku juga.”

Bramasta mengangguk, lalu berjalan keluar. Arsen masih berdiri dekat meja.

“Kau akan mengulang tesnya?” tanyanya.

“Iya.”

“Beri tahu aku waktunya.”

“Salindri akan menghubungi pengacaramu.”

Arsen seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk. Kaluna melewatinya tanpa menunggu. Mereka berhenti di sebuah ruang tunggu kecil di ujung lorong. Salindri duduk di sofa dan langsung membuka berkas yang baru dikirim perusahaan. Naren berdiri di samping jendela, sementara Kaluna berjalan pelan mondar-mandir.

“Berapa banyak dokumen?” tanya Kaluna.

“Cukup banyak untuk membuat orang berharap kita lelah membacanya.”

Salindri membuka satu berkas, lalu berkas lain. Ia membandingkan nomor, tanda tangan, dan tanggal yang tercetak di setiap halaman.

Naren mendekat. “Ada yang aneh?”

“Belum tahu.”

Kaluna berhenti berjalan. Salindri mengambil catatan dari mapnya, lalu membuka laporan pencarian yang pernah dikumpulkan Naren. Jarinya bergerak mengikuti baris-baris tanggal, lalu berhenti pada satu baris. Raut wajahnya mengeras.

“Apa?” tanya Kaluna.

Salindri diam sejenak. Ia memperbesar salah satu halaman di layar tablet.

“Kapan mobilku ditemukan?” tanyanya.

“Tujuh September,” jawab Naren.

“Pencarian tubuhnya?”

“Berlangsung lebih dari dua minggu.”

Salindri memutar tablet agar dapat dilihat Kaluna. “Ini tanggal permohonan penetapan kematian.”

Kaluna membaca angka di layar. Delapan belas September. Salindri kemudian membuka laporan lain.

“Ini tanggal tim pencari secara resmi menghentikan operasi.”

Dua puluh empat September. Kaluna kembali melihat dua tanggal itu untuk memastikan ia tidak salah melihat. Enam hari. Surat kematiannya diajukan enam hari sebelum pencarian dihentikan.

“Bisa jadi proses administrasinya memang dimulai lebih awal,” kata Naren.

“Bisa,” jawab Salindri. “Tapi biasanya keluarga menunggu pencarian selesai, apalagi kalau tubuhnya belum ditemukan.”

Kaluna memandang layar. Pada tanggal delapan belas September, orang-orang masih menyusuri sungai untuk mencarinya. Petugas masih memeriksa tepian, jembatan, dan aliran air. Pada hari yang sama, seseorang sudah mulai mengurus agar dirinya dinyatakan mati.

“Permohonan kematianmu diajukan saat tim pencari masih berada di sungai,” kata Salindri.

Kaluna memandang dua tanggal yang tertera di hadapannya.

“Berarti ada yang sudah mengurus surat kematianku sebelum pencarian dihentikan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!