NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10. Kesempatan Besar

Pagi itu, Naira datang ke butik dengan perasaan yang sedikit berbeda. Sejak presentasi di Arsen Group kemarin, pikirannya terus dipenuhi satu hal. Desainnya diterima.

Bukan sekadar diterima. Tim Arsen Group bahkan meminta beberapa konsep tambahan untuk proyek berikutnya. Bagi seorang desainer yang baru memulai karier, kesempatan seperti itu bukan sesuatu yang datang setiap hari.

Naira meletakkan tasnya di meja kerja. Ia kemudian membuka laptop dan mulai memeriksa beberapa sketsa yang sudah dibuatnya semalaman. Dinda datang beberapa menit kemudian.

"Naira."

"Iya, Bu?"

"Kamu sudah dengar kabar dari Arsen Group?"

Naira menggeleng. "Belum."

Dinda meletakkan sebuah map di atas meja. "Nah, ini."

Naira melihat map tersebut. "Ini apa, bu?"

"Bukalah, Naira."

Naira mengambilnya. Begitu membaca lembar pertama, matanya langsung membesar. "Bu..."

Dinda tersenyum. "Bacalah dulu."

Naira membaca perlahan. Kemudian semakin cepat. Proposal kerja sama. Proyek fashion. Koleksi terbaru. Nama Arsen Group tercantum jelas di bagian atas.

Dan di bagian bawah...

Ada nama butik tempatnya bekerja.

Naira menatap Dinda. "Ini..."

"Iya."

"Serius, Bu?"

Dinda mengangguk. "Kamu terpilih sebagai salah satu desainer yang akan mengembangkan koleksi untuk proyek itu."

Naira membeku. Untuk beberapa detik, ia tidak mampu berkata-kata. "Bu..."

Dinda tertawa. "Kenapa, Nai?"

"Saya benar-benar terpilih?"

"Kalau tidak, kenapa saya memberikan suratnya?" bu Dinda tersenyum lebar.

Naira langsung berdiri. Wajahnya berseri-seri. "Ya Allah..." Ia memegang kedua pipinya. "Aku benar-benar dapat?"

"Iya."

Naira memeluk Dinda spontan. "Terima kasih, Bu!"

Dinda tertawa. "Jangan berterima kasih kepadaku. Kamu sendiri yang membuat mereka tertarik."

Naira melepaskan pelukannya. Senyumnya tidak hilang. "Ini kesempatan besar, Bu."

"Memang benar, Naira."

Naira menatap kembali surat itu. Ada perasaan hangat memenuhi dadanya. Selama beberapa hari terakhir, ia memang berusaha keras untuk tidak memikirkan Ravian.

Tetapi pekerjaan inilah yang membuatnya merasa kembali memiliki tujuan. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu. Bukan kepada Ravian. Bukan kepada Mikael. Bukan kepada siapa pun. Kepada dirinya sendiri.

Siang harinya, Naira datang ke Arsen Group untuk menghadiri pertemuan pertama proyek tersebut. Ia membawa map besar. Kali ini langkahnya jauh lebih ringan. Begitu pintu lift terbuka, sekretaris Mikael sudah menunggunya.

"Nona Naira, Pak Mikael menunggu di ruang rapat."

Naira mengangguk. "Terima kasih, ya."

Ia berjalan menuju ruangan. Sebelum masuk, ia menarik napas. Kemudian mengetuk pintu.

"Masuk."

Naira membuka pintu. Mikael sedang berdiri di depan layar besar. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan sedikit digulung. Naira sempat berhenti sebentar. Pria itu memang selalu terlihat rapi.

Mikael menoleh. "Akhirnya datang juga."

Naira mengangkat mapnya. "Saya kan dipanggil."

"Ya. Aku tahu."

"Kalau begitu?"

Mikael tersenyum. "Selamat."

Naira tersenyum. "Terima kasih."

"Apakah kamu senang?"

"Tentu saja."

Naira duduk. "Ini kesempatan besar buat saya."

Mikael ikut duduk di seberangnya. "Makanya aku memilihmu."

Naira mengangkat wajah. "Anda yang memilih saya?"

"Iya."

"Kenapa?"

Mikael menatapnya. "Karena desainmu bagus."

Naira tersenyum. "Terima kasih."

"Dan karena kamu tidak gampang menyerah."

Naira sedikit terkejut.

Mikael membuka dokumen. "Proyek ini akan berjalan selama beberapa bulan."

Naira mengangguk. "Beberapa bulan?"

"Iya."

"Berarti saya akan sering datang ke sini?"

Mikael tersenyum. "Tentu, sangat sering.

Karena kita sedang mengerjakan proyek besar."

"Oh." Naira mengangguk. "Benar juga ya."

Mikael menahan tawa. "Kamu kecewa?"

"Tidak."

"Kelihatannya begitu."

"Saya cuma..." Naira berhenti.

"Entahlah."

Mikael tersenyum. "Takut bertemu denganku?"

Naira langsung menatapnya. "Eh.. Siapa bilang?"

"Kamu."

"Saya tidak pernah bilang."

"Ekspresimu yang bilang."

Naira memutar mata. "Jangan percaya ekspresi saya."

"Sayangnya ekspresimu terlalu jujur."

Naira menghela napas. "Saya ingin bekerja, Pak Mikael."

Mikael tertawa. "Ok. Baiklah."

Pertemuan berlangsung hampir dua jam. Mereka membahas konsep koleksi. Jumlah desain. Bahan. Target pasar. Bahkan jadwal produksi. Naira mencatat semuanya dengan teliti.

Semakin lama, ia semakin bersemangat. Proyek ini jauh lebih besar daripada pekerjaan yang pernah ia tangani sebelumnya. Jika berhasil, namanya bisa mulai dikenal.

Ketika rapat selesai, Naira masih memandangi proposal di depannya. Mikael memperhatikannya.

"Kamu suka?"

Naira mengangguk. "Sangat suka."

Mikael tersenyum. "Kamu tidak takut gagal?"

Naira terdiam. Kemudian menjawab: "Takut. Tapi saya lebih takut tidak mencoba."

Mikael terdiam. Jawaban itu membuatnya kembali melihat Naira dengan cara berbeda. Naira mungkin keras kepala. Mudah marah. Terlalu jujur. Tetapi ia juga memiliki keberanian.

Mikael mengangguk. "Itu bagus, Naira."

Naira membereskan barang-barangnya. "Saya akan berusaha sebaik mungkin."

Ketika Naira keluar dari ruang rapat, ia hampir menabrak seseorang. "Maaf." Ia mundur satu langkah. Kemudian mendongak.

Ravian.

"Naira?"

Naira terkejut. "Ravian. Kamu di sini?"

Ravian tersenyum. "Aku ada urusan dengan Mikael."

Naira mengangguk. "Oh."

Ravian melihat map besar di tangan Naira. "Proyek baru?"

"Iya."

"Arsen Group?"

"Iya, Rav."

Ravian tersenyum bangga. "Aku sudah bilang kepada Mikael kalau kamu berbakat."

Naira tersenyum. "Jadi kamu yang merekomendasikan aku?"

Ravian mengangguk. "Sebagian."

Naira menatapnya. "Terima kasih, ya."

"Sama-sama, Nai."

Ravian kemudian melihat ke arah ruang rapat. "Sudah selesai ya rapatnya?"

"Sudah."

"Mikael bagaimana?"

Naira langsung menghela napas. "Seperti biasa."

Ravian tertawa. "Menyebalkan?"

"Banget."

Tepat saat itu, Mikael keluar dari ruang rapat. Ia melihat Ravian dan Naira berdiri bersama. "Kalian sedang membicarakanku?"

Ravian tertawa. "Justru dia sedang mengeluh tentangmu."

Naira langsung menatap Ravian. "Eh.. Aku tidak bilang begitu, Rav."

Mikael tersenyum. "Tidak apa-apa." Ia berjalan mendekat. "Aku sudah terbiasa."

Naira memelototinya. Mikael justru tertawa.

Ravian memperhatikan mereka berdua. Ada sesuatu yang berbeda. Naira terlihat jauh lebih santai ketika berbicara dengan Mikael. Tidak seperti beberapa minggu lalu. Ravian tidak tahu apakah itu hal yang baik atau tidak. Namun ia memilih tidak memikirkannya.

Sore itu, Naira pulang dengan langkah ringan. Ia bahkan tidak keberatan ketika harus membawa beberapa berkas tambahan. Sesampainya di rumah, ia langsung duduk di meja dan membuka kembali proposal proyek. Ia membaca semuanya. Kemudian mengambil buku sketsa.

Tangannya mulai bergerak. Satu garis. Kemudian garis berikutnya. Sebuah desain baru mulai terbentuk. Naira tersenyum. Ia sudah membayangkan koleksi yang ingin dibuat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar bersemangat tentang masa depan. Bukan tentang masa lalu. Bukan tentang Ravian. Tentang dirinya sendiri.

Di sisi lain, Mikael masih berada di kantornya. Ia sedang membaca laporan proyek ketika sekretarisnya masuk.

"Pak."

"Ya?"

"Jadwal pertemuan dengan Nona Naira sudah dibuat."

Mikael menerima berkas itu. Ia melihat jadwal. Hampir setiap dua atau tiga hari ada pertemuan dengan Naira. Mikael tersenyum.

"Bagus.''

Setelah sekretaris keluar, Mikael kembali melihat jadwal. Kemudian ia menggeleng sendiri. "Kenapa aku harus senang?"

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!