Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.
Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.
Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Yang Ditarik Kembali
Hawa panas siang itu terasa begitu menyengat di dalam rumah kontrakan berpetak dua yang kini ditempati oleh keluarga Revan. Rumah sewaan berdinding batako tanpa plesteran rapi itu terletak di dalam gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu sepeda motor. Jangankan fasilitas pendingin ruangan seperti di rumah mewah mereka dulu, untuk menyalakan satu kipas angin besi usang saja listrik di kontrakan itu sering kali jeglek karena dayanya yang teramat rendah.
Revan duduk di lantai semen tanpa alas karpet, menatap nanar ke arah beberapa lembar kertas surat peringatan hutang bank ibunya yang kini sudah tidak ada artinya lagi. Rumah lama orang tuanya yang penuh kenangan kini sudah resmi disita dan jatuh ke tangan Adila sebagai bagian dari putusan eksekusi harta gono-gini pasca-perceraian. Rumah mewah hasil jerih payah yang dulu Revan banggakan juga sudah dijual mutlak oleh Adila. Sekarang, mereka tidak memiliki sepotong tanah pun atas nama mereka di kota besar ini. Mereka benar-benar miskin dan tak punya apa-apa lagi.
"Revan... itu di depan ada suara apa lagi, Nak?" tanya Mama Revan dari balik tirai kamar pembatas yang kumal. Suaranya bergetar hebat, dipenuhi rasa ketakutan yang teramat sangat. Wanita tua itu kini tidak berani lagi menampakkan batang hidungnya di teras rumah sejak Meisya diusir pulang kampung kemarin pagi.
Brak! Brak! Brak!
"Keluar kamu, Revan! Keluar! Jangan jadi pengecut bersembunyi di dalam!"
Suara gedoran kasar berbalut makian keras kembali terdengar dari arah pintu depan yang terbuat dari kayu tripleks tipis. Suara itu begitu menggelegar, memantul di antara dinding-dinding gang sempit dan seketika memancing perhatian warga sekitar yang sedang beristirahat siang. Itu adalah rombongan debt collector ketiga yang datang hari ini, menagih sisa utang macet atas nama ibunya yang kini bunganya sudah menggulung layaknya bola salju.
Revan memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram kepalanya sendiri yang terasa sangat pening. Ia tidak berani keluar. Tanpa pekerjaan dan tanpa sepeser pun sisa uang di dompetnya, keluar menghadapi para pria berbadan tegap itu sama saja dengan menyerahkan nyawanya untuk dihantam.
Di luar, suasana gang mendadak menjadi sangat riuh. Beberapa tetangga kontrakan mulai membuka pintu rumah mereka, berbisik-bisik dengan wajah penuh kekesalan dan rasa terganggu. Kehadiran para penagih utang yang saban hari berteriak-teriak dan membuat kegaduhan di lingkungan yang biasanya tenang itu benar-benar sudah mencapai batas kesabaran warga sekitar.
"Heh! Kalian kalau mau menagih utang jangan teriak-teriak di sini! Mengganggu orang tidur siang saja!" teriak salah seorang warga dari ujung gang.
"Urus saja urusanmu sendiri! Kami cuma mau orang di dalam rumah ini keluar dan bayar utangnya!" sahut salah satu debt collector dengan nada membentak yang tidak kalah garang.
Keributan yang semakin memanas itu akhirnya memuncak ketika sosok pria paruh baya mengenakan peci hitam dan baju koko berjalan dengan langkah lebar memasuki gang. Pria itu adalah Pak RT, pamong setempat yang dihormati warga sekaligus pemilik sah dari rumah kontrakan berpetak yang saat ini ditinggali oleh keluarga Revan. Wajah Pak RT nampak sangat merah, menahan dongkol yang sudah menumpuk sejak beberapa minggu terakhir.
"Sudah! Sudah! Bubar semua!" bentak Pak RT menengahi para debt collector tersebut. "Kalau kalian mau menyelesaikan urusan piutang, silakan bawa ke ranah hukum atau panggil polisi! Jangan membuat keributan dan meneror lingkungan warga saya setiap hari seperti ini! Bubar atau saya yang panggil warga untuk mengusir kalian?!"
Melihat ketegasan Pak RT yang mulai memancing emosi warga sekitar yang berkumpul membawa balok kayu, rombongan penagih utang itu akhirnya mendengus kesal. Mereka menunjuk pintu rumah Revan sekali lagi dengan pandangan mengancam sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan gang dengan umpatan kasar.
Setelah para debt collector itu pergi, suasana gang tidak lantas mendingin. Pak RT berbalik, menatap pintu tripleks rumah kontrakan Revan dengan tatapan mata yang teramat jengkel. Ia melangkah maju, lalu mengetuk pintu tersebut dengan ketukan yang ritmis namun penuh dengan penekanan.
"Revan! Keluar kamu! Saya tahu kamu di dalam!" panggil Pak RT dengan suara baritonnya yang tegas.
Dengan tubuh yang gemetar dan langkah kaki yang sangat gulai, Revan perlahan membuka selot pintu rumahnya. Begitu pintu terbuka, ia langsung dihadapkan pada wajah ketus Pak RT dan tatapan sinis dari belasan tetangga yang menonton di ujung gang. Harga diri Revan sebagai mantan manajer berkelas kini benar-benar telah diinjak-injak sampai ke titik nadir terdalam di depan publik.
"Iya, Pak RT... Ada apa ya?" tanya Revan dengan suara lirih yang sangat flat, mencoba menjaga sisa-sisa suaranya agar tidak terdengar terlalu menyedihkan.
Pak RT tidak berbasa-basi lagi. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Revan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Revan, saya rasa tidak perlu ada yang didebatkan lagi ya. Hari ini juga, saya minta kamu, bapakmu dan ibumu kemasi semua barang-barang kalian dari rumah kontrakan ini. Dengan sangat terpaksa seperti Saya harus mengusir keluarga kalian dari lingkungan ini dari pada warga saya tidak nyaman."
Deg!
Kata-kata mengusir itu menghantam dada Revan seperti hantaman palu besar. "Pak... Pak RT, tolong bijaksana sedikit, Pak. Kami baru tinggal di sini beberapa minggu. Kontrakan ini kan sudah dibayar untuk bulan ini dari sisa uang saya..."
"Uang sewaan bulan ini tidak ada artinya dibandingkan dengan ketenangan warga saya, Revan!" potong Pak RT tanpa ampun, suaranya terdengar sangat natural namun begitu dingin menusuk. "Kamu lihat sendiri kan tadi? Setiap hari rumah ini didatangi orang-orang berwajah seram yang teriak-teriak memaki. Tetangga kanan-kiri kalian semuanya protes ke saya karena tidak bisa istirahat dan ketakutan anak-anak mereka trauma! Lingkungan ini tadinya aman dan tentram sebelum keluarga kalian pindah ke sini membawa segala drama utang dan urusan perselingkuhanmu yang memalukan itu!"
Revan tertegun, lidahnya mendadak kelu. Berita tentang runtuhnya rumah tangganya dengan Adila akibat ulah Meisya ternyata sudah menyebar luas hingga ke telinga para penghuni kontrakan kumal ini.
Dari dalam rumah, Papa Suryo berjalan tertatih-tatih keluar dengan wajah yang nampak sangat kuyu dan kusam. "Pak RT... tolong kasih kami waktu beberapa hari lagi, Pak. Istri saya sedang sakit di dalam. Kami tidak punya tempat tinggal lain lagi di kota ini, Pak... Rumah lama kami sudah disita oleh mantan istri Revan..."
Pak RT mengalihkan pandangannya ke arah Papa Suryo, namun ekspresi wajahnya sama sekali tidak melunak sedikit pun. "Maaf ya, Pak Suryo. Saya bukannya tidak punya rasa kemanusiaan. Tapi sabar saya juga ada batasnya. Rumah lama kalian disita itu kan karena kesalahan anak laki-laki kalian sendiri yang tidak bisa menjaga berlian dan malah memilih menampung benalu. Jadi jangan bawa-bawa nasib malang kalian untuk merugikan usaha kontrakan saya!"
Pak RT menunjuk ke arah jalan keluar gang dengan tegas. "Hari ini batas akhirnya. Sebelum matahari terbenam, kontrakan ini harus sudah kosong bersih. Sisa uang sewaan yang beberapa minggu itu akan saya kembalikan utuh sekarang juga, yang penting kalian semua angkat kaki dari sini dan jangan pernah kembali lagi!"
Pak RT merogoh kantong celananya, melemparkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke atas meja kayu di teras dengan gerakan kasar, lalu berbalik pergi meninggalkan Revan dan Papa Suryo yang berdiri mematung dengan wajah pucat pasi di ambang pintu.
Mendengar keputusan mutlak dari pemilik kontrakan tersebut, Mama Revan yang sejak tadi mendengarkan dari balik tirai langsung jatuh terduduk di atas lantai semen sembari menangis histeris, meratapi nasib keluarga mereka yang kini benar-benar telah menjadi gelandangan sejati, terusir tanpa ampun dari tanah tempat mereka berpijak akibat rentetan karma yang mereka tabur sendiri.
ini tuh berlebihan
Gak nyesel kalau nnt terbongkar bermain dibelakang istri lalu ditinggal,apalagi istri mu calon dokter.
Banyak lo diluar sana laki laki yg pingin punya istri Dokter.
Kekayaan macam apa itu adila..kamarmu seluas rumah mewahmu dan revan..