Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan di bawah bayang-bayang Keputusan
Malam di Oxford makin larut, tetapi ketenangan di dalam flat kecil itu kini terasa rapuh bagi Julian.
Rory telah tertidur lelap di atas tempat tidur tunggal. Wajahnya yang polos tampak begitu damai dalam keremangan lampu meja, bebas dari riak kecemasan yang selama berbulan-bulan membayangi langkahnya. Deru napasnya yang teratur menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan malam, diiringi irama gerimis tipis yang tak kunjung reda di luar jendela.
Julian duduk di tepi meja kerja kayu, menatap layar laptopnya yang menampilkan berkas-berkas data riset Helios Foundation. Jemarinya memegang ponsel dengan buku-buku jari yang memutih.
Di dalam dadanya, badai emosi berkecamuk hebat.
Dokter Helene dari Zurich membutuhkan kepastian dana seratus lima puluh ribu franc Swiss dalam waktu kurang dari tujuh puluh dua jam demi menyelamatkan nyawa Ethan adik kandung Rory. Bagi dunia akademis, Rory adalah seorang peneliti jenius yang tak tergoyahkan. Namun bagi Julian, Rory adalah wanita yang memikul seluruh harapan keluarganya di atas bahu kecilnya tanpa pernah mengeluh.
Julian mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia tahu persis batas hukum dana hibah Helios. Satu penarikan ilegal untuk kepentingan pribadi akan menyeret nama Rory ke dalam skandal keuangan yang jauh lebih mematikan dibanding tuduhan anonim Victoria. Rory akan kehilangan beasiswanya, hak risetnya, dan masa depannya di dunia ilmiah akan musnah seketika.
Hanya ada satu jalan tersisa. Jalan yang baru saja ia tinggalkan dengan kepala tegak beberapa minggu lalu.
Julian berdiri perlahan, melangkah pelan mendekati tempat tidur agar tidak membangunkan Rory. Ia menundukkan badannya, menatap wajah Rory dengan binar cinta dan kepedihan yang teramat mendalam. Dengan sangat perlahan, jemari Julian merapikan helai rambut cokelat yang menutupi dahi Rory, menyapu kulit lembut itu dengan kecupan singkat yang sarat akan janji rahasia.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu kehilangan apa pun, Rory," bisik Julian dengan suara yang nyaris tak terdengar oleh udara malam. "Bahkan jika harga yang harus kubayar adalah kebebasanku sendiri."
Julian mengambil mantel cokelat mewahnya, menyarungkannya di bahu, lalu melangkah keluar kamar dengan sangat hati-hati. Pintu kayu flat tua itu tertutup dengan bunyi klik yang halus.
Pukul 02.00 dini hari.
Sebuah sedan hitam meluncur membelah kegelapan jalur pedesaan Hampshire yang berselimut kabut tebal. Lampu sorot mobil menerangi gerbang besi raksasa berukirkan lambang dinasti keluarga Radcliffe.
Radcliffe Manor berdiri megah di balik hamparan pepohonan oak tua, tampak seperti benteng batu yang tak tersentuh waktu sekaligus sangkar emas yang paling dibenci Julian sepanjang hidupnya.
Julian melangkah menyusuri lorong berkarpet tebal di lantai dua istana tersebut. Suara ketukan sepatu kulitnya bergema dingin di antara dinding-dinding tinggi yang dihiasi lukisan minyak para leluhur keluarga Radcliffe.
Di ujung lorong, pintu ganda ruang kerja utama sedikit terbuka, membiarkan pendar cahaya kekuningan menerobos keluar.
Arthur Radcliffe duduk di balik meja mahoni raksasanya, menyesap wiski dalam gelas kristal sambil membaca dokumen investasi. Ia bahkan tidak mendongak ketika langkah kaki Julian mendekat dan berhenti tepat di depan mejanya.
"Aku sudah menduga kamu akan kembali, Julian," kata Arthur dengan suara berat, datar, dan penuh dominasi yang mematikan. "Namun aku tidak menyangka kamu akan kembali secepat ini. Apakah lima ratus ribu poundsterling dari Helios ternyata belum cukup untuk memberi makan kesombonganmu?"
Julian berdiri tegap. Meski tanpa mantel mahal atau pin lambang keluarga, berdiri di dalam ruangan yang pernah mencekiknya itu tidak lagi membuat hatinya gentar. Yang ada hanyalah kalkulasi dingin seorang pria yang siap menukar segalanya demi wanita yang dicintainya.
"Saya tidak butuh uang Helios untuk urusan ini, Ayah," jawab Julian datar, matanya menatap sang ayah tanpa ada sedikit pun gestur ragu.
Arthur meletakkan gelas kristalnya di atas meja, lalu bersandar pada kursi kulitnya. Matanya yang tajam meneliti wajah putra tunggalnya. "Lalu apa yang membawa seorang 'ilmuwan independen' mendatangi istana yang telah ia buang di tengah malam?"
"Saya membutuhkan seratus lima puluh ribu franc Swiss ditransfer ke rekening Klinis Neurologi Pusat Zurich sebelum matahari terbit," kata Julian langsung pada intinya, suaranya mantap dan berartikulasi jelas. "Atas nama pasien Ethan Vance."
Arthur menaikkan satu alisnya. Seulas senyum dingin dan penuh kepuasan yang sinis perlahan terukir di wajah pria tua itu. "Gadis beasiswa itu adiknya sedang sekarat?"
Rahang Julian mengeras, mata hazel-nya berkilau berbahaya. "Jangan sebut dia seperti itu."
"Kenyataan memang pahit, Julian," cibir Arthur, berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan mengitari meja mahoni. "Kamu melepaskan warisan, mobil, dan nama besarmu hanya untuk membuktikan bahwa kamu bisa berdiri sendiri. Tapi pada akhirnya, ketika masalah nyata manusia kelas bawah menghantammu, kamu tetap berlari kembali ke bawah naungan kekuasaan Radcliffe."
Julian tidak membantah. Ia membiarkan setiap kata-kata sinis sang ayah menghantam harga dirinya. Di mata Julian saat ini, harga diri tidak ada artinya dibanding nyawa adik Rory dan kedamaian wanita yang dicintainya.
"Sebutkan syarat Ayah," kata Julian dingin. "Berapa harga yang harus kubayar untuk transaksi medis ini?"
Arthur berhenti melangkah tepat di samping Julian. Tatapan matanya berkilat penuh kemenangan bisnis yang absolut.
"Sederhana," kata Arthur pelan, suaranya seperti bisikan iblis yang memikat. "Pertama, kamu harus menandatangani surat kesepakatan pengambilalihan hak paten utama proyek Helios di bawah anak perusahaan Radcliffe Corp begitu risetmu selesai. Kedua.."
Arthur menepuk bahu Julian pelan dengan genggaman yang kuat.
"setelah kelulusanmu dari St. Jude’s musim panas nanti, kamu harus memutuskan seluruh hubungan pribadi dengan Aurora Vance, dan mengumumkan pertunangan resmimu dengan Victoria Montgomery secara internasional."
Atmosfer di dalam ruang kerja itu mendadak membeku. Setiap patah kata yang diucapkan Arthur terasa seperti bilah pisau yang menancap tajam di dada Julian.
Memisahkan dirinya dari Rory secara permanen tepat di puncak kemenangan mereka itulah harga yang diminta oleh sang ayah.
Julian memejamkan matanya sejenak. Bayangan senyum tulus Rory, kehangatan pelukannya di laboratorium Cambridge, dan mata cokelat jernih yang selalu menatapnya dengan kepercayaan penuh berputar di dalam ingatannya. Jika ia menolak, Ethan akan meninggal dalam kurun waktu tiga hari, dan Rory akan hancur dalam duka yang tak tertahankan.
Julian membuka matanya. Tatapannya kembali dingin, hampa, namun memancarkan keteguhan yang mutlak.
"Transfer uang itu ke Zurich sekarang juga," jawab Julian dengan suara yang dalam. "Dan siapkan dokumennya. Saya akan menandatanganinya."
Arthur tersenyum lebar sebuah senyuman penguasa yang baru saja mengembalikan pion terkuatnya ke dalam papan permainan. Ia meraih gagang telepon di mejanya dan memberikan perintah langsung kepada sekretaris keuangannya.
Sepuluh menit kemudian, konfirmasi transfer internasional berhasil diverifikasi oleh pihak rumah sakit di Swiss. Prosedur medis eksperimental untuk Ethan Vance resmi dijadwalkan untuk esok pagi.
Julian berjalan keluar dari Radcliffe Manor menembus hujan malam yang makin deras. Setiap langkah kakinya terasa sangat berat. Ia telah mengamankan masa depan adik Rory dan keselamatan medis keluarga gadis itu namun dengan mengorbankan masa depannya sendiri di samping Aurora Vance.
Keesokan harinya, matahari pagi Oxford menyinari flat tua dengan pendar cahaya yang agak redup.
Rory terbangun dan mendapati sisi tempat tidurnya telah kosong. Namun, aroma kopi panas dan roti panggang hangat dari dapur mini menunjukkan bahwa Julian sudah bangun lebih awal.
Rory menyisir rambut cokelatnya dengan jari, lalu melangkah ke dapur sambil tersenyum. "Julian...kamu bangun terlalu pagi"
Ucapan Rory terhenti ketika melihat ponselnya di atas meja makan bergetar nyaring. Nama Ibu tertera di layar.
Rory mengangkat telepon itu dengan perasaan cemas yang tiba-tiba membuncah. "Ibu? Ada apa? Bagaimana kondisi Ethan?"
Di seberang telepon, suara ibunya terdengar menangis namun kali ini bukan tangis duka, melainkan tangisan haru dan rasa syukur yang tak terhingga.
"Rory! Ya Tuhan, Rory... dokter di Zurich baru saja menelepon Ibu!" tangis ibunya pecah. "Mereka bilang seluruh biaya prosedur operasi dan terapi regeneratif saraf Ethan sudah dilunasi secara penuh oleh lembaga donor anonim! Ethan sedang dipindahkan ke ruang operasi khusus pagi ini!"
Rory membeku di tempatnya. Ponselnya nyaris terlepas dari genggamannya. "D-donor anonim? Ibu yakin? Seratus lima puluh ribu franc Swiss?!"
"Iya, Nak! Dokter Helene bilang penjaminnya membiayai seluruh perawatan sampai Ethan pulih total! Ibu tidak tahu harus berterima kasih pada siapa lagi, Ya Tuhan, adikmu punya harapan untuk sembuh, Rory!"
Rory terduduk di kursi kayu, matanya berkaca-kaca oleh kejutan yang luar biasa. Setelah menutup telepon dari ibunya, dada Rory berombak oleh emosi yang membuncah. Pikiran rasionalnya langsung bekerja dengan sangat cepat.
Tidak ada lembaga donor anonim yang tiba-tiba menggelontorkan uang ratusan ribu franc Swiss untuk adiknya tanpa ada pemicu kecuali jika ada seseorang yang secara khusus mengurusi hal tersebut.
Rory perlahan menoleh ke arah Julian.
Julian berdiri di dekat meja kompor, mengenakan kemeja hitamnya, memegang cangkir kopi. Wajahnya tampak sangat tenang, namun jika Rory memperhatikannya dengan lebih cermat, ada kedalaman rasa bersalah dan kesedihan yang tersimpan rapi di balik mata hazel pria itu.
Rory berdiri, melangkah mendekati Julian. Suaranya bergetar pelan. "Julian.."
Julian menatap Rory, menyunggingkan senyum tipis yang hangat. "Ada apa, Rory? Ibumu memberi kabar baik?"
"Kamu..." Rory menatap mata Julian lurus-lurus, air matanya mulai menetes melewati pipinya. "Kamu yang melakukan ini, kan? Kamu yang membayar seluruh biaya operasi Ethan di Zurich?"
Julian tertegun sejenak, sebelum akhirnya menghela napas pelan dan meletakkan cangkir kopinya. Ia mengulurkan tangan, mengusap air mata di pipi Rory dengan lembut.
"Kesehatan adikmu adalah yang terpenting, Rory," jawab Julian pelan, tanpa membantah. "Dia berhak mendapatkan kesempatan untuk sembuh."
"Tapi dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu?!" cecar Rory, dadanya berdesir oleh kekhawatiran yang sangat mendalam. "Tabungan pribadimu tidak sebanyak itu, dan kamu tidak boleh menggunakan uang hibah Helios! Julian katakan padaku, apa yang baru saja kamu lakukan?!"
Julian menatap mata cokelat jernih Rory mata yang sangat ia cintai, mata yang esok hari mungkin harus ia tinggalkan demi perjanjian terlarang dengan ayahnya. Namun untuk saat ini, Julian memilih untuk memeluk Rory erat-erat, menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya dan menyembunyikan wajahnya di leher Rory.
"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang pria yang mencintaimu, Aurora," bisik Julian dengan suara yang sangat dalam dan sarat akan kerinduan yang menyakitkan. "Jangan tanyakan darimana asalnya. Yang terpenting, Ethan akan selamat."
Rory membalas pelukan Julian dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Meski hatinya dipenuhi rasa syukur yang luar biasa atas keselamatan adiknya, intuition kewanitaannya membisikkan satu hal dengan sangat jelas:
Julian Radcliffe baru saja menukarkan sesuatu yang sangat mahal demi menyelamatkan keluarganya dan badai besar sedang menanti di ujung jalan perjuangan mereka.