NovelToon NovelToon
Setetes Embun Penakluk Hati

Setetes Embun Penakluk Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Moora Ayunda

Dion Nugroho adalah lelaki yang memiliki segalanya.

Wajah tampan, kehidupan mewah, popularitas, dan nama besar keluarga yang membuat siapa pun mengenalnya. Ia adalah putra tunggal pemilik Anggoro Group, perusahaan obat-obatan medis ternama yang bisnisnya telah menjangkau berbagai penjuru dunia.

Namun, di balik semua kemewahan itu, Dion tumbuh menjadi lelaki yang dingin, cuek, angkuh, dan sulit dikendalikan.

Baginya, perhatian dari perempuan hanyalah sesuatu yang mengganggu.

Berkali-kali wanita datang membawa perasaan tulus, tetapi Dion tak pernah menghargainya. Ia terlalu terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan hingga lupa bahwa hati manusia bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan kekayaan.

Sampai suatu hari...

Seorang mahasiswi baru datang ke kampusnya.

Namanya Alya Andini.

Gadis sederhana yang berasal dari sebuah kampung kecil. Penampilannya jauh berbeda dari mahasiswi lain. Rambutnya selalu dikuncir dua, mengenakan kacamata bulat hitam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Ayunda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6 Mengejar kepercayaan Alya.

Suara langkah kaki di luar pintu berhenti.

Hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri.

Alya masih membeku.

Wajahnya pucat.

Kedua tangannya gemetar hebat.

"Dia..."

Bibirnya bergetar.

"Dia benar-benar datang?"

Dion tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap tertuju pada pintu.

Namun beberapa detik kemudian, Dion justru berbalik.

Ia menatap Alya.

Bukan pintu.

Bukan pria misterius itu.

Melainkan Alya.

Perempuan yang sekarang sedang berusaha menahan ketakutannya sendiri.

Dion berjalan mendekat.

Alya refleks mundur satu langkah.

Dion langsung berhenti.

Ia tidak memaksa mendekat.

"Tenang."

Suaranya rendah.

"Aku di sini."

Alya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Tapi dia datang karena aku."

Dion menggeleng.

"Dia datang karena pilihannya sendiri."

"Tidak."

Alya menggeleng cepat.

"Kalau aku tidak ada..."

"Dengar."

Dion memotong dengan lembut.

"Kau tidak perlu menyalahkan dirimu atas kejahatan orang lain."

Alya terdiam.

Dion kemudian melepas jaketnya.

Ia meletakkannya di atas bahu Alya tanpa menyentuh tubuhnya terlalu lama.

"Kalau kau kedinginan, pakai."

Alya menatap jaket itu.

Kemudian menatap Dion.

"Kak Dion..."

"Hm?"

"Kenapa Kak Dion selalu melakukan itu?"

"Melakukan apa?"

"Menjagaku."

Dion terdiam sesaat.

Kemudian tersenyum kecil.

"Karena aku ingin."

Alya mengerutkan kening.

"Tanpa mengharapkan apa-apa?"

"Tanpa mengharapkan apa-apa."

Alya menatapnya lama.

Seolah sedang mencari kebohongan di wajah Dion.

Namun Dion justru berjongkok sedikit agar sejajar dengan pandangan Alya.

"Alya."

"Iya?"

"Aku ingin kau mengingat satu hal."

Dion menunjuk dirinya sendiri.

"Aku bukan lelaki yang akan meminta tubuhmu sebagai pembayaran karena aku pernah menolongmu."

Alya terdiam.

"Aku juga bukan lelaki yang merasa berhak menyentuhmu hanya karena aku menyukaimu."

Mata Alya mulai berkaca-kaca.

"Kalau suatu hari kau tidak ingin aku menyentuhmu..."

Dion mengangkat kedua tangannya.

"Aku akan berhenti."

"Kalau kau ingin aku menjauh..."

"Aku akan menjauh."

"Kalau kau bilang tidak..."

"Aku akan menerima jawaban itu."

Alya menggigit bibir.

"Tapi kenapa?"

Dion tersenyum tipis.

"Karena kau manusia."

Alya terdiam.

"Kau bukan hadiah."

"Bukan barang."

"Bukan sesuatu yang bisa dimiliki hanya karena seseorang memberikan perhatian."

Dion menatap matanya.

"Dan kau tidak pernah berutang tubuhmu kepada siapa pun hanya karena orang itu mencintaimu."

Air mata Alya jatuh.

Satu tetes.

Kemudian dua.

Dion tidak menghapusnya.

Ia tahu...

mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alya membutuhkan seseorang yang tidak terburu-buru menyentuhnya ketika ia menangis.

Alya mengusap pipinya sendiri.

"Tapi bagaimana kalau suatu hari Kak Dion berubah?"

Dion terdiam.

Pertanyaan itu begitu sederhana.

Namun jawabannya tidak bisa diberikan dengan kata-kata manis.

Karena Alya sudah terlalu sering mendengar janji.

Dion akhirnya berkata—

"Aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku tidak akan pernah membuat kesalahan."

Alya menatapnya.

"Tapi aku bisa berjanji satu hal."

"Apa?"

"Aku tidak akan pernah menggunakan rasa takutmu untuk mendapatkan sesuatu darimu."

Alya membeku.

Dion melanjutkan.

"Kalau kau mencintaiku..."

"aku ingin itu karena kau memilihnya."

"Bukan karena kau takut kehilangan perlindunganku."

"Bukan karena aku mengancammu."

"Bukan karena aku membuatmu merasa berutang."

Suara Dion semakin pelan.

"Dan kalau suatu hari kau tidak mencintaiku..."

Ia tersenyum tipis.

"...aku tetap ingin kau baik-baik saja."

Alya menatap Dion dengan mata basah.

"Kak Dion..."

"Hm?"

"Kenapa kata-kata Kak Dion membuatku semakin ingin menangis?"

Dion tertawa kecil.

"Berarti aku gagal membuatmu tidak menangis."

Alya hampir tersenyum.

"Jahat."

"Baru kali ini aku dibilang jahat karena membuat seseorang menangis."

Alya mengusap air matanya.

Untuk pertama kalinya malam itu...

senyumnya benar-benar terlihat.

Kecil.

Sangat kecil.

Tetapi tulus.

Dion memperhatikannya.

Kemudian ia berkata—

"Nah."

"Apa?"

"Begitu lebih baik."

Alya mengerutkan kening.

"Apa?"

"Tersenyum."

Alya langsung menunduk.

Tangannya kembali menutupi pipinya.

"Aku tidak suka tersenyum."

"Kenapa?"

"Karena ketika aku tersenyum..."

Ia menyentuh tanda hitam di pipinya.

"...orang-orang mulai memperhatikanku."

Dion mengangguk.

"Kalau begitu, jangan tersenyum untuk mereka."

Alya mengangkat wajah.

"Tersenyumlah kalau kau memang ingin."

"Untuk siapa?"

Dion tersenyum.

"Untuk dirimu sendiri."

Alya terdiam.

Kalimat sederhana itu justru terasa begitu asing baginya.

Selama bertahun-tahun...

ia selalu berusaha mengubah dirinya agar tidak dilihat.

Menyembunyikan wajah.

Menyembunyikan kecantikan.

Menyembunyikan perasaan.

Bahkan menyembunyikan dirinya sendiri.

Namun sekarang...

ada seseorang yang justru tidak memintanya berubah.

Dion berdiri.

Kemudian berjalan menuju pintu.

Alya langsung panik.

"Kak Dion!"

Dion berhenti.

"Apa?"

"Jangan keluar."

Dion menoleh.

Tatapan Alya terlihat takut.

Bukan takut kepada Dion.

Tetapi takut kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya merasa aman malam itu.

Dion memahami tatapan tersebut.

Ia kembali mendekat.

Namun tetap berhenti beberapa langkah di depannya.

"Aku tidak akan meninggalkanmu."

Alya menatapnya.

"Benarkah?"

Dion mengangguk.

"Tapi aku juga tidak ingin kau bergantung kepadaku karena rasa takut."

Alya terdiam.

"Aku ingin kau percaya kepadaku karena kau mengenalku."

Dion menunjuk dadanya.

"Bukan karena aku menyelamatkanmu."

"Bukan karena aku lebih kuat."

"Bukan karena kau membutuhkan perlindungan."

"Tapi karena setelah mengenalku..."

"...kau sendiri yang memutuskan bahwa aku layak dipercaya."

Alya menunduk.

Kemudian perlahan...

ia mengangguk.

Dion tersenyum.

"Pelan-pelan saja."

"Kepercayaan tidak perlu dibangun malam ini."

Di luar rumah...

angin malam bertiup semakin kencang.

Daun-daun kering bergesekan dengan halaman.

Suasana kembali menegang.

Namun kali ini...

Alya tidak merasa sendirian.

Dion berdiri di antara dirinya dan pintu.

Bukan seperti seorang lelaki yang ingin memiliki seorang perempuan.

Melainkan seperti seseorang yang sedang menjaga hak perempuan itu untuk menentukan hidupnya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya...

Alya mulai bertanya dalam hati—

Mungkin...

tidak semua lelaki datang untuk mengambil sesuatu dariku.

Mungkin ada lelaki yang hanya ingin memastikan aku tetap menjadi diriku sendiri.

Alya menatap punggung Dion.

"Kak Dion."

Dion menoleh.

"Ya?"

Alya menarik napas panjang.

"Kalau nanti aku benar-benar bisa percaya..."

Dion diam menunggu.

Alya tersenyum kecil.

"...jangan kecewakan aku."

Dion membalas tatapannya.

"Aku akan berusaha."

Alya mengerutkan kening.

"Hanya berusaha?"

Dion tersenyum.

"Karena aku tidak mau memberimu janji kosong."

Ia kembali menatap pintu.

"Tapi selama aku masih berada di sini..."

"...aku akan membuktikannya."

Tiba-tiba—

BRAK!

Pintu rumah bergetar keras.

Alya tersentak.

Dion langsung berdiri di depan Alya.

Tatapannya berubah tajam.

Dari balik pintu...

terdengar suara pria misterius itu.

"Indah sekali."

Dion mengepalkan tangan.

Pria itu tertawa.

"Seorang lelaki yang mengaku tidak ingin memiliki Alya..."

"tetapi berdiri begitu dekat dengannya."

Dion tidak menjawab.

Suara itu kembali terdengar.

"Kalau begitu..."

"mari kita lihat..."

"...seberapa jauh kau mampu mempertahankan prinsipmu."

Dion menatap pintu.

Kemudian ia berkata dingin—

"Jauh lebih jauh daripada yang kau kira."

Alya menatap Dion.

Dan untuk pertama kalinya...

rasa takut di dalam dirinya tidak sepenuhnya menguasai hatinya.

Karena sekarang...

ia tidak hanya bersembunyi di belakang tanda hitam di pipinya.

Ia mulai berani percaya...

sedikit demi sedikit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!