NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Bayangan Bilah Kelam

Sejak kepulangan dari acara perkemahan di Cikole, situasi di kantor pusat Nusantara Industri Utama bergerak kian tidak menentu. Rendy, yang meyakini dirinya telah memegang kendali atas dana proyek belasan miliar sekaligus merasa terancam oleh kedekatan Alya dengan Kai, mulai melancarkan aksi nekat. Pria itu berubah menjadi makin agresif dan intens dalam mendekati Alya.

Sore itu, sekitar pukul lima, sebagian besar karyawan divisi administrasi sudah bersiap untuk pulang. Area koridor lantai dua yang menghubungkan ruang rapat utama dan kantor direksi tampak mulai sepi.

Alya melangkah keluar dari ruang rapat seraya membawa beberapa lembar berkas evaluasi. Langkah kakinya yang anggun mendadak terhenti ketika sebuah bayangan tinggi melangkah cepat dari balik pilar beton dan menyekat jalannya.

"Alya," panggil Rendy dengan nada suara yang sengaja dibuat berat, serak, dan penuh desakan emosional.

Alya mundur satu tapak secara refleks, matanya menyempit dingin. "Pak Rendy? Mau apa lagi Anda jam segini? Semua laporan anggaran sudah ditandatangani oleh bagian keuangan."

Rendy tidak memedulikan teguran formal itu. Matanya yang liar meneliti wajah Alya dari dekat. Tanpa permisi, Rendy melangkah satu tapak lebih maju, memotong jarak di antara mereka hingga Alya terdesak menyandar ke dinding koridor.

"Stop berpura-pura dingin padaku, Alya!" bisik Rendy intens, nafasnya yang memburu terasa menyapu udara di dekat wajah Alya. "Aku tahu kamu melakukan ini semua cuma buat bikin aku cemburu, kan? Kamu sengaja pamer kedekatan sama Kai Aditya di depan umum, kamu sengaja manfaatkan posisi dan uang keluargamu buat bikin aku bertekuk lutut!"

"Jaga batasanmu, Rendy!" bentak Alya, mencoba menepis lengan Rendy yang terulur hendak menyentuh bahunya. "Jangan berani-berani menyentuhku!"

Namun Rendy justru makin menjadi-jadi. Kesombongannya yang terluka dan keserakahan yang membakar kepalanya membuat pria itu kehilangan kontrol. Tangan kanan Rendy menempel tegang di dinding tepat di sebelah kepala Alya, mengurung tubuh wanita itu secara paksa.

"Aku kurang apa, Al?!" desis Rendy, matanya membelalak penuh obsesi yang kelam. Ia menjangkau saku dalam jasnya dengan cepat, menarik keluar sebuah pulpen besi berujung runcing berwarna perak, lalu memegang benda tajam itu di depan dada Alya seraya menggenggam jemari Alya secara kasar. "Lihat aku! Aku yang selama ini ada di sampingmu! Aku yang tahu semua kekuranganmu! Kamu cuma milikku, Alya! Bukan milik Kai Aditya!"

Tepat saat kilatan besi tajam dari ujung pulpen itu tertimpa pendar lampu koridor dan menyambar retina mata Alya—sebuah dentuman memori yang amat sangat mengerikan meledak secara brutal di dalam benak Alya.

SPLASH!

Sensasi dingin yang menusuk ilas... rasa perih yang melubangi perutnya... aroma darah yang menggenang hangat di lantai marmer dingin... dan tawa kejam Rendy di malam di mana nyawanya dicabut di kehidupan pertama—semua ingatan trauma masa lalu itu menghantam dada Alya bagaikan hantaman godam raksasa.

Rasa sakit fantasi di perut bagian bawahnya mendadak muncul begitu nyata, begitu membakar, seolah-olah bilah pisau kelam dari kehidupan pertamanya sungguh-sungguh telah menembus daging dan organ tubuhnya kembali.

"N-nggak... Nggak...!" jerit Alya, suaranya tercekat di tenggorokan, berubah menjadi bisikan parau yang sangat ketakutan.

Tubuh Alya gemetaran hebat. Warna di wajahnya tersapu bersih dalam hitungan detik, berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. Matanya membelalak lebar memandangi tangan Rendy dan kilatan besi di depannya, nafasnya memburu pendek-pendek bagaikan orang yang kehabisan oksigen di dasar laut.

Dia mau membunuhku lagi... Pria ini mau menusukku lagi...!

"Alya? Kamu kenapa?!" tanya Rendy kaget melihat perubahan drastis pada raut wajah Alya yang tiba-tiba kejang tegang dan berkeringat dingin. "Al, aku cuma mau kamu dengar—"

"JANGAN TOUCH AKU! JANGAN TUSUK AKU!" jerit Alya histeris, sebuah teriakan keputusasaan yang memecah keheningan koridor.

Pandangan mata Alya mendadak kabur. Gelombang mual dan rasa sakit luar biasa yang memutar otak membuat dadanya sesak tak tertahankan. Dengung nyaring memenuhi telinganya, dan sebelum tubuhnya ambruk menghantam lantai, kesadarannya runtuh sepenuhnya ke dalam kegelapan.

BRUK!

Tubuh Alya terkulai lemas, jatuh tak sadarkan diri di atas karpet koridor.

"Alya?!" Rendy panik setengah mati. Benda besi di tangannya terjatuh ke lantai. Pria itu berlutut, tangannya gemetaran hendak mengangkat tubuh Alya. "Al! Bangun, Al! Kamu kenapa?! Aku tidak mengandaimu!"

Namun, sebelum tangan beracun Rendy sempat menyentuh kulit Alya, sebuah suara langkah kaki yang berlari kencang bergema keras dari ujung koridor.

"LEPASKAN DIA, BANGSAT!"

BUK!

Sebuah tendangan keras dan bertenaga penuh mendarat tepat di rahang kanan Rendy. Benturan itu begitu dahsyat hingga tubuh Rendy terlempar dua meter ke belakang, menghantam pintu kayu ruang rapat sebelum tersungkur di lantai dengan hidung dan bibir pecah mengeluarkan darah.

Kai Aditya berdiri di sana.

Napas Kai memburu tegang, rahangnya mengeras rapat, dan matanya yang biasa tenang kini membara oleh amarah yang amat sangat mematikan. Aura membunuh (killing intent) yang begitu pekat memancar dari seluruh tubuh Kai, membuat udara di koridor itu mendadak terasa membeku dan mencekam.

Kai baru saja hendak menuju ruang kerja Alya ketika mendengar teriakan histeris wanita itu. Dan melihat Alya tergeletak tak berdaya di lantai sementara Rendy berada di atasnya—sesuatu di dalam diri Kai pecah berantakan.

Kai berlutut dengan cepat di samping Alya. Dengan jemari yang bergetar tegang oleh rasa cemas yang tak terhingga, Kai merengkuh tubuh lemas Alya ke dalam pelukannya. Kai menepuk-nepuk pipi pucat Alya dengan sangat lembut.

"Alya... Alya, bangun!" panggil Kai, suaranya yang parau dipenuhi oleh kepanikan yang mendalam. Kai menempelkan telinganya ke dada Alya, bernapas lega saat merasakan detak jantung wanita itu masih ada, walau sangat lemah dan cepat. "Alya, ini saya... Ini Kai... Bangun, Sayang..."

Alya tidak merespons. Wajah cantiknya masih tampak kesakitan bahkan di dalam pingsannya, alisnya berkerut tegang seolah sedang bertarung melawan mimpi buruk yang sangat mengerikan.

Kai mendongak. Matanya yang memerah oleh amarah mengunci sosok Rendy yang sedang merangkak di lantai seraya menyeka darah dari bibirnya.

Kai berdiri perlahan. Langkah kakinya mendekati Rendy bagaikan sosok malaikat pencabut nyawa yang melangkah keluar dari neraka.

Rendy mendongak, dan seketika rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidup merayap masuk memenuhi seluruh dadanya. Tatapan mata Kai saat ini sama sekali bukan tatapan seorang pengusaha berkelas—itu adalah tatapan seorang pria yang siap membunuh siapa saja yang menyentuh milik terindahnya.

"P-Pak Kai... tunggu! Ini salah paham! Alya tiba-tiba pingsan sendiri!" jerit Rendy terbata-bata, merangkak mundur ketakutan hingga punggungnya menempel di dinding. "Saya tidak menyentuh dia! Demi Tuhan, saya tidak melakukan apa-apa!"

Kai tidak membalas dengan kata-kata. Dengan satu gerakan cepat, Kai mencengkeram kerah jas merah marun Rendy, mengangkat pria itu hingga kedua kakinya terangkat dari lantai, lalu menghempaskannya ke dinding beton dengan kekuatan penuh.

BRUK!

Rendy meringis kesakitan, terbatuk-batuk menahan sesak di dadanya.

"Kamu..." suara Kai terdengar sangat rendah, bergetar oleh amarah yang ditahan di ambang batas. "Kamu apakan dia sampai dia ketakutan dan histeris seperti itu?!"

"Saya cuma mau bicara!" tangis Rendy ketakutan, air mata campur darah menetes di pipinya. "Saya cuma pegang pulpen ini! Saya tidak menyakiti dia!"

Kai melirik ke arah pulpen besi berujung tajam yang tergeletak di dekat kaki Alya. Amarah Kai makin meledak. Ia bisa membayangkan betapa terintimidasi dan takutnya Alya saat pria bajingan ini mempojokkannya dengan benda tajam di koridor sepi.

Genggaman tangan Kai di kerah Rendy kian mengetat, mencekik leher pria itu hingga napas Rendy tersendat-sendat.

"Dengar baik-baik, Rendy," bisik Kai di depan wajah Rendy yang mulai membiru, suaranya begitu dingin hingga sanggup membekukan darah. "Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Alya... kalau sampai ada satu trauma saja yang berbekas di mentalnya karena ulah menjijikkanmu malam ini... aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak cuma akan memenjarakanmu. Aku akan memastikan kamu dan seluruh keluargamu hancur busuk sampai tidak ada tempat lagi bagi kalian untuk hidup di negara ini!"

Kai menghempaskan Rendy ke lantai seperti membuang tumpukan sampah tak berguna. Rendy terkapar, terbatuk-batuk histeris seraya memegangi lehernya yang memar.

Tepat pada saat itu, Maya bersama dua petugas keamanan gedung berlari kencang menaiki tangga koridor setelah mendengar kegaduhan. Mereka membelalakkan mata melihat Rendy yang bersimbah darah di lantai dan Bu Direktur mereka yang tergeletak tak sadarkan diri.

"Pak Kai! Ada apa ini?!" seru Maya panik.

"Amankan bajingan ini!" perintah Kai dengan suara menggelegar penuh otoritas, menunjuk ke arah Rendy. "Kunci dia di ruang keamanan! Jangan biarkan dia keluar satu senti pun sampai polisi datang! Kalau dia melawan, patahkan tangannya!"

"B-baik, Pak!" dua petugas keamanan langsung menyergap Rendy, mengunci kedua tangan pria yang sudah terkulai lemas itu dan menyeretnya kasar keluar dari koridor.

Kai tidak memedulikan Rendy lagi. Ia segera berputar, kembali berlutut di sebelah Alya. Dengan gerakan yang amat sangat hati-hati dan penuh kasih sayang, Kai mengangkat tubuh Alya ke dalam garapan tangannya, membopong wanita itu secara bridal style ke dalam dekapan dadanya yang hangat.

"Maya, siapkan mobil di pintu VIP sekarang! Kita ke Rumah Hospital Internasional!" perintah Kai seraya melangkah cepat membopong Alya menyusuri koridor.

"Baik, Pak Kai! Saya langsung hubungi dokter spesialis!" sahut Maya seraya berlari mendahului untuk membukakan jalan.

Di dalam bopongan Kai, kepala Alya bersandar lemas di dada tegap pria itu. Jemari Kai merengkuh erat tubuh Alya, menyalurkan seluruh kehangatan dan rasa protektifnya.

"Sabar, Sayang... Kamu aman sekarang," bisik Kai dengan suara yang bergetar keharuan seraya mencium kening Alya yang basah oleh keringat dingin. "Saya ada di sini. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi. Saya janji..."

Satu jam kemudian, di ruang rawat VIP Rumah Sakit Internasional Jakarta.

Suasana ruangan terasa tenang dan dingin. Bau cairan antiseptik menempel lembut di udara. Alya terbaring di atas ranjang medis yang empuk dengan selang infus terpasang di punggung tangan kirinya. Wajahnya mulai kembali memerah alami, walau matanya masih terpejam rapat dalam tidur nyenyaknya akibat efek obat penenang ringan yang diberikan dokter.

Dokter spesialis saraf dan psikologi baru saja selesai memeriksa kondisi Alya dan melangkah keluar ruangan bersama Kai.

"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Kai cepat, wajahnya masih tampak sangat tegang, matanya tidak lepas memandangi Alya dari balik kaca pintu kamar.

Dokter paruh baya itu menghela napas pelan. "Secara fisik, Ibu Alya tidak mengalami luka luar atau cedera serius, Pak Kai. Pingsannya disebabkan oleh serangan kecemasan yang amat sangat ekstrem—atau yang biasa kami sebut severe panic attack yang memicu vagal syncope."

Dokter itu meneliti catatan medis Alya. "Dari gejalanya, respons ketakutan Ibu Alya tadi sangat spesifik. Beliau mengalami kilas balik trauma yang sangat hebat (traumatic flashback), seolah-olah jiwanya sedang merasakan kembali rasa sakit atau ancaman kematian yang pernah dialaminya di masa lalu. Benda tajam dan tekanan fisik dari pria tadi adalah pemicu (trigger) utamanya."

Kai mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuh, buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah membakar dadanya. Seharusnya aku tidak biarkan Alya berjalan sendirian di koridor itu... Seharusnya aku menghabisi Rendy sejak hari pertama!

"Apakah traumanya bisa dipulihkan?" tanya Kai dengan suara berat yang menahan emosi.

"Bisa, Pak Kai," jawab Dokter menenangkan. "Tapi butuh waktu, rasa aman yang konsisten, dan dukungan penuh dari orang terdekat. Ibu Alya butuh kepastian bahwa lingkungan di sekitarnya sudah benar-benar aman dari ancaman pemicu tersebut."

"Saya mengerti. Terima kasih, Dok," ujar Kai penuh hormat.

Setelah dokter berlalu, Kai membuka pintu kamar secara perlahan dan melangkah masuk. Ia menarik kursi kayu di sebelah ranjang Alya, lalu duduk di sana.

Kai meraih tangan kanan Alya yang bebas dari selang infus, menggenggam jemari lembut itu dengan kedua telapak tangannya, lalu mencium punggung tangan Alya secara perlahan dan penuh rasa takzim.

"Maafkan saya, Alya..." bisik Kai parau di heningnya ruang rawat. "Saya terlambat beberapa menit tadi... Saya biarkan kamu melewati ketakutan hebat itu sendirian."

Saat hangatnya telapak tangan Kai menyentuh jemarinya, kelopak mata Alya perlahan-lahan bergerak tipis. Dengan usaha perlahan, Alya membuka matanya.

Pandangan Alya yang tadinya kabur perlahan-lahan fokus, menangkap sosok Kai yang duduk setia di sampingnya dengan wajah yang dipenuhi rasa cemas dan cinta yang begitu dalam.

"K-Kai...?" cicit Alya dengan suara yang sangat parau dan lemah.

Kai tersentak kaget sekaligus lega luar biasa. "Alya! Kamu sudah sadar?"

Kai memajukan tubuhnya, mengusap lembut rambut hitam Alya dengan tangan yang gemetaran. "Ada yang sakit? Mau minum? Saya panggilkan dokter ya?"

Alya menggelengkan kepalanya pelan. Ingatan tentang kejadian mengerikan di koridor tadi mendadak melintas kembali di benaknya, membuat mata Alya seketika berkaca-kaca oleh rasa takut yang tersisa.

"R-Rendy... Kai, tadi Rendy..." jerit Alya pelan, matanya membelalak panik hendak duduk.

"Ssshh... Tenang, Alya. Tenang," potong Kai lembut, dengan cermat merangkul bahu Alya dan menahannya agar tetap berbaring nyaman. Kai mengusap pipi Alya, menghapus bulir air mata yang menetes di sana. "Rendy sudah tidak ada di sini. Dia sudah ditangkap dan diamankan. Pria bajingan itu tidak akan pernah bisa mendekatimu lagi."

Alya menatap mata Kai, menemukan kepastian dan kehangatan yang utuh di sana. Rasa takut yang sempat mencekat dadanya perlahan-lahan luruh, digantikan oleh kelelahan dan rasa aman yang tak terhingga.

"Aku... aku tadi melihat pisau itu lagi, Kai..." bisik Alya jujur, menyandarkan pipinya di telapak tangan Kai yang hangat. "Rasa sakit waktu dia menusukku dulu... rasanya datang lagi. Aku takut sekali..."

Kai merapatkan tubuhnya, mengecup kening Alya dengan penuh rasa kasih sayang yang begitu dalam.

"Saya tahu, Sayang... Saya tahu," bisik Kai lembut di kening Alya. "Tapi dengarkan saya baik-baik. Kejadian masa lalu itu tidak akan pernah terulang lagi. Kamu ada di sini sekarang, bersamaku. Saya tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuh atau melukaimu lagi. Saya pertaruhkan seluruh hidup saya untuk melindungimu."

Alya menggenggam telapak tangan Kai yang berada di pipinya, mengangguk pelan seraya tersenyum tipis di balik air matanya.

Di dalam ruang rawat yang hening itu, Alya akhirnya menyadari bahwa trauma kegelapan masa lalunya tidak lagi berkuasa atas dirinya. Karena di kehidupan kedua ini, ia tidak lagi sendirian. Ada Kai Aditya—pelindung dan cinta sejatinya—yang siap menjadi benteng terkuat yang tak akan pernah bisa ditembus oleh kegelapan apa pun.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!