Tiga tahun menikah, tiga kali pula Rena harus kehilangan buah hatinya akibat kelelahan fisik dan mental. Di rumah besar milik ibu mertuanya di Solo, Rena bukan dianggap sebagai menantu, melainkan pembantu tanpa gaji yang harus melayani seluruh keluarga besar suaminya tanpa kenal lelah. Ketika kesabarannya habis dan nyawanya terancam, sebuah keputusan besar diambil: Keluarga atau rumah petak sederhana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gedoran di Balik Pintu
Gedoran pada daun pintu kamar semakin beringas, diiringi suara napas memburu dan omelan tajam Bu Darmi yang menggema di seisi rumah. Suara televisi di ruang keluarga sudah lama dimatikan. Bisa dipastikan Bayu, Mira, dan Elisa kini sedang memasang telinga lebar-lebar, menikmati tontonan gratis berupa keributan antara ibu mertua dan menantu di dalam kamar.
"Gunawan! Kamu tuli, ya?! Kenapa pintunya dikunci dari dalam?! Buka sekarang! Mau jadi menantu durhaka apa istri kamu itu, diajarin malah ngelawan di kamar?!" teriak Bu Darmi dengan nada melengking yang sukses membuat gendang telinga terasa berdengung.
Di dalam kamar yang sempit, Rena masih terduduk di tepi ranjang dengan napas tertahan. Air mata di pipinya memang sudah mengering, tetapi debar di dadanya belum juga mereda. Ia menatap lekat-lekat punggung suaminya yang kini berdiri tepat di depan pintu. Ada perubahan postur yang tidak biasa pada diri Gunawan. Lelaki itu tidak lagi menunduk lesu seperti biasanya. Pundaknya yang biasa membungkuk karena beban rasa bersalah kini terlihat tegap.
Tanpa membuang waktu lagi, Gunawan memutar kunci grendel dan membuka pintu kamar dengan kasar.
*Ceklek!*
Pintu terbuka lebar, menampakan wajah Bu Darmi yang sudah merah padam karena marah, berdiri berkacak pinggang tepat di ambang pintu. Di belakang sang ibu, Bayu dan Mira tampak berdiri dengan ekspresi sinis, sementara Elisa mengintip dari balik bahu kakaknya dengan rasa penasaran campur takut.
"Wah, hebat ya kalian berdua! Sekarang sudah berani main kunci-kuncian kamar dari dalam kalau diteriaki mertua! Mau jadi apa kalian" maki Bu Darmi panjang lebar, namun kalimatnya mendadak terpotong di udara.
Gunawan melangkah maju satu langkah, menubruk pandangan tajam sang ibu tanpa sedikit pun rasa gentar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, lelaki itu berani menatap mata ibunya saat sedang murka.
"Cukup, Bu!" suara Gunawan keluar dengan nada tegas, berat, dan berwibawa. Tidak ada lagi nada memohon atau rasa takut yang biasa terdengar di suaranya.
Bu Darmi tertegun sejenak, matanya membelalak kaget. "Apa kamu bilang? Kamu berani membentak ibu sekarang, hah? Gara-gara perempuan mandul dan pemalas ini, kamu jadi anak durhaka?!" maki Bu Darmi semakin menjadi-jadi, jarinya menuding tepat ke arah Rena yang duduk di tepi ranjang.
Mendengar kata "mandul" yang dilontarkan mertuanya secara terang-terangan, dada Rena terasa dihujat ribuan jarum. Luka akibat tiga kali keguguran yang belum sembuh total mendadak kembali berdarah. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan rasa sakit yang luar biasa di dalam dadanya.
"Jaga mulut Ibu!" potong Gunawan dengan suara meninggi, membuat Bu Darmi, Bayu, dan Mira langsung terperanjat kaget. Suasana rumah mendadak senyap seketika. Bahkan suara detak jam dinding pun terdengar begitu nyaring.
Bayu, yang merasa kakaknya harus pasang badan, langsung maju ke depan sambil melipat tangan di dada. Matanya menatap Gunawan dengan sebelah alis terangkat meremehkan.
"Eh, Nan! Jangan kurang ajar ya kamu sama ibu! Cuma karena istrimu itu tidak bisa diatur lalu kamu ikut-ikutan melawan? Sadar diri sedikit, rumah ini tempat siapa!" bentak Bayu sengit.
"Benar itu, Gunawan!" sahut Mira menimpali dengan nada tajam khasnya. "Istri kamu itu memang tidak tahu diuntung. Cuma disuruh beres-beres rumah saja ngeluh terus, giliran dikasih makan ikut nimbrung. Pantas saja kalau kandungan tiga kali gugur, mungkin memang karena karma tidak berbakti sama orang tua!"
Mendengar ucapan Mira yang semakin kelewatan, batas kesabaran Rena akhirnya benar-benar habis. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Rena bangkit berdiri dari tempat tidur. Wajahnya pucat pasi, namun sorot matanya menyala tajam penuh kemarahan yang tertahan. Ia melangkah keluar mendekati pintu, berdiri tepat di samping suaminya.
"Cukup, Mbak Mira! Cukup!" suara Rena bergetar hebat, namun tegas menghentikan ucapan iparnya.
"Selama tiga tahun ini aku diam. Selama tiga tahun ini aku telan semua hinaan, caci maki, dan kerja rodi di rumah ini tanpa digaji sepeser pun! Aku korbankan kesehatan fisikku, aku korbankan rahimku sampai tiga kali kehilangan anakku karena kelelahan melayani keluarga kalian! Tapi apa balasannya? Kalian injak-injak harga diriku serendah-rendahnya!"
Bu Darmi mendengus sinis, melipat tangan di dada dengan dagu terangkat tinggi.
"Halah! Baru jadi menantu saja sudah banyak mengeluh! Kalau tidak mau kerja, sana pergi dari rumah ini! Siapa juga yang sudi punya menantu tidak berguna sepertimu!"
Mendengar tantangan telak dari sang ibu, Gunawan menarik napas dalam-dalam. Matanya menatap satu per satu wajah anggota keluarganya dengan tatapan dingin yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Baik, Bu. Kalau itu mau Ibu," ucap Gunawan dengan suara lantang dan penuh ketegasan. "Mulai malam ini, aku dan Rena akan angkat kaki dari rumah ini. Kami akan cari rumah kontrakan sendiri!"