“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlawanan Istri
Hingga pagi hari tiba, Hulya terbangun dari tidurnya. Ia keluar dari kamar untuk mencari keberadaan suaminya. Hulya Anindita menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumah. Wanita itu sama sekali tidak melihat keberadaan siapa pun di sana.
"Mas Affan ke mana, sih?" ucapnya.
"Tadi malam kan dia udah pulang. Apa dia pergi pagi-pagi?"
Sekarang Hulya Anindita tinggal sendirian di rumah. Suaminya pergi entah ke mana. Wanita itu segera membereskan barang-barang mereka yang belum sempat dirapikan.
Waktu terus berjalan. Hulya baru saja pulang dari luar setelah membeli bahan masakan yang dijual oleh abang-abang sayur di depan. Saat Hulya Anindita sedang memasak, terdengar suara bel berbunyi.
"Siapa yang datang?" ucapnya.
Perlahan wanita itu melangkahkan kaki menuju luar. Namun, sebelum sampai di depan pintu, tamunya lebih dulu masuk ke dalam. Maria, orang tua Affandy sekaligus mertuanya, datang ke rumah itu.
"Mami," ucap Hulya sambil tersenyum manis.
Maria pun membalas senyuman Hulya. Sejenak, mereka berdua berpelukan. Maria menatap lekat wajah wanita itu. Sepertinya ada yang aneh dengan keadaan menantunya.
"Andy buat apa sama kamu?" tanyanya.
"Maksud Mami?" tanya Hulya.
"Mata kamu, kenapa?" tanya Maria. "Nangis semalaman?"
"Enggak, Mi. Ini Hulya lagi masak. Tahu, lah, kalau lagi iris bawang." Hulya mencoba berbohong.
"Jangan bohong, Hulya."
"Hulya nggak bohong, Mami. Kalau Mami nggak percaya, bisa ikut Hulya."
Perempuan berhijab itu merangkul lengan ibu mertuanya. Maria mengikuti langkah Hulya menuju dapur.
Maria melihat bahwa Hulya memang sedang memasak. Namun, keadaan mata Hulya jelas bukan hanya karena mengiris bawang.
"Sekarang Mami percaya, kan?"
Maria terdiam dan masih menatap lekat wajah menantunya. "Andy mana?" tanya Maria.
"Dia udah pergi ke kantor," jawab Hulya.
"Kamu ngapain masak? Ini 'kan masih pagi."
"Hulya mau bawain makanan buat anak Mami. Soalnya tadi dia nggak sempat makan."
"Oh ... Kalau begitu, Mami pulang aja. Kamu juga sibuk."
"Eh, nggak usah. Mami di sini."
"Lain kali aja kita ngobrolnya. Lagian kamu mau bahagiain anak Mami."
Hulya tersenyum simpul, Maria tidak sempat bertamu lama di rumah itu. Ia langsung pulang karena menantunya sedang sibuk.
[] [] []
Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Hulya sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor suaminya. Wanita itu berharap Affandy akan luluh kepadanya setelah ia membawakan makanan tersebut.
Tanpa menunggu lama lagi, Hulya Anindita pergi dengan mengendarai taksi online. Senyum manis terukir di wajahnya.
Hanya belasan menit, Hulya sampai di kantor tempat Affandy dan Gerald bekerja. Keduanya memang sama-sama mengelola perusahaan tersebut, sedangkan orang tua mereka sibuk dengan perusahaan lainnya.
"Hulya," sapa Gerald ketika wanita itu sampai di lobi perusahaan.
"Bang, Gerald."
"Mau ketemu Andy?" tanyanya.
"Iya, Bang."
"Dia baru datang itu."
"Baru datang?" tanya Hulya. "Tapi dia udah berangkat dari tadi."
"Kamu jangan salah paham dulu. Mungkin dia rapat di luar."
Hulya tersenyum manis. Tiba-tiba matanya tertuju pada sosok laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Affandy Frazendra. Laki-laki itu sudah berada di belakang Gerald Frazendra.
"Hulya."
"Mas Affan."
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Affandy dengan wajah tegas.
"Aku bawain kamu makanan. Kamu kan nggak sempat makan tadi."
Affandy menggenggam lengan gadis itu. Betapa senangnya hati Hulya ketika suaminya untuk pertama kalinya menyentuh dirinya.
"Ikut aku."
Dengan langkah cepat, Hulya pun menyeimbangi langkah kaki suaminya. Wanita berkerudung itu mengikuti Affandy masuk ke dalam ruangan.
[] [] []
Setelah menutup pintu, Affandy menepis kasar tangan istrinya.
"Kasar banget. Pelan-pelan kan bisa," ucap Hulya.
"Ngapain kamu datang ke kantorku?"
"Aku kan udah bilang, aku bawain ini buat kamu," jawab Hulya sambil menunjukkan makanan yang ia genggam.
"Kamu mau buat aku malu?"
"Mana mungkin aku buat suamiku malu. Kamu ada-ada aja."
"Hulya! Kamu nggak perlu senyum. Aku nggak akan luluh sama kamu."
"Masalah kamu apa, sih? Marah-marah nggak jelas."
"Masalahku karena kamu. Kenapa harus kamu yang jadi istriku?"
"Terus aku yang salah? Kan kamu sendiri yang mau menerima pernikahan ini," ucap Hulya.
"Iya. Itu sebelum aku tahu kalau kamu seperti ini."
"Emangnya ada yang salah sama aku?" tanyanya.
"Salah!"
"Salahnya di mana, Mas?"
"Salah karena kamu berpakaian seperti ini."
"Aku seperti ini untuk kamu, suamiku."
"Aku bukan suamimu."
"Suamiku."
"Bukan!" ucap Affandy tegas.
"Suamiku."
"Bukan."
"Hulya!"
"Jangan marah. Kamu tambah ganteng."
"Najis! Mendingan kamu pulang sekarang."
"Kalau aku nggak mau?"
"Kamu nantangin aku?" tanya Affandy sambil mendekati Hulya.
"Kamu bilang aku bukan istrimu. Kok kamu deketin juga?"
"Kamu nyebelin, ya."
Hulya mengembuskan napas perlahan. "Sekarang kamu makan dulu, ya. Kamu pasti lapar, kan?"
Hulya meletakkan makanan tersebut di atas meja. Ia menyiapkan makanan itu dengan penuh keikhlasan.
"Nanti makan siang, kamu telepon aku aja. Aku pasti masakin buat kamu."
Setelah menyiapkan semuanya, Hulya beralih kepada Affandy.
"Kok diam, sih?"
"Hulya, kamu pulang sekarang."
"Kamu makan dulu."
"Pulang sekarang, Hulya. Kamu jangan pancing amarahku."
"Kamu makan, ya." Hulya masih mencoba membujuk suaminya.
"HULYA!"
Ceklek!
Pintu terbuka. Seorang pria berperawakan rapi lengkap dengan jas sudah berdiri di depan pintu.
"Affan. Kamu bentak Hulya?" tanya Gerald.
"Bentak? Enggak, Bang. Abang salah dengar kali," ucap Hulya tiba-tiba.
Gerald mulai heran. Ia ingin bertanya lebih lanjut, tetapi tidak memiliki waktu karena harus segera keluar untuk meeting.
"Jaga nada suara kamu, Andy. Banyak karyawan di luar."
"Iya, Bang."
Gerald keluar dari ruangan itu. Kembali, tatapan Affandy mengarah kepada istrinya.
"Kamu pikir dengan kamu membela aku di depan Abang, aku akan baik sama kamu? Nggak akan, Hulya."
"Aku nggak kepikiran ke situ, kok. Nggak usah kepedean, deh."
"Pulang, Hulya."
"Aku akan pulang. Tapi setelah kamu makan, ya."
Affandy kembali mendekati Hulya. Ia menggenggam kuat kedua bahu wanita itu.
"Kamu jangan sampai nyesal, Hulya, kalau aku melakukan sesuatu sama kamu."
"Sakit, Mas."
"Kamu udah menantang aku, kan?"
"Lepasin. Sakit!"
"Ini yang kamu mau tadi." Remasan itu semakin kuat pada kedua bahu Hulya.
"Lepasin. Aku mohon."
"Aku udah coba bicara baik-baik sama kamu. Tapi kamu nggak mau ngerti juga."
"Mas, sakit ... Sadar, Mas. Aku istri kamu."
Affandy mendorong tubuh Hulya ke belakang hingga kepala gadis itu sedikit terbentur dinding.
"Sakit?" tanya Affandy.
"Itu yang kamu mau, kan?"
"Aku istri kamu. Kenapa kamu kasar sama aku?" Hulya mengusap bahunya yang terasa perih.
"Kamu istri aku itu menurutmu. Kalau menurutku, kamu itu hanya benalu."
Hulya kembali mengusap bahunya yang terasa sakit akibat cengkeraman Affandy.
"Kamu pulang sekarang. Jangan sampai kamu menyesal."
"Kamu jahat!"
Tanpa berlama-lama lagi, Hulya pergi begitu saja dari ruangan itu. Perasaannya sungguh sakit ketika Affandy bersikap kasar kepadanya.
Di dalam ruangan, Affandy sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang telah ia perbuat kepada istrinya. Bahkan, di dalam pikirannya, yang ada hanyalah umpatan-umpatan buruk kepada wanita yang kini telah menjadi istrinya.