Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAUT TERBELAH DUA
Perahu kayu hitam meluncur perlahan membelah gelombang ombak malam. Di sekeliling mereka, kabut tebal berwarna merah keemasan membentang pekat, memancarkan bau manis racun teratai yang melelehkan permukaan air laut. Setiap kali percikan air beracun mengenai lambung perahu, ukiran mantra kuno pada kayu hitam itu menyala redup, menahan korosi yang mematikan.
Di ujung haluan perahu, Ryu Jin berdiri tegak. Jubah kelabunya terkibas pelan ditiup angin laut yang basah. Tangan kirinya bersedekap, sementara tangan kanannya bertumpu santai pada gagang Pedang Tulang Hitam di punggungnya.
Di belakangnya, nahkoda tua berpipa tembakau terus mengayunkan dayung kayunya dengan irama yang teratur. Asap tembakau membubung tipis dari mulutnya, melayang di antara gulungan kabut racun.
"Anak muda..." suara serak nahkoda tua memecah keheningan lautan. "Aku telah mengarungi lautan ini selama enam puluh tahun. Aku pernah melihat praktisi bertarung hingga membelah gunung, pernah pula melihat monster laut raksasa menelan pulau kecil. Tapi aura yang kau bawa... tidak berasal dari tempat ini."
Ryu Jin tidak menoleh. Matanya yang merah redup menatap lurus ke arah kegelapan kabut di depan.
"Kenapa mereka bisa berurusan dengan benda di punggungmu itu?" tanya nahkoda tua pelan, matanya menatap kain pembungkus pedang Ryu Jin yang membendung energi kegelapan.
Ryu Jin diam sejenak. Hembusan angin laut memainkan rambut hitamnya yang panjang sebelum ia akhirnya bersuara, suaranya halus namun dingin menusuk hingga ke dasar jiwa.
"Mereka tidak berurusan dengan pedang ini," jawab Ryu Jin datar. "Pedang ini... adalah pasak yang dipasang para leluhur untuk mengurungku. Tanpa pedang ini menahan jiwaku, dunia yang kau pijak ini sudah lama menjadi abu."
Nahkoda tua itu tertegun. Tangan keriputnya yang memegang dayung sempat berhenti sejenak. Ia menatap punggung pemuda berpakaian kelabu itu dengan rasa merinding yang mendalam. Bagi orang-orang di benua, Ryu Jin adalah pembawa kiamat. Namun kenyataannya, Ryu Jin adalah penjara itu sendiri—dan Tiga Sekte Besar dengan serakah telah menghancurkan dinding penjaranya.
SSSTTT!
Percakapan mereka terputus seketika saat permukaan air laut di sekitar perahu mendadak berubah warna menjadi merah darah murni!
Gelombang ombak yang tadinya bergulung keras seketika menjadi tenang—ketenangan yang janggal dan mencekam. Dari dalam kedalaman laut, aroma bunga teratai yang busuk menyengat hidung, diikuti oleh suara pusaran air raksasa yang berputar di bawah perahu kayu hitam.
"Mereka datang," gumam nahkoda tua seraya menancapkan dayungnya erat-erat ke dalam air, menstabilkan perahu.
DUAARR!
Permukaan laut meledak dahsyat! Ratusan ton air beracun membumbung tinggi ke udara bagaikan benteng raksasa.
Dari balik ledakan air tersebut, muncul sesosok raksasa berzirah sisik naga merah yang berdiri di atas kepala monster laut raksasa—sebuah gurita purba berkepala sembilan dengan mata hijau menyala.
Dialah Jenderal Hai Long, Panglima Pelindung Lautan Benua Barat dari Sekte Teratai Emas. Ia adalah praktisi ranah Soul Formation Puncak yang telah menyatukan jiwanya dengan monster purba lautan!
"Iblis dari Desa Sunyi!" suara Jenderal Hai Long bergema memenuhi lautan, memicu gelombang ombak setinggi sepuluh meter. "Kau telah menghancurkan Sekte Pedang Suci dan Awan Putih! Tapi di atas lautan ini, kekuasaan Dewi Lian Ji tidak mutlak dapat kau sentuh!"
Ryu Jin menatap raksasa berzirah sisik dan gurita berkepala sembilan itu tanpa berkedip. Wajahnya tetap datar, tanpa ada ketakutan atau rasa terkejut.
"Ternyata Sekte Teratai Emas memelihara gurita besar," kata Ryu Jin pelan.
"Sombong!" bentak Jenderal Hai Long.
Hai Long tidak melakukan kesalahan seperti para tetua sebelumnya yang menyerang dari jarak dekat. Ia mengarahkan tombak cabang tiganya ke udara!
Jurus Terlarang Lautan: Badai Jarum Darah Teratai!
SSSTTT!
Lautan merah di sekitar mereka meletup! Jutaan jarum air beracun keluar dari permukaan laut, meluncur deras dari segala arah—atas, bawah, kiri, dan kanan—mengepung perahu kayu hitam secara mutlak!
Serangan ini tidak hanya mengincar tubuh Ryu Jin, tetapi juga bermaksud menghancurkan perahu kayu hitam hingga tenggelam ke dasar laut!
Ryu Jin melangkah dari atas perahu.
TAP.
Telapak kakinya menapak di atas permukaan air laut yang beracun tanpa tenggelam sedikit pun. Gelombang hawa membeku meledak dari tubuhnya, membentuk kubah hitam yang menahan jutaan jarum air beracun.
JEBLAG! JEBLAG! JEBLAG!
Jutaan jarum air hancur menjadi uap saat menyentuh aura Ryu Jin. Namun, Jenderal Hai Long tidak tinggal diam. Ia memanfaatkan ribuan ton air laut untuk mengurung kubah hitam Ryu Jin dalam sebuah pusaran air raksasa—Formasi Pusaran Lautan Teratai!
Sembilan kepala gurita purba menyemburkan cairan racun kehitaman ke dalam pusaran air, memadatkan dinding air menjadi perisai raksasa yang menahan aliran energi Ryu Jin.
Untuk pertama kalinya, serangan biasa dan aura pasif Ryu Jin tertahan penuh oleh kepadatan air laut yang dikendalikan oleh praktisi ranah Soul Formation Puncak!
"Hahaha!" tawa Hai Long bergema dari atas kepala gurita. "Di daratan kau mungkin tak tertandingi! Tapi di laut, seluruh lautan ini adalah tubuhku! Kau tidak akan bisa memotong lautan ini!"
Di dalam pusaran air raksasa yang terus berputar menjepit tubuhnya, Ryu Jin berdiri tenang. Rambut hitamnya basah oleh uap air, namun matanya yang merah darah mendadak membara pekat.
"Kau benar," kata Ryu Jin, suaranya bergaung menembus gemuruh air terjun. "Aku tidak bisa memotong lautan ini hanya dengan auraku."
Ryu Jin memegang gagang Pedang Tulang Hitam dengan tangan kanannya.
Ibu jarinya mendorong pelindung pedang... menariknya keluar dari sarung... delapan sentimeter.
KLIK-CRAAAAAAK!
Suara dentang itu begitu dahsyat hingga suara gemuruh lautan seketika bungkam secara mendadak!
Langit malam di atas lautan terbelah oleh kilat hitam yang menyambar deras. Dari celah delapan sentimeter Pedang Tulang Hitam, sebuah wujud raksasa mencuat keluar dari dasar laut—sesosok Naga Tulang Hitam Purba bermata merah membara yang terbentuk dari aura kematian murni!
ROAAAAR!
Raungan Naga Tulang itu menggetarkan permukaan lautan hingga puluhan mil!
Naga Tulang raksasa itu mengibaskan ekornya, menghancurkan Formasi Pusaran Lautan Teratai milik Hai Long menjadi serpihan air yang menguap seketika!
"A-Apa?! Naga Tulang Iblis?!" jerit Hai Long histeris, matanya melotot lebar saat melihat pusaran air kebanggaannya hancur berkeping-keping dalam satu detik.
Naga Tulang Hitam menerjang maju dengan rahang terbuka lebar, melahap sembilan kepala gurita purba sekaligus!
CRUNCH! CRUNCH!
Jeritan penderitaan dari monster laut purba bergema mencekam saat sembilan kepalanya dikunyah dan dilebur hidup-hidup oleh Naga Tulang. Cairan darah dan energi kehidupan gurita purba ditarik secara paksa masuk ke dalam celah pedang Ryu Jin!
"TIDAK! AMPOOON!" jerit Hai Long saat tubuh berzirah sisik naganya terseret masuk ke dalam rahang Naga Tulang.
CRES!
Jenderal Hai Long—praktisi ranah Soul Formation Puncak penguasa lautan—hancur berkeping-keping, jiwanya dilahap utuh oleh senjata terlarang tersebut.
GZZZZZZ!
Ukiran pada sarung Pedang Tulang Hitam meledak dalam cahaya merah yang teramat pekat. Sebuah ukiran mata baru terbuka lebar di sarung pedangnya—Mata Ke-Enam!
Tebasan delapan sentimeter dari Ryu Jin tidak hanya menghancurkan Hai Long dan gurita purbanya.
Aura tebasan hitam itu meluncur lurus menyapu lautan seluas puluhan mil!
DUAARR!
Lautan yang membentang di hadapan mereka seketika terbelah dua! Jutaan ton air laut terdorong ke samping, menciptakan sebuah jalan kering tanpa air sepanjang belasan mil di tengah-tengah lautan yang memperlihatkan dasar laut dan garis pantai Benua Barat di ujung horizon!
Nahkoda tua di atas perahu kayu hitam menghentikan dayungnya. Matanya yang kabur menatap lautan yang terbelah dua di hadapannya dengan rasa takjub dan ketakutan yang luar biasa. Ia belum pernah melihat kekuatan yang sanggup membelah lautan secara mutlak seperti ini sepanjang hidupnya.
Ryu Jin mendorong kembali pedangnya masuk rapat ke dalam sarungnya. Naga Tulang Hitam menghilang kembali ke dalam bilah pedang.
Ryu Jin melompat ringan kembali ke atas perahu kayu hitam.
"Lautan sudah bersih," kata Ryu Jin datar pada nahkoda tua. "Jalan terus."
Nahkoda tua menelan ludah, lalu kembali mendayung perahu kayu hitamnya meluncur di atas celah lautan yang terbelah.
Sementara itu, di benteng megah tepi pantai Benua Barat.
Dari atas menara pengintai benteng, dua sosok berdiri mematung dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat—Dewi Lian Ji (Pimpinan Sekte Teratai Emas) dan Master Yun Cang (Pimpinan Sekte Awan Putih).
Melalui cermin pengintai, mereka menyaksikan sendiri bagaimana Jenderal Hai Long dan gurita purbanya dicincang habis, serta bagaimana Badai Kabut Teratai kebanggaan mereka terbelah dua bersama lautan oleh satu tebasan pedang.
Cawan batu di tangan Dewi Lian Ji jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai. Tubuhnya yang anggun gemetar hebat, air mata ketakutan mengalir dari matanya.
"Dia... dia sudah menyeberangi lautan..." bisik Dewi Lian Ji dengan suara melengking penuh histeria. "Hai Long tewas... lautan kita terbelah..."
Master Yun Cang di sampingnya mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, memuntahkan sedikit darah karena tekanan jiwa dari jarak jauh yang menembus cermin pengintai.
"Tidak ada lagi tempat melarikan diri..." gumam Yun Cang dengan suara serak. "Panggil seluruh pasukan Benua Barat... siapkan Formasi Pembantai Iblis Terakhir di gerbang pantai!"
Di celah lautan yang terbelah, perahu kayu hitam kecil terus bergerak mendekat menuju garis pantai Benua Barat. Ryu Jin berdiri di ujung haluan, menatap benteng pantai dengan mata merahnya yang kian pekat. Perburuan terakhir untuk memusnahkan Tiga Sekte Besar tinggal menghitung langkah!