NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:87.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Rencana di Balik Senyuman

Suara Jayadi terdengar tegas hingga membuat tangan Caca berhenti di udara.

Caca mengerutkan kening. "Cuma dipakai sebentar, Yah."

"Tetap gak boleh." Sorot mata Jayadi menunjukkan keseriusan.

"Kenapa sih?" Caca mengerucutkan bibirnya. "Kan besok juga jadi punya Kak Nara."

Cepi ikut menyela, "Iya, Yah. Cuma dipakai sebentar. Lagian Caca cuma mau bikin konten."

Jayadi menatap istri dan putrinya bergantian. "Kalian gak kenal Pak Wicaksono."

Nada suaranya membuat Cepi terdiam.

"Barang-barang ini dikirim untuk Aynara. Jadi jangan ada yang menyentuhnya tanpa izin." Jayadi melirik kotak perhiasan itu. "Apalagi kalau sampai dipakai untuk konten dan masuk media sosial. Kalau sampai dilihat Pak Wicaksono, kita gak tahu apa yang akan beliau lakukan."

Caca mendengus. "Yah, jangan lebay, deh."

"Bukan lebay." Jayadi menggeleng. "Ayah cuma gak mau cari masalah dengan orang seperti beliau."

Caca akhirnya menarik tangannya kembali dengan wajah kesal.

Jayadi kemudian menoleh kepada Aynara. "Nara, bawa semua barang itu ke kamarmu. Jangan sampai ada yang rusak."

Aynara mengangguk. "Iya, Yah."

Ia kemudian membawa kotak-kotak tersebut satu per satu menuju kamarnya, meninggalkan Caca dengan kekesalannya.

***

Malam semakin larut, satu per satu lampu di rumah Jayadi padam.

Jayadi sudah terlelap di sampingnya, namun Cepi masih terjaga. Ia membolak-balikkan tubuh di atas kasur. Bayangan Wicaksono terus muncul di kepalanya.

Jam tangan yang dikenakannya, cincin akik besar dengan batu yang terlihat begitu berharga, tongkat kayu berkualitas, dan mobil hitam mengilap.

Kemudian ia teringat lagi pada gaun pengantin, sepatu, dan satu set berlian yang dikirimkan untuk Aynara.

Cepi membuka matanya. "Kalau Nara benar-benar menikah ke keluarga itu, hidupnya pasti bakal enak."

Ia mendengus pelan. Padahal menurutnya, yang lebih pantas mendapatkan kehidupan seperti itu adalah Caca. Seharusnya Caca yang menikah. Namun, Wicaksono tidak mau menukar Aynara dengan putrinya.

Cepi mengepalkan tangan di atas selimut. Kalau pernikahan itu dibatalkan, keluarganya harus membayar lima miliar.

Lima miliar. Jumlah yang bahkan tidak mungkin mereka kumpulkan seumur hidup.

Tiba-tiba Cepi terdiam, matanya perlahan membesar. Sebuah pikiran muncul begitu saja di kepalanya.

"Tunggu. Kalau pihak kami yang membatalkan, memang akan dikenakan denda. Tapi... gimana kalau justru pihak Wicaksono yang membatalkan pernikahan?"

Cepi bangkit setengah duduk, sudut bibirnya perlahan terangkat. "Kalau Pak Wicaksono yang membatalkan..." bisiknya. Matanya berbinar. "...berarti kami dapat lima miliar, 'kan?"

Senyumnya semakin lebar. Dan malam itu, sebuah niat buruk mulai tumbuh di kepala Cepi.

Ia tidak lagi ingin mengubah pengantin. Ia ingin menghancurkan pernikahan itu.

***

Pagi itu, usai dirias Aynara keluar dari kamarnya. Gaun pengantin yang dikenakannya memang tidak berlebihan, potongannya sederhana, tetapi elegan dengan bahan berkualitas yang jatuh mengikuti bentuk tubuhnya. Sepatu yang diberikan keluarga Wicaksono melengkapi penampilannya, sementara satu set perhiasan berlian membuat penampilannya terlihat semakin anggun.

Dengan tinggi sekitar seratus enam puluh sentimeter dan tubuh yang proporsional karena terbiasa mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, Aynara tampak jauh berbeda dari biasanya.

Cepi terdiam, begitu pula dengan Caca. Ada rasa iri yang sulit disembunyikan di mata keduanya.

Caca memang lebih pendek, sekitar seratus lima puluh tiga sentimeter. Tubuhnya pun tidak terbentuk sepadat Aynara karena sebagian besar waktunya dihabiskan dengan duduk sambil bermain ponsel.

"Cantik..." gumam Jayadi tanpa sadar.

Aynara tersenyum kecil. Namun, Cepi segera mengalihkan pandangan. Ia tidak suka melihat Aynara terlihat secantik itu. Apalagi hari ini Aynara akan menikah dengan keluarga kaya.

Cepi lalu mengambil segelas jus yang sudah disiapkannya. "Nara, diminum dulu. Biar kamu punya tenaga. Perjalanan ke sana juga lumayan jauh."

"Terima kasih, Bu." Aynara menerima gelas itu tanpa curiga. Ia meminumnya beberapa teguk.

Cepi hanya tersenyum tipis. Ia tahu sesuatu yang tidak diketahui Aynara. Bahan yang digunakan dalam minuman itu pernah beberapa kali membuat alergi Aynara kambuh. "Ini bakal jadi hari yang tak terlupakan bagimu."

"Semua sudah siap?" tanya Jayadi sambil memandang Aynara, Cepi, dan Caca bergantian.

Karena tidak ada yang menjawab dan melihat semuanya sudah rapi, Jayadi akhirnya berkata, "Kita berangkat."

Aynara menarik napas panjang. Hari yang selama ini tidak pernah ia bayangkan akhirnya tiba. Hari ini, ia akan menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Dan setelah hari ini, ia harus melepaskan Langlang. Dadanya terasa sesak. Ia ingin menangis, tetapi tidak ingin membuat ayahnya semakin sulit.

Sebelum masuk ke mobil, Aynara tanpa sadar menoleh ke arah jalan di depan rumah. Entah kenapa, hatinya berharap bisa melihat seseorang. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Aynara akhirnya masuk ke dalam mobil.

Tanpa diketahui Aynara, beberapa puluh meter dari rumah itu, seorang pria berdiri di balik sebuah warung yang masih tutup. Langlang.

Sejak tadi ia berada di sana. Ia melihat Aynara keluar dari rumah dengan gaun pengantin. Melihat wanita yang dicintainya berjalan menuju mobil. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

Ia ingin menghentikannya. Ingin berlari dan membawa Aynara pergi. Namun, kedua kakinya terasa berat. Ia tahu dirinya tidak punya apa-apa untuk melawan keluarga Wicaksono. Bahkan sekarang ia belum memiliki pekerjaan tetap.

Apa yang bisa ia berikan kepada Aynara?Langlang hanya bisa berdiri diam ketika mobil itu mulai bergerak meninggalkan pekarangan.

Matanya mengikuti mobil tersebut hingga semakin jauh, kemudian melaju menyusuri jalan desa.

"Nara..."

Suaranya nyaris tak terdengar. Langlang menundukkan kepala. Hari itu, wanita yang dicintainya benar-benar pergi. Dan ia tidak mampu melakukan apa pun untuk menghentikannya.

Beberapa saat setelah mobil melaju, Aynara mulai merasa ada yang tidak beres. Hidungnya terasa gatal, ia mengusapnya pelan.

"Kenapa..." gumamnya dalam hati.

Ia mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman itu. Namun, beberapa detik kemudian, rasa gatal mulai menjalar ke wajahnya.

Aynara mengerutkan kening. "Kayaknya alergiku kambuh."

Aynara mencoba mengingat kembali apa saja yang ia makan pagi itu. "Aku cuma makan roti bakar dan..."

Kalimatnya terhenti, tatapannya perlahan beralih kepada Cepi yang duduk di sebelah kanannya.

Jus.

"Jangan-jangan..."

Jantung Aynara berdegup lebih cepat. Ia tidak ingin percaya bahwa ibu tirinya tega melakukan hal seperti itu.

Beberapa menit kemudian, kulit di sekitar pipinya mulai terasa panas. Rasa gatal perlahan menjalar ke wajahnya.

"Kenapa, Nara?" tanya Jayadi dari kursi depan.

"Gak tahu, Yah. Mukaku agak gatal." Aynara berusaha menahan diri agar tidak menggaruk, apalagi bagian wajahnya.

Cepi segera memasang wajah khawatir. "Mungkin karena tegang. Namanya juga mau nikah."

Caca yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya langsung mengangkat wajah. Pandangannya berpindah ke wajah Aynara yang mulai memerah.

"Kak Nara..." gumamnya. Ia memperhatikan bintik-bintik kemerahan yang mulai muncul di pipi Aynara. "Kok muka Kakak jadi merah?"

"Kayaknya alergiku kambuh," jawab Aynara.

Caca mengerutkan dahi. "Alergi?"

Cepi cepat-cepat menyela, "Mungkin karena gugup."

Aynara kembali menatap Cepi. Ada sesuatu dalam tatapan ibu tirinya yang membuat perasaannya semakin tidak nyaman. Ia mulai curiga, namun Aynara tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya mengusap pelan wajahnya yang semakin gatal sambil berusaha menenangkan diri.

"Hari pernikahanku bahkan belum dimulai, tapi..." Aynara memejamkan matanya mencoba menenangkan dirinya.

 

...🔸🔸🔸...

..."Ketika iri dibiarkan tumbuh, ia dapat mengubah kasih sayang menjadi keinginan untuk menjatuhkan orang lain."...

..."Terkadang, mencintai seseorang bukan berarti mampu memilikinya. Ada kalanya cinta hanya mengajarkan kita betapa sakitnya melepaskan orang yang paling kita sayangi."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Regan yang sedang berada di taman rumah sakit, dadanya terasa nyeri sejak melihat Asti menangis.

Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.

Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.

Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.

Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.

Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Anonim
Berkas-berkas yang dibawa Gunadi untuk diperiksa Regan, sudah diperiksa semua.

Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.

Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.

Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.

Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Anonim
Regan ingin pulang, merasa sudah baik dan tidak ada keluhan apapun.

Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.

Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Anonim
Doni menyuruh seseorang mengunggah kecelakaan yang menimpa Aksa.

Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.

Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Anonim
Doni mengusik keluarga Wicaksono dengan menyuruh seseorang untuk menyebarkan kabar tentang kondisi Aksa Wicaksono setelah kecelakaan.

Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.

Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Doni nanti musuhnya Regan. G
Anonim
Gunadi sudah berada di ruangan dokter yang menangani Aksa.


Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.

Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.

Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.

Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.

Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.

Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Anonim
Andai kakek Wicaksono sadar dari koma, beliau pasti bisa langsung mengenali cucunya.

Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.

Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.

Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.

Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.

Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Anonim
Asti juga merasa ada yang janggal. Aksa aekarang seperti bukan dirinya.

Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Anonim
Aynara emosinya mudah tersulut setiap berada di dekat Aksa. Apalagi melihat wajah Aksa, ia langsung ingat semua perkataan yang sangat menyebalkan.

Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.

Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.

Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Anonim
Regan seperti tak habis pikir, Aynara bisa memaafkan Aksa.

Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.

Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.

Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.

Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.

Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Anonim
Aynara selesai mengetik nomornya di ponsel Regan. Untuk memudahkan berkomunikasi.

Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.

Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.

Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.

Aynara memaafkan Aksa.
Anonim
Aynara datang, Asti belum pergi.

Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.

Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.

Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.

Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.

Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.

Aynara menyelesaikan ceritanya.

Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Anonim
Regan dengan ponselnya menghubungi Joseph ketika Asti baru di dalam kamar mandi.

Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.

Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.

Juga tentang pekerjaan Aksa.

Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Anonim
Doni anaknya Ria, gundiknya ayahnya Aksa yang mencelakai Aksa ya.

Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Anonim
Mereka tahu kecelakaan cukup parah. Sopir meninggal di tempat. Mobil mengalami rusak parah.

Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.

Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Anonim
Siapa yang datang ?
Anonim
Regan diperiksa dokter - katanya dari pemeriksaan awal, ada tanda gangguan ingatan 😄. Padahal kenyataannya Regan akting mendalami 6perannya sebagai Aksa yang dia masih bingung mau bagaimana.

Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.

Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.

Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Anonim
Aynara memanggil dokter, yang tidak lama kemudian datang.

Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.

Bikin Asti khawatir saja nih.
Anonim
Regan mulai memainkan perannya sebagai Aksa yang bingung mau bicara apa.

Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.

Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.

Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.

Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.

Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.

Regan membuat hidupnya rumit sendiri.
Anonim
Regan memang pinter otaknya cerdas. Kalau tidak, mana mungkin dia dengan cepat bisa punya inisiatif memakai identitas Aksa yang kebetulan wajahnya mirip dengannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!