NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Isyarat Tersembunyi dan Kabar dari Rumah Sakit

Insiden di ruang rapat sore itu menyebar bagaikan api menyambar jerami kering di lantai 12. Meski tak ada yang berani membicarakan insiden tersebut secara terbuka di depan Clara, suasana di divisi Pemasaran terasa mengalami pergeseran yang nyata. Sikap Clara yang biasanya berkuasa kini berubah menjadi agak mengurung diri di kubikelnya, sementara para staf lain mulai memandang Alina dengan kacamata berbeda, bukan lagi sebagai staf baru biasa yang rapuh, melainkan sosok yang tenang dan punya ketelitian luar biasa hingga sanggup meloloskan diri dari jebakan senior.

Namun bagi Alina, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Setiap kali melintasi lorong kantor, ia bisa merasakan lirikan mata beberapa rekan kerja yang penasaran. Siska, yang duduk di sebelah kubikelnya, bahkan menyikut lengannya pelan saat jam istirahat tiba.

"Alina, kamu jujur deh sama aku," bisik Siska seraya memajukan kursinya, matanya berbinar penasaran. "Kamu punya ilpuk apa sampai Pak Devan mau repot-repot minta IT buka log histori jam kerja cuma buat ngebela kamu? Seumur-umur aku kerja di sini, Pak Devan itu tipe yang kalau ada berkas salah, ya dua-duanya bakal disemprot habis-habisan tanpa peduli siapa yang ngetik."

Alina menelan ludah, berusaha menyembunyikan getaran kecil di jemarinya yang sedang menggenggam pena. "Mungkin Pak Devan cuma mau bersikap adil, Siska. Lagipula, berkas yang salah itu kan bisa ngerugiin proyek perusahaan kalau angkanya keliru."

"Tetap saja rumit!" Siska menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi yang pasti, Mbak Clara mukanya merah padam banget tadi. Kamu harus tetap hati-hati ya, Alina. Tipe orang kayak dia biasanya nggak bakal diam begitu saja setelah harga dirinya dijatuhkan."

"Terima kasih pengingatnya, Siska. Aku bakal lebih teliti lagi," jawab Alina tenang, meski di dalam batinnya kecemasan itu tetap bersarang.

****

Jumat malam tiba. Sebagian besar lampu di kawasan bisnis lantai 12 mulai dipadamkan seiring berpulangnya para pegawai. Alina mematikan layar komputernya, merapikan meja kerja, lalu menyampirkan tas selempangnya. Hari ini adalah hari yang paling ia tunggu-tunggu sepanjang minggu: malam konsultasi pra-operasi untuk ibunya di Rumah Sakit Medika Utama.

Saat Alina melangkah keluar dari area pintu belakang gedung menuju gang samping tempat parkir kendaraan umum, sebuah mobil sedan hitam ber kaca gelap meluncur pelan dan berhenti tepat di samping trotoar yang sepi. Kaca mobil di bagian belakang turun perlahan, memperlihatkan rahang tegas Devan yang berpakaian kemeja putih tanpa jas, dasinya sudah ditanggalkan.

"Masuk," ujar Devan singkat tanpa menoleh sepenuhnya, matanya fokus pada iPad di pangkuannya.

Alina celingukan ke kiri dan ke kanan dengan panik. "Pak Devan? Ini di area kantor ... kalau ada pegawai lain yang lihat."

"Lantai ini sepi dan kamera pengawas area ini dipegang oleh pengawal pribadiku," potong Devan dingin namun tegas. "Jangan membuatku menunggu, Alina. Masuk sekarang!."

Mengetahui tidak ada gunanya berdebat dengan pria itu, Alina bergegas membuka pintu belakang dan masuk ke dalam kabin mobil yang harum aromaterapi kayu cendana. Mobil langsung melaju mulus membelah kemacetan lalu lintas malam Jakarta.

Keheningan melingkupi mereka selama beberapa menit. Alina duduk kaku di sudut kanan jok kulit, menjaga jarak sejauh mungkin dari Devan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak seperti membuang keletihan setelah seharian memimpin rapat direksi.

"Terima kasih untuk yang tadi siang di ruang rapat, Pak," bisik Alina pelan, memecah kesunyian di antara gema deru mesin mobil.

Devan membuka matanya perlahan, menoleh menatap Alina. "Aku melakukan itu bukan untuk membela dirimu secara pribadi."

"Saya tahu," sela Alina cepat. "Bagi Anda, ini soal profesionalisme dan integritas data perusahaan."

Devan mengamati wajah Alina yang berada di bawah pendar redup lampu jalan yang menerobos kaca mobil. Ada sedikit tarikan tipis di sudut bibir pria itu, ekspresi yang sangat samar hingga hampir tak terlihat. "Bagus kalau kamu paham. Tapi reaksi spontanmu mempertahankan diri tadi siang ... tidak buruk."

Dada Alina berdesir pelan mendengar pujian tersirat dari Devan. Sebelum ia sempat merespons, mobil berbelok masuk ke halaman luas Rumah Sakit Medika Utama.

"Pak Devan tidak ikut turun?" tanya Alina ketika sopir menghentikan kendaraan di depan lobi gedung perawatan spesialis.

"Dokter spesialis jantung yang menangani ibumu sudah menunggumu di lantai empat," jawab Devan, kembali menatap layar ponselnya. "Aku ada janji makan malam dengan jajaran komisaris dalam tiga puluh menit. Selesaikan urusanmu di dalam. Pengawalku akan mengantarmu sampai ke tempat tinggal barumu setelah dari sini."

Alina mengangguk paham. "Baik, Pak Devan. Terima kasih banyak."

Saat Alina hendak membuka pintu mobil, Devan memanggil namanya. "Alina."

Alina berbalik. Devan merogoh saku dalam kemejanya dan mengangsurkan sebuah kotak kecil berwarna beludru hitam ke tangan Alina.

"Apa ini, Pak?" dahi Alina berkerut bingung.

"Buka saja," kata Devan datar.

Alina membuka kotak tersebut. Di dalamnya terbaring sebuah cincin emas putih polos berdesain elegan namun sangat sederhana, dilengkapi sebuah rantai kalung halus dari bahan platinum yang berkilau lembut.

"Cincin pernikahan perak yang kamu pakai ke kantor terlalu kentara dan tidak serasi dengan pakaianmu. Kalau ada pegawai yang jeli, mereka bisa curiga," Devan menjelaskan dengan nada rasional tanpa emosi. "Pakai cincin emas putih ini sebagai liontin kalung di balik kemejamu. Jangan pernah dilepas saat berada di luar."

Alina memandangi kalung dan cincin emas putih tersebut. Caranya merawat detail terkecil sungguh berada di luar dugaan Alina. Pria ini bukan sekadar sosok bos yang dingin dan tegas, melainkan pria yang memperhitungkan setiap kemungkinan dengan presisi tanpa cela.

"Terima kasih, Pak Devan. Akan saya kenakan," kata Alina tulus. Ia menutup kotak tersebut, menyimpannya di dalam tas, lalu turun dari mobil.

Lantai empat Rumah Sakit Medika Utama sangat tenang. Alina melangkah menyusuri koridor steril menuju ruang konsultasi Dr. Hendra, spesialis bedah toraks dan jantung senior.

"Selamat malam, Dokter," sapa Alina ramah saat memasuki ruangan ber aroma antiseptik tersebut.

"Selamat malam, Mbak Alina. Silakan duduk," Dr. Hendra menyapa hangat, melepas kacamatanya. "Saya punya kabar sangat baik mengenai perkembangan kondisi Ibu Rahmi."

Alina mencondongkan tubuhnya, dadanya berdebar penuh harap. "Bagaimana hasil evaluasi terakhirnya, Dok?"

"Luar biasa," Dr. Hendra tersenyum lebar sambil menunjukkan lembar grafik medis di layarnya. "Respon organ dada dan tekanan darah Ibu Rahmi menunjukkan kestabilan yang tidak diduga. Tim donor jantung internasional dari Singapura juga sudah mengonfirmasi jadwal pengiriman organ yang cocok untuk minggu depan. Jika kondisi ini bertahan, operasi transplantasi bisa kita jadungkan hari Selasa mendatang."

Airmata haru seketika menetes di pipi Alina. Ia menutupi mulutnya dengan kedua tangan, tak mampu menahan luapan rasa syukur yang selama berbulan-bulan ini menghimpit dadanya. Ibunya punya kesempatan untuk sembuh total.

"Terima kasih banyak, Dokter! Terima kasih banyak ..." bisik Alina dengan suara serak menahan tangis.

"Sama-sama, Mbak Alina. Tapi ingat, masa kritis pasca-operasi nanti butuh perhatian ekstra dan kondisi mental pasien yang tenang. Beban pikiran Ibu Rahmi harus benar-benar dijaga agar tidak terjadi lonjakan tekanan darah," pesan Dr. Hendra mewanti-wanti.

"Baik, Dokter. Saya akan pastikan Ibu tidak terbeban pikiran apa pun."

Setelah keluar dari ruang dokter, Alina berjalan pelan menuju ruang rawat inap VIP tempat ibunya dipindahkan. Ruangan itu sangat luas dan nyaman, dilengkapi sofa panjang, televisi, dan jendela besar yang menghadap ke taman dalam rumah sakit, jauh berbeda dari kamar perawatan kelas tiga yang dulu dihuni ibunya di mana bau obat-obatan menyengat dan derit ranjang tua terdengar tiap detik.

Di atas ranjang putih bersih, Bu Rahmi sedang bersandar sambil membaca majalah. Wajahnya yang semula pucat pasi kini mulai menampakkan rona segar.

"Alina? Anakku," panggil Bu Rahmi dengan suara lembut begitu melihat putrinya melangkah masuk.

"Ibu ..." Alina mendekat, langsung memeluk ibunya dengan hangat dan penuh kerinduan. Ia mencium kening ibunya lama.

Bu Rahmi mengusap lembut kepala Alina, menatap wajah putrinya yang tampak tirus. "Kamu kelihatan lelah sekali, Nak. Pekerjaan barumu di kantor sangat berat, ya?"

"Tidak kok, Bu. Pekerjaan Alina lancar-lancar saja. Teman-teman di kantor baik semua," bohong Alina demi menjaga kedamaian pikiran sang ibu, teringat pesan Dr. Hendra baru saja. "Ibu bagaimana? Tadi dokter bilang kondisi Ibu bagus sekali! Selasa depan Ibu sudah bisa operasi."

Mata Bu Rahmi berkaca-kaca. Tangannya yang keriput menggenggam erat tangan Alina. "Alina ... Ibu masih sering merasa seperti bermimpi. Dari mana kamu bisa dapat uang sebanyak ini untuk bayar ruang VIP dan dokter ahli, Nak? Biaya pengobatan Ibu kan ratusan juta ... Ibu takut kamu terjerat pinjaman ilegal atau hal yang berbahaya."

Jantung Alina berdegup kencang. Ini adalah momen yang paling ia takuti: memberikan penjelasan kepada sang ibu tanpa membocorkan rahasia kontrak pernikahannya dengan Devan.

Alina tersenyum semanis mungkin, menggenggam kembali tangan ibunya dengan mantap. "Ibu tidak usah khawatir sama sekali. Perusahaan tempat Alina kerja sekarang itu punya program beasiswa dan bantuan medis penuh buat keluarga karyawan yang berprestasi. Alina berhasil lolos seleksi bantuan itu karena dana simpanan almarhum Bapak dulu juga Alina jadikan jaminan penjamin di kantor."

Bu Rahmi menatap mata Alina dalam-dalam, mencari kebohongan di sana. Namun Alina menatap balik dengan mata yang berbinar penuh rasa sayang, memotong kecurigaan ibunya.

"Benar begitu, Nak? Bos di tempat kerja kamu sebaik itu?" tanya Bu Rahmi penuh keheranan campur syukur.

"Iya, Bu. Bos Alina ... dia orang yang sangat bertanggung jawab. Dia memastikan seluruh fasilitas medis terbaik diberikan buat Ibu," jawab Alina. Setiap kata yang diucapkannya terasa jujur di dasar hatinya, meski status 'bos' itu menyimpan ikatan sah yang tak bisa ia ungkapkan.

"Alhamdulillah ... Semoga Tuhan membalas semua kebaikan bosmu itu, Alina. Semoga hidupnya selalu diberkahi dan dilindungi," doa Bu Rahmi tulus sambil menengadahkan kedua tangannya.

Alina mengangguk pelan, menyembunyikan rasa perih dan haru di dadanya. Ia menyentuh liontin kalung di balik kerah kemejanya, cincin emas putih dari Devan yang kini tersembunyi hangat di dekat detak jantungnya.

Malam itu, di dalam ruang rawat yang sunyi, Alina menyadari satu hal: betapa pun dinginnya batas yang dipasang oleh Devan di antara mereka, takdir telah menjalin kehidupan mereka berdua dalam sebuah rahasia yang teramat dalam dan berisiko tinggi.

1
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
Indriani Kartini
ah mas Devan benar2 laki2 sejati, salut dengan pengakuan di dpn publik😍
MayAyunda: iya kak🙏
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️🩵🩵🩵🩵🩵💪💪💪
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Mitha Ali
lanjuuuuuutttt😍😍 kk
MayAyunda: siap kak 🙏
total 1 replies
Mitha Ali
😍😍😍😍😍
Mitha Ali
lanjuuutttttt😍 kk
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Mitha Ali
uppp banyak2 kk cerita baguss😍😍😍
MayAyunda: terimkasih kak .baca ceritaku yg baru kak ke grep dengan preman tengil / suami Dadakanku ternyata bos baruku
total 1 replies
Elga Rista Septina
bagus ceritanyaaa😍
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
helena
sensi banget Clara.. pengen jambak sumpah/Angry/
MayAyunda: he he
total 1 replies
helena
kasian alina🥲
MayAyunda: iya kak 😄🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!