Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Pasar Malam
"Romo! Beneran kita mau ke Pasar Malam?" Tanya Bima dengan antusias.
"Iya. Nanti malam kita ke Pasar Malam, ya. Sama Nty Ncim dan Mbak Ara juga." Jawab Arjuna.
Pasar Malam adalah salah satu hiburan favorit warga Desa Banyu Alas dan beberapa desa lain di sekitar. Satu kali dalam setahun, pasti akan ada Pasar Malam di alun-alun Kecamatan yang berjarak tiga puluh sampai empat puluh menit perjalanan dari Desa Banyu Alas.
Meski jaraknya cukup jauh, namun hal itu sama sekali tak mengurangi antusiasme warga Desa Banyu Alas yang sedang mencari hiburan.
Terlebih, saat ini hampir semua warga sudah memiliki kendaraan bermotor, hingga bisa dengan mudah mengunjungi Pasar Malam yang ada di alun-alun Kecamatan.
"Kung-kung, Uti, Oma, Opa, Bu Aci sama Pak Ama juga ikut, Mo?" Tanya Aka.
"Njih, Cah Bagus. Lagi pula, Opa dan Romo juga di undang di acara resmi pembukaannya itu." Jawab Arjuna.
"Yeee! Semuanya ikut, pasti seru." Girang Bima.
"Adek jadi gak sabar nunggu malem, biar cepet bisa ke Pasar Malem." Imbuh Bima yang membuat Arjuna geleng-geleng kepala.
"Matur suwun, njih, Cah Bagus. Sudah nganterin makan siang Romo." Kata Arjuna.
"Makasih aja, Mo?" Tanya Bima.
"Lha emang mau gimana?" Tanya Arjuna sambil terkekeh. Ia sebenarnya sudah tau kemana arah pembicaraan Bima.
"Ya harus ada ongkosnya, dong." Jawab Bima.
"Kok jadi pamrih? Setiap ngasih bantuan, kok minta upah." Cicit Arjuna.
"Kita kan pamrihnya sama Romo aja. Kalo sama yang lain ya enggak." Jawab Aka yang membuat Arjuna kembali geleng - geleng kepala.
Meski begitu, ia tetap mengeluarkan dompet dan memberikan masing-masing satu lembar uang lima ribu pada dua putranya.
"Nah, gini dong. Ini baru saling menguntungkan." Ujar Bima.
"Bisa-bisanya saling menguntungkan. Dapet bahasa dari mana sih kamu, Dek?" Kekeh Arjuna.
"Dari tv lah, Mo. Adek kan suka nemenin Mbun nonton Drama." Jawab Bima.
"Yaudah, Mamas sama Adek pulang dulu ya, Mo." Pamit Aka.
"Langsung pulang lho, ya. Kan pamitnya pulang, bukan mau main." Kata Arjuna sambil terkekeh.
"Ya gak gitu, Mo. Adek sama Mamas mau ke warung dulu, beli jajan." Kata Bima.
"Warung deket rumah, apa warung desa sebelah?" Tanya Arjuna.
"Seketemunya di jalan aja, Mo. Warung mana yang buka." Sahut Aka yang membuat Arjuna tertawa. Ia tentu tau jika dua putranya itu akan bermain terlebih lebih dulu, sebelum pulang ke rumah.
Seperti yang sudah di rencanakan, pukul lima sore, mereka berangkat ke Alun-alun Kecamatan untuk menghadiri undangan sekaligus menikmati Pasar Malam yang menyuguhkan berbagai macam permainan, wisata kuliner dan juga berbagai macam barang dagangan yang biasanya di jual lebih murah dari harga di pasar biasanya.
Di perjalanan, mereka juga bertemu dengan berbagai rombongan yang akan melakukan pentas seni di Pasar Malam. Acara tahunan rutin yang di gelar oleh Pemerintah Daerah di setiap Kecamatan secara bergiliran itu, memang tak pernah sepi. Setiap tahun selalu ramai dan selalu bertambah kegiatannya.
"Kok Romo sama Opa bisa di undang ke acara pembukaan?" Tanya Aka.
"Ya, namanya juga Perangkat Desa, Nang. Ini kan acara resmi dari Pemerintah. Jadi ya, Opa sama Romo di undang ke sana." Jawab Arjuna.
"Romo kayak orang penting aja ya, Mas." Celetuk Bima yang membuat Meshwa dan Arjuna tertawa.
Sesampainya di Alun-alun. Aka, Bima, Ara dan Shima terkesima melihat banyaknya permainan juga makanan dan hiburan di sana. Alun-alun yang biasanya terlihat sangat luas, kini terlihat sangat sempit dan padat.
"Heee! Mau kemana?" Tanya Arjuna sambil menahan kerah belakang Bima dan Aka yang hendak berlari.
"Mau main, Mo." Jawab Aka.
"Kita sholat magrib dulu, sebentar lagi adzan." Kata Arjuna yang membuat wajah dua bocah itu langsung tertekuk.
"Kan masih belum adzan, Mo." Kata Bima.
"Iya, kan sebentar lagi. Kita siap - siap di Masjid sambil nunggu waktu adzan." Jawab Arjuna.
"Kalau sudah sholat kan nanti mainnya tenang karena gak terburu-buru waktu sholat." Timpal Arsha.
"Iya, Kung." Jawab Aka dan Bima meski sedikit lemas.
Keluarga besar mendiang Abimanyu itu pun bersama-sama pergi ke Masjid besar yang ada di depan Alun-alun itu untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah.
"Dulu Ayah pertama kali nyatain cinta sama Ibu di Alun-alun lho, Mbun." Kata Arjuna yang berbicara dengan Meshwa saat mereka hendak menuju ke Alun-alun setelah melaksanakan sholat magrib berjamaah.
"Iya, Mo? Kok bisa di Alun-alun?" Tanya Meshwa.
"Jadi Ibu tuh cinta pertama Ayah waktu SMA. Tapi saat itu Ayah belum berani nyatain perasaan dan mereka sama sekali gak pernah komunikasi. Ayah baru berani nyatain perasaan waktu sudah di suruh balik lagi ke Desa sama Yang Kung." Cerita Arjuna.
"Lalu, kebetulan Ayah nganterin Yang Kung dan Yang Ti ke Alun-alun karena ada acara MTQ. Nah kebetulan di situ Ibu juga ngisi acara dan jadi juri lomba MTQ. Jadilah mereka ketemu dan akhirnya pacaran." Imbuh Arjuna.
"Aduh, manis banget." Kata Meshwa yang tersenyum-senyum sendiri setelah mendengar cerita dari Arjuna.
"Mbun... Mbun... Ayo kita naik Jinontro (Bianglala)." Ajak Bima.
"Mamas juga mau naik Kora-Kora Mbun." Kata Aka.
"Adek mau naik semuanya, Mbun!" Kata Bima lagi.
"Aduh, Mbun kan takut naik kayak gitu, Nak." Kata Meshwa.
"Yaudah, aku naik sama Kung-Kung kalo gitu." Kata Aka.
"Lah, Mengko isoh mencolot metu, jantunge Kung-Kung mu, Nang. (Nanti bisa melompat keluar jantungnya Kung-Kung mu, Nang)" Ledek Aksa yang membuat mereka semua tertawa.
"Sembarangan! Yo ora, no. Gur numpak ngono kuwi, aku yo kendel. (Ya enggak, dong. Cuma naik kayak gitu aja, aku ya berani.)" Sahut Arsha.
"Mengko mutah-mutah. (Nanti muntah-muntah.)" Ledek Aksa lagi.
"Itu kan Bopo, yang mual-mual setelah naik kora-kora." Jawab Shima yang kembali membuat mereka tertawa.
"Tuh denger, to. Fakta yang berbicara." Kata Arsha.
"Udah to, gak usah ribut. Heran deh, sama Kakek-Kakek dua ini. Kerjaannya kalo gak ledek-ledekan, pasti eyel-eyelan." Kata Raina sambil geleng - geleng kepala.
"Sama, Mbak. Aku juga heran banget. Udah pada tua, tapi kok gak berubah. Masih aja kayak gitu kerjaannya setiap hari." Timpal Meshwa.
"Ini belum apa - apa. Coba kalo Yang Kung masih ada, jelas tambah rame lagi." Sahut Sashi.
"Udah-udah. Yang nugas, ya nugas. Yang momong (mengasuh), ya gek momong." Kata Arjuna.
"Ayolah, kita ke sana." Ajak Aksa pada Arjuna.
"Buna sama Meshwa gak mau ikut acara pembukaan?" Tanya Aksa saat istri dan menantunya justru berjalan bersama rombongan keluarganya.
"Bopo sama Juna aja. Buna mau lihat-lihat bazarnya." Jawab Saira.
"Iya, Mo. Aku mau wisata kuliner. Lihat tuh, banyak banget yang jual makanan. Apa lagi makanan tradisional yang jarang di jual." Jawab Meshwa yang juga enggan menemani suaminya.
"Bopo sendiri aja sebenernya ya gak apa-apa, lho. Aku tak ngawal rakyat kita yang banyak ini." Kekeh Arjuna.
"Woh! Kok penak tenan. Tak tutuk sirahmu mengko. (Wah! Kok enak banget. Tak jitak kepalamu nanti.)" Kata Aksa sambil merangkul leher Arjuna dan membawa Sekdesnya itu ke tenda tamu undangan.
perpaduane Aksa, Arjuna plus Dipta
🤣🤣🤣🤣