Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang Malam Kelam
Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya, Azka. Bocah laki-laki berusia tiga tahun itu adalah separuh jiwanya—alasan utama mengapa ia tetap berdiri tegap menantang kerasnya takdir. Namun, di balik tawa polos Azka, terdapat rahasia kelam yang dipendam Alea sendirian. Azka adalah buah hati dari sebuah malam penuh ketidaksengajaan di sebuah klab malam ternama, empat tahun yang lalu.
Kala itu, Alea masih seorang mahasiswi muda berusia sembilan belas tahun yang polos dan mudah terbawa suasana. Terbujuk oleh ajakan teman-teman kampusnya untuk merayakan kebebasan akhir semester, Alea akhirnya memberanikan diri menginjakkan kaki di tempat hiburan malam untuk pertama kalinya. Mengingat batas usia minimal untuk masuk klab adalah dua puluh satu tahun, Alea dan teman-temannya terpaksa menggunakan identitas palsu demi meloloskan diri dari penjagaan ketat petugas keamanan. Malam itu, di tengah dentuman musik yang memekakkan telinga dan lampu warna-warni yang menyilaukan, Alea mencoba meneguk alkohol untuk pertama kali dalam hidupnya. Sensasi terbakar di tenggorokan dan rasa pening yang perlahan menyerang kesadarannya membuat Alea merasa cemas dan asing.
Goyahnya kesadaran Alea berujung pada kepanikan luar biasa ketika ketukan keras dan teriakan peringatan bergema di seluruh penjuru gedung. Polisi melakukan penggerebekan mendadak untuk memberantas peredaran minuman terlarang dan menjaring pengunjung di bawah umur. Suasana klab langsung berubah menjadi kacau balau; orang-orang berlarian saling dorong demi menyelamatkan diri. Dalam kondisi kepala yang makin berat dan rasa takut terjerat hukum, Alea terpisah dari rombongan temannya. Ia berlari membabi buta menyusuri lorong-lorong privat di lantai atas yang temaram, mencari celah atau tempat bersembunyi agar terhindar dari kejaran petugas.
Dengan tangan gemetar dan pandangan yang kian kabur, Alea memutar salah satu gagang pintu yang kebetulan tidak terkunci. Tanpa ia ketahui, kamar mewah bernuansa gelap itu milik Adrian, sang penguasa klab yang malam itu juga tengah dilanda ketegangan akibat intrik bisnisnya sendiri. Pintu tertutup rapat di belakangnya, mengunci Alea di dalam ruang temaram yang dipenuhi aroma kayu cendana dan alkohol mahal. Adrian, yang saat itu juga sedang berada di bawah pengaruh minuman keras dan luapan emosi, mendapati seorang gadis asing yang gemetar di balik kegelapan kamarnya.
Pengaruh alkohol yang kuat menghancurkan batas kesadaran keduanya malam itu. Rasa takut Alea bertaut dengan gairah tak terencana dari Adrian, hingga akhirnya mereka berdua menghabiskan malam panjang bersama di dalam kamar tersebut. Saat fajar belum sepenuhnya menyingsing dan kesadarannya mulai kembali secara perlahan, Alea yang diselimuti rasa takut dan bersalah memilih untuk melarikan diri secara diam-diam sebelum Adrian terbangun.
Sejak hari itu, kehidupan Alea berubah total. Ia memilih mundur dari bangku kuliah, memutus kontak dengan teman-temannya, dan pindah ke pinggir kota demi menyembunyikan kehamilannya. Ia merawat Azka dengan penuh kasih sayang, meski tahu suatu saat nanti, bayang-bayang masa lalu itu bisa saja kembali menagih penjelasan. Di sisi lain, Adrian terus dihantui rasa penasaran dan penyesalan mendalam. Bagi Adrian, Alea bukan sekadar ingatan sepintas lalu, melainkan sebuah teka-teki yang belum usai—satu-satunya jejak takdir yang belum bisa ia kendalikan.