Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Malam harinya. Setelah upacara dan ujian peringkat selesai, para kandidat baru dibawa ke area asrama disciple luar—sebuah kompleks bangunan kayu sederhana yang tersusun di lereng tengah Gunung Qingfeng, cukup jauh dari kompleks utama tempat disciple dalam dan elder tinggal.
Mo Tianxia dan Wang Dazhi mendapat kamar bersebelahan, masing-masing berbagi ruangan dengan dua disciple luar lainnya.
Seorang disciple senior bernama Liu Yang, yang ditugaskan untuk mengorientasikan kandidat baru, mengumpulkan mereka di ruang bersama sebelum tidur.
"Beberapa hal yang perlu kalian ketahui," katanya, duduk santai di atas bangku kayu. "Tian Yun Sect memiliki tiga tingkatan disciple: disciple luar, disciple dalam, dan disciple inti. Kalian semua sekarang adalah disciple luar."
Ia melanjutkan menjelaskan struktur sekte—bagaimana disciple luar berlatih di area terbuka, mengikuti pelajaran dasar tentang Qi dan teknik pedang angin khas sekte, serta menjalankan tugas-tugas kecil untuk sekte sebagai balasan atas tempat tinggal dan sumber daya kultivasi yang mereka terima.
"Setiap tiga bulan, ada evaluasi," lanjut Liu Yang. "Disciple luar yang menunjukkan kemajuan pesat bisa dipromosikan menjadi disciple dalam, dengan akses ke sumber daya yang jauh lebih baik—termasuk pil kultivasi, ruang latihan khusus, dan bimbingan langsung dari elder."
Mo Tianxia mendengarkan dengan seksama, meski sebagian besar informasi ini sudah bisa ia tebak dari pengalamannya sendiri.
'Struktur yang cukup umum,' pikirnya. 'Mirip dengan ribuan sekte kecil hingga menengah yang pernah kulihat dulu. Tidak istimewa, tapi cukup untuk membangun fondasi yang solid.'
Setelah sesi orientasi selesai, sebagian besar kandidat baru bersiap untuk tidur, kelelahan setelah hari yang panjang.
Mo Tianxia, bagaimanapun, memilih untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar asrama sebelum tidur—kebiasaan yang sudah ia bawa sejak kehidupan sebelumnya, saat ia sering menggunakan waktu tenang untuk merenung.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak kecil yang mengarah ke area latihan tambahan di tepi kompleks disciple luar, area yang biasanya sepi pada malam hari.
Namun malam ini, tidak sepenuhnya sepi.
Di bawah sinar bulan yang menembus dedaunan, seorang gadis kecil—terlihat seusia dengannya, mungkin sedikit lebih tua—sedang berlatih sendirian, mengayunkan pedang kayu dengan gerakan yang jauh lebih rapi dari kebanyakan disciple luar seusianya.
Mo Tianxia berhenti di tepi area latihan, mengamati dari kejauhan tanpa mengganggu.
'Menarik,' pikirnya, mengamati gerakan gadis itu. 'Fondasi teknik pedangnya sudah cukup solid untuk ukuran disciple luar baru. Seseorang pasti sudah melatihnya sebelum ia masuk sekte.'
Gadis itu berhenti bergerak tiba-tiba, menyadari kehadiran seseorang. Ia berbalik cepat, pedang kayu terangkat waspada, matanya yang tajam menatap langsung ke arah Mo Tianxia yang berdiri di tepi area latihan.
"Siapa kau?" tanyanya, suaranya dingin namun tidak sepenuhnya bermusuhan—lebih kepada kewaspadaan alami seseorang yang tidak mudah mempercayai orang asing.
Mo Tianxia mengangkat kedua tangannya sedikit, menunjukkan ia tidak berniat mengganggu. "Maaf mengejutkanmu. Aku hanya kebetulan lewat. Namaku Mo Tianxia. Disciple luar baru."
Gadis itu menurunkan pedang kayunya sedikit, meski matanya masih waspada, mengamati Mo Tianxia dari ujung kepala hingga kaki seolah menilai apakah ia benar-benar berbahaya atau tidak.
"Su Yueling," jawabnya akhirnya, singkat. "Kau seharusnya di asrama. Ini sudah larut."
"Kau sendiri masih berlatih," Mo Tianxia menjawab, nadanya santai tanpa maksud menantang.
Su Yueling menatapnya sejenak, ekspresinya sulit dibaca. "Itu urusanku."
Ia berbalik, hendak melanjutkan latihannya sendiri seolah percakapan itu sudah selesai.
Namun Mo Tianxia tidak segera pergi. Ia mengamati sekali lagi gerakan pedang Su Yueling yang kembali dimulai—kali ini dengan kesadaran bahwa ia sedang diperhatikan, membuat gerakannya sedikit lebih kaku dari sebelumnya.
'Teknik dasarnya bagus,' pikir Mo Tianxia, 'tapi ada kesalahan kecil di pergelangan tangannya saat mengayun ke kiri. Itu akan membuatnya kehilangan tenaga di titik krusial.'
Ia hampir mengucapkan itu keras-keras, sebelum menahan diri.
'Bukan tempatku untuk ikut campur,' pikirnya. 'Belum saatnya.'
Ia membungkuk sedikit sebagai salam perpisahan. "Maaf mengganggu latihanmu. Selamat malam, Su Yueling."
Su Yueling tidak menjawab, hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada latihannya.
Namun ketika Mo Tianxia sudah cukup jauh berjalan pergi, ia berhenti sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu.
"Kesalahan di pergelangan tanganmu saat mengayun ke kiri," katanya akhirnya, tanpa berbalik. "Itu membuatmu kehilangan tenaga."
Ia melanjutkan berjalan tanpa menunggu reaksi apa pun. Di belakangnya, Su Yueling berhenti bergerak, menatap punggung anak laki-laki yang baru saja pergi dengan ekspresi terkejut yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun.
Ia melihat kembali ke pedang kayunya, mencoba gerakan yang sama sekali lagi—kali ini dengan lebih memperhatikan posisi pergelangan tangannya.
Perbedaannya terasa jelas.
'Bagaimana dia bisa tahu itu hanya dengan melihat sekali?' pikirnya, menatap ke arah kegelapan tempat Mo Tianxia menghilang.