NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN CINTA

BERMAIN API DENGAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Obsesi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.

Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.

Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.

Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERMAIN API DENGAN CINTA Bab 26: Jeratan di Bawah Lembayung Malam

BERMAIN API DENGAN CINTA

Bab 26: Jeratan di Bawah Lembayung Malam

Jarum jam dinding digital di dalam ruangan CEO perlahan berkedip, bergeser tepat ke angka lima sore. Suara riuh samar dari luar lorong eksekutif menandakan bahwa para staf administrasi dan manajer divisi sudah mulai mengemas barang-barang mereka untuk pulang. Mendengar tanda kebebasan itu, Cinta langsung menghentikan ketukan jemarinya di atas papan ketik komputer. Dia mengembuskan napas panjang, bersandar sejenak, lalu mulai memasukkan ponsel pribadi dan dompetnya ke dalam tas Chanel hitam di atas meja oak barunya. Perang dingin sepanjang sore ini benar-benar menguras energi mentalnya, dan dia sudah tidak tahan ingin segera keluar dari atmosfer mencekam ruangan ini.

Namun, tepat saat Cinta hendak bangkit berdiri dari kursinya, sebuah suara bariton yang berat, rendah, dan sedingin es mendadak memotong gerakannya.

"Mau ke mana, Nona Cinta? Saya belum memberikan izin bagi Anda untuk meninggalkan ruangan ini," ucap Maxim datar tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari berkas laporan keuangan di hadapannya.

Cinta tersentak pelan, tangannya yang sedang mencengkeram tali tas Chanel-nya seketika menegang. Dia menatap tajam ke arah meja marmer hitam milik Maxim dari sudut ruangan. Rasa dongkol yang sejak siang dia pendam akibat tamparan Valen dan teguran dingin Maxim di pantri, kini kembali menyengat dadanya dengan rasa jengkel yang luar biasa.

"Jam kantor sudah selesai, Tuan Maxim," balas Cinta dengan nada suara yang ditekan seprofesional mungkin, meskipun ada getaran kekesalan yang tertahan di sana. "Seluruh laporan kuartal yang Anda minta kemarin dan hari ini sudah saya selesaikan dan saya kirim ke email Anda tanpa ada satu pun kesalahan."

Maxim perlahan menutup map dokumen di hadapannya dengan ketukan yang lambat. Pria berusia dua puluh enam tahun itu menyandarkan punggung tegapnya pada kursi eksekutif pualamnya, lalu mendongak menatap lurus ke dalam sepasang manik mata jeli milik Cinta. Sepasang mata hitam Maxim berkilat begitu pekat, memancarkan kegilaan kendali yang mutlak.

Di dalam hatinya, Maxim murni menolak membiarkan wanita ini melangkah keluar dari pengawasannya malam ini. Sisa-sisa kemarahan karena melihat ujung bibir Cinta berdarah akibat ulah Valen siang tadi membuat insting protektifnya bergejolak hebat. Ditambah fakta bahwa dia merindukan sentuhan fisik wanita itu, membuat sifat gila kendali Maxim mengambil alih logikanya. Dia sengaja mencari alasan profesional untuk mengurung Cinta lebih lama bersamanya di dalam ruangan tertutup ini.

"Draf analisis akuisisi lahan untuk proyek Sentul yang kamu kerjakan tadi siang... masih belum memenuhi standar yang saya inginkan," bohong Maxim dengan rapi, ekspresi wajah tampannya sekaku batu tanpa dosa. "Ada beberapa poin klausul hukum yang perlu dirombak total malam ini juga. Batalkan seluruh acaramu malam ini, Nona Cinta. Kamu harus lembur berdua dengan saya di dalam ruangan ini sampai dokumen itu sempurna."

Perintah mutlak yang tidak menerima bantahan seujung kuku pun itu membuat darah Cinta mendidih seketika. Dia meremas tali tasnya kuat-kuat, menahan geram. Namun, tepat saat dia hendak menyemburkan protes keras demi mempertahankan harga dirinya, sebuah pikiran licik yang pekat mendadak melintas di dalam otak cerdasnya. Jiwa pemburunya langsung bangkit bersorak.

Kamu sengaja menahanku untuk lembur malam berdua saja, Tuan Maxim? batin Cinta bersorak girang di balik rahangnya yang mengatup rapat. Bagus. Ini adalah peluang emas yang sangat sempurna. Tamparan dari Valen siang tadi mengingatkanku kalau aku harus bergerak lebih cepat untuk menjeratmu. Jika istrimu yang angkuh itu mengira bisa mengontrolku dengan uangnya, maka malam ini aku akan memastikan bahwa suaminya sendiri yang akan berlutut memohon di bawah kendaliku.

Dendam membara kepada Valen menyulut keberanian nekat di dalam dada Cinta. Dia tidak ingin lagi bermain aman dengan taktik tarik ulur yang lambat. Dia harus melancarkan aksi godaan baru yang jauh lebih agresif langsung malam ini, memanfaatkan situasi sepi di gedung pencakar langit yang sudah ditinggalkan oleh para staf.

Cinta melepaskan kembali cengkeraman tangannya di tas Chanel, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan senyuman miring yang penuh pesona menggoda di bibir merah menyalanya. Dia bangkit berdiri dari kursi kerja oak-nya, merapikan kemeja sutra putih gadingnya yang pas badan, sengaja membuka satu kancing teratasnya lagi untuk mengekspos leher jenjangnya yang putih mulus.

Dengan langkah kaki yang lambat, ritmis, dan penuh penekanan sensual di atas stiletto Louboutin sebelas sentimeternya, Cinta berjalan memutari sudut ruangan, mendekati meja marmer hitam milik Maxim. Suasana di luar jendela kaca besar kini sudah mulai menggelap, berganti menjadi lembayung malam kota Jakarta yang dipenuhi kerlip lampu kota, memberikan kesan intim dan privat yang luar biasa di dalam ruangan luas yang remang itu.

Cinta tidak berhenti di depan meja. Dia dengan berani terus melangkah maju, memutari meja marmer besar itu hingga dia berdiri tepat di samping kursi kebesaran Tuan Maxim.

Aroma parfum black opium-nya yang pekat, manis, dan memabukkan langsung menyerbu indra penciuman Maxim, memutus pasokan udara segar di dalam ruangan ber-AC tersebut. Tanpa ragu, Cinta mencondongkan tubuh rampingnya ke depan, menumpukan kedua tangan lentiknya di atas sandaran tangan kursi eksekutif Maxim, mengurung pergerakan sang bos dari jarak yang teramat dekat. Wajah mereka kini hanya terpisah beberapa sentimeter, hingga napas hangat Cinta yang beraroma manis menerpa langsung permukaan kulit rahang tegas Maxim.

"Lembur malam berdua dengan Anda, Tuan Maxim?" bisik Cinta dengan nada suara yang sengaja diturunkan satu oktav, terdengar begitu manja, rendah, dan sarat akan provokasi sensual yang mematikan. Sepasang mata jelinya menatap sayu langsung pada bibir tipis Maxim, sengaja mengabaikan map dokumen di atas meja. "Klausul hukum mana yang menurut Anda belum sempurna? Ataukah... Anda hanya sedang mencari-cari alasan profesional karena Anda sebenarnya teramat sangat merindukan ciumanku yang kemarin, Tuan Max?"

Mendengar bisikan menggoda yang luar biasa berani dan blak-blakan dari mulut Cinta, tubuh tegap Maxim mendadak menegang kencang di kursinya. Sepasang mata hitamnya menggelap total, dipenuhi oleh gumpalan gairah posesif dan obsesi gelap yang seketika meledak membakar habis seluruh sisa kewarasannya. Persetan dengan menang atau kalah dalam permainan tarik ulur ini. Dia menginginkan wanita ini, sepenuhnya dan mutlak, di dalam kuasanya malam ini.

Sebelum Maxim sempat bersuara, tangan kekar pria itu bergerak impulsif akibat hasrat yang membara. Maxim merengkuh pinggang ramping Cinta, menarik tubuh wanita itu dengan satu hentakan kuat hingga Cinta jatuh terduduk tepat di atas pangkuannya yang kokoh.

Cinta tidak berontak. Dia justru tersenyum manis, membiarkan posisi mereka menjadi terlampau intim di bawah temaram lampu ruangan. Untuk mematangkan jeratannya, Cinta sengaja melancarkan provokasi yang jauh lebih berbahaya. Dengan gerakan lambat yang sangat nakal, jemari lentik Cinta menyentuh dada bidang Maxim yang keras di balik kemeja birunya, mengusapnya perlahan ke bawah, melewati deretan kancing kemeja, hingga tangannya dengan sengaja turun ke bawah, menyentuh area pribadi Maxim yang sudah menegang keras dan siap di balik celana kain mahalnya.

Sentuhan intim yang berani itu mengirimkan desiran panas yang dahsyat, membuat napas Maxim tertahan berat dengan mata yang terpejam sesaat menikmati siksaan nikmat tersebut. Maxim sudah sepenuhnya siap untuk menyerahkan seluruh kendali dirinya malam ini, menuntut kepemilikan mutlak atas tubuh sekretarisnya.

Namun, tepat saat gairah Maxim berada di puncak tertinggi dan dia siap mengunci bibir Cinta, pergerakan tangan nakal itu mendadak berhenti total.

Cinta menarik kembali tangannya dengan secepat kilat. Sebelum Maxim sempat memproses apa yang terjadi, Cinta dengan gerakan anggun langsung bangkit berdiri dari pangkuan sang CEO, memundurkan langkahnya dua tapak hingga jarak di antara mereka kembali tercipta. Wajah sayu penuh gairah Cinta seketika lenyap, digantikan oleh senyuman miring yang penuh kepuasan kemenangan dan kilat ejekan yang dingin.

"Sayang sekali, Tuan Maxim... saya terpaksa harus menolak perintah lembur Anda malam ini," ucap Cinta dengan nada suara yang mendadak kembali normal, santai, dan sangat acuh tak acuh sembari menyambar tas Chanel-nya dari meja. "Sebab, saya sudah memiliki janji penting dengan seseorang malam ini yang tidak bisa saya batalkan. Permisi, Tuan Max. Selamat menikmati malam lembur Anda sendirian."

Cinta berbalik dengan kibasan rambut yang dramatis, melangkah lebar meninggalkan ruangan CEO dengan ketukan stiletto Louboutin yang terdengar jemawa. Dia berhasil membalas dendam atas penolakannya kemarin siang, membiarkan Maxim mematung di kursinya dengan napas memburu hebat dan gairah yang menggantung frustrasi di dalam keheningan malam.

1
Lea
bagus GK ngebosenin ceritanya
Lea
lanjut
Lea
bagus..lanjut
Meysha Talitha Putri
bagus
Park ha: makasih 😍🙏🙏
total 1 replies
Fauzianurul 08
cepat² up yaaa
Park ha: 🤭🤭 aku usahain 2 bab sehari kak... gimnaa pendapat ceritanya? kalau berkenan kasih pendapat...
total 1 replies
the virtuso
izin mampir
Park ha: makasih udah mampir🙏🙏😍
total 1 replies
Abid Din
kak CPT update
Park ha: ok siap...tbw jangan lupa like kasih ulasan kritik saran... makasih😍🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim hadiah lanjut banyak thor
falea sezi
lanjutt
Park ha
moga suka wkkwkwk
falea sezi
nyimakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!