Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6 - Si Pintar
Sheyra berbaring di tempat tidurnya sambil sibuk memainkan handphone di tangannya. Berulang kali gadis itu tertawa puas setelah melihat balasan pesan dari seberang sana. Pengirim pesan itu adalah Alvaro.
"Mampus lo. Mangkannya jangan seenaknya sendiri." kata Sheyra pelan sambil cekikikan.
Sheyra sedang mengerjai Alvaro, membuat cowok itu berkali-kali merevisi pekerjaannya. Sheyra sengaja memberikan tugas yang banyak kepada Alvaro. Namun bukannya protes, Alvaro justru melakukan semua perintah Sheyra. Hal itulah yang membuat jiwa usil Sheyra terpacu. Ia tidak ingin berhenti. Ia ingin terus mengerjai Alvaro sampai cowok itu merasa kesal.
Namun tiba-tiba Sheyra berhenti tertawa ketika ia melihat profil WhatsApp Alvaro yang tiba-tiba menjadi kosong setelah sebelumnya memakai foto profil bergambar kucing hitam. "Firasat gue gak bener kan?" gumam Sheyra.
Jarinya mengetik kata "Al?" lalu sedetik kemudian ia menekan tombol kirim. Pesan terkirim namun centang satu. Yang artinya Alvaro tidak menerima pesan yang dikirim oleh Sheyra.
Sheyra mengacak rambutnya frustasi. Jangan-jangan ia diblokir oleh Alvaro? Sheyra mencoba berpikiran positif mungkin saja Alvaro hanya sedang tidak aktif karena tidur. Sepertinya ia harus memastikannya sampai besok.
Sheyra sedih karena kehilangan hiburannya malam ini. Ia akan memejamkan mata untuk tidur tapi isi kepalanya terlalu berisik. Bagaimana jika ia benar-benar diblokir oleh Alvaro? Cowok itu pasti tidak tahan karena sangat kesal dengan ulah Sheyra. Hal itu tiba-tiba membuat Sheyra merasa bersalah. Namun tiga detik kemudian ia langsung meyakinkan diri, ‘ngapain harus merasa bersalah? Dia kan cowok egois yang gak mau ikut kerja kelompok. Bodo amat ah.’ ucapnya dalam hati untuk menenangkan diri sendiri supaya tidak merasa terlalu bersalah.
***
Sheyra mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya. Sesekali ia melihat ke arah Alvaro yang duduk jauh di depannya. Seperti biasa, mereka tidak berinteraksi apapun. Saat tidak sengaja berpapasan, Alvaro selalu membuang muka seolah mereka tidak mengenal satu sama lain. Dan seolah kejadian tadi malam tidak ada.
Pagi tadi saat bangun tidur Sheyra langsung mengecek ponselnya untuk melihat profil Alvaro. Profil cowok itu tetap kosong dan pesan yang Sheyra kirimkan pun masih tetap centang satu. Dari situ lah Sheyra benar-benar yakin bahwa Alvaro telah memblokirnya.
Hal itu benar-benar mengusik pikiran Sheyra. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan sifat Alvaro karena sebelumnya cowok itu memang selalu bersikap begitu. Namun karena kejadian kemarin malam saat Alvaro memblokirnya sungguh sangat mengganggu pikiran Sheyra. Haruskah ia meminta maaf? Ia menanyakan itu berulang kali dalam pikirannya. Namun rasa gengsinya ternyata jauh lebih besar sehingga membuatnya mengurungkan niat.
"Kelompok 5 maju" perintah dosen dari depan kelas.
Sheyra dan beberapa temannya termasuk Alvaro langsung berdiri dari tempat duduknya. Mereka semua berjalan ke depan kelas dan berdiri di sana. Setelah memperkenalkan diri, mereka mulai presentasi secara bergantian sesuai urutan masing-masing.
Setelah selesai presentasi, tibalah waktu untuk sesi tanya jawab. Anggota kelompok lain akan mengajukan pertanyaan kepada mereka dan mereka harus menjawab pertanyaan tersebut. Sheyra terlihat sedikit gugup dan menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya secara terbata-bata. Sebenarnya ia tau jawabannya, namun ia kesulitan untuk menjelaskannya di depan semua orang. Ia menyadari bahwa public speakingnya cukup buruk.
Tibalah giliran Alvaro menjawab pertanyaan. Cowok itu tidak terlihat gugup sama sekali. Dengan suaranya yang berat dan lantang, ia menjawab semua pertanyaan dengan lancar dan benar. Alvaro tidak terlihat berpikir sejenak. Jawaban itu langsung keluar dari mulutnya seolah ia telah hafal di luar kepala.
Sheyra membelalakkan matanya takjub. Ia melihat anggota kelompoknya yang lain pun ikut terkejut mendengar semua jawaban Alvaro. Satu fakta yang Sheyra dapat hari ini bahwa Alvaro adalah seorang yang cerdas. Bagaimana bisa dia hafal semua materi dengan lengkap seperti itu? Sangat jenius.
Dosen memuji semua jawaban Alvaro kemudian seluruh anak-anak di dalam kelas memberinya tepuk tangan. Kini seluruh kelas berpikir bahwa Alvaro benar-benar sempurna. Tampan dan cerdas.
Setelah sesi tanya jawab selesai, dosen mempersilahkan kelompok 5 untuk kembali duduk di bangku masing-masing. Sheyra menghela nafas lega. Akhirnya presentasinya selesai. Dosen memanggil kelompok selanjutnya untuk maju ke depan.
Sheyra berjalan menuju kursinya yang terletak di urutan kedua paling belakang. Ia melihat ke arah Keisha yang mengacungkan dua jempol kepadanya yang berarti bangga. Sheyra tersenyum senang.
Saat akan duduk di kursinya, Sheyra mendengar suara cewek yang saling berbisik, "gue bakal dapetin Alvaro."
Entah kenapa tiba-tiba timbul perasaan tidak rela dalam hati Sheyra. Perasaan yang Sheyra sendiri tidak mengerti maksudnya.
***
Hari ini adalah hari libur perkuliahan. Sheyra menuruni tangga untuk menuju ke luar rumah. Saat melewati ruang tamu ia berpapasan dengan Bundanya yang sedang membaca majalah.
“Shey berangkat dulu ya bun.” katanya sembari salim pada Bundanya.
Bunda Sheyra mengangguk, “Udah sarapan belum?” tanyanya memastikan.
“Udah dong.”
“Kalau gitu hati-hati berangkatnya. Kabarin kalau udah sampe.”
“Iya.” jawab Sheyra sebelum ia keluar dari pintu rumahnya. Sheyra mengambil sepatunya di rak depan rumah. Ia memasang sepatunya lalu memasukkan handphone ke dalam tasnya. Ia melirik ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul 08.00 kemudian mendongak melihat langit yang hari ini terlihat sangat cerah.
Sheyra keluar dari pagar rumahnya lalu menutup kembali pagar itu. Di luar rumah ia mendapati seorang bapak paruh baya yang duduk di atas motornya. “Kak Sheyra ya?” tanya Bapak itu memastikan.
”Iya Pak.” Sheyra mengangguk dengan cepat. Ojek online yang dia pesan ternyata sudah sampai tanpa dia harus menunggu. Bapak itu memberikan helm berwarna biru muda kepada Sheyra yang segera Sheyra ambil lalu memasangnya di kepala. “Bapak udah lama nunggunya? Maaf ya kalau lama.” ucap Sheyra tidak enak hati.
Bapak ojek tersebut segera tersenyum, “Ah enggak kok Kak. Baru aja satu menit nyampe eh Kakaknya udah keluar.”
Sheyra tersenyum lega mendengarnya. Kemudian Bapak ojek tersebut langsung menjalankan motornya. Sheyra sibuk memperhatikan jalanan di samping kanan dan kirinya. Ia menghirup udara pagi yang masih segar. Udara yang membuat pikirannya merasa tenang dan nyaman.
Setelah hampir 20 menit berkendara, Sheyra pun sampai ke depan tempat tujuannya. Ia turun dari motor dan segera membayar. Setelah mengucapkan terima kasih, Bapak ojek itu pun menghilang dari pandangannya.
Sheyra berdiri di depan daycare ‘taman pelangi ceria’— sebuah tempat penitipan bayi dan anak-anak mulai dari usia 3 bulan sampai 6 tahun. Daycare ini dikelola langsung oleh tantenya, yang merupakan adik dari Bundanya. Seperti biasa ketika libur kuliah ataupun saat ia tidak terlalu sibuk, Sheyra selalu menyempatkan waktu membantu Tantenya mengurus daycare.
Sebenarnya di dalam daycare pun sudah banyak staf yang cukup untuk menghandle anak-anak. Namun, Sheyra memang suka datang membantu untuk menghilangkan rasa bosannya. Lebih baik mengurus anak kecil di daycare daripada harus berdiam diri di rumah saja. Apalagi Sheyra sangat menyukai anak kecil. Jadi ia melakukannya dengan sepenuh hati.
Melihat keponakannya yang sering datang membantu, biasanya setiap bulan Tante Sheyra akan memberikan Sheyra gaji. Awalnya Sheyra sempat menolak karena ia tidak mengharapkan gaji. Namun setelah berulang kali dipaksa untuk menerimanya akhirnya Sheyra menerima gaji itu. Sheyra sangat bersyukur mendapatkan gaji tersebut. Pikirnya lumayan untuk menambah uang jajan.
^^^Bersambung…^^^