Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 BAYANGAN DARI MASA LALU DAN PERANG YANG TAK DIUNDANG
Lin Mo melangkah pulang meninggalkan Lembah Awan Gelap dengan hati yang tenang namun pikiran yang terus berputar dalam. Kabut kelabu yang menyelimuti hutan belantara selatan telah lenyap sepenuhnya. Pohon-pohon kembali hijau dan sungai kembali jernih mengalir tenang membawa air yang segar dan sejuk. Penduduk desa di wilayah selatan perlahan keluar dari persembunyian mereka dan menyambut cahaya matahari yang kembali bersinar terang benderang di langit yang biru bersih. Namun di dalam dada Lin Mo, rasa gelisah perlahan tumbuh perlahan. Penjaga lembah itu menceritakan bahwa ribuan tahun silam ada seseorang yang berasal dari keturunan keluarga kerajaan sendiri yang datang mencuri sebagian sumber kekuatan kehidupan dan melukai penjaga lembah itu secara keji. Orang itu kemudian menyebarkan berita bohong bahwa penjaga lembah itulah yang berbuat jahat. Sejak saat itu penjaga lembah dikurung dan disegel sendirian dalam penderitaan yang panjang.
Siapakah orang itu? Mengapa ia memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk melukai penjaga lembah yang begitu dahsyat? Dan ke mana perginya orang itu setelah mencuri kekuatan tersebut? Apakah ia masih hidup hingga saat ini? Atau keturunannya yang masih hidup dan bersembunyi di suatu tempat menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Lin Mo sepanjang perjalanan pulang menuju ibu kota. Ia merasa bahwa apa yang terjadi selama ini hanyalah permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih menakutkan.
Sesampainya di ibu kota, Lin Mo disambut dengan penuh sukacita oleh seluruh rakyat. Namun ia tak banyak bercerita kepada siapa pun termasuk kepada ayahnya dan Chen Yu. Ia hanya mengatakan bahwa gangguan di selatan telah berakhir dan kedamaian telah kembali. Namun di dalam hatinya ia berjanji untuk menemukan kebenaran yang tersembunyi di balik peristiwa ribuan tahun silam itu.
Beberapa hari berlalu dengan tenang. Hingga suatu malam ketika seluruh ibu kota tertidur lelap dalam kedamaian, tiba-tiba langit di atas istana berubah seketika menjadi gelap gulita. Awan hitam pekat berputar kencang menutupi sinar bulan dan bintang. Angin kencang bertiup menderu-deru membawa hawa dingin yang menusuk tulang dan bau belerang yang menyengat hidung. Lin Mo terbangun dari tidurnya seketika. Ia melompat bangkit dan melesat keluar menuju halaman istana tanpa mempedulikan pakaiannya yang belum lengkap. Cahaya ungu keemasan yang terang benderang menyala dari tubuhnya seketika menerangi halaman istana yang gelap gulita itu.
Dari arah utara melesat ribuan bayangan hitam yang terbang cepat menuju ke arah ibu kota. Di depan mereka melayang sesosok bayangan raksasa yang memancarkan hawa kejahatan yang begitu pekat dan begitu kuno sehingga siapa pun yang melihatnya merasa seakan terlempar ribuan tahun ke masa silam yang penuh kegelapan dan kekejaman. Suara tawa yang menggelegar dan penuh kebencian bergema membelah langit malam itu.
Hahaha... Akhirnya aku kembali... Setelah ribuan tahun terkurung dalam kegelapan... Tubuhku yang sempat hancur kini telah utuh kembali... Dan kali ini... Tak ada yang mampu menghentikanku... Takhta kekaisaran... dan seluruh dunia di bawah langit... semuanya akan menjadi milikku...
Lin Mo berdiri tegak di halaman istana sambil menatap bayangan raksasa yang melayang tinggi di atas langit ibu kota itu. Cahaya ungu keemasan dari tubuhnya semakin terang semakin kuat menolak hawa gelap yang menyelimuti langit. Chen Yu melesat datang bersama ribuan prajurit pasukan kekaisaran dan segera membentuk barisan pertahanan di halaman istana. Wajah mereka tampak tegang namun tak ada satu pun yang mundur sedikit pun.
Siapakah kau... Dan mengapa kau datang mengganggu kedamaian rakyatku... Lin Mo bertanya dengan suara yang lantang dan bergema di seluruh penjuru ibu kota.
Bayangan raksasa itu menunduk menatap Lin Mo dengan mata yang menyala merah menyala penuh kebencian dan kesombongan yang tak terhingga. Suaranya menggelegar bagaikan guntur yang mengamuk.
Anak keturunan yang lemah... Kau tak perlu mengetahui namaku... Yang perlu kau ketahui adalah bahwa semua yang kau miliki ini... dulunya adalah milikku... Takhta ini... kekuatan ini... dan seluruh rakyat ini... semuanya adalah milikku yang dirampas secara curang oleh leluhurmu ribuan tahun silam... Hari ini... Aku datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakku... dan membunuh setiap keturunan pengkhianat itu hingga tak tersisa satu pun...
Lin Mo mengerutkan kening mendengar kata-kata itu. Sekarang ia paham segalanya. Bayangan raksasa inilah orang yang diceritakan oleh penjaga lembah selatan ribuan tahun silam. Orang yang mencuri kekuatan kehidupan dan melukai penjaga lembah itu secara keji. Orang yang kemudian dikalahkan dan disegel oleh leluhurnya namun entah bagaimana caranya kini mampu bangkit kembali.
Kau salah... Lin Mo menjawab dengan suara yang tegas dan tak tergoyahkan. Apa yang kau lakukan ribuan tahun silam itu sudah melanggar hukum alam... Kau mencuri kekuatan yang bukan milikmu... Kau melukai makhluk yang tak bersalah... dan kau berniat menghancurkan kedamaian dunia... Kekuatan itu disegel darimu bukan karena dirampas... melainkan karena kau tak pantas memilikinya... Dan hari ini... Aku tak akan membiarkanmu melukai rakyatku... Tak akan kubiarkan kedamaian ini hancur oleh tanganmu yang penuh dosa...
Bayangan raksasa itu tertawa lebar penuh kemarahan. Seketika itu pula ia melambaikan tangan ke bawah. Ribuan bayangan hitam yang terbang di belakangnya melesat turun menyerang ibu kota dengan senjata tajam dan bola api yang mematikan. Seranglah... Hancurkanlah... Bunuhlah setiap orang yang berdiri di hadapan kalian... Jangan sisakan satu pun...
DUARRRR!!! BOOOOMMMMM!!! Bola api hitam menghantam tembok istana dan bangunan-bangunan di sekitarnya meledak berkeping-keping. Asap hitam mengepul tinggi menutupi pandangan. Chen Yu segera memimpin pasukan bertempur melawan ribuan musuh yang menyerang dari udara. Pedang dan tombak beradu menciptakan percikan api yang menyala di tengah kegelapan. Suara teriakan dan benturan senjata terdengar di mana-mana. Namun Lin Mo tak bergerak dari tempatnya. Matanya terus menatap bayangan raksasa yang melayang tenang di atas langit sambil menatap ke bawah dengan senyum penuh kebencian.
Lin Mo melangkah maju dan melompat tinggi ke udara. Cahaya ungu keemasan menyala terang benderang dari tubuhnya bagaikan matahari yang melesat naik menuju langit. Ia berhenti tepat berhadapan dengan bayangan raksasa itu. Cahaya ungu keemasan di tubuhnya terus memancar kuat menekan tubuh bayangan raksasa itu hingga terlihat jelas rupa aslinya. Seorang pria paruh baya yang tampak gagah namun wajahnya penuh kerutan kedengkian dan matanya menyala merah menyala.
Jadi kau keturunan pengkhianat itu... Pria itu berbicara dengan suara yang dingin dan penuh ancaman. Kau pikir dengan kekuatan sebesar itu kau mampu menghentikanku... Bermimpilah... Kekuatan yang kumiliki saat ini jauh lebih besar dari ribuan tahun silam... Biarlah kutunjukkan kepadamu... apa yang disebut kekuatan sesungguhnya...
Pria itu melambaikan kedua tangannya ke arah Lin Mo. Cahaya hitam pekat melesat meluncur cepat menuju ke arah Lin Mo. KRAK!!! KRAK!!! Petir hitam menyambar bertubi-tubi dari udara menghantam tubuh Lin Mo. DUARRRR!!! DUARRRR!!! Lin Mo melambaikan tangan menciptakan pelindung cahaya ungu keemasan yang menahan serangan itu di depannya. BOOOOMMMMM!!! BOOOOMMMMM!!! Cahaya hitam dan cahaya ungu keemasan bertabrakan berkali-kali meledak di udara menciptakan percikan cahaya yang menyilaukan mata hingga seluruh langit seketika terang benderang bagaikan siang hari.
Lin Mo tak tinggal diam. Ia mendorong pelindung cahayanya ke depan sekuat tenaga. Cahaya ungu keemasan melesat maju mendesak mundur cahaya hitam yang menyerangnya. Lin Mo melesat maju cepat dan menebas tangan kanannya ke arah dada pria itu. Cahaya ungu keemasan berbentuk pedang meluncur cepat menebas dada pria itu. DUARRRR!!! Pria itu melompat mundur menghindari namun tetap terkena sedikit di bahu. Darah hitam menetes dari lukanya. Pria itu meraung marah seketika.
Kau berani melukai tubuhku... Kau benar-benar berani... Sekarang... Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri... Aku akan merobek jiwamu dari tubuhmu dan menghancurkannya hingga tak tersisa sedikit pun...
Pria itu mengangkat kedua tangannya ke atas kepala. Awan hitam di atas mereka berputar semakin kencang dan semakin pekat. Cahaya hitam berkumpul menjadi satu bola raksasa yang berputar kencang di atas kepalanya. Suara gemuruh menggelegar memekakkan telinga. Pria itu mendorong bola cahaya hitam itu ke arah Lin Mo sekuat tenaga. BOOOOMMMMM!!! SUARA LEDAKAN ITU SANGAT DAHSYAT SEHINGGA SELURUH IBU KOTA BERGETAR HEBAT BAGAIKAN HENDAK RUNTUH. Gelombang kejut menyapu ke segala arah menumbangkan pohon-pohon dan merobohkan tembok-tembok yang tak rusak oleh serangan sebelumnya.
Lin Mo berdiri tegak di tengah ledakan itu. Cahaya ungu keemasan menyala terang benderang menyelimuti sekujur tubuhnya membentuk pelindung raksasa yang menahan bola cahaya hitam itu tepat di depannya. Lin Mo mengerahkan seluruh energi qi di dalam tubuhnya. Cahaya ungu keemasan semakin terang semakin kuat mendesak mundur bola cahaya hitam itu perlahan demi perlahan. Cahaya ungu keemasan mulai menembus masuk ke dalam bola cahaya hitam itu. Cahaya hitam itu perlahan mengecil dan semakin lemah. Pria itu terkejut luar biasa melihat kekuatannya justru dikuasai dan didesak mundur oleh kekuatan Lin Mo.
Tidak mungkin... Kekuatanmu tidak mungkin sekuat itu... Apa kekuatan sesungguhnya yang kau miliki... Pria itu berteriak penuh ketakutan dan keputusasaan.
Lin Mo menatap pria itu dengan pandangan yang tenang namun teguh. Suaranya terdengar lantang menembus suara gemuruh dan ledakan di sekitar mereka.
Kekuatanku bukan berasal dari curangan kebencian... melainkan dari kasih sayang dan keadilan... Kekuatan yang dibangun di atas kejahatan dan keserakahan... tak akan pernah mampu mengalahkan kekuatan yang dibangun di atas kebenaran dan pengorbanan... Cahaya selalu menang atas kegelapan... Dan kebenaran selalu menang atas kebatilan... Inilah yang tidak pernah kau pahami selama ribuan tahun...
Lin Mo mendorong kedua tangannya ke depan sekuat tenaga. Cahaya ungu keemasan melesat maju seketika menghancurkan bola cahaya hitam itu berkeping-keping. BOOOOMMMMM!!! Sisa-sisa kekuatan hitam itu meledak di udara dan lenyap tak berbekas. Cahaya ungu keemasan terus melesat maju menghantam dada pria itu tepat di tempat jantungnya berada. DUARRRR!!! Pria itu terpental mundur jauh menabrak awan hitam yang berputar di atas langit. Mulutnya menyemburkan darah hitam yang melayang jatuh ke bumi bagaikan butiran hujan yang gelap.
Pria itu berusaha menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Ia menatap Lin Mo dengan mata yang penuh kebencian namun juga penuh ketakutan yang tak mampu ia sembunyikan lagi. Suaranya terdengar lemah namun masih penuh ancaman.
Kau menang kali ini... Namun ketahuilah... Aku tak akan pernah mati... Selama ada kebencian dan keserakahan di hati manusia... aku akan terus hidup... dan suatu hari nanti... aku akan kembali... Saat itu... tak ada yang mampu menghentikanku...
Pria itu melambaikan tangan ke arah bawah memanggil ribuan pasukan bayangan hitamnya yang masih bertempur di tanah. Pasukan itu segera terbang naik berkumpul di belakangnya. Pria itu menatap Lin Mo sekali lagi lalu berbalik melesat pergi menghilang ke dalam kegelapan arah utara yang jauh. Lin Mo tak mengejar. Ia tahu bahwa musuh itu belum sepenuhnya kalah dan belum sepenuhnya hancur. Musuh itu masih hidup dan suatu hari nanti pasti akan kembali.
Lin Mo melayang turun perlahan kembali ke halaman istana. Cahaya ungu keemasan dari tubuhnya perlahan meredup namun tetap memancarkan kehangatan yang menenangkan hati setiap orang yang melihatnya. Chen Yu segera berlari mendekat dengan wajah yang penuh kekhawatiran namun juga penuh kekaguman yang tak terhingga. Ribuan prajurit dan penduduk ibu kota berlutut di tanah sambil menatap sosok kaisar muda mereka dengan mata yang penuh air mata bahagia dan rasa syukur yang tak terhingga.
Lin Mo menatap ke arah utara yang gelap gulita itu dalam diam. Di dalam hatinya ia berjanji. Selama ia masih bernapas dan memiliki kekuatan ini... ia tak akan membiarkan kejahatan itu kembali mengganggu kedamaian rakyatnya. Ia akan terus memperkuat dirinya dan seluruh kekaisaran. Agar kelak ketika hari pertempuran terakhir itu tiba... ia telah siap sepenuhnya untuk menghancurkan kejahatan itu hingga ke akar-akarnya dan membawa kedamaian yang abadi bagi seluruh dunia di bawah langit.