Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Juru Tulis yang Menulis Angka Aneh
Kepala juru tulis kepatihan bernama Ki Wasista, seorang lelaki kurus bermata tajam yang selalu terlihat seperti baru saja mencium sesuatu yang busuk.
"Kau yang dikirim Mahapatih?" tanyanya pada hari pertama, mengamati Raka dari ujung kepala sampai kaki melalui kacamata tembaga tipis di hidungnya. "Cantrik dari negeri jauh? Hmph. Kita lihat apakah tulisanmu secantik ceritamu."
"Hamba akan berusaha, Ki."
"Berusaha tak ada gunanya. Tulis."
Ia menyodorkan tumpukan lontar berisi catatan pajak dari desa-desa di wilayah Kediri, lalu menunjuk sebuah meja kecil di sudut ruangan panjang yang dipenuhi belasan juru tulis lain. Raka duduk, menyiapkan stylus, dan mulai menyalin.
Ruangan itu sunyi, hanya terdengar goresan stylus dan sesekali dehaman. Cahaya matahari masuk dari jendela-jendela tinggi di sisi timur, menerangi debu halus yang melayang. Tiga hari yang lalu Raka masih berlatih pedang kayu di lereng Wilis. Sekarang ia menyalin catatan pajak di jantung kekuasaan Majapahit. Hidup ini benar-benar tidak masuk akal.
Ia sedang menyalin angka-angka hasil panen ketika tangannya bergerak sendiri.
Raka biasa menghitung dengan angka Arab, dan tanpa sadar, pada baris ke-sebelas, ia menulis 1.250 di sisi catatan untuk menjumlahkan sesuatu, lengkap dengan titik pemisah ribuan. Ia hanya sadar ketika sebuah bayangan jatuh di atas mejanya.
"Angka apa itu?"
Raka mendongak. Ki Wasista berdiri di sampingnya, kacamata tembaganya melorot di ujung hidung, matanya terpaku pada tulisan kecil itu.
"I-itu... kebiasaan negeri hamba, Ki. Hanya untuk menghitung cepat."
"Cepat?" Ki Wasista mengambil lontar itu dan menelitinya. "Satu... dua... lima... nol. Tempat angkanya menentukan nilainya?"
"Ya, Ki."
"Jadi seratus dua puluh lima tidak perlu ditulis dengan tanda khusus seratus, tanda khusus dua puluh, dan tanda khusus lima?"
"Tidak perlu."
Hening panjang. Ki Wasista menurunkan lontar itu perlahan, dan di matanya muncul sesuatu yang berbahaya: ketertarikan.
"Ajarkan aku," katanya.
Raka menelan ludah. Ia teringat Mpu Kalandara, teringat peringatannya, teringat Hendar dan idenya yang indah. Ia teringat betapa satu hal sepele bisa merembet menjadi seribu hal lain.
"Hamba... akan mempertimbangkannya, Ki," katanya hati-hati. "Hamba belum yakin itu pantas diajarkan."
"Pantas atau tidak, itu urusanku." Ki Wasista mengerutkan dahi, lalu mendengus. "Tapi baiklah. Orang yang bijak tahu kapan tidak mendesak. Kita bicarakan nanti." Ia mengembalikan lontar itu. "Jangan menulis lagi dengan angka-angka itu di catatan resmi. Aku tak mau Mahapatih mengira tulisan di mejaku sihir."
"Baik, Ki."
Setelah lelaki itu pergi, Raka menatap angka 1.250 yang masih tertera di lontarnya, dan tiba-tiba merasa mual. Satu kesalahan kecil, satu detik kelengahan, dan ia sudah hampir membuka pintu bagi sesuatu yang seharusnya baru datang berabad-abad kemudian.
Ia menghapusnya dengan ujung jari hingga tak berbekas.
Malam itu, di bilik kecil di kompleks kepatihan yang diberikan padanya, Wirabhaya datang membawa kabar dari Kampung Pandean.
"Aku sampaikan pesannya pada Landep," katanya, duduk di dipan kayu dengan wajah lelah. "Ia mendengarkan tanpa berkata apa-apa. Lalu ia hanya bilang, 'Katakan pada Mahapatih aku tak percaya.'"
"Hanya itu?"
"Hanya itu." Wirabhaya mengusap wajah. "Tapi dari caranya mengatakannya, aku tahu ia tidak sedang menantang. Ia hanya terlalu tua untuk mudah memercayai kata-kata."
"Dan Sekar?"
"Dia aman. Tarub dan dua orangku berjaga bergantian. Dia kembali menumbuk jamu bersama istri Landep seakan tak terjadi apa-apa." Wirabhaya menghela napas. "Tapi aku perhatikan dia sering berhenti dan menatap kosong."
Raka mengangguk pelan. Ia tahu rasanya.
"Dan Anggada?" tanyanya.
"Dia kembali bertugas seperti biasa. Tak ada yang berubah." Rahang Wirabhaya mengeras. "Itu yang membuatku gila. Dia tersenyum padaku setiap pagi, Raka. Menyapa. Bertanya soal kesehatan. Dan aku harus menjawab seakan aku tidak tahu apa-apa."
"Itu pasti sulit."
"Aku pernah melawan tiga puluh pemberontak di perbatasan Daha. Itu jauh lebih mudah." Wirabhaya tertawa getir. "Tapi aku akan bertahan."
Beberapa hari berlalu dalam ritme yang membosankan dan melelahkan: bangun sebelum fajar, menyalin catatan, makan nasi dengan sayur seadanya bersama para juru tulis lain, menyalin lagi sampai petang. Mpu Kalandara sibuk dengan pertemuan para penasihat dan hampir tak pernah terlihat. Raka diam-diam senang dengan kebosanan itu. Ia belum pernah merasa begitu aman sejak tiba di dunia ini.
Pada sore hari keenam, ketika para juru tulis lain sudah pulang, Raka tertinggal untuk menyelesaikan satu gulungan terakhir. Ruangan itu kosong dan sunyi. Cahaya jingga memenuhi jendela, dan debu berkilauan di udara.
Ia sedang menyeka stylusnya ketika sebuah suara kecil terdengar dari balik rak lontar.
"Psst. Hei. Kau."
Raka menoleh cepat. Di balik rak tinggi di sudut ruangan, seorang pemuda berusia sekitar enam belas tahun mengintip dengan mata berbinar. Ia berpakaian sederhana seperti anak pedagang, kain cokelat polos, ikat kepala kusut, dan sepasang sandal kulit yang jelas terlalu mahal untuk pakaian sesederhana itu.
"Kau juru tulis baru, kan?" bisik pemuda itu, mendekat dengan langkah mengendap-endap yang kurang meyakinkan. "Yang dari negeri jauh?"
"Hamba... ya?"
"Bagus." Pemuda itu menyeringai lebar dan duduk bersila di depan Raka tanpa diundang, seolah itu hal paling wajar di dunia. "Aku sudah mendengar tentangmu. Katanya kau menulis dengan huruf yang tak pernah dilihat siapa pun. Benarkah?"
"Hamba... agak, ya."
"Tunjukkan."
Raka ragu. Tapi mata pemuda itu begitu antusias, dan ia tak punya alasan kuat untuk menolak. Perlahan, ia mengambil sehelai lontar kosong dan menuliskan dengan pensilnya, huruf demi huruf: H-A-Y-A-M.
Pemuda itu menatapnya lama, lalu bersiul pelan. "Cuma empat tanda?"
"Setiap tanda satu bunyi."
"Itu... lebih sederhana dari aksara kami." Ia mengangkat lontar itu, memandanginya dengan kagum seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. "Dan ini bunyinya 'Hayam'?"
"Ya."
"Itu namaku."
Raka tersenyum sopan. "Kebetulan, nama yang bagus."
"Aku tahu." Pemuda itu tertawa, lalu menunjuk dirinya dengan jempol. "Aku sering diberi tahu. Aku Hayam Wuruk."
Raka membeku.
Stylus di tangannya jatuh berkelontang di lantai.
"Jangan panik," kata Hayam Wuruk cepat, menyeringai nakal. "Jangan sembah-sembah. Aku sedang kabur dari guru-guruku. Kalau kau sujud sekarang, seluruh kepatihan akan tahu."
"Bag... Baginda..."
"Sudah kubilang jangan." Raja muda Majapahit itu mengibaskan tangan. "Panggil saja Hayam. Di sini aku hanya anak yang bosan."
Raka sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Seluruh etika yang diajarkan Mpu Kalandara menguap dari kepalanya. Ia hanya duduk dengan mulut terbuka, menatap pemuda enam belas tahun yang dalam hitungan tahun akan menjadi raja paling termasyhur dalam sejarah Nusantara.
"Aku punya pertanyaan," kata Hayam Wuruk, tiba-tiba serius. Matanya yang tadi nakal berubah tajam. "Kau datang dari tempat yang sama dengan Sang Tabib, kata Mahapatih."
Raka menelan ludah. "Ya... Baginda."
"Dia ingin bertemu aku sore ini. Katanya penting. Katanya soal masa depan kerajaan." Hayam Wuruk memandangnya lekat-lekat. "Menurutmu, aku harus menemuinya?"
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.