NovelToon NovelToon
The Last Horizon: Zero To Heroes

The Last Horizon: Zero To Heroes

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:247
Nilai: 5
Nama Author: Lamunan Malam

Siapa aku, seorang pecundang?

Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.

Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.

Tingkat Saint? Hah...

Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?

Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6 Keyakinan untuk Menang

"Sandra?"

Setelah pertandingan Steven berakhir, aku memutuskan untuk beristirahat sebentar di ruang medis. Tanpa kusadari, tepat saat aku berbaring di ranjang sebelah yang hanya terpisah oleh tirai kain putih, aku melihat Sandra tertidur pulas.

"Lyan!"

Ia langsung terbangun, buru-buru menyembunyikan tangannya yang terbalut perban tebal di balik punggung. Sambil meringis, ia mencoba bangkit dengan bertumpu pada satu tangan.

Aku turun dari ranjang lalu menarik kursi di bawah tempat tidur. Melihatnya kesulitan untuk berdiri, aku segera mengulurkan tangan untuk menolongnya.

"Kamu yakin masih mau lanjutin kompetisi?" tanyaku, melirik curiga ke arah tangan yang ia sembunyikan di belakang. "Coba aku lihat lukamu itu."

"Enggak!" tolaknya. "Aku baik-baik saja kok!"

"Lihat ini!"

Mencoba membuktikan ia masih bisa mengikuti kompetisi, Sandra meraih pedang di sampingnya dengan satu tangan. Meski awalnya ia bisa menahan beban seberat itu selama beberapa saat, akhirnya pedang itu terjatuh, menimbulkan suara yang cukup keras untuk memancing para pengawas.

"Ada apa!"

Mendobrak masuk, salah satu priest mengangkat tongkatnya, bersiap untuk melakukan perlawanan. Tapi yang ia lihat hanya lantai retak akibat pedang Sandra.

"... Aku sita!" kesal ia mengambil pedang Sandra yang tergeletak di lantai. "Besok saat pertandingan kamu boleh ambil!"

"Ja—"

Druar!

Priest itu membanting pintu sebelum Sandra sempat menjelaskan.

"Coba lihat tanganmu, mungkin aku bisa menyembuhkannya."

Tanpa punya banyak pilihan, Sandra menyodorkan tangannya yang terbalut perban. Begitu aku membuka kain penutup yang berlumuran noda darah kemerahan itu, mataku membelalak. Luka yang diterima Sandra bukanlah cedera biasa akibat irisan, melainkan bekas tusukan yang cukup dalam hingga menembus telapak tangannya. Patricia benar-benar menghujamnya habis-habisan saat insiden di arena tadi.

Awalnya aku berniat menggunakan mantra pemulihan (Healing), tetapi niat itu langsung kuurungkan. Kapasitas manaku dalam bidang penyembuhan tidak akan cukup untuk menutup luka tusuk sedalam itu dalam waktu singkat.

"Serius? Kamu masih mau lanjut dengan luka parah begini?" tanyaku sambil sedikit menekan area di sekitar lukanya.

"Aduh!" Sandra meringis spontan, meski ia mati-matian menahan tangannya agar tidak ditarik menjauh. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengaku lemah di depanku.

"Bahkan mengangkat pedang saja kamu sudah enggak bisa," lanjutku.

"Aku pasti bisa!" Sandra menarik tangannya, lalu merogoh sebuah belati kecil dari dalam sakunya. "Nah, kalau pakai ini aku tetap bisa bertarung!"

"Bukannya aturan kelas Fighter mewajibkan penggunaan pedang standar dalam pertandingan?"

"Benar juga," jawabnya dengan bahu merosot lesu. Ia perlahan menyimpan kembali belati itu ke tempat semula. "Tapi aku bisa melatih tangan kiriku untuk membawa pedang!"

"Sejak kapan kamu kidal?"

"Eh?"

"Enggak usah sok kuat. Tadi mengangkat pedang dengan tangan kiri saja langsung jatuh, apalagi dipakai bertarung sungguhan." Aku menghela napas panjang, menatapnya tajam. "Bagaimana kalau kita akhiri saja semua ini? Mundurlah dari turnamen," sambungku serius.

"... Meskipun aku kalah, setidaknya itu adalah sebuah usaha!" jawab Sandra tegas. "Kita memang bisa mengumpulkan uang untuk membeli surat kebebasan dari Count, tapi menyerah sekarang sama saja mengkhianati semua kerja keras kamu dan Steven!"

"Bagaimana kalau aku dan Steven sepakat meminta kita bertiga mundur aja?"

"Aku akan menyesali ini seumur hidupku," jawab Sandra datar. "Meskipun kalian berdua yang memutuskan hal itu, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."

"Baiklah kalau begit—"

"Sandra!"

Teriakan Steven menghentikan perbincangan kami. Di belakangnya, Patricia berdiri dengan kepala tertunduk, tampak terlalu takut untuk melangkah masuk meski Steven telah membukakan jalan.

"Steven!" Aku menarik lengan pemuda itu dan berbisik tajam. "Kenapa kamu membawa dia ke sini?"

"Dia mau minta maaf," jawab Steven singkat. "Masuklah, Patricia."

Patricia mengangguk kecil, lalu melangkah ragu-ragu sambil menghindari tatapanku.

"Soal kejadian di arena tadi... Aku benar-benar tidak punya pilihan lain," gumam Patricia pelan.

Steven menarik satu kursi kosong dan menyuruhnya duduk di sebelah Sandra.

"Terima kasih," ucap Patricia lirih.

Duduk di kursi yang telah disediakan, Patricia tiba-tiba memeluk Sandra erat-erat. Ia menangis sesenggukan. Aku yang hendak menyingkirkannya segera dicegah oleh Sandra yang balas menepuk-nepuk punggung gadis sebayanya itu dengan lembut.

Rasa kesal melihat kenaifan dua bersaudara ini membuatku langsung berniat meninggalkan ruangan. Namun, langkahku terhenti sebelum tangan ini sempat memutar kenop pintu begitu mendengar kalimat susulan yang terlontar dari mulut Patricia.

"... Kalau aku tidak melakukannya, keluargaku bakalan dihabisi!"

"Memangnya kenapa?" tanya Sandra, suaranya melemah.

"Para bandit itu sedang berjudi, dan salah satu petinggi mereka memasang taruhan besar. Syaratnya cuma satu: aku harus berhasil mendaratkan setidaknya satu poin serangan di pertandingan tadi. Mereka menyekap kedua orang tuaku, lalu mengancam akan membunuh mereka kalau aku gagal. Besok, ayah dan ibuku bakalan digantung di alun-alun Kota Lorenso..."

"Siapa mereka!" teriak Sandra kesal.

"Maaf, aku tidak bisa menyebutkan."

"Tidak bisa? Kenap—"

Steven, yang tahu konsekuensi, segera menepuk pundak Sandra.

"Jadi, tolong maafkan aku!" Patricia kembali terisak, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan. "Aku benar-benar tidak berniat mencelakaimu!"

"Sudahlah, tidak apa-apa..."

Baiklah... Inilah realitas dunia yang kami tempati. Terkadang, musuh yang paling berbahaya bukanlah Kekaisaran, melainkan mereka yang tega memanfaatkan penderitaan sesama demi meraih keuntungan pribadi. Lihatlah para bandit dan geng kriminal yang menduduki kota mati ini. Di permukaan mereka tampak melawan penjajah, tapi di balik layar mereka menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup, bahkan jika itu harus mengorbankan darah bangsa sendiri.

Aku tidak akan bersikap naif. Begitulah cara hidup manusia di tempat terkutuk ini.

Tidak ingin merusak suasana emosional di antara mereka, aku segera pergi meninggalkan ruangan.

"Kamu punya waktu sebentar?"

Tepat di ambang pintu, panitia yang mengawasiku selama pertandingan tadi menunggu. Aku sempat berniat tidak mempedulikannya, tapi...

"Lyan, ada yang mau kuomongin."

Saat itulah aku berbalik untuk melihatnya menatapku tajam.

"Kita pulang bareng."

Tidak ada pilihan lain; kami berdua keluar dari Colosseum bersama-sama. Suasana terasa cukup canggung pada awalnya, apalagi melihat cincin pendeteksi 'Mana' dan peluit yang masih ia bawa. Apakah ia sempat mendengarkan perbincangan kami di dalam? Toh... Jika ia dengar sekalipun, tidak ada hal yang terlalu mencurigakan.

Begitu berada di tikungan sepi, ia langsung menghentikan langkahnya secara mendadak. Tindakan itu membuatku menabrak punggungnya hingga terjatuh ke tanah.

"Eh! Maaf."

Ia mengulurkan tangan, tetapi aku memilih bangkit berdiri sendiri.

"Ngomong-ngomong, kenapa kita berhenti di sini?"

"Sebelumnya, perkenalkan, aku Kurtz Wenli," balas pria itu. "Warga kekaisaran dari Duchy Wellington."

Aku tidak merasa terkejut lagi tentang hal itu—marga di belakang yang tersemat pada namanya sudah jelas membuktikan ia warga negara kekaisaran murni.

"Menurutmu, bagaimana Kekaisaran?" tanyanya sambil menengadah, menatap taburan bintang di langit malam. "Apakah mereka terlalu kejam untuk dunia ini?"

Aku memilih bungkam. Salah sedikit saja dalam berucap, nyawaku taruhannya.

"Ya, dari ekspresi wajahmu sudah jelas kamu setuju dengan apa yang kuomongin barusan." Kurtz merogoh sesuatu dari balik jubah merahnya, lalu menyodorkannya ke arahku. "Ambillah, seseorang menitipkannya untukmu."

"Apa isinya?"

"Jangan dibuka—"

Tepat saat aku hendak merobek penutupnya, Kurtz langsung menyela cepat. "Jangan di sini," bisiknya sambil menggelengkan kepala.

Menyembunyikan barang itu di balik jubah, aku dan Kurtz melanjutkan perjalanan. Hingga kami tiba di pertigaan jalan, Kurtz berbalik arah menuju Kota Lorenso, sementara aku melangkah ke arah Guild yang masih buka sampai tengah malam.

"Selamat malam!"

Suara bel berbunyi begitu aku mendorong pintu. Suasana Guild tidak seramai pagi hari; tengah malam begini, hanya tersisa beberapa pemabuk berat dengan Kaslana dan dua pelayan lain yang berusaha mengendalikan situasi.

"Woi, anak kecil, jalan pakai mata!" teriak pemabuk yang tak sengaja menumpahkan minumannya ke arahku.

Melihat kejadian itu, Kaslana langsung bertindak cepat mendorong pria mabuk tersebut keluar. Ia menghampiriku sambil menyerahkan sehelai serbet dan menyuruhku mencari meja kosong di sudut.

"Maaf soal orang tadi, kondisi tempat ini memang selalu berantakan kalau sudah malam," ujar Kaslana dengan napas memburu. "Sebagai ganti rugi, malam ini pesanan makananmu aku traktir."

"Tidak perlu repot-repot," tolakku pelan.

Sempat berniat menolak, tapi begitu Kaslana menjanjikan pesanan apa saja yang aku inginkan, aku langsung mengurungkan niatku. Aku segera duduk di salah satu bangku kosong dekat meja bar. Sementara ia pergi ke dapur, dua temannya mengusir sisa pelanggan dengan berbagai cara. Begitu ruangan bersih dari bau alkohol, mereka langsung membalik papan pintu dari tulisan 'Dibuka' menjadi 'Tutup'.

Para pelanggan yang masih tertahan di luar tampak kecewa, lalu membubarkan diri satu per satu.

Sambil menunggu Kaslana menyiapkan hidangan daging bacon dan jus buah, aku memanfaatkan waktu luang untuk membaca surat pemberian Kurtz…

Nyonya Mener mengundangmu.

Membaca delapan kata singkat itu, seluruh darah di tubuhku mendadak berdesir hebat, membuat sekujur tubuhku merinding seketika.

Nyonya Mener.

"Ini pesananmu, Lyan."

Suara Kaslana membuyarkan lamunanku. Ia meletakkan sepiring daging bacon hangat dan segelas jus buah di atas meja kayu. Melihatku terdiam mematung menatap selembar kertas kecil di tangan, Kaslana memicingkan mata curiga.

"Ada apa? Surat dari penggemar rahasia?" candanya ringan, lalu duduk di kursi seberang sambil menyangga dagu.

"Bukan apa-apa," jawabku cepat, langsung melipat surat itu rapat-rapat dan menyembunyikannya ke dalam saku.

"Oh ya," sambung Kaslana dengan nada serius, mengubah topik pembicaraan. "Soal turnamen Lusa... kelas King/Saint yang kamu ikuti bakal jadi sorotan utama. Duke Welding dikabarkan akan kembali hadir untuk melihat langsung pertandingan para penyihir tingkat atas. Jadi, persiapkan dirimu."

Baiklah Duke, aku akan buktikan kemampuanku.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
ka mau masuk grup aku gak tempat berbagi cerita . dan saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!