NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32: Strategi Halus

Pagi itu, meja makan kayu jati yang biasanya hening mendadak penuh sesak. Udara dapur yang harum oleh aroma lontong sayur komplit dan gurihnya rendang buatan Ayu menyelimuti ruangan.

Namun, kehangatan makanan tersebut tak mampu mencairkan hawa dingin yang berhembus di antara orang-orang yang duduk mengelilingi meja.

Kakek Subroto duduk di ujung meja, memimpin suasana dengan wajah berwibawa yang sulit ditebak. Di sisi kirinya, Nenek Farida duduk memangku Moana yang sudah terlihat jauh lebih segar, meski perban di keningnya masih menempel rapi.

Sintia duduk di sebelah Nenek Farida, berhadapan langsung dengan Kenzo dan Lea. Sementara Yoga dan Ayu duduk di sisi kanan, berdampingan rapat.

Ayu melayani suaminya dengan kelembutan dan telaten. Ia menyendokkan lontong dan kuah sayur gurih ke piring Yoga, lalu menuangkan teh hangat tanpa cela.

Setiap gerak-gerik Ayu begitu tenang, anggun, dan penuh pengabdian, sebuah pemandangan yang membuat hati Sintia kian panas terbakar cemburu di balik wajah cantiknya yang terpoles sempurna.

Sintia meraih cangkir tehnya, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali ke piring tatakan dengan bunyi berdenting yang sengaja dibuat agak keras.

"Mas Yoga..." panggil Sintia dengan nada suara yang sengaja dibuat sehalus dan semanis mungkin, hingga memecah kesunyian meja makan. "Gimana pekerjaan proyek kontraktor kamu yang di BSD itu? Kemarin Papi cerita kalau klien kamu di sana sempat tanya-tanya soal kamu ke Papi."

Yoga mendongak, lalu menghentikan suapannya. Wajahnya yang tegang agak mereda tatkala membahas topik pekerjaan. "Oh, proyek yang itu... Alhamdulillah lancar, Sin. Berkat masukan dan koneksi dari Papi juga dulu, progresnya sekarang sudah delapan puluh persen."

Kakek Subroto mengangguk-angguk pelan, seraya menyesap kopi hitamnya. "Bagus kalau begitu, Yoga. Bisnis itu harus dijaga reputasinya. Dulu sewaktu Ratna masih ada, dia selalu rajin mendampingi kamu ke acara-acara kumpul pengusaha, kan? Ratna itu paham betul bagaimana menjaga wibawa kamu sebagai pimpinan perusahaan."

Sintia tersenyum lebar, lalu melirik Ayu dari sudut matanya dengan tatapan meremehkan. "Iya, Pi. Mbak Ratna kan lulusan sarjana komunikasi, wawasannya luas, pinter wirausaha, dan mengerti pergaulan kelas atas. Jadi Mas Yoga selalu bangga kalau bawa Mbak Ratna ke mana-mana."

Sintia sengaja menggantungkan kalimatnya, lalu menatap Ayu secara gamblang.

"Kalau sekarang... Mas Yoga gimana? Apa istri barunya sering diajak ke acara relasi bisnis? Atau... lebih sering ditinggal di rumah karena gak nyambung kalau diajak ngobrol soal bisnis?" tanya Sintia dengan nada polos yang berbisa, secara terang-terangan merendahkan latar belakang Ayu yang mantan guru privat.

Lea yang mendengar sindiran halus itu tak mampu menahan tawa kecilnya. Ia menyenggol lengan Kenzo yang duduk di sampingnya, sementara Kenzo hanya mengulas senyum sinis yang tipis.

Suasana meja makan seketika berubah tegang. Yoga meletakkan sendoknya, dan rahangnya mengetat keras. Pria itu siap meledakkan amarahnya membela sang istri.

Namun, sebelum Yoga sempat membuka suara, Ayu lebih dulu menyentuh lengan suaminya dengan lembut. Ayu mengulas senyum paling teduh, lalu menatap Sintia tanpa ada raut dendam atau minder sedikit pun di wajahnya.

"Mbak Sintia benar," tutur Ayu dengan suara yang sangat tenang dan santun. "Almarhumah Mbak Ratna adalah sosok wanita yang sangat luar biasa, cerdas, dan tentu tak tertandingi. Saya sangat menghormati beliau. Tugas saya saat ini bukan untuk menyaingi kehebatan almarhumah dalam urusan bisnis Mas Yoga, melainkan memastikan Mas Yoga bisa bekerja dengan tenang karena kebutuhan rumah tangga dan kesehatan anak-anak di rumah ini terurus dengan baik."

Jawaban Ayu yang begitu matang, merendah tanpa kehilangan martabat, seketika membuat Sintia bungkam. Sintia tidak menyangka wanita muda di hadapannya memiliki ketenangan mental yang begitu kokoh.

Nenek Farida yang duduk di samping Moana memperhatikan interaksi itu dengan cermat. Ucapan tulus Moana tadi malam tentang kebaikan Ayu kembali berputar di kepalanya.

Wanita tua itu melirik Sintia dengan tatapan yang mulai diliputi rasa curiga, dan menyadari bahwa putri bungsunya itu tampak sangat agresif dan sengaja memprovokasi suasana.

"Sudah, sudah," sela Nenek Farida tenang namun tegas. "Di depan rezeki tidak boleh adu mulut. Sintia, makan makananmu."

Sintia mengepalkan tangannya di bawah meja, seraya menggigit bibir dalamnya oleh rasa jengkel yang membuncah karena rencananya untuk mempermalukan Ayu di depan Kakek Subroto gagal total.

Setelah sarapan pagi selesai, Kakek Subroto dan Nenek Farida berpamitan untuk kembali ke Bandung. Yoga mengantar mantan mertuanya ke depan mobil, sementara Ayu membantu Bibi Minah membawakan beberapa oleh-oleh dan wadah kue yang sudah disiapkan untuk dibawa pulang.

Sebelum masuk ke dalam mobil, Nenek Farida menggenggam tangan Ayu dengan pelan. Ada binar kehangatan yang amat tipis di mata wanita tua itu.

"Ayu..." panggil Nenek Farida lirih.

Ayu terkejut, dan menatap Nenek Farida dengan hormat. "Iya, Ibu?"

"Titip Moana ya," bisik Nenek Farida. "Rawat dia baik-baik... dan bersabarlah menghadapi Kenzo dan Lea."

Ayu menahan napasnya yang tercekat oleh rasa haru yang luar biasa. Ia mengangguk cepat, kemudian mencium tangan Nenek Farida dengan tulus. "Baik, Ibu... Terima kasih banyak. Hati-hati di jalan."

Sintia yang berdiri di samping mobil menatap momen itu dengan mata membelalak tak percaya. Hatinya panas bukan main melihat ibunya sendiri mulai luluh pada Ayu.

Sebelum masuk ke mobil, Sintia sempat melangkah mendekati Kenzo dan Lea yang berdiri di teras.

"Kenzo, Lea..." bisik Sintia cepat dengan nada menekan. "Tante pulang dulu ke Bandung. Tapi kalian ingat pesan Tante semalam, ya? Jangan sampai luluh cuma gara-gara akting manisnya! Kalau ada apa-apa, langsung telepon Tante!"

Lea mengangguk mantap. "Pasti, Tante Sintia! Lea gak akan pernah luluh!"

Mobil sedan hitam itu akhirnya melaju meninggalkan pelataran rumah. Kepulangan keluarga besar almarhumah Ratna meninggalkan hembusan napas lega bagi Yoga, namun tidak bagi ketenangan di dalam rumah.

______

Siang harinya, rumah megah itu kembali sepi. Yoga sudah berpamitan berangkat ke kantor untuk menyelesaikan beberapa dokumen penting yang tertunda, sementara Moana tertidur lelap di kamarnya setelah minum obat.

Ayu berdiri di ruang tengah, sambil membawa satu nampan berisi dua gelas jus jeruk segar dan piring kue kering. Ia memutuskan untuk memanfaatkan momen mumpung Yoga sedang tidak ada di rumah untuk kembali mendatangi kedua anak tirinya dan berusaha membuka ruang dialog tanpa ada paksaan dari sang ayah.

Ayu berjalan menaiki tangga melingkar, menuju balkon lantai dua tempat Kenzo dan Lea sedang duduk bersantai.

Di balkon yang sejuk ditiup angin siang itu, Kenzo sedang sibuk mengutak-atik gitar akustiknya, sementara Lea duduk mengayunkan kakinya di atas kursi gantung seraya memainkan ponsel.

Langkah kaki Ayu yang pelan membuat kedua remaja itu menoleh. Seketika itu juga, raut santai di wajah Kenzo dan Lea lenyap, berganti menjadi tembok pertahanan yang dingin dan dipenuhi rasa permusuhan.

"Ngapain ke sini?" cetus Lea ketus, seraya memalingkan wajahnya ke arah taman bawah.

Ayu mengulas senyum lembut, lalu meletakkan nampan berisi jus segar di atas meja kaca di antara mereka.

"Ibu buatkan jus jeruk segar buat kalian," tutur Ayu halus, kemudian duduk perlahan di salah satu kursi kayu. "Hari ini udaranya cukup panas, bagus untuk menjaga daya tahan tubuh kalian."

Kenzo tidak menyentuh gitar akustiknya lagi. Ia menyandarkan badannya, dan menatap Ayu dengan pandangan mata yang datar, tajam, dan sarat akan penolakan.

"Kita gak minta dibawain minum," ujar Kenzo dingin, suaranya rendah namun terdengar menusuk.

Ayu menatap Kenzo dan Lea bergantian. Ia menarik napas panjang untuk menata keberanian di dalam dadanya.

"Kenzo... Lea..." panggil Ayu dengan ketulusan murni yang memancar dari matanya. "Ibu tahu... sampai detik ini kalian sangat membenci Ibu. Kalian menganggap Ibu sebagai penyebab hancurnya kehangatan rumah ini, dan kalian menyalahkan Ibu atas musibah yang menimpa Moana."

Lea mendengus keras, sambil bersedekap dada. "Bagus kalau Tante sadar diri!"

"Ibu sangat sadar diri, Lea," balas Ayu lembut, matanya mulai berkaca-kaca namun ia menahan agar air matanya tidak luruh. "Ibu tahu Ibu tidak akan pernah bisa menggantikan almarhumah Mama kalian. Ibu juga tidak punya niat sedikit pun untuk menghapus kenangan indah kalian bersama Mama."

Ayu memajukan posisinya sedikit, dan menatap Kenzo lurus-lurus.

"Tapi Ibu mohon... pandanglah Ibu sebagai seseorang yang ingin merawat kalian, seseorang yang ingin memastikan kalian tidak merasa sendirian saat Papa kalian sibuk bekerja. Jika kalian marah atas kelalaian Ibu pada Moana, hukumlah Ibu... tapi tolong jangan siksa diri kalian sendiri dengan terus-menerus menyimpan dendam di rumah ini."

Keheningan yang amat pekat mendadak menyergap balkon lantai dua tersebut.

Kalimat-kalimat jujur yang diucapkan Ayu dengan ketenangan yang luar biasa itu bergetar di udara siang. Untuk sejenak, ada benturan hebat di dalam benak Kenzo dan Lea.

Ketulusan di mata Ayu yang begitu jernih, dipadukan dengan pengakuan polos Moana dan perlakuan hangat Ayu sepanjang hari, mendadak menggoyahkan keteguhan rasa benci yang selama ini mereka pupuk.

Kenzo membisu. Jemarinya yang memegang leher gitar gemetar halus. Ada benih keraguan yang mendadak memercik di dalam hati remaja laki-laki itu, sebuah pertanyaan yang membisik pelan: Apakah Tante Ayu memang sungguh-sungguh tulus? Apakah selama ini kami yang terlalu buta oleh rasa cemburu?

Namun, sebelum benih keraguan itu sempat tumbuh menjadi kelembutan hati, bayangan wajah Tante Sintia dan racun pesan yang ditanamkan semalam mendadak terlintas di kepala Lea.

Lea mengepalkan tangannya rapat-rapat, menghentakkan kakinya ke lantai balkon, lalu berdiri secara mendadak.

"Gak usah sok puitis!" teriak Lea, memutus keheningan dengan suara yang melengking. "Tante pikir dengan ngomong kayak gini kita bakal tersentuh?! Nggak akan, Tante! Tante Sintia benar... Tante itu cuma pura-pura polos biar kita kasihan!"

Lea menyambar gelas jus jeruk buatan Ayu di atas meja, lalu tanpa ragu menyiramkan isinya ke lantai batu balkon, tepat di dekat kaki Ayu.

PRANG!

Gelas kaca itu terlepas dari genggaman Lea, hingga pecah berkeping-keping di atas lantai, membiaskan cairan oranye dan pecahan kaca yang berserakan.

Ayu terperanjat kaget, dan refleks menarik kakinya ke belakang.

Kenzo pun berdiri dengan cepat dari kursinya, matanya membelalak menatap perbuatan adiknya. "Lea!"

Lea menatap Ayu dengan napas memburu dan air mata amarah yang kembali menetes. "Jangan pernah coba-coba dekati kita lagi! Kita gak butuh jus Tante, dan kita gak akan pernah butuh Tante di rumah ini!"

Lea berbalik dan berlari kencang menuju kamarnya.

Di atas balkon yang sejuk, Ayu berdiri mematung menatap pecahan kaca dan genangan jus jeruk di lantai. Hatinya terasa begitu perih, diiris oleh penolakan yang tak kunjung usai.

Kenzo menatap pecahan kaca itu, lalu menatap Ayu yang berdiri menunduk dengan bahu yang berguncang pelan.

Untuk pertama kalinya, ada pendar penyesalan dan rasa tidak tenang yang sangat besar terpancar di mata Kenzo saat melihat punggung ibu tirinya yang tampak begitu rapuh namun tetap berusaha tegar berdiri di balik ujian yang tak bertepi.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!