NovelToon NovelToon
Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Putri asli/palsu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.

Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.

Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Gedung perkantoran Haryo, Santoso & Rekan di kawasan Sudirman biasanya merupakan simbol dari ketenangan dan profesionalisme hukum kelas atas. Namun pagi ini, lobi marmer itu terasa seperti sarang semut yang disiram air mendidih. Para staf berlarian membawa tumpukan berkas, telepon berdering tanpa henti, dan wajah-wajah pucat para pengacara junior menghiasi setiap sudut.

Di lantai dua puluh, ruang Managing Partner Haryo Wijaya, sang pengkhianat, sedang menikmati secangkir kopi Luwak sambil menatap layar Bloomberg. Grafik saham Arland Group berwarna merah darah, anjlok drastis. Haryo tersenyum puas. Raka pasti akan memberinya bonus besar atas keberhasilan menjatuhkan Reyna Arland hari ini.

BUKK!

Pintu ganda ruangannya terbuka paksa, membentur dinding dengan suara yang menggelegar. Dua orang pengawal keamanan gedung yang seharusnya menjaga pintu kini tergeletak di lorong, mengerang kesakitan. Dua pengawal pribadi baru yang disewa Reyna dari agen Gavin berdiri di ambang pintu.

Di belakang mereka, melangkah masuk Reyna Arland.

Haryo langsung berdiri, kopi di tangannya tumpah membasahi setelan mahalnya. "Reyna! Kau... kau tidak bisa masuk ke sini seperti ini! Ini kantor hukum! Aku akan memanggil polisi!"

"Polisi sudah dalam perjalanan, Tuan Haryo," ucap Reyna datar, melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Vincent mengikutinya, membawa sebuah tablet. "Tapi mereka tidak datang untuk menangkapku. Mereka datang untuk menjemputmu."

Haryo tertawa gugup, mencoba mempertahankan wibawanya. "Kau gila! Kau pikir aku takut pada ancaman gadis manja sepertimu? Aku memiliki koneksi di kejaksaan! Aku memiliki perlindungan dari orang-orang yang jauh lebih berkuasa daripada ayahmu!"

"Orang-orang yang jauh lebih berkuasa?" Reyna mengangkat alis, lalu tersenyum tipis. "Maksudmu Raka Adityama? Hantu yang bersembunyi di pulau pribadinya dan berpikir dia bisa bermain Tuhan dari balik layar?"

Wajah Haryo seketika berubah. Senyumnya lenyap, digantikan oleh ekspresi horor yang murni. "A... apa katamu? Aku tidak tahu siapa.."

"Jangan berbohong, Haryo," potong Reyna tajam. Ia mengangguk pada Vincent.

Vincent memutar tabletnya, menampilkan sebuah video. Video itu menampilkan Haryo sendiri, sedang duduk di sebuah ruang gelap, berbicara dengan sosok yang wajahnya tertutup bayangan, itu adalah Raka. Dalam video itu, Haryo menerima sebuah hardisk dan berjanji akan menyebarkannya ke media.

"Rekaman CCTV dari ruang bawah tanah gedung ini, diambil tiga hari yang lalu," jelas Reyna. "Kualitas audionya sangat jernih. Aku bisa mendengar dengan jelas bagaimana kau menerima dua puluh miliar rupiah dari Raka untuk memalsukan dokumen dan menghancurkan reputasiku."

Haryo mundur, kakinya menabrak meja kerjanya hingga ia terjatuh ke kursi. "Kau... kau memata-mataiku? Kau tidak punya hak.."

"Aku punya hak atas nyawaku, Tuan Haryo. Dan kau baru saja mencoba membunuhnya secara sosial dan finansial," Reyna berjalan mendekat, menatap pria tua itu dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Kau pikir dengan membocorkan dokumen palsu ke media, kau akan membuatku hancur seperti Clarissa dan Julian? Kau pikir Raka akan melindungimu ketika badai ini datang?"

"Aku... aku hanya menjalankan tugas! Raka akan melindungiku! Dia punya pasukan!" Haryo mulai panik, keringat dingin membasahi dahinya.

"Raka tidak melindungi siapa pun," balas Reyna dingin. "Dia menggunakan orang-orang serakah sepertimu sebagai tameng. Dan sekarang, Bareskrim Siber sedang menyita seluruh server di gedung ini. Rekening pribadimu, rekening istri mudamu di Melbourne, dan aset properti anak-anakmu sudah dibekukan oleh Kejaksaan Agung berdasarkan laporan pencucian uang yang baru saja kukirim."

Haryo pucat pasi. Kakinya lemas. "Tidak... tidak mungkin. Itu uang pensiunku! Itu masa depan anak-anakku!"

"Masa depan anak-anakmu seharusnya tidak dibangun di atas kehancuran orang lain, Haryo," ucap Reyna, suaranya tidak mengandung belas kasihan sedikit pun. "Tapi aku adalah wanita yang murah hati. Aku akan memberimu satu kesempatan."

Reyna menarik kursi di hadapan Haryo dan duduk dengan anggun. "Katakan padaku, di mana Raka menyimpan server fisik utama yang terhubung dengan jaringan pencuciannya di Jakarta? Bukan di pulaunya. Di Jakarta. Dia pasti memiliki *node* lokal untuk memproses transaksi gelap tanpa harus melewati satelit yang bisa dilacak interpol."

Haryo menggeleng kuat-kuat. "Aku tidak tahu! Sumpah, aku tidak tahu! Aku hanya pengacara, aku hanya mengurus dokumen!"

Reyna menatapnya lekat-lekat. "Vincent, putarkan audio berikutnya."

Vincent menekan layar. Suara Raka terdengar dari tablet. "Jika Reyna mencoba melacak kita, hancurkan node di pelabuhan Tanjung Priok. Pastikan server di sana meledak sebelum polisi tiba."

Hening.

Haryo menelan ludah. "Itu... itu hanya instruksi darurat. Aku tidak tahu lokasi pastinya..."

"Kau tahu," desis Reyna, mencondongkan tubuhnya. "Kau adalah Managing Partner firma hukum terbesar di Jakarta. Kau pasti tahu setiap properti komersial yang disewa oleh klienmu. Cek kontrak sewa properti atas nama perusahaan cangkang Raka di area pelabuhan. Ada satu gudang yang menyewa daya listrik tingkat industri, bukan?"

Haryo terdiam. Matanya bergerak liar, mencari jalan keluar. Namun, ia tahu Reyna tidak akan melepaskannya hari ini. Jika ia tidak bicara, Reyna akan membiarkan polisi menemukannya, dan Raka pasti akan menyuruh anak buahnya membunuhnya di dalam sel.

"Oke... oke!" Haryo akhirnya menyerah, suaranya parau. "Gudang nomor 4 di area C, Tanjung Priok. Terdaftar atas nama PT Bahari Sejahtera. Di dalamnya ada server *rack* dan terminal satelit. Tapi... tapi tempat itu dijaga oleh dua puluh orang bersenjata. Kau tidak bisa mendekat!"

Reyna tersenyum. Senyum kemenangan yang dingin. "Itu bukan urusanmu lagi, Haryo."

Terdengar suara sirine polisi yang semakin mendekat dari jalanan di bawah. Haryo menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menyadari bahwa hidupnya telah berakhir.

Reyna berdiri, merapikan jasnya. "Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Haryo. Semoga masa pensiunmu di penjara nyaman."

Tanpa menoleh lagi, Reyna dan Vincent berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Haryo yang kini menangis tersedu-sedu sambil menunggu polisi masuk.

Di dalam lift yang turun menuju lobi, Vincent menatap Reyna dengan kekaguman yang bercampur sedikit ketakutan. "Kau mendapatkannya, Nona. Node lokal di Tanjung Priok. Tapi tempat itu dijaga ketat. Bagaimana kita akan menghancurkannya?"

Reyna menatap angka-angka lantai yang berlalu di atas pintu lift. "Kita tidak akan menghancurkannya dengan senjata, Vincent. Kita akan menghancurkannya dengan hukum. Dan kali ini, kita tidak sendirian."

Pintu lift terbuka. Reyna melangkah keluar, matanya menatap ke arah kota Jakarta yang sibuk. Perang besar baru saja dimulai, dan Raka tidak akan menduga dari arah mana serangan berikutnya akan datang.

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Sribundanya Gifran
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!