NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa bersalah

Untuk sesaat tubuh Fajar terpaku, ia tatap kertas berbalut plastik halus di genggamannya. Terdiam tanpa satu patah kata pun keluar.

Sementara di depannya, duduk Azarin yang menatapnya tanpa ekspresi. Dan juga Nyonya Fanya di samping Fajar, tampak menangis tersedu-sedu seraya memohon maaf pada Azarin berkali-kali.

"Azarin, ibu ucapkan selamat untuk pernikahanmu. Maafkan kejahatan ibu dan Fajar yah, nak." lirih Nyonya Fanya seraya menghapus air mata di sudut dengan tisu, terisak kecil.

Azarin rapatkan bibir ke dalam, menatap keduanya tanpa satu patah kata pun keluar. Ia beralih menatap Fajar yang terus merunduk menatap undangan yang belum dibuka itu.

Cukup lama Fajar terdiam, sebelum akhirnya pria itu mendongak, memaksakan senyumnya yang kontras dengan bola matanya yang memerah.

"Selamat yah, Azarin."

Wanita itu tersenyum tipis, mengangguk kecil, "Iya, sama-sama."

Setelah itu Fajar langsung bangkit. Ia sambar baju jas putih kebesarannya, lalu memakainya, berjalan memutari sofa dan melewati ruang tamu begitu saja.

"Mas!"

Azarin hendak mengejar, namun ia tak bisa. Ia tau, Fajar kecewa, dan mungkin terpukul. Namun ini sudah keputusannya. Lagian, jika ia dan Fajar kembali, itu hanya akan mengorek rasa sakit di masa lalu.

"Mama sebenarnya ingin....sekali kamu kembali dengan Fajar, Azarin." isak Nyonya Fanya, merunduk menatap lantai pias.

"Bagaimanapun, kamu adalah menantuku yang terbaik. Dan Mia adalah cucuku." imbuhnya lagi.

"Mulai sekarang aku tidak akan melarang ibu bertemu Mia."

Isak tangis Nyonya Fanya semakin kencang. Wanita itu segera bangkit, berjalan mendekat dan duduk di samping Azarin, memeluknya erat.

"Ku mohon berbahagialah, Azarin. Ibu akan selalu mendo'akan kamu disini. Kunjungilah ibu sesekali, yah. Jangan anggap ibu ini orang asing." seru Nyonya Fanya di pelukan Azarin.

Untuk sesaat Azarin hanya bisa diam. Mencerna bait demi bait kata yang terdengar sesak di telinga.

Ia paksakan senyumnya terbit, menepuk bahu Nyonya Fanya lembut.

"Iya, ibu. Azarin tidak akan melupakan ibu."

Sementara Fajar. Pria itu mengendarai mobil secara ugal-ugalan di jalanan, air matanya tidak berhenti keluar sedari rumah tadi.

Ia pukul stir mobil kuat.

Apa seperti ini akhirnya? Apa akhirnya ia yang kalah?

Sial, padahal sudah mencoba melapangkan hati untuk menerima, namun saat hari ini tiba, rasa sakitnya tetap menyesakkan.

Membayangkan wanita yang begitu ia cintai, akan dinikahi oleh pria lain. Rasanya sangat menyakitkan, apalagi pria yang akan menikah dengannya adalah orang yang ia kenal sedari lama.

"Ini sangat menyakitkan." rintih pria itu, meremat dadanya yang begitu sesak.

Akhirnya semua selesai.

Tidak ada lagi yang bisa di perjuangan. Semua pupus, dan harapan kembali itu sudah tidak ada.

Meski aku tau akan seperti ini endingnya. Tapi rasa sakit ini tetap membekas.

Sejenak aku teringat tentang pernikahanku yang dadakan dengan Fania. Aku bisa membayangkan rasa sakitnya, jauh lebih menusuk dan menghujam hingga ke relung hati Azarin yang terdalam.

Ini adalah karma.

Karma yang harus ku terima akibat kebodohanku menilai.

Aku juga kembali mendapatkan apa yang sudah aku lakukan. Fania tidak selang lama memiliki kekasih. Perjuanganku selama ini ternyata tidak berarti.

Tentang bagaimana aku mengalah, dan meratukannya meski ia tidak bisa memberikanku keturunan, aku terus berusaha memaklumi. Namun Fania justru menghunuskan pedang ke dadaku hingga rasanya aku tidak bisa mengenali Fania lembut yang ku kenal di awal dulu.

"Rasanya aku yang berada di posisi Azarin 3 tahun lalu. Dimana aku dengan tanpa rasa belas kasihan menikahi Fania dengan begitu cepatnya. Sementara Azarin menanggung rasa sakit hingga 3 tahun lamanya."

Fajar paksakan senyumnya terbit. Meski air matanya terus berlinang, ia juga harus turut bahagia dengan kebahagiaan Azarin bukan?

Setidaknya pria itu adalah Dean. Lelaki yang pantas untuk Azarin perjuangkan. Ia juga mendengar Dean berkorban waktu demi Azarin. Memang sepatutnya mereka bersatu. Dirinya yang hanya batu loncatan ini tentu tidak pantas mengeluh.

"Dean kau harus membahagiakan Azarin. Jika kau juga menyakitinya, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."

****

Azarin langkahkan kakinya lemah menuju kontrakan miliknya. Sepanjang jalan ia terus merunduk lesu. Ekspresi tegang Fajar, dan tangis Nyonya Fanya masih terngiang jelas dalam otaknya.

"Apa aku terlalu jahat? Apa seharusnya aku tidak mengundang mereka?"

Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, tidak ada waktu untuk merubah hal yang sudah terjadi.

Azarin jatuhkan pantatnya pada sofa, menyandarkan kepalanya seraya menatap langit-langit intens.

"Mas Fajar...."

Entah kenapa ia begitu merasa bersalah. Namun bagaimanapun mereka harus tau, dan meski pahit, kenyataan itu harus mereka terima mentah-mentah.

"Maafkan aku, Mas. Ini yang terbaik buat kita."

Azarin akhirnya menutup matanya, terlelap perlahan untuk menghilangkan rasa penat dalam diri.

Sampai akhirnya ia terkejut saat tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Membuat wanita itu refleks bangkit.

"jeng jeng jeng....minuman dinginnya sudah datang....."

Azarin tatap Dean yang terkekeh di sampingnya intens, menghela nafas panjang. Ia sampai tak menyadari Dean duduk, padahal pintu sudah tertutup rapat.

"Ahh...aku pasti terlalu lelah sampai tidak menyadari dia masuk." batin wanita itu.

"Mas kapan kamu datang?"

Dean yang tengah menyesap minuman kaleng itu melirik ke arah Azarin. Ia turunkan minuman kaleng dari mulut, meletakkannya di atas meja.

"Baru saja. Kamu keliatan cape banget, nih minum dulu." Dean tersenyum seraya menyodorkan minuman kaleng rasa leci ke arah Azarin.

Wanita itu dengan senang hati meraihnya, meminum minuman kaleng yang Dean sodorkan.

"Aku tadi habis ngasih undangan ke Nyonya Fanya dan Mas Fajar."

Hening.

Dean sampai terhenti dari aksi minumnya, sebelum akhirnya pria itu tersenyum tipis.

"Lalu?"

Azarin tatap minuman kaleng di genggamannya kosong, menggeleng lemah.

"Gapapa, hanya saja aku jadi merasa bersalah."

Dean terdiam. Ia tau apa yang Azarin fikirkan. Tentu saja mereka berat karena mereka masih mengharapkan Azarin kembali kepadanya.

Dean tarik bahu Azarin untuk bersandar pada bahunya, tersenyum simpul.

"Maka kamu juga berhak menangis."

Azarin spontan menggeleng, memanyun kecil. Ia turunkan tangan Dean dari bahunya.

"Aku ga nangis. Aku cuma ngerasa bersalah aja karena liat mereka nangis. Seharusnya aku tidak ngasih mereka undangan aja."

"Maka aku yang kirim dia undangan."

Azarin tatap Dean malas, memanyun kecil. Sementara Dean hanya terkekeh saja, mengecup pipi Azarin singkat.

"Ehh mana Mia? Aku belum ada lihat sedari tadi." tanya Dean seraya celingak-celinguk ke sekeliling.

"Mia di rumah Azril."

Dean tertegun, "Dekat juga mereka yah, sahabatannya. Nanti besar jadi jodoh."

Azarin hanya bisa menghela nafas panjang, "Ngurusin jodoh anak kecil yang bahkan belum ada 5 tahun. Sementara kita aja begini."

Dean terkekeh saja, ia peluk tubuh Azarin erat, menjatuhkan dagunya pada bahu. Menatap minuman kaleng di genggaman Azarin intens.

"Iya sayang. Aku faham apa yang kamu fikirkan. Tapi dunia akan terus berjalan, dan penyesalan akan berlalu. Jadi jangan terlalu di fikirkan."

"Hufftt .... Ku harap begitu."

1
Cicih Sophiana
betul itu rumah di jakarta gak semurah di kampung Nay...
Cicih Sophiana
selama 7 tahun Dean setia menanti yg belum pasti bertemu kembali...
Cicih Sophiana
Azarin bagus 👍... ayo keluarin semua unek unek yg ada di hati mu sekarang... biar Fajar tau gimana sakit hati nya kamu.. waktu itu setelah melahirkan sendiri tanpa perhatian suami...
Cicih Sophiana
gimana Fajar nyesel kan...
dulu aja mau di buang ke panti...
sekarang nangis nengis
Cicih Sophiana
thor banyak typo nya nih...maaf yah
Dynhz: maaf atas ketidak nyamanan ya yah, pdhl dah ku revisi, mungkin ada kesalahan 😄🙏🏻
total 1 replies
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Cicih Sophiana
Mia🤣🤣🤣🤣🤣 pinter dan lucu 👍😍
Cicih Sophiana
semoga aja mama nya Dean orang baik... mau nerima Azarin dan Mia anak nya
Cicih Sophiana
thor tolong bilang ke Azarin memanggil Dean nya jgn tuan terus... 😆
Cicih Sophiana
jgn cemburu sama wanita seperti itu Azarin... yg ada kamu panas panisin dia
Cicih Sophiana
Dean kok gitu sih.. bukan nya di kenalin klo Azarin calon nya dia... ini malah sibuk dgn yg lain
Cicih Sophiana
ih Azarin knp sih masih mikirin Fajar... laki laki seperti itu gak pantas kamu pikirin...
Azarin knp masih panggil tuan sih sama Dean
Cicih Sophiana
Azarin kok panggil tuan terus gak Dean larang...
Cicih Sophiana
Fajar akhirnya kamu dapat karma nya... punya istri berani memukul suami... baru tau aq ada yah yg seperti si Fani
Cicih Sophiana
jalanin aja dulu Azarin jgn berpikir yg macam macam... sifat orang kan berbeda beda
Cicih Sophiana
waduh klo Mia berkontar jadi ketawa 😆😆 udah menol jeyek puya ya Mia 🤣🤣🤣
Cicih Sophiana
wih senang nya Mia punya papa yg baik dan ganteng jg kaya... semoga Dean tulus menyayangi Mia...
Cicih Sophiana
semoga berjodoh ya Azarin...
Cicih Sophiana
semangat Naya 💪💪💪 yah...
klo Azarin bandel cubit aja jantung nya 🤣
Cicih Sophiana
jgn kembali sama Fajar.. Azarin
ada Dean yg menunggu mu sedari dulu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!