Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum Rimba
Rasa sakit adalah guru yang kejam, namun Kaelen sudah terbiasa menjadi murid teladan.
Ia memaksa dirinya berdiri meski setiap tarikan napas terasa seperti ada belati yang menusuk paru-parunya. Tiga preman di depannya menyeringai, memamerkan gigi-gigi kuning berantakan. Mata Kaelen dengan cepat menganalisis ancaman.
Pria di tengah, si pemimpin, memiliki lengan kiri buatan dari besi rongsok yang ditenagai oleh kristal mana murahan berwarna hijau terang. Dua krunya membawa pipa besi berkarat dan belati yang dilapisi racun rawa. Ini bukan pasukan Ignis. Mereka lambat, ceroboh, dan terlalu percaya diri.
"Buka jubah sutramu itu pelan-pelan, Tuan Muda," ejek si pria berlengan besi, memutar-mutar pisau di tangan kanannya. "Dan serahkan cincin itu. Kami berjanji akan memotong lehermu dengan cepat supaya kau tidak perlu merasakan hidup di selokan ini."
Kaelen tidak menjawab. Ia meludah, menyingkirkan darah dari mulutnya, lalu mengambil posisi kuda-kuda rendah. Ilmu bela diri tangan kosong klan Adiwangsa.
"Bocah sombong!" teriak salah satu kroconya, melompat maju dengan pipa besi yang diayunkan lurus ke kepala Kaelen.
Kaelen tidak mundur. Di detik terakhir, ia menunduk tajam ke bawah ayunan pipa, mengabaikan rasa nyeri di tulang rusuknya yang patah. Ia melangkah maju, memangkas jarak, dan menghantamkan telapak tangannya tepat ke ulu hati pria itu.
Brak!
Pria itu tersedak, matanya melotot sebelum tubuhnya ambruk ke tumpukan sampah, pingsan seketika.
Si pemimpin dan preman kedua tertegun sejenak melihat kecepatan Kaelen. Bangsawan biasanya manja, mengandalkan sihir pelindung dan tembakan elemen dari jauh. Mereka tidak menyangka mangsanya adalah ahli pertarungan jarak dekat.
"Bunuh dia!" raung si pemimpin.
Preman kedua maju dengan belati beracun, sementara si pemimpin mengarahkan lengan besinya ke arah Kaelen. Kristal hijau di lengannya berpendar terang, melepaskan tembakan peluru angin yang kencang.
Otak Kaelen bekerja lebih cepat dari instingnya. Ia tidak bisa menghindar dengan tubuh serusak ini. Ia harus menggunakan kutukannya.
Sambil merendahkan tubuh, Kaelen mengarahkan tangan kirinya ke depan. Ayo, telan ini, batinnya.
Pusaran kabut hitam keunguan itu kembali meledak dari telapak tangannya, kali ini lebih pekat dan agresif. Peluru angin yang melesat ke arahnya langsung menghantam pusaran itu. Bukannya terpental, peluru angin itu tersedot masuk ke dalam kabut dan lenyap tanpa bekas.
Namun, kali ini efeknya berbeda. Kaelen merasakan sensasi dingin yang menyengat mengalir dari tangannya ke seluruh jaringan sarafnya. Tubuhnya yang belum terbiasa mencerna mana eksternal merespons dengan rasa mual yang hebat, seolah ia baru saja menelan sekepal paku berkarat.
Keterkejutan musuh adalah senjata terbaik. Memanfaatkan jeda saat si pemimpin melongo melihat tembakannya lenyap, Kaelen menerjang maju.
Preman kedua mencoba menusukkan belati beracun, tapi Kaelen menangkap pergelangan tangan pria itu. Dengan putaran kasar yang diiringi bunyi tulang patah, Kaelen melucuti belati tersebut dan menendang lutut musuhnya hingga hancur.
Kini tersisa si pemimpin. Pria berlengan besi itu panik, mencoba memompa lebih banyak energi ke kristal mana-nya untuk tembakan kedua.
Kaelen tidak memberinya kesempatan. Ia melompat, menekan rasa sakit yang membuat pandangannya memutih, dan menempelkan telapak tangan kirinya langsung ke lengan besi pria itu, tepat di atas kristal mana.
"Apa yang—"
Kalimat preman itu terputus. Kabut hitam Kaelen menyelimuti lengan mekanik tersebut layaknya parasit kelaparan. Cahaya hijau dari kristal mana itu berkedip liar, sebelum akhirnya redup total dan retak menjadi debu abu-abu. Lengan besi yang tadinya bergerak mulus kini mati, menjadi beban mati seberat puluhan kilogram yang menarik tuannya jatuh berlutut.
"K-kau... monster apa kau?!" jerit pria itu, ketakutan melihat sihir di lengannya diserap habis.
"Aku?" Kaelen menatap pria itu dengan mata dingin yang tak memancarkan ampun. Ia memungut belati beracun yang jatuh di tanah. "Aku hanya daging segar yang jatuh dari atas."
Satu tebasan cepat, dan pria itu terkapar tak bernyawa.
Napas Kaelen tersengal-sengal. Pandangannya mulai berputar. Kekuatan penelan ini mengambil banyak korban pada stamina fisiknya. Jika ia terus menyerap sihir tanpa tahu cara mengeluarkannya kembali, tubuhnya sendiri yang akan meledak dari dalam.
Dengan tangan gemetar, Kaelen melucuti jubah kotor milik si pemimpin preman, menutupi jubah sutra merahnya yang terlalu mencolok, dan mengambil beberapa keping koin perunggu kusam dari saku mereka. Ia harus melepaskan identitas Adiwangsa jika ingin bertahan hidup malam ini.
Ia memaksakan diri berjalan tertatih-tatih keluar dari gang sempit yang dipenuhi rongsokan itu, melangkah menuju jalanan Distrik Bawah yang diterangi lampu-lampu neon berkedip. Udara dipenuhi asap tebal dari pabrik penyulingan bawah tanah dan aroma rempah-rempah murah. Orang-orang dengan pakaian compang-camping dan pandangan mata mati lalu-lalang tanpa mempedulikan satu mayat tambahan di sudut gang.
Kaelen menyandarkan tubuhnya ke dinding bata yang basah, mencoba menahan rasa sakit yang semakin menjadi. Ia butuh obat. Ia butuh tempat bersembunyi.
"Gaya bertarung klan atas, tapi menggunakan sihir ilmu hitam yang bisa menguras kristal mana..."
Sebuah suara wanita yang serak dan sinis tiba-tiba terdengar dari atas tumpukan peti kemas di dekatnya.
Kaelen mendongak, tangannya secara refleks kembali menggenggam belati beracun. Di atas peti, duduk sesosok gadis dengan rambut dipotong pendek asimetris, mengenakan jaket kulit pudar dan kacamata goggle yang bertengger di dahinya. Ia tengah melempar-lempar sebuah apel merah ke udara, menatap Kaelen dengan tatapan menilai.
"Kau tidak akan bertahan sampai pagi dengan tulang rusuk seperti itu, Tuan Muda," kata gadis itu, menggigit apelnya dengan suara keras. "Tapi... aku tahu dokter yang tidak akan banyak tanya, asalkan kau punya cukup koin."
Gadis itu melompat turun, mendarat tanpa suara layaknya kucing liar. Ia mengulurkan tangannya, tersenyum miring.
"Namaku Lyra. Dan sepertinya kau sangat butuh pemandu wisata malam ini."