Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13 Aku Ayah yang Buruk!
"... Maaf membuat kalian menunggu lama," ucap kusir yang baru saja tiba.
"Tidak apa-apa, Pak!"
Kami telah menunggu di depan gerbang Desa Qianlo selama beberapa jam setelah aku melepaskan sihir suar ke langit sebagai sinyal penjemputan. Tak lama setelah kami naik ke atas kereta, perut Sandra berbunyi nyaring menahan lapar.
"Nih, ambil," kataku sambil menyerahkan roti yang sempat ia bagikan sebelumnya. "Makanlah."
"Terima kasih!" Sandra merampas roti itu dengan cepat lalu melahapnya tanpa basa-basi, sementara Steven sudah tertidur lelap di sudut kereta.
"Pak, boleh aku bertanya?" sahutku pada kusir. "Sudah berapa lama kami pergi?"
"Hmm... Sekitar tiga hari."
"Tiga hari?!"
Aku terkejut. Padahal rasanya kami baru sebentar di dalam dungeon, tetapi waktu berjalan jauh lebih lambat di sana.
"Ngomongin quest kalian... sebelum berangkat menjemput, pelayan kecil di guild sempat bilang sesuatu," ujar sang kusir.
"Leograd?"
"Iya! Dia bilang kemarin sore melihat makhluk bersayap melintas di atas guild, lalu kawanan goblin di sekitaran mendadak berlari ke arah pegunungan. Awalnya aku tidak percaya, tapi sepanjang rute penjemputan aku memang tidak melihat seekor goblin pun. Apa kalian yang membereskan semuanya?"
"Secara tidak langsung, ya."
"Secara tidak langsung, huh?"
Sang kusir mendadak menarik tali pengekang kuat-kuat. Kereta kuda berhenti mendadak sebelum sempat menabrak seseorang yang berdiri tepat di tengah jalan.
Leograd berdiri di sana bersama beberapa pelayan guild lainnya, menyambut kedatangan kami dengan senyum lebar.
"Sudah kubilang jangan berdiri di depan kudaku!" teriak sang kusir gusar sambil melompat turun. "Oh... kasihan kudaku~" ratapnya sambil mengelus kepala hewan itu.
Mendengar keributan di luar, aku segera turun dari kereta. Tanpa membuang waktu, Leograd menarik tanganku lalu menyematkan sebuah pin biru di pundakku.
"... Kami tidak tahu lagi harus mengucapkan terima kasih seperti apa!" ucapnya haru.
"Huaamm... Kita sudah sampai?" igau Steven sambil mengucek mata.
Sandra dan Steven ikut turun dari kereta. Pin yang sama segera disematkan di pundak mereka berdua.
"Dengan ini, Party Gerombolan Gagak Hitam berhak menerima delapan ribu keping emas!" umum Leograd nyaring.
"Hah?! De... Delapan ribu?!" teriak kami bertiga serentak.
Seorang pelayan menyerahkan perkamen resmi bertanda cap Kekaisaran, lalu menjentikkan jari hingga sebuah pena muncul di genggamanku.
"Cuma ini yang sanggup disediakan Guild Qianlo saat ini. Maaf kalau rasanya kurang," lanjut Leograd.
"Kurang bagaimana?! Ini lebih dari cukup!" potongku cepat.
Setelah membubuhkan tanda tangan, aku menyerahkan perkamen dan pena itu kepada Steven dan Sandra. Setelah giliran mereka selesai, Leograd menyimpan kembali dokumen tersebut. Dengan sekali lambaian tangannya, para pelayan membawakan delapan karung penuh berisi emas.
"... Ini mimpi, ya?" gumam Sandra terperangah. Ia menampar pipinya sendiri cukup keras. "Aduh! Bukan mimpi!"
"Kami juga telah menyiapkan pesta perayaan untuk kalian malam ini, dan..." Leograd berjalan menghampiri sang kusir tua, "... aku akan menanggung seluruh biaya perawatan kudamu selama satu tahun penuh."
"S... Sa... Satu tahun?!" seru sang kusir tak percaya.
"Baiklah, selamat menikmati pesta malam ini! Tanpa kalian, desa ini mungkin sudah lenyap," pungkas Leograd tersenyum lebar.
Malam harinya, aula Guild disesaki oleh warga dan petualang yang tak kukenal. Aroma tajam alkohol serta gelak tawa menggema di setiap sudut ruangan. Di panggung kecil, seorang penyair menyanyikan puisi tentang perjuangan kami—yang tentu saja versinya sudah dibumbui karangan hiperbolis dari Sandra.
"Bagaimana quest-nya?"
Si pemabuk tua tiba-tiba mengambil tempat duduk di sampingku. Belum sempat aku menjawab, ia menyodorkan segelas rum. Aku bergeming Lalu langsung menggeser gelas itu menjauh.
"Sama seperti biasa, kan?" kekehnya pelan. "Oh, ya, perkenalkan... namaku Grimaldi. Kau sudah membaca suratku?"
Aku mengangguk pelan.
"Ini semua tentang Chisa..." Sudut matanya mendadak meliuk layu, menghapus habis cengiran di wajahnya. "Kau... bertemu dengannya?"
"Aku melihatnya, ia memiliki sepasang sayap, dan tanduk—"
"Cukup!" Potong Grimaldi.
Meringis, ia menutup wajahnya penuh air mata dengan tangannya. "Dia dulu bermimpi untuk terbang di angkasa tapi..." Lanjutnya. "Aku menertawakan mimpi itu, dengan berkata 'Dasar bodoh, sejak kapan manusia bisa terbang di langit!' ya tuhan ampunilah dosaku ini!"
"... Lyan, ada apa dengannya?" tanya Sandra yang tiba-tiba menepuk pundakku.
Aku menggelengkan kepala pelan lalu memintanya pergi. Sandra yang mengerti isyaratku segera berbalik dan kembali bergabung di tengah keramaian pesta.
Usai menyeka sisa air mata di sudut matanya, Grimaldi kembali menenggak rum hingga senyum di wajahnya muncul kembali.
Aku harus berterus terang padanya...
"... Jujur, Tuan," ucapku menaikkan intonasi suara agar pesanku tersampaikan dengan jelas di tengah bisingnya ruangan, meski ia dalam kondisi mabuk. "Aku tidak mungkin bisa menyelesaikan permintaanmu sekarang—"
"Tapi—"
"Bukan berarti aku menolaknya," potongku cepat. "Aku tetap akan membantumu."
Membantu orang asing jelas bukan kebiasaanku. Namun, aku punya alasan kuat: ini berkaitan langsung dengan Jenderal Iblis Zigurad. Siapa lagi yang lebih tahu mengenai iblis itu selain muridnya sendiri?
"Tolong tunggulah sebentar lagi."
Aku meletakkan kembali surat milik Grimaldi di atas meja, lengkap dengan dua keping perak untuk bayaran minumnya, lalu beranjak pergi.
Di luar, Steven rupanya tidak ikut bergabung dalam pesta. Ia memilih berbincang dengan sang kusir tua sepanjang malam. Melihatku melangkah keluar dari Guild, ia menyudahi obrolannya dan mengajakku menuju penginapan yang baru saja beroperasi.
Begitu Desa Qianlo dinyatakan aman dari ancaman goblin, aktivitas warga perlahan kembali normal. Tak ingin membebani pihak Guild, kami memutuskan menyewa kamar menggunakan sebagian hasil imbalan quest.
"Ngomong-ngomong, di mana Sandra?" tanya Steven mengedarkan pandangan.
"Dia masih di dalam. Coba kau jemput dulu, aku sudah mengantuk berat," balasku lemas.
Baru saja Steven hendak berbalik masuk, orang yang dicari muncul di ambang pintu Guild. Sandra keluar sambil diangkat oleh puluhan warga yang bersorak menyerukan julukan 'Pahlawan'.
"Dadaaa~ semuanya!" teriak Sandra sambil melambaikan tangan ceria.
Tak ingin memperpanjang perdebatan, aku memilih langsung naik ke kereta, disusul mereka berdua. Sang kusir memberi aba-aba, dan kereta pun kembali bergulir.
Di sepanjang rute, lampu-lampu penerangan kini terpasang terang. Sangat berbeda dengan perjalanan sebelumnya saat kami harus terus bersiaga melindung diri dari serangan goblin. Kini, prajurit Kekaisaran berbaris rapi mengawasi jalan, sementara pos dan menara pengawas yang sempat terlantar telah diisi kembali.
Sesampainya di pusat Desa Qianlo, suasananya sudah berubah total. Rumah-rumah yang tadinya kosong mulai berpenghuni, dan kegelapan desa tergantikan oleh riuk pikuk pasar malam. Beberapa warga yang berpapasan menundukkan kepala hormat saat melihat kami melintas.
"Kita sudah sampai!" seru sang kusir memecah lamunan.
Kring~
Suara bel berdenting menyambut kami di pintu masuk penginapan. Usai mengambil kunci dari resepsionis, kami melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Begitu pintu kamar kubuka, Sandra langsung membanting tubuhnya ke atas kasur.
"... Ganti baju dulu, kenapa?" tegurku.
"Kau saja belum ganti!" balasnya dari balik bantal.
Pikirku, tidak ada salahnya juga. Aku sendiri sering ketiduran tanpa berganti pakaian seharian. Di dunia ini, mandi memang bukan sebuah kewajiban harian; umumnya orang-orang hanya mandi sebulan sekali, kecuali kaum bangsawan kaya. Meski jujur saja, aku pribadi tidak akan tahan—terlebih membayangkan pemandian umum yang kotor itu.
Setelah memadamkan lampu minyak, Steven yang sudah berganti pakaian langsung menggulung tubuhnya dengan selimut dan tertidur lelap. Aku yang belum bisa memejamkan mata memilih berjalan ke jendela, menyibak tirai, dan memandangi pemandangan desa di bawah sana.
Berapa pun besarnya kebencianku pada Kekaisaran, kenyataan pahitnya adalah hanya militer mereka yang sanggup menjaga kedamaian seperti ini.
Jika revolusi mendadak meletus dan menggulingkan takhta, lalu yang menggantikannya hanyalah demagog lain yang tak beda jauh dari Kaisar Abdius, apa bedanya? Lagipula, apakah tempat ini masih pantas disebut Kekaisaran? Alih-alih dipimpin seorang kaisar, struktur ini lebih mirip kediktatoran sentralistik dengan kekuatan militer sebagai ujung tombak.
Hah... mendadak memikirkan politik membuat kepalaku makin pening. Lebih baik aku tidur.
Bersambung...